
Kesibukan yang tidak biasa terjadi di rumah keluarga besar Tanti. Hari ini Abbas akan melamarnya tepat di hari Minggu saat anak-anaknya libur sekolah. Abbas sangat menghargai Tanti dan keluarganya.
Sejak Sabtu malam Minggu, Tanti sudah berada di rumah ibunya. Dia tidak sendiri, melainkan bersama kedua anaknya. Dia juga sudah menjahit baju couple yang akan digunakan oleh Tanti dan juga Abbas.
Tepat hari ini, Sarinah sengaja tidak banyak meminta bantuan tetangga lantaran dia memesan makanan catering. Kue-kue basah dan camilan pun disiapkan untuk menjamu tamu yang datang.
"Bu, apa semuanya sudah siap? Bapak bersama anak-anak Tanti sudah memindahkan kursi dari ruang tamu. Kami juga sudah menggantinya dengan karpet," jelas Hardiman.
"Sudah, Pak. Harusnya ada dekorasi lamaran kekinian seperti anak muda pada umumnya. Tanti tidak mau," jelas Sarinah.
"Ya tentu, Bu. Tanti bukan anak muda lagi. Dekorasinya nanti pas menikah saja. Itu pun kalau Tanti punya uang," sahutnya.
"Kalau begitu, nanti menikahnya saat panen saja. Biar Bapak bisa menghadirkan pesta pernikahan mewah untukmu, Nduk," jelas Hardiman.
"Lebih baik tidak usah, Pak. Sayang uangnya. Kami hanya pengantin telat. Sudah bukan anak muda lagi. Lebih baik akad saja cukup."
Karpet sudah tertata rapi di ruang tamu. Beberapa makanan yang dihidangkan pun sudah datang dan ditata dalam satu meja khusus yang nantinya dipakai menjamu tamu undangan. Selain itu, beberapa makanan ringan dan kue-kue sudah di letakkan di ruang tamu.
Tanti sedang merias dirinya di kamar. Rasanya seperti pengalaman pertama. Dulu, saat lamaran dengan Ari sangat berbeda sekali. Tidak semeriah hari ini. Entah karena ibunya yang tidak mau biasa saja atau memang permintaan dari pihak keluarga Abbas.
"Ibu, Mbah sudah memanggil. Katanya keluarga Pak Abbas sudah datang," ucap Teguh.
"Iya, Guh. Bilang sama Mbah kalau ibu sebentar lagi siap," jawabnya.
Pihak orang tua Tanti, anak-anaknya dan beberapa kerabat dekat telah menerima kehadiran mereka. Banyak seserahan yang dibawa Abbas untuk Tanti. Tidak hanya itu, pihak keluarga Abbas pun membawakan kue, buah-buahan, bumbu dapur, dan beberapa sayuran. Seperti orang yang mau buka toko saja. Sangat lengkap sekali.
Mata Abbas menelisik ke sana kemari lantaran belum menemukan Tanti. Kali ini Sarinah yang mencoba menenangkan calon tunangan putrinya itu.
__ADS_1
"Sabar, Nak. Tanti masih ada di dalam," ucap Sarinah.
"Eh, iya, Bu. Kalau boleh, Teguh dan Indra saja yang akan menemani saya," pinta Abbas.
"Duduklah! Ibu akan memanggilnya," pamit Sarinah.
Sebenarnya Abbas tidak hanya ditemani keluarga saja, tetapi juga orang tuanya. Namun, dia merasa gugup. Walaupun ini yang kedua kalinya di dalam hidupnya, rasanya sangat berbeda sekali.
Pihak keluarga Tanti pun memulai acaranya. Mulai dari pembukaan, disusul sepatah dua patah sambutan dari kedua keluarga, dan yang paling inti adalah prosesi lamaran itu sendiri. Dari pihak Abbas rupanya menyiapkan syarat untuk calon istrinya yaitu berupa gelang dan cincin. Saat waktunya tiba, Tanti dipanggil oleh keluarga besarnya. Yang menyerahkan perhiasan itu adalah dari pihak ibunya Abbas. Setelah cincin dan gelang disematkan, barulah di tutup dengan doa.
Para tamu pun dipersilakan untuk menikmati hidangan yang ada. Nantinya selesai makan, maka pihak keluarga Tanti akan meminta waktu sebentar untuk menentukan tanggal pernikahan Abbas dan Tanti yang digelar dalam waktu dekat.
...***...
Berbeda dengan kondisi Ari saat ini. Demi menolong Marlena, dia rela mempermalukan dirinya untuk datang ke rumah Tanti. Setidaknya kalau dia tidak mendapatkan uang seperti yang dikatakan ibunya, dia bisa meminjam uang dari mantan istrinya.
Saat sampai di halaman rumah yang pintunya tertutup rapat itu, Ari menyadari satu hal. Seharusnya hari Minggu Tanti berjualan, tetapi mengapa hari ini sepi. Tidak ada orang yang lalu lalang untuk mampir ke rumahnya.
Ari turun dari motornya. Dia berjalan menuju teras, mencoba mengintip dari kaca jendela, kemudian mengetuk pintunya.
Berulang kali tangannya mengetuk, tetapi tak ada jawaban sama sekali.
"Ke mana perginya? Rumah ini kosong," ucapnya lirih.
"Mas! Mau cari Mbak Tanti, ya?" tanya tetangga yang kebetulan lewat.
"Anu, Mas. Dari semalam mbak Tanti menginap di rumah orang tuanya. Sama Teguh dan Indra juga diajak. Tapi, mereka ke sana dijemput mobil bagus," jelasnya.
__ADS_1
Deg!
Ari hanya tahu kalau dari pihak keluarga Tanti tidak ada yang memiliki mobil. Mungkin saja mobil sewaan, tetapi biasanya pihak keluarga Tanti lebih suka menyewa angkot. Kira-kira mobil siapa, ya?
Merasa pikirannya tidak nyaman, bergegas Ari mengunjungi rumah orang tua Tanti. Mungkin saja salah satu keluarganya ada yang sakit. Bisa juga Tanti sendiri atau bahkan anaknya yang sakit.
"Kalau begitu, terima kasih. Saya langsung pamit," ucap Ari setelah mendapatkan pencerahan.
Bergegas naik ke motor kemudian menuju ke kediaman mantan mertuanya. Sesampainya di jalan dekat rumah itu, banyak mobil yang terparkir rapi. Ari sempat bingung lantaran mobil-mobil ini seperti sedang menjenguk seseorang.
Daripada bertanya-tanya tanpa tahu jawabannya, Ari memutuskan untuk berhenti. Dia lebih memilih bertanya pada tetangga yang tidak jauh dari rumah mantan mertuanya.
"Bu, maaf mau tanya. Itu ada mobil banyak sekali, di rumah pak Hardiman ada acara apa, ya?" tanya Ari.
Kebetulan orang yang ditanyai oleh Ari adalah tetangga dekat mantan istrinya sehingga tahu kalau Ari sudah bercerai dari Tanti.
"Oh, itu acara lamarannya mbak Tanti. Memangnya mas Ari tidak tahu, ya?"
Glek!
Rupanya Tanti sudah melupakan dirinya. Kalau Tanti sudah lamaran, itu artinya Ari tidak memiliki kesempatan untuk rujuk. Lalu, bagaimana dia akan mendapatkan uang jika orang yang dituju sedang memiliki acara penting?
"Ehm, tidak, Bu. Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Ari mengakhiri pembicaraannya.
Ternyata pihak keluarga Tanti tidak pernah main-main. Kapan hari Ari mengira itu hanya gertak sambal semata. Ternyata hari ini adalah acara lamaran Tanti dengan pria yang membuat Ari pun penasaran.
"Ah, paling pria itu jelek. Masih bagusan aku," ucapnya yakin. Andai Tanti tahu ucapan mantan suaminya seperti ini, mungkin saja Tanti bisa mual dan muntah di tempat. Ari terlalu percaya diri. Dia tidak tahu saja kalau Abbas versus dirinya sangat beda 180 derajat.
__ADS_1
Perasaan Ari sangat tidak menentu. Dia harus ke mana dulu? Mau ke rumah, orang tuanya pasti akan marah-marah. Mau ke rumah sakit pun, dia tidak pegang uang sama sekali. Apa mungkin dia harus menjual motor bututnya itu? Kalaupun dia jual, uangnya tidak seberapa. Hanya cukup untuk membayar 15 persen saja dari keseluruhan uang tagihan rumah sakit. Dia bingung harus mencari 85 persennya ke mana lagi? Penyesalan memang selalu diakhir. Setelah membuat Tanti menderita, kini giliran Ari yang merasakan karma atas apa yang sudah dilakukan pada mantan istrinya.