Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 21. Istri Rasa Janda


__ADS_3

Semenjak kehadiran keluarga Ari yang selalu melarang perceraian dengan Tanti tempo hari, sampai saat ini Tanti masih tinggal bersama orang tuanya. Kata mertuanya akan menebus rumah yang terlanjur disita oleh rentenir. Nyatanya sampai detik ini tidak ada kabar mengenai rumah itu. Tanti sudah tidak peduli lagi.


Seusai berkutat di dapur, karena selama di rumah orang tuanya, Tanti merasa hidup menumpang sehingga dia cukup tahu diri apa yang harus dilakukan. Setiap hari dia yang memasak, membereskan rumah, sesekali pergi ke pasar untuk berbelanja memenuhi isi toko kecilnya itu. Walaupun tidak banyak laba yang didapatkan, tetapi dia bersyukur. Setidaknya masih ada uang masuk ke dompetnya.


"Tanti, kamu tidak ingin membatalkan rencana perceraianmu?" tanya Sarinah ketika melihat Tanti memindahkan sayur asam buatannya menuju meja makan.


"Ibu masih ragu dengan keputusan Tanti?" tanyanya balik.


"Bukan begitu, Nduk. Bapakmu benar. Orang tua Ari pun benar."


Sakit rasanya menjadi Tanti. Semua orang seolah tidak membenarkan perceraian. Memang benar, Allah sangat membenci perceraian, bukan berarti perceraian itu dilarang. Kasus yang dialami Tanti selama ini sudah mencoba bersabar, tetapi Ari sama sekali tidak pernah mau berubah kemudian memperbaiki keadaan. Semakin hari sikapnya menjadi lebih parah.


"Benar di mananya, Bu? Benar kalau kami tidak boleh bercerai?" tuntut Tanti.


Sarinah seperti tidak memahami kondisi putrinya. Perdebatan di pagi hari tidak akan pernah berhenti. Beruntung Teguh dan Indra lekas menghentikan perdebatan mereka dengan kehadirannya di meja makan.


"Kalian sarapan dulu! Jangan lupa bantu ibumu sebentar sebelum kalian berangkat sekolah," pesan Sarinah pada keduanya.


"Baik, Mbah," jawabnya.


Tanti merasa bersyukur sekali berada di rumah orang tuanya. Setidaknya makanan untuk anak angkatnya lebih terjamin daripada hanya bersamanya dulu. Kalau dulu, tiada hari makan tanpa menu berbahan mie. Kali ini lebih variatif dengan menu ndesonya. Terkadang sayur asem dengan ikan asin. Kadang juga rebusan sayur daun ketela rambat dengan sambal tomat.


"Teguh, Indra, uang sekolah kalian bagaimana? Sudah lunas atau ada yang perlu dibayarkan?" Tanti khawatir kalau anaknya akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya.


Kedua anaknya saling pandang. Bukannya menjawab, malah keduanya terlihat bingung.


"Tidak ada yang perlu dibayar lagi, Bu. Mereka bilang kalau iuran kami semuanya lunas."


Deg!


Apakah ada orang lain yang membayarkan iuran untuk kedua anaknya? Tanti harus menanyakan ini pada gurunya.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang membayarnya, Guh?" tanya Tanti pada anak tertuanya.


"Alhamdulillah, Bu, berkat kesabaran kami, pihak sekolah akhirnya memberikan beasiswa. Jadi, Ibu tak perlu lagi bingung dengan kami," jelas Teguh.


Rasanya lega. Setidaknya anak angkatnya masih bisa menikmati pendidikan tanpa pusing seperti sebelumnya.


"Ya sudah, sarapan dulu. Setelah itu lekas berangkat ke sekolah. Jangan sampai terlambat!" pesan Tanti sebelum meninggalkan kedua anaknya untuk mengurus tokonya. Semenjak mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan, suasana hati Tanti mulai membaik. Kalaupun pihak keluarga suaminya menolak, itu salah anaknya. Tanti akan maju terus pantang mundur.


Setiap pagi, barang dagangannya yang berupa kebutuhan pokok, sayur, dan lauk pauk itu sudah lebih berjajar di depan. Modalnya dipinjam dari orang tuanya. Jika dulu sebagai anak, semuanya bebas meminta. Semenjak menjadi istri dan menantu dari orang lain, uang yang didapatkan dari orang tuanya itu ada dua pilihan. Utang atau pemberian. Jelas Tanti tidak tega kalau harus meminta secara cuma-cuma. Keputusannya untuk berumah tangga tentunya harus membuat Tanti bisa membedakan mana yang benar dan salah.


Ya, modal yang dipakai Tanti saat ini adalah pinjaman uang dari orang tuanya. Walaupun sebenarnya mereka kekeh untuk memberikan secara cuma-cuma, tetapi Tanti tidak mau pasrah begitu saja. Dia menganggap uang yang dipakai usaha ini adalah utang yang wajib dibayar.


"Nduk, kamu hari ini terlihat berbeda," puji Sarinah.


"Tanti bahagia, Bu. Anakku mendapatkan beasiswa. Rasanya seperti mendapatkan durian runtuh."


Sarinah senang. Tanti mulai bangkit dari keterpurukannya. Walaupun mendapatkan hal sekecil itu, tetapi dia lebih banyak bersyukur.


"Ibu tidak perlu meminta maaf. Itu--"


Ucapan Tanti terhenti ketika kedua anaknya hendak menyalaminya.


"Mbah, Ibu, Teguh dan Indra pergi ke sekolah dulu," pamit Teguh. Sementara Indra mengekor di belakangnya.


"Hati-hati di jalan. Uang sakunya sudah?" tanya Tanti. Walaupun tidak banyak, tetapi cukup untuk jajan kedua anaknya. Masing-masing mendapat uang 5000.


"Terima kasih, Bu."


"Belajarnya yang sungguh-sungguh," pesan Sarinah.


"Iya, Mbah." Kedua anak itu lantas melenggang pergi setelah menyalami satu persatu.

__ADS_1


"Ibu sudah sarapan?" tanya Tanti ketika melihat kedua anaknya sudah menjauh dari pandangan.


"Nanti saja. Tunggu Bapakmu pulang!"


Setiap hari Hardiman pergi ke sawah. Walaupun tidak besar, tetapi sawah itu dirawatnya dengan baik. Dulu, sebelum Tanti menikah, sawah yang dimiliki Hardiman banyak. Lambat laun berkurang. Terakhir kali Hardiman menjualnya lantaran untuk menggelar pesta pernikahan untuk putri bungsunya, Tanti.


Setelah membereskan barang dagangan, Tanti kembali mengambil sapu untuk membersihkan seluruh rumah. Namun, aktivitasnya terhenti ketika suara sepeda motor mengusiknya. Bukan suara motor bapaknya, tetapi Tanti paham betul itu suara motor siapa.


Suara motor itu berhenti tepat di depan halaman rumah. Pemiliknya turun lantas mengetuk pintu yang sudah terbuka. Walaupun sebagai menantu keluarga Hardiman, Ari tidak langsung masuk ke rumah untuk menjaga tata kramanya.


Tanti sebenarnya enggan menghampiri pria itu, tetapi bagaimanapun hubungannya masih belum bercerai.


"Assalamualaikum," ucap Ari saat melihat kemunculan Tanti. Dia yakin kalau Tanti masih berada di rumah orang tuanya. Melihat barang dagangan yang tersisa sedikit di toko membuat Ari menyunggingkan senyumnya.


"Waalaikumsalam. Mau cari siapa?" jawab Tanti ketus.


"Aku ke sini mencarimu, Dek."


Tanti bahkan belum mempersilakan suaminya itu untuk masuk. Sementara Sarinah yang menyadari ada tamu segera menuju ke ruang tamu. Benar saja, dia melihat anak dan menantunya masih berdiri. Ari berdiri tepat di ambang pintu, sedangkan Tanti berada di tengah ruang tamu menatap malas pada Ari.


"Nduk, ada suamimu mbok ya disuruh masuk dulu," ucap Sarinah.


"Buat apa, Bu? Menambah luka hati Tanti lagi? Dia pasti ke sini mau mencari alasan supaya Tanti mencabut gugatan cerai itu, kan?"


"Aku ke sini untuk memperbaiki hubungan, Dek. Izinkan aku masuk," pinta Ari.


"Nduk, biarkan suamimu masuk. Kamu masih istrinya. Jangan lupa itu. Tidak pantas membiarkan suamimu menunggu," tegur Ibunya.


"Iya, Bu. Istri rasa janda," sanggah Tanti.


Ari terlihat malu berhadapan dengan ibu mertuanya saat ini. Namun, niatnya ke sini untuk mencoba memperbaiki hubungan seperti yang sudah ibu dan bapaknya katakan. Ari tidak boleh bercerai dari Tanti.

__ADS_1


__ADS_2