Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 28. Pantang Rujuk


__ADS_3

Tanti merasa kalau mantan suaminya itu sedang merencanakan sesuatu. Namun, dia tidak tahu apa itu. Sementara kunci dan surat tanahnya diamankan dulu. Orang tuanya pun belum tahu perihal kedatangan mantan suaminya.


Sore hari saat semua orang berkumpul di ruang tamu sembari menikmati teh, kopi, dan cemilan pisang goreng yang dibuat Sarinah. Hardiman dan kedua anak angkat Tanti bercengkrama. Tanti pun ikut bergabung dengan ibunya.


"Bagaimana sekolah kalian?" tanya Tanti.


"Baik, Bu," jawab Indra.


"Kalau kamu, Guh?" tanya Hardiman.


"Sama dengan Indra, Mbah," jawabnya.


"Sama apanya, Le? Kan kalian berada di kelas yang berbeda," goda Hardiman.


"Yah, Mbah kayak nggak tahu kami saja. Walaupun kelasnya beda, pokoknya seiya sekata sajalah," sahut Teguh.


Mereka tertawa. Sarinah mengkode Tanti untuk masuk mengambil kerupuk yang dibelinya dari pasar tadi siang.


"Nduk, ambilkan krupuknya! Kalau kamu tidak malas, sekalian buatkan sambelnya," perintah Sarinah.


"Iya, Bu," jawab Tanti kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Mbah hari ini mau memanjakan kalian," ucap Sarinah.


"Wah, makan besar ya, Mbah?" tanya Teguh.


"Bukan. Ini hanya ngobrol biasa saja. Sudah lama kan kita tidak berkumpul seperti ini? Ibumu juga sibuk dengan masalahnya. Sekarang semuanya sudah berakhir. Mbah harap, kalian berdua tidak pernah meninggalkan ibu kalian," jelas Sarinah.


Walaupun Indra dan Teguh hanya anak angkat yang diambil saat mereka sudah dewasa, mereka tidak pernah membuat sulit kehidupan Tanti.


"Iya, Mbah. Ibu memang sudah berjuang untuk kami. Kami berdua berjanji, saat sudah sukses nanti, kami tidak akan pernah meninggalkan ibu," sahut Indra.


Tanti harus banyak bersyukur. Saat dirinya menjadi janda seperti ini, kedua anak angkatnya tetap bertahan.


"Hemm, kalian membicarakan Ibu?" tanya Tanti sembari meletakkan toples kerupuk beserta sambalnya.

__ADS_1


Kerupuk upil dan sambal ketela rambat. Sambal khas pedesaan sekali. Sambal itu cocok dikombinasikan dengan kerupuk gorengan pasir seperti itu.


"Ibu, kenapa baru kali ini buat sambal seperti ini? Ini enak banget loh," ucap Indra sembari menyendok sambalnya kemudian diletakkan ke atas kerupuk. Dia pun mengambil satu kerupuk lainnya untuk dicocolkan ke sambal yang ada di kerupuk pertamanya.


Kriuk!


Perpaduan kerupuk dengan gigitan yang membuat siapa pun ingin memakannya. Sambal ketela yang pedas manis, dan kerupuk yang gurih menyatu di dalam mulutnya. Rasanya lezat sekali.


Tak hanya anaknya saja, orang tuanya pun ikut menikmati cemilan sore ini. Setelah beberapa dari mereka menghentikan aktivitasnya, kemudian meminum teh yang sudah mulai dingin, barulah Tanti menunjukkan wajah seriusnya.


"Bu, Pak, tadi Mas Ari ke sini."


Glek!


Sarinah meletakkan gelasnya. Hardiman pun memasang wajah yang sangat serius. Dua anaknya ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan ibunya.


"Kenapa lagi dia ke sini? Mau pamer lagi kalau istrinya hamil? Atau, mau pamer pernikahan sirinya yang sebentar lagi akan disahkan?" cerocos Sarinah.


"Bu, dengarkan dulu penjelasan Tanti. Ibu seperti kesetanan kalau dengar namanya," sahut Hardiman.


"Ibu, dengarkan Tanti dulu," ucap Tanti.


"Hemm, katakan! Tapi, tolong jangan sebut namanya. Ibu gerah dengernya," balas Sarinah.


"Tadi dia ke sini mengantarkan kunci rumah berikut petok D-nya, Bu. Apa menurut Bapak dan Ibu, kami bisa kembali ke rumah itu?"


Rumah yang sudah membuat Tanti seperti di neraka. Rumah yang semula menawarkan gemerlapnya kebahagiaan, tetapi ternyata memberikan duka yang tiada henti. Masihkah dia ingin kembali ke sana kemudian mengingat duka lamanya?


"Bapak tidak memaksamu, Nduk. Tapi, pikirkan lagi posisimu saat ini." Hardiman mengingatkan.


Sebagai seorang janda dengan dua anak angkat jelas tidaklah mudah. Kalaupun mereka kembali ke rumah itu, mereka akan membuka usaha apa? Tanti tidak memiliki banyak pengalaman. Dia hanya bisa memasak.


"Nah, kali ini Ibu setuju. Kalian tinggal di rumah ini saja. Ibu juga tidak akan mempersulit kalian," balas Sarinah.


Sebenarnya Indra dan Teguh nyaman tinggal di rumah lamanya. Apalagi di sana mereka bisa bebas membantu ibunya. Pernah pada waktu ibunya menjual mie goreng, mereka bekerja keras untuk membantunya.

__ADS_1


"Kalau kalian bagaimana?" tanya Tanti pada kedua anaknya.


"Sebenarnya kami betah tinggal di sana, Bu. Bukan berarti kami tidak betah tinggal di rumah Mbah," jawab Indra.


Sarinah dan Hardiman tidak bisa menahan keputusan putrinya. Apalagi dia memiliki tanggung jawab lebih pada kedua anaknya.


"Begini saja. Bagaimana kalau kalian pindah ke sana setelah ibumu memiliki usaha yang pasti? Sejujurnya Ibu tidak tega kalau kehidupanmu akan kembali seperti dulu lagi, Nduk. Bukannya Ibu mendoakan yang buruk, Ibu hanya khawatir saja," jelas Sarinah.


"Itu nanti Tanti pikirkan lagi, Bu. Indra, Teguh, kalian bisa bantu Ibu membawa gelas itu ke dalam? Jangan lupa ambilkan teh dengan gelas yang baru. Masih ada teh panas yang Ibu letakkan di teko. Kalian ambil, yah!" ucap Tanti.


"Baik, Bu. Mbah mau diambilkan apalagi?" tanya Teguh.


Indra sudah membereskan apa yang diperintahkan ibunya. Sambil menunggu jawaban mbahnya, dia memakan pisang goreng.


"Buatkan kopi untuk Mbah," sahut Hardiman.


"Pak, Teguh dan Indra mana bisa?" protes Tanti. Padahal dia hanya ingin menyampaikan perihal amplop pemberian Ari yang ditolaknya siang tadi.


"Indra bisa buat kok. Jangan khawatir. Hanya kopi, kan? Indra rebus air panas dulu. Tinggal tuang kopi dan gula ke dalam gelas kan, Bu?" tanya Indra pada Tanti.


"Iya, Le. Kalau begitu, hati-hati nyalain kompornya, yah," pesan Tanti.


Indra mengangguk. Setelah kedua anaknya pergi, Tanti baru memulai pembicaraannya.


"Bu, siang tadi sebenarnya tidak hanya diberi kunci dan surat tanah itu, tetapi juga satu amplop uang. Tapi, Tanti menolaknya. Tanti tidak tahu, apa maksudnya dia memberikan semua itu pada Tanti?"


"Dia pasti merasa bersalah sudah menelantarkanmu selama ini, Nak," sahut Hardiman.


"Ibu rasa bukan begitu, Pak! Dia pasti menyesal telah melepaskan Tanti demi istri mudanya," sahut Sarinah.


"Maksud Ibu, Ari mau berencana rujuk begitu?" tanya Hardiman.


"Bisa saja, Pak. Tapi, Ibu tidak mau ya, Nduk. Jangan sampai kalian balikan lagi. Ibu sudah gedek sama sikapnya selama ini. Gara-gara dia jadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab, sudah membuatmu menjadi janda seperti ini."


Sarinah sudah memasang tampang anti kalau sampai laki-laki tidak berguna versinya itu kembali lagi pada putrinya. Sudah membuang ludah, masak harus dijilat lagi. Sarinah sudah tidak sudi lagi menerima menantu sepertinya. Walaupun langit runtuh pun, Sarinah tidak akan memberi restu.

__ADS_1


__ADS_2