Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 6. Ponsel Baru


__ADS_3

Kebingungan sedang melanda Tanti. Berbagai cara sudah dilakukan. Perihal uang ujian yang diminta kedua putranya beberapa minggu yang lalu sudah tidak ada masalah. Beruntung nasib baik masih memihak kedua putranya. Salah satu guru di sekolah mereka memberikan pinjaman untuk melunasi kekurangannya.


Tanti sangat bersyukur sekali. Walaupun nantinya dia harus kerja keras untuk melunasi pinjamannya, itu tidak menjadi masalah. Kedua anaknya pun bisa mengerti kondisi ekonominya saat ini. Terlihat dari makanan, uang jajan, dan biaya hidup sehari-hari yang sudah tidak terlihat seperti sebelumnya.


Beberapa minggu kemudian, Ari pulang ke rumah. Masih dengan situasi buruk dan tatapan dingin seolah tidak melihat istrinya yang sedang kesusahan. Jangankan bersimpati, bicara saja enggan dilakukan oleh Ari pada istrinya. Ari akan menjawab ketika Tanti bertanya. Itupun dengan jawaban yang kurang memuaskan untuk istrinya. Tanti seolah dianggap sebagai wanita yang hanya menggantungkan hidup kepadanya.


"Mas, baru pulang?" tanya Tanti. Sebagai seorang istri, Tanti mencoba bersikap seperti biasa.


Kali ini Tanti mencoba menanyakan lagi perihal uang belanjanya yang sudah tidak pernah lagi diberikan. Selama ini Tanti sudah mencoba berutang ke sana kemari untuk memenuhi kebutuhannya. Bisa saja sewaktu-waktu mereka menagih utangnya dan Tanti tidak memiliki uang sepeser pun.


"Seperti yang kamu lihat. Kalau aku di rumah, berarti aku pulang." Jawabannya datar. Sikap Ari semakin hari sangat arogan.


Glek!


Ya Allah, Mas. Aku tanya baik-baik, jawabanmu malah seperti itu. Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan di belakangku? Aku punya suami, tetapi seperti tidak ada.


Tanti mengelus dada. Sampai kapan kesabaran ini terus bertahan kemudian berganti amarah yang membabi-buta? Melihat tingkah suaminya saat ini ibarat pohon pisang, ketika dijemur susah sekali kering, kalaupun dibasahi dengan air maka dia tidak akan basah. Intinya seperti belut yang masuk ke dalam olie. Licin sekali. Sama halnya seperti kelakuan Ari saat ini. Menyebalkan tingkat akut.


Siapa pun wanita di dunia nyata kalau melihat tingkah suaminya yang seperti itu seolah ingin lekas tukar tambah. Begitu juga dengan Tanti. Rasanya dia juga ingin melakukan hal yang sama. Namun, dia masih mencoba memberikan kesempatan pada suaminya untuk berubah. Mungkin masalah di tempat kerjanya itu benar-benar nyata.


"Ya sudah. Mas makan dulu, gih," ucap Tanti yang sudah menyiapkan makan siangnya.

__ADS_1


Ari tak bergeming. Dia juga tak beranjak dari tempat duduknya. Mungkinkah suaminya itu sudah makan di luar sehingga dia tidak mau makan di rumah? Menunya memang sudah bisa diprediksi karena Tanti tidak bisa belanja lagi. Dalam artian hanya ada nasi dan sambal. Sesekali mie instan yang dicampur sayur-mayur.


Setelah perbincangan sejenak, Tanti melanjutkan aktivitas seperti biasa. Dia meninggalkan suaminya yang mungkin ingin beristirahat.


Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Tanti mencoba mencari keberadaan suaminya. Tanti mengira kalau Ari akan beristirahat di kamarnya. Tanti masuk ke kamar berniat untuk mencarinya. Ternyata dia tidak menemukan pria itu di sana. Rupanya dia berada di ruang tamu. Terlihat sangat sibuk dengan sebuah benda di tangannya.


Mas Ari pegang hape siapa itu? Sepertinya dia terlalu fokus pada benda itu. Miliknya kah? Atau selama ini dia memiliki uang kemudian digunakan untuk keperluannya sendiri? Jahat kamu, Mas!


"Mas, apa kamu sibuk?" tanya Tanti. Dia melihat dengan jelas Ari memainkan benda pipih itu. Sesekali tertawa kemudian fokus lagi. Begitu seterusnya sehingga membuat hati Tanti teriris perih. Lebih perih seperti luka yang disiram air jeruk lemon ataupun alkohol 70%. Sama-sama perih.


"Hemmm," jawabnya.


Ari benar-benar semakin keterlaluan. Bahkan, dia tidak melihat sedikitpun ke arah istrinya yang sedang berbicara. Sepertinya benda pipih itu jauh lebih penting dari apa pun. Dia sempat menggoyangkan ke sana kemari ponsel yang berada di tangannya itu. Seperti sedang memainkan game layaknya anak remaja yang lagi menggandrungi sesuatu.


"Tidak ada."


Glek!


Keterlaluan sekali. Dia seenaknya menikmati hasil kerja kerasnya. Sementara Tanti susah payah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang. Beginilah kalau tidak punya keterampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Tanti sangat kesulitan.


"Tapi, Mas kan punya hape! Harusnya ada uang kan, Mas? Aku mohon, Mas. Jangan bersikap seperti itu!" seru Tanti lagi. Dia sudah tidak sabar untuk lekas mengamuk hari ini.

__ADS_1


"Punya hape belum tentu punya uang, kan?"


Tanti mulai menahan napas sejenak kemudian menghembuskannya. Suaminya benar-benar mengabaikan tanggung jawabnya. Tidak sekali ataupun dua kali. Ini sudah keterlaluan dan tidak bisa ditoleransi lagi.


"Mas, aku sudah lelah dengan keadaan seperti ini. Aku minta uang! Kurasa selama ini kamu bekerja hanya untuk menyenangkan dirimu sendiri. Ingat anak dan istri di rumah, Mas! Ingat juga dengan karma!" ocehan Tanti sudah melebar ke mana-mana.


"Berisik! Kalau mau dapat uang itu kerja!" Ari kemudian meninggalkan istrinya tanpa memberi solusi pada masalah rumah tangganya.


"Mas, tunggu! Kamu mau ke mana? Kita belum selesai bicara!" teriak Tanti.


Rupanya Ari mengabaikan istrinya begitu saja. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun. Tanti terduduk lemas di ruang tamu tanpa pegangan sedikitpun.


Jangan tanya mengenai seisi barang berharga di rumah. Tanti sudah menjualnya untuk menutupi kebutuhan hidup. Itupun masih belum cukup karena hidup itu tidak melulu makan saja. Hidup juga butuh perjuangan dan biaya.


Sikap Ari yang seperti ini, membuat Tanti kesulitan sendiri. Suaminya sudah tidak bisa diajak berbicara lagi.


Tanti mencoba berdamai dengan keadaan. Walaupun sebenarnya sangat sulit sekali. Pinjamannya pun sudah penuh di mana-mana. Sementara untuk membuka usaha kecil-kecilan, dia tidak mempunyai modal jika membuka toko bahan pokok dan keperluan sehari-hari. Itupun butuh modal besar.


Ada sistem titipan dari sales, tetapi di awal harus membayarkan sejumlah uang terlebih dahulu sebagai wujud kepercayaan antara pembeli dan pihak sales.


"Aku ingin jualan, tapi tidak ada modal. Tempat pun tidak ada. Ingin mencoba berjualan makanan ringan, tetapi keuntungan setiap rencengnya minimal 500 perak, maksimal 1000 sampai 2000. Itu tidak akan bisa membantu utangku yang semakin menumpuk. Ya Allah, Mas, tega sekali kamu."

__ADS_1


Masih banyak lagi keluhan yang diungkapkan Tanti. Namun, yang menjadi pusat perhatian saat ini adalah ponsel yang dipegang suaminya. Walaupun Tanti tidak pernah memegang ponsel, tetapi dia tahu kalau apa yang dipegang suaminya itu ponsel mahal. Ya, walaupun dia tidak tahu berapa harga pastinya, yang Tanti lihat itu sangat berharga. Harga minimal satu jutaan lah yang ditaksir Tanti.


"Ah, tidak-tidak! Mana mungkin harganya satu jutaan. Terlihat seperti hape baru. Pasti mahal. Harusnya kamu tidak usah beli barang seperti itu, Mas! Istrimu saja tidak pernah kamu nafkahi. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?"


__ADS_2