
Nyeri sekali rasanya. Lukanya yang menganga bagaikan disiram air jeruk nipis. Tanti yang semula mau pergi ke balai desa diurungkan. Dia tidak yakin bisa mendapatkan surat keterangan tersebut. Selain itu, pikirannya mendadak tertuju pada suaminya.
Apa benar ucapan orang-orang itu? Kalau ternyata apa yang mereka ucapkan, selama ini uang hasil kerja kerasnya pasti sudah diberikan pada perempuan itu. Kamu keterlaluan, Mas!
Sesampainya di rumah, rupanya suaminya pulang. Padahal ini bukan hari libur, tetapi suaminya sudah terlihat santai di ruang tamu. Tanti memang terbiasa meletakkan kuncinya di balik jendela ruang tamu. Sehingga kalaupun suaminya pulang sudah bisa dipastikan bisa masuk seperti biasa.
"Kamu pulang, Mas?" tanya Tanti. Dia mengambil tempat duduk di hadapan suaminya.
"Ya! Kamu dari mana saja? Rumah kosong saat aku pulang," balasnya ketus.
"Aku pergi ke balai desa, Mas."
"Ngapain ke sana? Kurang kerjaan saja!" tegur suaminya.
Tanti rasanya ingin marah, tetapi tertahan. Suami yang sejatinya harus menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab penuh atas anak-anak dan istrinya, nyatanya tidak diemban dengan baik oleh Ari. Pria yang dulunya penyayang, baik hati, dan selalu mencurahkan perhatiannya pada keluarga. Nyatanya dia kalah dengan godaan harta, tahta, dan wanita.
"Aku ke balai desa berencana untuk meminta surat keterangan tidak mampu untuk Teguh dan Indra. Apa ada yang salah?"
Ari berdecak kesal. "Memalukan!"
Glek! Suaminya sangat keterlaluan. Sudah beberapa bulan terakhir ini, dia tidak memberikan sepeser uang pun pada istrinya malah sekarang berbicara yang tidak baik.
"Mas, tolong kamu ingat-ingat lagi apa yang salah dengan rumah tangga kita! Sejujurnya aku lelah dengan kondisi seperti ini. Aku berjuang sendirian."
Ari diam. Dia tidak peduli dengan apa pun yang diucapkan istrinya. Baginya saat ini hanyalah bekerja, gajian, dan menyenangkan diri sendiri. Mengenai istrinya, Ari yakin kalau wanita itu bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah."
"Mas!" Tanti benar-benar kecewa dengan kondisi seperti ini. Segala cara sudah diupayakan supaya suaminya itu kembali seperti dulu lagi. "Hari ini aku minta uang. Ingat, sudah lama kamu tidak memberikan uang belanja kepadaku. Memangnya uang itu untuk apa? Apa kamu punya WIL?"
Tanti seolah menirukan perbincangan orang-orang yang ada di warung tadi. Kali ini dia ingin bertanya langsung pada suaminya. Jika benar, maka suaminya itu bukan lagi jahat, tetapi sangat kejam.
"WIL? Apa maksudmu?"
"Orang-orang bilang kalau Mas punya wanita idaman lain. Ya, semacam selingkuhan. Apa itu benar?"
Deg!
"Mereka tahu apa tentang kehidupanku. Paling mereka mengada-ada saja!"
Ari yang dulunya menjadi pria penyayang, nyatanya berubah menjadi bebal. Selain itu, dia sama sekali tidak ada kepedulian pada keluarganya.
"Kalau kamu memang tidak berselingkuh, selama ini kamu sudah melupakan kewajibanmu menafkahi anak dan istrimu. Apa itu belum cukup bukti, Mas?"
"Jaga bicaramu! Selama ini aku susah payah bekerja. Kamu tahu kalau ditempatku bekerja itu tidak semudah dulu. Atasanku mempersulit pekerjaan dan gajiku. Aku bisa apa? Kalau kamu ingin uang, bekerjalah!"
Glek!
Lagi-lagi selalu seperti itu. Belum cukupkah membebani istrinya dengan segudang tanggung jawab? Selain itu, Tanti yang notabene hanya wanita biasa, tidak memiliki pendidikan tinggi, dan minim pengalaman hanya bisa berpasrah terus-menerus.
"Tapi, yang kulihat selama ini bukan seperti itu, Mas! Kamu terlihat tidak mengalami segala yang kamu ceritakan."
__ADS_1
Ari memandang lekat wajah istrinya. Aura kemarahan terlihat jelas di sana. Dia seperti tidak suka dengan pembicaraannya kali ini dengan Tanti.
"Kamu lebih percaya orang-orang daripada suamimu sendiri? Aku pulang ingin menenangkan diri, bukan untuk memancing keributan!" sentak Ari.
"Aku tidak memancing keributan, Mas." Tanti masih mencoba bersabar. Selama ini dia selalu kalah berdebat dengan suaminya dan berujung pria itu selalu kabur dari kenyataan.
"Lalu, apa yang kamu lakukan barusan?" tanya Ari.
"Aku hanya bertanya, apa benar kamu selingkuh, Mas? Tinggal jawab iya atau tidak, apa susahnya? Kamu pikir aku tidak malu mendengarkan mereka membicarakanmu? Kalau kamu memang tidak selingkuh, ya sudah. Kenapa malah marah-marah seperti itu? Oh ya, kalau kamu terbukti selingkuh, harusnya kamu berpikir ulang untuk lekas mengakhirinya, Mas. Apa kamu tidak malu jika anak angkatmu tahu tentang kebejatan ayah angkatnya?"
"Kamu itu ngomong apa? Jangan mengada-ada. Mereka itu hanya bergosip. Tahu sendirilah kamu kalau bergosip itu seperti apa. Masalah yang semula tidak ada, menjadi ada."
Ari masih mengelak. Selama hubungannya dengan Marlena tidak langsung diketahui oleh istrinya, dia berusaha bersikap tenang. Lagi pula orang-orang hanya akan bicara di belakang Tanti. Itu bukan masalah yang serius.
Kamu masih mengelak, Mas. Tidak masalah kamu terus menyakiti aku, setidaknya tunaikan tanggung jawabmu! Kalau seperti ini, sama saja kamu menyiksaku dan anak-anak.
"Mas, kalau kamu tidak mau mengakui, tidak masalah. Setidaknya jangan abai dengan tanggung jawabmu selama ini. Berikan apa yang seharusnya kuterima. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tunaikan kewajibanmu sebagai seorang suami. Jika tidak, aku mungkin tidak tahu apa yang kamu lakukan di luaran sana, Mas. Aku memang wanita bodoh yang terus saja bertahan dengan suami sepertimu. Ingat hukum karma, Mas! Semakin kamu berpura-pura menutupi segala kesalahanmu di luaran sana, mungkin tidak sekarang, suatu hari nanti pasti terbongkar!"
Ya, semua yang diucapkan Tanti memang benar. Tetapi, Ari tidak akan menyerah begitu saja. Seolah cintanya pada Marlena sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Semakin istrinya mengomel, Ari semakin kesal. Kemarahannya semakin terlihat jelas.
"Kamu itu jadi istri tidak ada rasa syukur sama sekali! Suami itu didoakan, bukan disudutkan! Suami pulang salah, tidak pulang pun salah! Apa sebenarnya maumu? Kurasa memang benar. Sebaiknya aku tidak pernah pulang sama sekali. Telingaku panas setiap kali pulang selalu mendapat omelan terus-menerus!" Ari marah. Dia masuk ke kamar mengambil tas yang semula baru diletakkan di sana. Diambilnya lagi tas itu kemudian keluar rumah dengan membanting pintu. Ari pergi dari rumah.
Semakin nyeri rasanya. Lebih nyeri daripada dia tahu kabar itu dari orang lain. Tanti hanya berusaha mengingatkan suaminya untuk kembali sadar dan ingat lagi pada keluarganya.
Tanti kalah. Sebenarnya sebaik dan sebagus apa wanita selingkuhan suaminya itu. Hingga Ari melupakan keluarganya.
__ADS_1