
Siapa pun di dunia ini kalau memiliki bayi seharusnya akan terlihat sangat bahagia. Namun, tidak bagi pasangan Ari dan Marlena. Hari-hari keluarga ini diiringi dengan keributan terus-menerus. Mulai dari urusan anak, belanja harian, kebutuhan susu, dan belum lagi kebutuhan keluarga lainnya.
Sudah berulang kali Ari mencoba mencari pekerjaan. Tidak ada satupun yang mau menerima dirinya. Semakin hari, sisa uang yang dimilikinya semakin menipis. Bahkan, setiap hari pekerjaan Marlena hanya mengomel saja tiada henti. Seperti pada pagi ini saat Ari meminta kopi pada istrinya.
"Mar, buatin kopi, dong!" teriak Ari.
Selama menganggur, Ari pun menjadi pribadi yang berbeda. Dia semakin sering memerintah. Terkadang marah tidak jelas. Intinya hubungan pernikahan Ari dan Marlena sudah tidak sehat lagi.
"Mas! Sudah dibilang berapa kali jangan teriak! Arzan bisa menangis, Mas!" balas Marlena karena kesal.
Ya, nama bayi laki-laki itu adalah Arzan Pratama. Arzan yang artinya laki-laki yang berguna. Dia berharap kelak anaknya jauh lebih berguna daripada suaminya.
Tergopoh-gopoh Marlena pergi ke dapur menyiapkan secangkir kopi. Kalau tidak dibuatkan, Ari akan semakin ngomel tidak terkendali. Masih untung Ari tidak main tangan. Hanya butuh waktu sekitar lima sampai sepuluh menit hingga kopi itu terhidang di depan suaminya.
"Ini Mas. Lain kali jangan berteriak! Kalau terus seperti itu, aku sumpahin kalau kamu gak akan bisa berteriak lagi," ancam Marlena.
"Kamu mulai mengancam?"
"Tidak, Mas. Oh ya, daripada Mas berdiam diri di rumah terus, lekas cari pekerjaan! Uang sudah menipis. Arzan pun belum di aqiqah. Kamu itu ya, Mas. Mbok ya bertanggung jawab dengan baik. Aku capek setiap hari harus teriak-teriak, tetapi kamu tidak pernah ngertiin!"
Memang selalu seperti itu. Tidak ada kata damai di dalam rumah Marlena yang saat ini berada di ujung tanduk. Kalau mereka tidak bisa membayar utang, maka harus siap-siap untuk keluar dari rumah itu.
Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Ari. Setelah istrinya masuk, dari jauh terlihat seseorang datang bersama orang yang dikenalnya juga. Ya, Tanti datang bersama Hardiman untuk menemui Ari.
"Dek Tanti, Bapak!" sapa Ari. Walaupun sudah bercerai, tetapi Ari selalu memanggil mantan istrinya itu dengan panggilan Dek.
"Assalamualaikum, Mas. Apa kabar?" sapa Tanti.
Tanti terlihat lebih cantik, segar, dan menarik. Apakah ini namanya pesona janda? Saat bersamanya dulu bahkan Tanti sangat tidak terawat.
"Waalaikumsalam, Dek. Silakan masuk!"
Ari tidak mungkin membiarkan mantan istri dan mertuanya itu berada di luar. Mungkin saja ada hal penting yang akan disampaikan padanya.
"Terima kasih," jawab Tanti dan Hardiman.
"Mar, Mar, Mar, kemarilah!" Lagi-lagi Ari berteriak sehingga membuat Marlena datang kemudian marah-marah.
"Ada apalagi, sih? Kamu tidak bisa membuat aku tenang sedikitpun!" teriak Marlena. Dia baru menyadari kalau di ruang tamu ada mantan istri suaminya. "Ada apa ke sini?"
__ADS_1
"Mar, buatkan minum dulu!" pinta Ari dengan lembut.
"Tidak usah, Mbak. Aku ke sini cuma sebentar, kok," ucap Tanti.
"Baguslah kalau begitu," ucap Marlena lirih.
"Jadi begini, Mas. Tempo hari kan ibu dan bapakmu datang ke rumah. Merek meminta jatah uang dari rumah yang masih aku tempati itu."
"Rumah itu dibangun di tanah milik keluargaku," sahut Hardiman.
"Nah, aku sudah memutuskan untuk menjual rumah itu karena yang berhak penuh atas rumah itu adalah aku. Sementara aku--"
"Kamu harus membaginya pada suamiku!" Marlena memotong ucapan Tanti.
"Mar, dengarkan dulu!" sentak Ari.
"Jadi, kedatangan kami ke sini untuk memberikan uang 50 juta untuk Mas Ari. Itu pun aku sudah sepakat dengan Bapak. Iya kan, Pak?" tegas Tanti.
Senyuman semringah tersungging di wajah Marlena maupun Ari. Sebenarnya dia tidak ingin meminta uang itu, tetapi mau bagaimana lagi. Mereka juga butuh uang.
"Apa ini tidak kebanyakan, Pak?" tanya Ari pada Hardiman.
"Tidak. Itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya setelah ini Tanti akan menikah dan hidup dengan tenang." Harapan Hardiman sangat tinggi terhadap pernikahan kedua putrinya.
Sejujurnya Ari merasa senang dan sedih sekaligus saat menerima uang pemberian mantan istrinya itu. Uang 50 juta akan digunakan untuk membayar utang pada rentenir. Sisanya digunakan untuk aqiqah putranya. Namun, kembali lagi pada uang itu sendiri. Kebutuhan hidup semakin hari semakin banyak maka Ari harus mencoba memikirkan masa depannya. Mungkin dari sisa uang itu bisa digunakan untuk membuka usaha bersama istrinya.
...❤️❤️❤️...
Beberapa hari setelah memberikan uang pada mantan suaminya, hari ini Tanti akan menikah dengan calon suaminya, Abbas. Dia sudah dirias secantik mungkin di dalam kamarnya.
Kedua anak angkatnya pun sangat gembira. Pasalnya bapak barunya benar-benar royal sehingga membuat mereka betah. Pihak keluarga mereka pun didatangkan untuk menyaksikan pernikahan wanita yang sudah mengangkat anak-anaknya dan menjadikan mereka orang yang luar biasa.
"Bu, tidak lupa mengundang orang tua Teguh dan Indra, kan?" tanya Tanti saat berada di dalam kamarnya.
"Tidak, Nduk. Bapakmu sudah meminta orang untuk menjemputnya. Jangan khawatir! Mereka akan datang dengan selamat sampai di sini. Teguh dan Indra pasti senang."
"Tanti juga senang, Bu. Akhirnya akan menikah dengan mas Abbas."
Sarinah juga senang. Walaupun hari ini acara hanya digelar secara sederhana, tetapi tidak mengurangi eksistensinya sebagai pernikahan yang sangat sakral. Sarinah juga sudah menyiapkan jamuan makan untuk para tamu yang hadir. Ada dekorasi kecil untuk sekadar melakukan sesi foto.
__ADS_1
Sementara untuk tempat akad nikahnya, Tanti memilih ruang tamu yang dihias sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah. Sesuai kesepakatan pihak KUA akan datang sekitar jam delapan pagi.
Tanti sesekali mengaca. Dengan dandanan sederhana namun terlihat cantik, Tanti siap mengarungi kehidupan baru dengan Abbas.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Tinggal menunggu kehadiran Tanti saja.
"Bagaimana, Pak? Apa acaranya bisa dimulai?" tanya penghulu pada Hardiman.
"Tunggu sebentar! Akan aku panggilkan anakku lebih dulu."
Hardiman masuk sebentar. Setelah itu dia kembali bersama Tanti yang sudah terlihat cantik sekali. Tanti dipersilakan duduk di samping Abbas.
"Baiklah, mati kita mulai acaranya!" ucap penghulu.
Hardiman menjabat tangan Abbas kemudian memulai acaranya. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ahmad Abbas bin Ahmad dengan anak saya yang bernama Tanti Arantika binti Hardiman dengan mas kawin berupa uang satu juta Rupiah dan emas 10 gram dibayar, tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Tanti Arantika binti Hardiman dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!" Hanya dengan sekali tarikan napas, Abbas menyelesaikan kabulnya.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah ...."
Setelah itu dibacakan doa untuk sepasang pengantin supaya selalu diberkahi di setiap langkah hidupnya. Hari ini adalah lembaran baru bagi Tanti dan juga Abbas.
Seusai akad nikah, beberapa pihak keluarga melakukan foto bersama untuk membuat kenangan baru kehidupan Tanti dan Abbas. Selain itu mereka pun menikmati jamuan makan yang sudah disiapkan keluarga besar Tanti.
Tanti yang selama ini mengalami kesulitan di dalam hidupnya telah mendapatkan pria yang baru. Semoga saja dia bisa membahagiakan Tanti di masa mendatang.
"Terima kasih sudah menerimaku sebagai suamimu," ucap Abbas.
"Aku juga berterima kasih padamu, Mas. Kamu bisa menerima kekuranganku dan mau membimbingku untuk lebih baik. Tentunya tidak hanya akan hidup denganku saja, melainkan dengan Indra dan Teguh."
Rasanya sejuk sekali mendengar kebesaran hati Abbas yang mau menerima kondisi Tanti sekaligus menerima anak angkatnya dengan baik. Abbas pun berjanji padanya untuk selalu membahagiakan Tanti dan tidak akan sedikitpun menyusahkan dirinya.
__ADS_1
Terkadang rasa pahit yang harus dialami Tanti semasa hidupnya akan berakhir manis. Namun, butuh hati, jiwa, dan pikiran yang selalu sabar dalam menjalani kehidupan.
...*TAMAT*...