
Sarinah lah yang mempersilakan menantunya itu masuk untuk duduk di kursi ruang tamu. Seperti biasa, Ari akan selalu datang disaat pekerjaannya libur seperti ini. Ini kesempatan bagus untuk membuktikan kesungguhannya meluluhkan Tanti kembali.
"Ari, Tanti, Ibu tinggal ke belakang sebentar." Sarinah hanya ingin memberikan ruang kepada keduanya untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Hanya tinggal mereka berdua dengan keheningan yang luar biasa. Tanti enggan berbicara pada suaminya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan. Namun, tidak ada salahnya mengukir sejenak kenangan supaya Ari tidak pernah melupakan apa yang telah ditorehkan kepadanya.
"Kamu masih bernapas, Mas?" tanya Tanti.
"Ka-kamu pikir aku sudah mati, begitu?" jawab Ari lirih. Dia sudah diwanti-wanti oleh ibunya untuk tidak mengungguli gaya bicara Tanti. Dia hanya sedang emosi dan kecewa. Jadi, sebisa mungkin Ari meredam amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.
"Kamu masih hidup, tapi hatimu yang mati, Mas! Kalau kamu ke sini cuma mau merayuku, sebaiknya kamu pulang saja ke tempat Mbak Marlena yang jauh lebih membutuhkanmu."
Skakmat!
Rasanya tubuh Ari lumpuh. Dia memang yang salah. Dia juga yang harus memperbaiki semua keadaan ini. Ari datang memang tidak membawa buah tangan, tetapi dia datang dengan membawa tas berisi uang yang akan digunakan untuk menebus rumahnya yang sudah disita oleh rentenir.
Ari mengeluarkan bungkusan uang itu dari tasnya. Dia meletakkan uang itu ke atas meja.
"Orang tuaku meminta kita untuk segera menebus rumah itu sebelum rentenir menjualnya pada orang lain."
Rasanya Tanti malas sekali. Malah dia memohon supaya rentenir itu lekas menjual rumah itu pada orang lain. Rumah yang penuh kepahitan hidup baginya, yang tak pernah bisa memberikan keteduhan, maupun ketenangan. Hanya sebuah rumah yang menimbulkan rentetan luka hati tanpa bisa disembuhkan.
"Tebus saja, Mas!" perintah Tanti.
Ari menyunggingkan senyuman untuk kedua kalinya. Dia pikir Tanti sudah setuju untuk kembali bersama dengan disepakati untuk menebus rumah itu.
"Kalau begitu, ayo ikut aku! Kita temui rentenirnya."
Percaya diri sekali kalau semuanya akan mudah dengan iming-iming uang di tangannya. Dia pikir Tanti tidak semakin sakit hati. Apalagi keinginan untuk menebus rumahnya kembali bukan berasal dari pemikirannya, melainkan dari orang lain.
"Pergi saja sendiri! Aku tahu kalau hatimu masih ragu, Mas. Sebaiknya jangan buru-buru untuk menebus rumah itu kalau kamu tidak yakin. Sayang di uangnya." Tanti berlalu meninggalkan Ari seorang diri.
Sarinah yang baru saja keluar membawa nampan berisi minuman. Dia melihat hanya Ari saja ada di ruang tamu.
"Tanti ke mana?" tanya Sarinah. Dia memang tidak melihat ketika Tanti masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu, Bu," ucap Ari beralasan. Dia tidak tahu apa yang dilakukan istrinya.
Sarinah meletakkan gelas berisi teh hangat untuk menantu dan anaknya.
"Minumlah! Ibu akan melihat istrimu," pamitnya.
Sorot mata Ari memang terlihat sangat kehilangan sekali. Namun, Sarinah menyadari sakit hati yang dialami putrinya bukanlah sebuah permainan, tetapi kepahitan hidup. Tidak salah kalau Tanti enggan untuk melihat ataupun berbicara dengan suaminya.
Sarinah mengetuk pintu kamar kemudian masuk karena Tanti sengaja tidak menguncinya.
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Sarinah ketika melihat Tanti duduk di depan meja riasnya. Kamar yang ditempatinya sebelum menikah dengan Ari sampai berjalan mendekati 6 tahun pernikahannya.
"Dia bawa uang untuk menebus rumah kami, tapi aku tolak, Bu."
Deg!
Sarinah terdiam. Dia tidak mengerti jalan pikiran putrinya.
"Kenapa? Apa dia kurang berusaha?" Sarinah memelankan suaranya.
Sarinah menarik napas panjang kemudian menghembuskannya.
"Nduk, coba pikirkan lagi. Kesempatan ini tidak akan berulang lagi. Jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini," pinta ibunya.
"Buat apa, Bu? Dia juga pasti tidak berubah. Apa dia juga bilang kalau sudah bercerai dari istri mudanya? Tidak, kan? Tanti tidak mau. Biarkan saja uangnya dikembalikan pada Ibu Bapaknya. Tanti tidak butuh!"
Sekian lama menjadi Ibunya. Baru kali ini Sarinah melihat sikap Tanti yang kaku seperti saat ini. Ini bukan sifatnya yang penyayang, lemah lembut, dan pemaaf. Sarinah bahkan tidak melihat Tanti yang dulu.
"Ya sudah. Kalau begitu biar Ibu saja yang bicara padanya."
Sarinah kembali ke ruang tamu. Ari masih duduk di sana seperti seorang pria yang sedang menunggu interview kerja. Dia duduk dengan tenangnya.
"Diminum dulu," pinta Sarinah.
Ari mengambil satu gelas teh hangat yang sudah berkurang suhunya menjadi lebih dingin. Itu pun tak mampu mendinginkan hatinya. Lalu diteguknya teh itu sekitar setengah gelas. Dikembalikannya gelas itu ke tempat semula.
__ADS_1
"Ari, atas nama Tanti, Ibu minta maaf. Bukannya dia tidak mau kalau kamu menebus rumah itu, tetapi yang Tanti mau, kamu menebusnya karena inisiatifmu sendiri, bukan dari orang tuamu. Selain itu, kami semua di sini tidak tahu apakah pernikahan sirimu masih berlanjut atau tidak? Tanti sejujurnya sangat kecewa sama kamu. Jadi, apa pun usaha yang kamu lakukan kali ini, dia tidak mau menerimanya. Lebih baik kamu pulang. Pikirkan lagi solusinya."
Glek!
Haruskah Ari marah? Susah payah dia mendapatkan uang ini demi mewujudkan keinginan orang tuanya untuk menolak perceraian itu. Dia sendiri masih berhubungan baik dengan Marlena, istri sirinya. Selain dukungan orang tuanya, Marlena pun tetap mendukung supaya Ari tidak pernah bercerai dari Tanti.
"Bu, sebelum aku pamit, bolehkah aku menemui Tanti sebentar?" Ari memohon dengan iba.
"Tunggu sebentar. Akan Ibu panggilkan."
Sarinah sebenarnya juga pusing dengan kondisi rumah tangga Tanti. Ari sudah berjuang untuk mengembalikan keadaan, tetapi Tanti sendiri yang mau mundur.
Ibu tidak tahu harus bersikap bagaimana padamu, Nduk? Memaksakan untuk kembali dengan kondisi yang seperti ini, Ibu juga tidak tega.
"Nduk, keluarlah!" panggil ibunya.
Tanti yang semula malas untuk bertemu, terpaksa keluar. Dia yakin kalau suaminya itu akan minta izin pulang. Makanya ibunya memanggil.
"Suamimu mau pulang. Temui dia! Kalau kamu ada uneg-uneg yang ingin disampaikan, katakan saja. Jangan kamu pendam sendiri."
Tanti segera menemuinya. Bukan karena kangen, tetapi karena dia muak melihat wajah suaminya yang terkesan tidak bersalah sama sekali. Selain itu, segala upaya yang dilakukan bukan murni dari dalam hatinya sendiri untuk memperbaiki keadaan, tetapi dorongan dari pihak lainnya.
"Dek, Mas mau pulang," pamitnya.
Rasanya aku ingin muntah mendengar ucapannya yang seolah tidak pernah terjadi apa pun.
"Pulang saja. Untuk apa pamit sama aku?" ucap Tanti ketus.
"Dek, aku minta maaf. Aku akan mencoba perbaiki semuanya, tetapi aku mohon untuk tidak melanjutkan perceraian kita ke pengadilan," pintanya.
"Sudah terlanjur. Sama dengan kesalahanmu, kan?" tuding Tanti.
"Dek, pikirkan sekali lagi. Aku pamit pulang dulu. Kalau aku libur kerja, aku akan datang lagi ke sini."
Tanti tidak peduli lagi. Suaminya sudah keluar dari ruang tamu pun tidak diantarkan olehnya. Sementara Ari sendiri merasa usahanya gagal untuk mencapai tujuannya.
__ADS_1