Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 34. Hati ke Hati


__ADS_3

Buah tangan yang hendak diberikan pada Tanti akhirnya dibawa pulang kembali oleh Ari. Kesempatan untuk rujuk dengan istrinya agaknya mendapatkan halangan. Dia kesal duluan.


"Bu, kenapa Ibu bilang seperti itu di hadapannya?" tanya Tanti. "Ini bohong kan, Bu? Bukan serius mau melamar Tanti?"


Sarinah dan Hardiman berpandangan. Berita seserius ini malah dijadikan bahan lelucon oleh anaknya sendiri. Rasanya ingin mengumpat kasar, tetapi tidak bisa.


"Sebaiknya selesaikan dulu berbenahmu. Kita bicarakan di dalam!" ajak Sarinah.


"Ya sudah, Ibu dan Bapak masuk dulu saja. Tanti selesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit ini."


Hardiman mengangguk lantas mengekor istrinya. Sesampainya di ruang tamu, Hardiman duduk. Sedangkan Sarinah meletakkan oleh-oleh yang dibawanya dari rumah. Oleh-oleh sederhana dari orang yang mau melamar Tanti.


"Apa Ibu yakin akan menjodohkan Tanti dengan pria itu, Bu? Kita kan belum paham betul dengan orangnya," ucap Hardiman keberatan.


"Heleh, Bapak itu keberatan kan tidak tahu sejarahnya sambal pecel itu. Kalau tahu, Tanti pasti tidak akan menolaknya."


Sarinah itu kalau sudah punya kemauan, tidak bisa ditahan sama sekali. Sebentar lagi dia pasti berdebat dengan Tanti.


Tanti yang sudah menyelesaikan urusannya sekaligus membawa nampan berisi teh panas. Walaupun menjelang siang hari, Tanti masih saja menyiapkan teh panas.


"Ibu itu heran, Nduk. Bagaimana nantinya kalau kamu dijadikan istri sama orang ini?" Sarinah menunjukkan sambal pecel di tangannya.


Sambel pecel? Apakah Ibu bertemu lagi dengannya? Bukankah dia juga sudah menikah? Itu tidak mungkin.


"Ibu jangan bikin aku ge-er deh. Lagian mana mungkin itu orang kembali lagi. Dia sudah menikah. Memiliki istri yang menurutku sempurna sekali. Tidak mungkin dia kembali lagi," ucapnya.


Hardiman tercengang. Sebagai orang tuanya, jelas dia harus tahu siapa orang yang dimaksud. Mengapa dia mendadak lupa?

__ADS_1


"Apakah ini Abbas?" tanya Hardiman akhirnya.


Ya, namanya Ahmad Abbas. Laki-laki yang pernah menjadi orang yang dicintai Tanti dalam diamnya. Namun, saat itu tersiar kabar bahwa Abbas sudah menikahi gadis kota yang kaya raya. Sehingga laki-laki itu memutuskan pindah ke luar kota mengikuti istrinya.


"Itu tidak mungkin, Bu. Abbas sudah menikah," ucapnya.


Beberapa kali Tanti mengucapkan bahwa Abbas sudah menikah. Dia tidak mungkin merajut hubungan dengan pria itu. Sudah lama dilupakan semenjak Tanti memutuskan untuk jatuh cinta pada Ari.


"Nduk, ini sambal pecel kiriman ibunya. Saat ibunya tahu kalau kamu menjanda, dia bilang mau menikahkan anaknya denganmu."


Tanti menggeleng. "Sebaiknya Ibu minum tehnya dulu. Gara-gara sambal pecel saja harapan Ibu terlihat begitu tinggi pada laki-laki itu. Ibu juga tidak tahu kan status Mas Abbas itu seperti apa sekarang? Apa ibunya juga bercerita? Tidak, kan? Pokoknya Tanti belum mau memutuskan apa pun. Saat ini prioritas Tanti hanya Teguh dan Indra. Selebihnya Tanti pasrahkan sama Allah."


Sebagai seorang ibu, tentunya akan merasa senang ketika anaknya mendapatkan pria yang mapan ataupun bertanggung jawab penuh pada anaknya. Setampan atau sekaya pria, kalau tidak bertanggung jawab, buat apa? Itulah yang saat ini diterapkan Sarinah. Dia akan berusaha terus sampai Tanti memiliki suami lagi.


"Bu, jangan paksa Tanti untuk menikah kembali bila dia belum siap," ucap Hardiman sembari menuangkan tehnya ke dalam lepek (piring kecil) supaya bisa diminum.


Tanti masuk ke dapur untuk mengambil satu teko air dingin dan tiga gelas kosong. Melihat orang tuanya minum, dia ikutan haus.


"Nduk, kamu yakin tidak mau mempertimbangkan lagi perihal permintaan ibunya Abbas?" tanya Sarinah saat Tanti sudah kembali ke ruang tamu.


Tanti terdiam. Dia mengisi gelasnya kemudian meminumnya. Setelah itu dia duduk di hadapan ibunya.


"Bu, Tanti belum tahu. Rasanya lebih baik tidak dulu lah sampai beberapa tahun ke depan," ucapnya.


Terkadang ingatannya tentang Ari tidak bisa dilupakan begitu saja. Dia pernah merasakan kebahagiaan tiada terkira. Kalau boleh memilih, alasan Tanti memutuskan menikah dengan Ari karena laki-laki itu yang serius dan mau meminang Tanti tanpa syarat. Namun, seiring perjalanan waktu hal memilukan terjadi. Hingga Tanti memutuskan untuk menggugat cerai suaminya.


"Nduk, ingat umur! Semakin tua, laki-laki akan memilih mundur. Mereka akan memilih yang lebih muda," tegur Sarinah.

__ADS_1


Tua atau muda, bagi Tanti bukanlah masalah yang penting. Lagi pula tidak ada harapan lagi dia bisa memiliki anak. Jadi, apa yang perlu diharapkan lagi darinya.


"Tanti sudah ingat, Bu. Namun, Tanti punya tanggung jawab besar pada dua anak Tanti."


"Justru itu, Nduk. Ibumu memang benar. Semakin hari kebutuhan hidupmu dan anak-anak meningkat. Kalau kamu menikah, dia pasti bisa membantumu untuk membiayai anakmu juga. Anggap saja istilah kerennya itu win win solution," jelas Hardiman.


"Ih, Bapak, kok bisa mengucapkan kalimat itu dengan fasih sih, Pak?" tanya Tanti penasaran.


"Bapakmu itu lagi hobi nonton berita internasional, Nduk. Katanya biar keren dan tidak diketawain banyak orang," sahut Sarinah.


Tanti tersenyum melihat tingkah bapak dan ibunya. Kebahagiaannya lebih dari cukup setelah memandang wajah kedua orang tuanya.


Apa benar aku harus menikah lagi? Jujur, hidup sendiri seperti ini memang tidak nyaman sekali. Pertama, aku harus bekerja keras untuk menghidupi mereka. Belum lagi semakin dewasa, anak-anak pasti butuh sosok seorang bapak yang bisa menjadi panutan. Belum lagi nanti kalau mereka memutuskan untuk menikah. Aku pun butuh orang yang bisa digunakan sebagai sandaran hidup. Paling tidak yang bisa menerimaku apa adanya dan bertanggung jawab penuh pada keluargaku. Kenapa aku tidak mencoba membuka hati saja? Setidaknya aku tidak akan menjadi wanita bodoh untuk yang kedua kalinya. Lagipula mas Ari sudah bahagia dengan pilihannya. Masak aku kalah sih sama dia?


"Nduk, Nduk, Nduk!" panggil Sarinah.


"Eh, Ibu. Ada apa? Tanti sampai kaget, loh."


"Dari tadi Ibumu memanggil, tetapi kamu tidak merespon. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Hardiman.


"Ah, bukan apa-apa, Pak. Hanya rencana belanja untuk besok. Soalnya selepas Tanti jualan biasanya langsung mencatat segala keperluan belanja," ucapnya beralasan.


Sarinah mengamati secara seksama. Sebagai seorang ibu tentunya Sarinah hapal betul kelakuan putrinya.


"Jangan bohong! Kalau kamu memang berminat untuk menerima pinangan Abbas, sebaiknya kamu temui saja dulu. Bicara dari hati ke hati. Kalau memang sudah cocok, ya lanjutkan! Kalau tidak, kamu bisa mundur. Ibu tidak akan memaksa."


Tanti memandang wajah ibunya tidak percaya. Wanita yang biasa memaksanya itu rupanya malah memberikan keleluasaan pada dirinya. Bisa jadi saran ibunya itu ada benarnya daripada menanti sesuatu yang tidak pernah pasti. Setidaknya berusaha dulu apa salahnya. Hasil akhirnya diserahkan pada Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


__ADS_2