Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 10. Terserah


__ADS_3

Tak ada jawaban apa pun yang dilontarkan Tanti pada selingkuhan suaminya kala itu. Hati wanita mana yang tidak sakit. Tiba-tiba seorang wanita datang meminta izin untuk menikah dengan suaminya. Beruntung Tanti bukan wanita jahat. Dia hanya mencoba memberikan pengertian kalau posisinya ditukar, sanggupkah Marlena menjalani kehidupannya seperti Tanti? Beruntung, walaupun Tanti sakit hati dan kecewa, dia tetap mencoba mengendalikan amarahnya. Andaikan amarah menguasai Tanti, bisa saja Marlena hanya tinggallah sebuah nama.


Sayang sekali, sepertinya Marlena sudah dibutakan cinta kepada Ari sehingga apa pun yang diucapkan Tanti tak pernah masuk ke dalam pendengarannya. Jawabannya malah menyesakkan dada kala itu.


"Mbak, kalaupun nantinya aku jadi menikah dengan mas Ari, itu artinya takdir. Mbak tidak bisa mempermainkan takdir yang sudah digariskan kepadaku. Dengan atau tanpa izin dari Mbak, kami akan tetap menikah," tegas Marlena kala itu.


"Terserah Mbak Marlena saja. Kalau kenyataannya mas Ari itu berbeda dengan apa yang Mbak ceritakan padaku, silakan Mbak nikmati neraka dunia," balasnya menohok.


Siapa yang ngotot, siapa juga yang kesal dengan sikap Marlena? Namun, sekali lagi, Tanti tidak mau ambil pusing dengan permintaan selingkuhan suaminya itu. Kalaupun nantinya mereka jadi menikah, seenggaknya Marlena akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan saat ini. Tinggal menunggu waktu saja.


Hari ini, setelah beberapa minggu tidak menginjakkan kaki di rumah, Ari kembali pulang. Dia berani menampakkan wajahnya di hadapan Tanti setelah apa yang dilakukan sebelum meninggalkan rumah. Nyatanya dia masih ingat di mana dia tinggal sebelumnya. Namun, sikapnya masih sama seperti sebelumnya yang selalu masa bodoh.


"Mas, kamu masih ingat rumah?" tanya Tanti dengan senyuman mencibir.


Pertanyaan Tanti sekarang ini jelas akan memancing keributan. Keributan yang terjadi di dalam rumah tangganya selalu aman dari kedua anak angkatnya. Pasalnya, Ari selalu mencari waktu disaat semua anak angkatnya berada di sekolah. Kalaupun dia ribut dengan istrinya, bisa dipastikan anak-anak tidak akan tahu.


"Ini masih rumahku, kan? Kalaupun aku mau pulang atau tidak, itu bukan urusanmu. Kita memiliki hak yang sama atas rumah ini." Memang benar. Rumah ini dibangun atas jerih payah Ari, tetapi tanah yang digunakan untuk bangunan itu adalah pemberian orang tua Tanti.


"Kenapa kamu tidak pulang saja ke rumah selingkuhanmu itu?" Tanti nyatanya tidak kuat menahan amarah ketika bertemu dengan suaminya.

__ADS_1


"Jadi, kau sudah tahu kalau aku punya selingkuhan? Baguslah! Aku tak perlu susah payah untuk menjelaskannya."


Glek!


Dasar suami gila! Enteng sekali mulutnya berbicara seperti itu. Dia tidak tahu karena ulahnya aku menjadi seperti ini. Harus berusaha dan bekerja keras seorang diri. Aku akan meminta uang darinya. Awas saja kalau sampai dia tidak memberikannya padaku!


"Iya, aku sudah tahu. Tapi, itu tidak penting bagiku. Yang penting sekarang berikan aku uang belanja yang seharusnya kamu berikan padaku, tetapi malah kamu berikan pada Marlena," ucap Tanti. Dia sudah tidak tahan untuk berdiam diri terus.


"Tidak ada! Kalau kamu mau, minta saja padanya. Gajiku tidak banyak. Dia butuh uang untuk keperluan pernikahan kami," ucap Ari yang membuat Tanti semakin resah.


"Mas! Kamu itu bagaimana, sih? Bisa punya pacar lagi, tapi nggak bisa nafkahi istri. Malah sampai mau menikah lagi. Dosa kamu, Mas!" Tanti tidak tahan untuk memendam amarahnya.


"Iya. Dia datang ke sini. Apa kamu yang memintanya? Kejam kamu, Mas! Kamu tidak tahu, bagaimana perasaanku melihat dia datang ke sini kemudian meminta izin untuk menikah denganmu? Tapi, dia itu wanita yang aneh. Sudah tahu sikap suamiku seperti ini, masih saja memaksa untuk menikah denganmu."


Ya, Ari dan Marlena memang sudah memutuskan untuk menikah. Walaupun pernikahan siri. Mendengar ucapan istrinya, Ari malah bersikap biasa saja. Ada senyum merekah di bibirnya. Dia tidak menyangka kalau Marlena akan nekad datang ke rumah.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu. Jadi, apa kamu mengizinkan kalau aku akan menikah lagi?"


Glek!

__ADS_1


Ari benar-benar pria tidak tahu di untung, kurang ajar, dan brengsek. Selain itu, ribuan ungkapan kasar lainnya. Tanti mati-matian mencoba mengembalikan kembali kondisi perekonomian rumah tangganya karena ulah suami tidak tahu diri itu. Kini mendadak meminta izin untuk menikah lagi. Seribu satu manusia macam ini yang melupakan istrinya demi kebahagiaan untuk dirinya sendiri.


"Terserah, Mas! Jaga satu istri saja tidak becus! Mau tambah istri lagi. Semoga Allah memberikan umur panjang buatmu, Mas. Kalau Allah sudah bosan padamu, biar dicabut saja sekalian!"


Tanti marah. Ari ternyata jauh lebih marah. Hanya untuk memperjuangkan kesenangan sendiri, Ari rela mengorbankan keluarganya.


"Jaga ucapanmu! Sumpah serapahmu itu tidak akan terjadi padaku, Tanti. Kamu tahu kan kalau surganya istri itu ada pada suaminya."


Wow, menarik, bukan? Dia yang berulah, dia juga yang merasa terdzolimi. Semua kesalahan Ari nyatanya berimbas fatal pada istrinya. Wajar kalau Tanti mengamuk seperti itu. Wanita mana yang mau diduakan seperti itu? Apalagi tidak ada tanggung jawab sama sekali dari suaminya.


"Iya, kalau suaminya itu becus. Kalau suaminya menciptakan neraka di dalam pernikahannya, bagaimana istrinya masuk surga?" serang Tanti pada Ari. Pria ini sudah sangat keterlaluan sekali.


"Terserah aku, Tanti! Yang pasti, aku akan segera menikahi Marlena. Wanita yang selalu bisa mengerti keadaanku. Bisa menerima aku apa adanya tanpa menuntut ini itu. Dan yang terpenting, dia selalu bisa menjaga penampilannya dengan baik. Tidak sepertimu! Kamu membuatku kesal setiap pulang ke rumah. Jangankan menjaga penampilan, senyum saja tidak pernah. Bagaimana bisa suami tahan di rumah kalau wajahmu selalu seperti itu? Pikiranmu cuma uang, uang, dan uang. Sekali lagi aku tekankan padamu, dengan atau tanpa persetujuanmu, aku tetap akan menikah!"


Jeduar!


Allahu Akbar. Pria macam apa yang ada di hadapannya saat ini. Bisa-bisanya memutar balikkan fakta seperti itu. Harusnya yang sadar diri itu Ari, bukan Tanti.


"Terserah kamu, Mas! Apa pun yang kamu lakukan, aku tidak akan peduli lagi. Biarkan tetangga mengolok-olok aku karena masih bertahan dengan pria bodoh sepertimu. Akan lebih bodoh lagi kalau aku tiba-tiba menceraikanmu kemudian kamu bisa menikah dengan siapa pun wanita yang kamu inginkan. Terserah dan aku tidak peduli!"

__ADS_1


Tanti membebaskan pikirannya. Daripada terikat dengan situasi yang diciptakan suaminya. Setelah hari ini, tidak akan ada lagi drama pertengkaran seperti itu. Mungkin lebih baik Tanti mengalihkan perhatiannya dengan mencoba hal baru.


__ADS_2