
Selama tubuh ini masih diberikan kesempatan untuk hidup, Tanti tidak boleh menyerah. Suaminya bukan penghalang untuk terus maju. Walaupun dia minim pengalaman yang lain, bukan berarti tidak memiliki kesempatan lainnya.
Selagi Tanti tidak berpangku tangan mengharapkan belas kasihan dari suaminya, yang ternyata tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. Saatnya dia berserah diri kepada Allah dengan berusaha semaksimal mungkin dengan kedua tangan dan kakinya.
Tanti memang tidak memiliki keahlian khusus, tetapi dia memiliki kelebihan. Tanti bisa memasak sehingga tetangga seringkali memakai jasanya saat mengadakan hajatan. Memang jarang sekali karena di kampung selalu menggunakan hari baik untuk mengadakan hajatan. Intinya tidak setiap hari ada orang yang akan mengadakan acara seperti itu. Sangat wajar kalau Tanti hanya akan bekerja jika ada orang yang membutuhkannya saja.
"Mbak Tanti bisa bantu-bantu di rumah kami, kan? Hanya dua hari, Mbak. Bagaimana?" tanya salah satu tetangga Tanti yang ingin memakai jasanya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini saatnya dia berjuang untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah dengan jerih payahnya sendiri. Kalaupun Ari tidak bisa menafkahinya, itu bukan masalah. Saatnya Tanti menunjukkan taringnya bahwa tanpa suaminya itu, dia juga bisa berhasil.
"Iya, Mbak. Bisa. Mulai kapan, ya?" Ini kesempatan Tanti untuk mendapatkan uang. Walaupun jumlahnya tidak banyak, setidaknya ini bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Mulai besok, Mbak. Ongkosnya seperti biasa kan, Mbak? Per hari 100 ribu, ya."
"Iya, Mbak. Besok saya pasti datang," ucap Tanti yakin. Kapan lagi dia berjuang kalau tidak seperti ini. Kesempatan emas tidak akan disia-siakan begitu saja.
Seperti yang sudah dijanjikan dengan orang yang akan memakai jasanya, Tanti datang tepat waktu. Di sana dia membantu memasak. Lebih tepatnya beberapa pekerjaan serabutan. Terkadang harus memasak kemudian mencuci alat-alat bekas masak yang digunakan. Sesekali Tanti membantu mengisi box makanan yang akan diberikan pada tetangga sekitar. Juga beberapa piring makan yang disediakan untuk para tamu undangan. Sangat sibuk dan melelahkan.
"Masakan Mbak Tanti ini enak, loh. Aku tidak pernah kecewa kalau memakai jasa Mbak," puji salah seorang ibu yang kebetulan ikut membantu di acara itu.
"Terima kasih, Mbak. Saya belajar dari orang tua. Ibu saya memang jago sekali memasak," jawab Tanti.
"Mengapa Mbak Tanti tidak mencoba buka catering, misalnya. Itu hasilnya lumayan, Mbak. Sukur-sukur Mbak Tanti bisa membuka warung. Di jamin banyak pelanggan yang datang untuk membeli. Lagi pula, selain makanannya enak, Mbak Tanti juga selalu bersih dan rapi. Semua bumbu masak yang sudah dikupas selalu dicuci dulu sebelum digunakan."
Berucap memanglah mudah, tetapi bagi yang menjalankan itu terasa sulit. Membuka usaha jelas membutuhkan modal yang tidak sedikit. Saat ini, untuk makan sehari-hari saja sudah susah, di tambah lagi dengan kebutuhan hidup untuk kedua anak angkatnya. Lalu, Tanti akan mendapatkan modal dari mana? Itulah yang menjadi pertimbangan Tanti selama ini. Dia bisa saja nekad, tetapi semakin nekad, uang yang akan digunakan pun semakin besar. Dia pasti akan menambah daftar utang yang tak kunjung lunas itu.
"Doakan saja, Mbak. Saya juga pingin buka usaha seperti itu. Saat ini modalnya belum terkumpul. Semoga bisa terwujud, ya," ucap Tanti.
__ADS_1
Namanya tetangga, selain memuji pasti juga menyudutkan.
"Suami Mbak kan tukang sukses, tuh. Kalau hanya kasih modal untuk usaha begitu, apa susahnya?"
Glek!
Andaikan Tanti mau mengumbar aib suaminya, apa tetangganya masih bisa mengatakan hal seperti itu? Atau, dia malah akan merasa kasihan pada nasib Tanti yang sudah lama tidak dinafkahi?
"Iya, Mbak. Kapan-kapan kalau mas Ari pulang, aku akan mencoba saran yang Mbak berikan. Terima kasih, ya," ucap Tanti.
Selama dua hari, Tanti disibukkan membantu tetangganya. Hari ketiga, dia baru mendapatkan uang yang sudah disepakati sebesar 200 ribu.
Cobaan demi cobaan tidak berhenti sampai disitu saja. Uang yang didapatkan selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, uang itu juga digunakan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Namun, itu belum cukup untuk memenuhi semuanya.
Beberapa orang pernah membicarakan bahwa mereka bisa meminta surat keterangan tanda tidak mampu untuk diajukan ke sekolah kedua putranya. Setidaknya itu akan membantu Tanti mengurangi biaya sekolah anak-anaknya. Keterpurukan ekonomi yang dialami bukan karena ulahnya melainkan ulah suaminya.
Ari benar-benar lepas tanggung jawab. Setiap kali pulang ke rumah, bukannya memberikan kewajibannya sebagai seorang suami, dia malah selalu merepotkan.
"Iya, Bu," jawab kedua anaknya secara bersamaan.
Tekad Tanti sudah bulat. Dia tidak tahu nantinya akan diizinkan untuk mendapatkan surat keterangan itu atau tidak. Pasalnya kedua anaknya itu hanya anak angkatnya yang mungkin secara data masih ikut orang tuanya asli.
Angan-angan mengenai izin yang didapatkan nyatanya terhenti di sebuah warung makan yang tak jauh dari balai desa. Beberapa orang mencoba menyapa Tanti karena merasa kenal.
"Mbak, mau ke mana?"
"Balai desa," jawab Tanti singkat.
__ADS_1
"Mbak mau ngapain?"
"Anu, mau urus pengajuan keringanan biaya untuk kedua anakku." Tanti wanita yang polos sehingga apa pun yang ditanyakan orang itu dijawab dengan jujur. Tanti berniat melanjutkan tujuannya menuju ke balai desa, nyatanya terhenti karena sebuah alasan. Tanti tak sengaja mendengar perbincangan orang-orang mengenai suaminya. Saking penasarannya, Tanti mencoba mendengarkan sampai selesai.
"Eh, kamu tahu tidak kalau Mbak Tanti itu sudah tidak lagi diurusin sama suaminya?"
"Eh, maksudnya gimana, nih?"
"Itu lo, Mas Ari, dia itu punya WIL."
"Loh, Mas Ari bukannya bekerja sebagai tukang bangunan, ya?"
"Iya. Beberapa temannya mengatakan kalau dia itu punya WIL. Kamu tahu tidak, WIL itu apa?"
Lawan bicaranya yang merasa tidak paham maksud pembicaraan itu semakin penasaran. Mereka sadar betul bahwa di sana ada Tanti yang kebetulan sedang berbincang dengan salah satu orang yang dikenalnya.
"Memangnya WIL itu apa?"
"Itu wanita idaman lain atau yang biasanya disebut selingkuhan."
"Jadi, Ari itu punya selingkuhan?" Wanita itu membungkam mulutnya tidak percaya.
"Dengar-dengar sih seperti itu. Sudah banyak yang tahu, kok."
"Eh, kalau itu tidak bener, jatuhnya fitnah loh. Dosa!"
"Aduh, aku tahunya itu fakta, tapi yang tahu orang lain. Bukan aku! Ya kalau tidak percaya, tanyakan saja pada orangnya langsung. Kata anak-anak jaman now, biar valid!"
__ADS_1
Deg!
Tanti terkejut. Selama ini perubahan sikap suaminya itu ternyata karena memiliki selingkuhan. Entah ini benar atau hanya gosip, Tanti akan menanyakannya pada Ari. Ini terkesan bodoh memang. Seharusnya Tanti menyelidikinya, tetapi itu benar-benar tidak mungkin. Ari sudah mengunci mati ruang gerak Tanti.