Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 13. Membuka Usaha


__ADS_3

Tanti sudah mencoba melupakan apa pun yang terjadi pada dirinya. Sempat sekali waktu Tanti menangisi suami brengseknya itu ketika berada di dalam kamar.


"Kamu jahat, Mas! Kamu sudah membiarkan aku hidup sendirian. Kamu selalu menambah penderitaanku, Mas! Aku benci padamu. Aku benci!" Suara Tanti serak bersamaan dengan derasnya air mata penderitaan yang diberikan suaminya. Tanti berusaha tegar di hadapan kedua anaknya, tetapi tidak disaat sendiri.


Setelah tidak mendapatkan nafkah sama sekali dari suaminya, Tanti sempat mendengar gosip dari tetangga sekitar perihal suaminya. Gosip yang menyakitkan dan menyayat hati.


"Eh, kalian tahu tidak kalau Ari itu sudah menikah lagi?"


"Hah, benarkah? Masak, sih? Tega bener ya si Ari sama istrinya? Tanti itu kan wanita baik-baik. Kenapa dia tega mengkhianati kepercayaan istrinya?"


"Entahlah! Namanya juga cobaan hidup. Lagian si Ari itu sebenarnya sukses. Hanya saja dia itu sudah kecantol wanita cantik sampai menikah."


Sakit mendengar semuanya. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disesali lagi. Baginya saat ini yang terpenting adalah kedua anak angkatnya. Mereka masih membutuhkan Tanti sebagai ibunya.


Berdiam diri saja tanpa menghasilkan apa pun menyebabkan Tanti semakin pusing. Dia harus segera memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan yang bisa menghasilkan uang. Berbekal pengalamannya memasak, Tanti mencoba membuka usaha berjualan. Dia menyiapkan segala sesuatunya dengan kedua anak angkatnya.


"Ibu yakin akan berjualan mie goreng?" tanya Indra.


Kedua anak angkatnya sudah tahu perihal yang dialami oleh ibunya. Sebagai anak yang baik, mereka jelas lebih peduli pada ibu angkatnya yang tetap bertanggung jawab padanya.


"Iya, Nak. Bismillah. Kita coba saja, ya." Dia berusaha meyakinkan anak-anaknya.


Tanti membelanjakan uangnya yang tersisa sedikit itu. Asalkan cukup untuk membeli mie, sayuran, dan telor. Tak lupa membeli garam dan beberapa bumbu dapur lainnya yang digunakan untuk menunjang usahanya.


Kedua anaknya pun membantu Tanti. Mereka menyiapkan meja sederhana dan peralatan masak yang dibutuhkan saat mengolah mie goreng. Tidak hanya itu, bumbu sederhana pun disiapkan. Modal yang pas-pasan membuat Tanti nekad berjualan seadanya. Bukannya mie goreng dengan ayam suwir seperti pada umumnya. Hanya mie goreng sederhana dengan irisan telur dadar diatasnya.


Hari pertama berjualan rasanya ingin menangis saja. Hanya laku satu piring. Bagi orang pada umumnya, mie goreng yang ditawarkan terlihat tidak menarik saat persaingan makanan di luaran sana berlomba-lomba untuk memberikan makanan yang enak dengan harga yang murah.

__ADS_1


"Mbak, menunya hanya ini?" tanya seorang pembeli yang kebetulan mampir untuk mencoba.


"Iya, Mbak."


"Berapa harganya?"


"6000, Mbak. Kalau mau tambah telor dadar, nambah 3000."


"Ya sudah, bungkuskan satu ya, Mbak! Pake telur dadar!"


Dengan sangat telaten Tanti menyiapkan mie goreng buatannya. Setelah membungkus kemudian menerima uang pembayarannya, pembeli itu pergi. Tanti merasa bersyukur setidaknya ada rezeki hari ini. Menunggu sampai larut ternyata hanya mendapatkan rezeki satu piring saja. Malam ini seluruh anggota keluarganya memakan mie goreng yang tersisa dari dagangannya.


"Bu, masih sepi, ya?" tanya Indra.


"Iya, Nak. Malam ini hanya laku satu. Tapi, kalian jangan sedih. Sisanya bisa kita makan bersama-sama, bukan?" Wajah Tanti menampilkan senyuman yang positif. Walaupun rasanya perih, tetapi dia tidak boleh menunjukkan ini pada kedua anaknya.


"Kalau terus seperti ini, apa Ibu nanti tidak merugi?" tanya Teguh. Jelas dia mengkhawatirkan ibunya.


Kedua anak angkatnya memakan mie goreng itu dengan perasaan yang tidak menentu. Perjuangan ibu angkatnya yang tidak kenal lelah membuat mereka tetap bertahan.


Teguh dan Indra yang sudah terbiasa makan mie goreng dengan nasi. Jadi, bukan masalah bagi mereka. Yang jadi masalah, mie goreng yang mereka makan itu masih banyak dari sisa jualan ibunya.


Keesokan harinya, Tanti tidak pernah menyerah. Dia mencoba jualan lagi. Sempat juga diejek sama tetangga karena menu mie gorengnya sangat sederhana sekali. Tak hanya mengejek menu makanannya, tetapi juga merendahkan dirinya karena Ari meninggalkannya.


"Mbak, jualan mie kayak gitu mana laku? Di luaran sana banyak yang lebih enak daripada punya Mbak."


Tanti tersenyum. "Tidak masalah, Mbak. Rezeki sudah ada yang mengatur."

__ADS_1


"Mengandalkan rezeki tanpa mau mengikuti keinginan pasar sama saja bunuh diri, Mbak. Bisa-bisa usaha Mbak itu mengalami kebangkrutan."


"Jangan begitu! Kasihanilah Mbak Tanti. Dia itu ditinggal suaminya menikah lagi. Lagian, Mbak Tanti dulunya enak banget. Apa-apa dari mas Ari. Sekarang giliran ditinggal pergi, baru kerasa kan?"


"Iya, harusnya Mbak Tanti itu instrospeksi diri. Mengapa mas Ari meninggalkan Mbak? Mungkin saja karena Mbak Tanti kusam dan kurang menarik!"


Sangat menyedihkan sekali. Disaat dirinya bersusah payah untuk membangun usahanya sebisa mungkin, nyatanya malah dipatahkan sebelum berjuang. Selain itu, hatinya pun dibuat lebih patah daripada harus kehilangan suaminya.


Hari kedua ini lebih lumayan lagi daripada kemarin. Hari ini penjualan mie gorengnya bertambah lagi satu porsi. Jadi, totalnya untuk hari ini sudah terjual dua porsi.


"Alhamdulillah." Tak berhenti Tanti mengucapkan syukur. Setidaknya Allah sudah memberikan rezeki lebih daripada kemarin.


Malam kedua ini, Teguh dan Indra mengamati perubahan tingkah laku ibu angkatnya. Sedikit berbeda daripada biasanya.


"Ibu terlihat bahagia hari ini," ucap Teguh.


"Iya, Nak. Kamu tahu bahwa hari ini jualan kita sudah laku dua porsi. Besok bisa saja jadi tiga porsi."


"Alhamdulillah," ucap kedua anaknya bersamaan.


"Ibu benar. Mungkin ini jalan Allah untuk keluarga kita ya, Bu," ucap Indra.


"Kalian tidak masalah kan hidup susah dengan Ibu?"


Teguh dan Indra saling pandang. Saat pertama kali mereka datang ke rumah ini, semuanya serba mudah. Namun, semakin ke sini, keluarga ini berantakan semenjak suami ibu angkatnya tidak bertanggung jawab pada mereka. Sehingga Tanti terpaksa harus bekerja keras seorang diri demi menghidupi kebutuhan mereka.


"Tidak, Bu. Kami berterima kasih sudah diperhatikan seperti ini. Kami janji akan belajar yang sungguh-sungguh supaya bisa membalas semua kebaikan Ibu," ucap Indra.

__ADS_1


Setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain, maka akan mendapatkan kebaikan juga. Kalaupun ada orang yang jahat, itu hanya sedikit bumbu dari hiruk-pikuknya kehidupan dunia.


Seperti halnya Tanti. Dia ikhlas untuk menyekolahkan kedua anak angkatnya, memberikan kehidupan yang layak walaupun saat ini hidupnya masih berkesusahan. Tapi, dia meyakini satu hal bahwa usahanya ini akan berhasil di kemudian hari. Intinya, Tanti tidak boleh menyerah. Dia harus berusaha sebaik mungkin dan tetap bersemangat. Setelah ini dia berharap usahanya akan berhasil. Namun, entah untuk hari esok. Kejutan apalagi yang akan diterimanya.


__ADS_2