
Tanti merasa keputusannya melepaskan Abbas begitu saja juga salah. Ibunya mencoba memberikan penjelasan bahwa Abbas adalah pria yang baik. Kalau sampai Tanti menolaknya, pihak keluarga Ari akan menghinanya.
"Teguh, Indra, bagaimana kalau Ibu menikah lagi?" tanya Tanti sebelum memutuskan kembali ke rumah orang tuanya.
Kehidupan masa lalunya membuat Tanti dilema. Kalaupun harus menikah, dia tidak akan mungkin rujuk dengan Ari, bukan? Cukup sekali merasakan kegagalan rumah tangganya. Dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
Tanti juga sudah memohon pada Allah untuk mendapatkan petunjuk mengenai keputusannya untuk memilih Abbas sebagai pendamping hidupnya.
"Terserah Ibu saja," ucap Teguh.
Ya, kembali lagi pada dirinya sendiri. Kesempatan hanya akan datang satu kali dalam hidupnya. Itu tidak akan mungkin terulang lagi. Abbas pun tidak akan mengulangi lagi meminta Tanti untuk menikah dengannya.
Hidup sebagai seorang janda bagi Tanti tidaklah mudah. Sesekali tetangga mencibirnya menjadi wanita yang tidak laku lantaran mantan suaminya sudah hidup bahagia dengan istri mudanya.
Keputusan untuk menerima Abbas bukan bermaksud untuk menyaingi mantan suaminya, tetapi pilihan hidupnya akan menjadi lebih baik. Kalaupun laki-laki dan perempuan dipertemukan tidak ada rasa cinta, setidaknya ada restu keluarga yang mendorong kehidupannya menjadi lebih baik lagi. Yang paling penting, keikhlasan dua keluarga untuk menerima hubungan ini.
Tanti sudah memutuskan akan menerima Abbas. Setelah menikah, dia tidak akan tinggal di sini melainkan akan ikut suaminya ke manapun.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Sarinah.
Ya, setelah dia yakin bahwa Abbas akan menjadi suaminya, Tanti datang lagi ke rumah ibunya untuk memberikan keputusan yang akan membuat Sarinah senang.
"Bu, Tanti minta maaf. Tanti sudah mengecewakan Ibu, tetapi itu bukan karena Tanti tidak mau. Masih ada keraguan yang tidak bisa Tanti jelaskan, Bu."
"Bu, mbok ya jangan terlalu menekan Tanti seperti itu. Dia pasti punya alasan untuk berpikir ulang," tegur Hardiman.
"Bapak itu selalu membela Tanti terus. Bagaimana perasaan Ibu?"
"Ibu jangan khawatir, Tanti kali ini tidak akan mengecewakan Ibu."
__ADS_1
Sarinah melengos mendengar penuturan putrinya. Kalau dia akan membahagiakan, harusnya dia menerima Abbas sebagai suaminya. Bukan malah menolak dan membuat Sarinah semakin kesal.
"Sudahlah. Kamu datang selalu buat darah Ibu mendidih. Lebih baik kamu pulang. Ibu tidak mau berbicara apa-apa lagi."
"Bu, berikan keikhlasan hati Ibu dan Bapak supaya Tanti bisa menerima mas Abbas."
Deg!
Telinga Sarinah tidak salah dengar, kan? Putrinya itu menerima Abbas.
"Coba ulangi lagi, Nduk!" pinta Sarinah.
"Bismillahirrahmanirrahim, Tanti menerima mas Abbas, Bu."
Glek!
Rasanya masih tidak percaya. Sarinah akan memiliki menantu lagi. Dia tidak akan dihina keluarga besar Ari lagi. Sarinah langsung turun ke lantai dan melakukan sujud syukur di sana.
"Tidak, Bu. Ibu bisa menyampaikan kabar baik ini pada keluarga mas Abbas. Terserah kapan Ibu akan menggelar acara lamaran untuk Tanti," jelas Tanti.
Sarinah rasanya senang sekali. Hardiman pun merasa lega akhirnya Tanti akan menikah lagi.
Hari itu juga, Sarinah pun datang ke rumah keluarga Abbas. Dia datang bersama suaminya untuk memberikan kabar baik itu. Keluarga besar Abbas pun turut bahagia atas kabar yang diberikan. Menurut rencana, acara lamaran akan digelar di rumah keluarga Tanti berikut musyawarah untuk menentukan tanggal pernikahannya.
Rupanya pihak dari keluarga Abbas masih menunggu kedatangan putranya. Setelah Abbas berada di rumah, pria itu akan datang ke rumah Tanti.
...***...
Berbeda 180 derajat dengan kondisi Ari saat ini. Dia pontang-panting mencari pinjaman lantaran istrinya harus menjalani operasi Caesar untuk kelahiran bayinya. Dia pun sampai datang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu itu Ri, Ari ... nikah gak pernah bener. Selalu saja merepotkan orang tua!" maki ibunya.
"Bapak juga heran, Bu. Dari pernikahan pertama sampai kedua tidak pernah berubah! Harusnya Marlena itu jauh lebih baik daripada Tanti."
Glek!
Mendengar nama mantan istrinya disebut, Ari merasa bersalah padanya. Sudah lama Ari tidak pernah memberikan nafkah pada Tanti kala itu. Sementara pada Marlena, dia selalu memberikan nafkah penuh. Bahkan, semua kebutuhannya selalu tercukupi. Akhir-akhir ini menjelang persalinan, Marlena sangat boros sekali. Dia bahkan mengeluarkan banyak uang untuk sekadar membeli baju bayi, dan segala kebutuhan bayi lainnya. Makanya, saat persalinan tiba, uangnya pun tidak cukup. Itulah mengapa saat ini dia belum keluar dari rumah sakit lantaran belum bisa membayarnya.
"Bu, Pak, ayolah tolong Ari! Cucu Bapak dan Ibu kan sudah lahir. Tinggal bayar biaya rumah sakit, apa salahnya," ucap Ari.
"Ri, uang dari mana lagi? Ibu dan Bapak tidak punya uang sebanyak itu," keluh ibunya.
"Ibu atau Bapak bisa jual sawah, kan? Demi cucu Ibu dan Bapak lah."
Sebenarnya tidak sekali atau dua kali Ari bersikap seperti ini. Justru yang paling terasa perubahan Ari saat sudah menikah dengan Marlena. Semua uang lebih banyak dihabiskan olehnya. Biasanya saat bersama Tanti, Ari masih bisa memberikan uang pada keluarganya. Walaupun tidak banyak.
"Kenapa kamu tidak minta uang mantan istrimu saja?" usul ibunya.
Harga diri Ari jauh lebih besar untuk sekadar meminta bagian pada Tanti. Niatnya untuk rujuk dengan wanita itu sudah tidak ada kesempatan lagi. Beberapa waktu lalu Ari sempat mendapatkan kabar kalau Tanti akan dilamar seseorang.
"Bu, itu tidak mungkin. Kesalahan Ari pada Tanti banyak sekali. Kalau Ari datang ke sana lagi, malu," jelas Ari.
Orang tua Ari semakin pusing. Bagaimana caranya mendapatkan uang 13 juta dalam waktu sesingkat ini. Semakin menunda, biaya rumah sakit Marlena akan semakin membengkak. Maka, bisa dipastikan kalau Tanti dan anaknya tidak akan bisa pulang dari rumah sakit.
"Ibu tidak mau tahu. Kamu minta jatah dari Tanti. Usahanya sekarang sukses. Pasti dia mau memberikannya padamu. Perlu kamu ingat juga setelah istrimu pulang, di rumah harus ada syukuran lahiran anakmu itu. Uang dari mana lagi? Belum nanti harus ada aqiqah bayi laki-laki kamu yang membutuhkan 2 ekor kambing. Uang lagi, uang lagi," jelas ibunya dengan amarah yang menggebu-gebu.
Suaminya cuma bisa diam dan mendengarkan omelan istrinya pada anaknya yang sudah umur itu. Sudah dua kali tetap saja tidak bisa mengatur rumah tangganya sendiri.
"Pokoknya Ibu tidak ada uang. Datang saja ke rumah mantan istrimu. Minta dia membantumu untuk biaya lahiran anakmu. Dia pasti mau bantu. Paksa saja kalau tidak mau!"
__ADS_1
Kehidupan Tanti setelah berpisah dari anaknya memang terlihat sekali sudah makmur. Jelas dia memiliki banyak uang dari usahanya. Ari yang sudah terjepit, mau tidak mau harus nekad datang ke sana walaupun menanggung malu. Mungkinkah Tanti akan memberikannya uang atau malah memberikan kejutan yang tidak pernah diduganya?