Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 33. Hendak Melamar


__ADS_3

Sendiri bukan akhir segalanya. Janda pun bukan pangkat baru yang harus disyukuri, tetapi sesudah terlepasnya ikatan pernikahan dengan mantan suami. Saatnya Tanti melanjutkan kehidupannya. Kalaupun ada orang yang mendekat, bisa saja Tanti membuka hati dengan cepat. Namun, bukan itu tujuannya. Selama ini belum ada laki-laki yang berniat untuk mendekatinya lagi, kecuali mantan suaminya itu.


"Mbak, pagi-pagi kok sudah melamun," sapa pelanggan Tanti.


"Oh, tidak. Hanya sedang memikirkan harga telor yang meroket lagi, Mbak," ucap Tanti beralasan.


Padahal dia sendiri sedang memikirkan nasib kehidupannya di masa mendatang. Dia juga belum membicarakan perihal permintaan orang tua Ari tempo hari. Sebenarnya kalau boleh memilih, lebih baik dia mengabaikan permintaan yang tidak masuk akal itu.


"Wah, iya Mbak. Gara-gara itu, aku lebih suka belanja sayur matang saja di Mbak Tanti. Aku pusing setiap hari harus memikirkan harga bawang merah yang masih di situ saja, sementara beberapa kebutuhan lainnya mulai labil."


"Labil, Mbak?" tanya Tanti.


"Eh, bukan. Maksudku tidak stabil, Mbak. Jadi kurang konsentrasi, kan. Padahal minum air sudah lebih dari cukup, tetapi masih saja dibuat oleng karena harga kebutuhan yang tidak bisa diperkirakan. Belum lagi anak-anak sekolah. Kebutuhannya tidak bisa ditunda, kan."


Tanti tersenyum. Beruntung dia mendapatkan pelanggan tetap seperti mereka. Setidaknya ini akan mengangkat perekonomian keluarganya selama hidup sendiri.


"Iya, Mbak. Tetap semangat, yang penting selalu sehat dan rezeki mengalir seperti air."


Selesai memilih dan membayar beberapa makanan, pelanggan Tanti pergi. Begitu seterusnya. Pelanggan Tanti rata-rata ibu-ibu yang malas memasak imbas harga kebutuhan pokok yang tidak stabil itu.


"Mbak, ada sayur asem?" tanya pelanggan yang lain.


"Ada, Mbak. Di sebelah situ," tunjuk Tanti.


Setelah melayani pelanggan, Tanti beberes. Dia mengecek beberapa makanan yang sudah laku atau belum. Kali ini lumayan ramai sekali sehingga barang dagangannya tinggal sedikit saja.

__ADS_1


Sepertinya bayangan yang sedari pagi sempat terlintas di benaknya, bukan hanya sekadar bayangan, tetapi itu nyata. Ya, Ari datang dengan senyuman teramah sepanjang kehidupannya. Tak lupa beberapa barang bawaan yang digadang-gadang sebagai sajen untuk mantan istrinya itu.


"Kenapa kamu ke sini lagi, Mas?" tanya Tanti dengan nada suara yang kasar.


"Membawakan kamu oleh-oleh. Ini ada tape singkong dan tape ketan. Kurasa kamu tidak akan menolaknya. Ini kan makanan kesukaan kamu. Ibuku yang mengirimkannya."


Rasanya Tanti ingin berteriak lebih kencang lagi. Beberapa waktu yang lalu, Tanti harus membuat makanan berbahan dasar pisang untuk diberikan secara cuma-cuma pada pelanggannya. Kali ini mantan suaminya datang lagi membawa makanan.


"Kalau kedatanganmu ke sini untuk meminta bagian penjualan rumah ini, maaf aku tidak akan pernah memberinya. Jangankan kuberikan, rumah ini tidak akan aku jual sampai kapanpun," tegas Tanti.


Jelas saja Ari juga bingung apa yang dibicarakan mantan istrinya itu. Dia sengaja datang berniat untuk silaturahmi, tetapi sepertinya Tanti sudah salah paham lebih dulu.


"Aku tidak paham ucapanmu, Dek. Sungguh," ucapnya sembari mencari tempat duduk yang berada di depan meja yang digunakan Tanti untuk berjualan.


Tanti mengambil beberapa nampan jualannya. Dia sengaja mengumpulkan menjadi satu makanan yang tersisa hari ini. Rencananya akan diberikan ke tetangga sekitar yang kurang mampu. Walaupun Tanti bukan orang kaya, tetapi dia masih ingat untuk berbagi.


"Sungguh, Dek. Memangnya orang tuaku pernah datang ke sini?"


Tanti menghela napas panjang. Haruskah dia menjelaskannya lagi dari awal?


"Sebaiknya Mas Ari pulang, dan tanyakan itu pada orang tuamu."


Tanti melanjutkan kesibukannya. Dia mengabaikan Ari yang datang berniat baik. Bahkan, makanan yang dibawa Ari pun masih di dalam genggaman pemiliknya.


"Dek, kamu sekarang berubah, ya. Tidak seperti dulu. Kamu yang selalu memberikan dukungan padaku, kamu yang sayang padaku, sekarang kau sudah benar-benar berbeda."

__ADS_1


Rasanya Tanti ingin menenggelamkan mantan suaminya itu. Bagaimana mungkin dia bisa mengeluarkan rayuan tak bermutu itu. Sudah lama sekali Tanti merasa alergi, tetapi semakin ke sini, intensitas pria itu mengejarnya semakin tidak terkontrol. Sering sekali datang ke rumah hanya untuk membawakan gombalan tidak bermutu dan makanan yang menurut Tanti malah membuatnya pusing. Dimakan pun tidak mungkin selain harus dibagikan pada tetangga sekitar.


"Sudah cukup gombalannya? Kalau sudah, silakan pergi dari sini. Aku bukan pengangguran yang harus menemani pria sepertimu. Oh ya, aku lupa. Jangan-jangan istrimu sudah mulai membosankan dan bertingkah sama sepertiku, ya? Jangan sampai kamu melakukan hal yang sama padanya. Kamu akan berdosa karena menelantarkan ibu dan anak yang tidak berdosa." Tanti malah memberikan ceramah yang tak ubahnya sebagai sarana untuk mengusir mantan suaminya itu.


"Dek, harus berapa kali lagi aku katakan. Aku ingin menjalin hubungan baik lagi denganmu. Aku menyesal telah melepaskan dan menyia-nyiakanmu kala itu. Ternyata kamulah yang terbaik dibandingkan Marlena. Dia semakin membuatku emosi saja sepanjang hari."


Oho, dia curhat pemirsa. Mungkin saja dia lupa sudah mencampakkan istrinya selama ini.


"Itu karma untukmu, Mas! Nikmati saja. Dulu, kamu menganggap aku sebagai sampah, bodoh, dan selalu mengandalkan semua kebutuhan pada suami. Tidak untuk kali ini, Mas. Aku bisa bangkit, aku mandiri, dan kemungkinan aku akan menikah lagi dengan pria yang tentunya jauh lebih baik daripada kamu, Mas. Aku tidak menganggapmu buruk, tetapi itulah kenyataannya. Sebaiknya kamu pergi, atau aku akan membuat semuanya semakin rumit," ancam Tanti.


"Dek, berikan aku kesempatan lagi. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Kita rujuk, aku akan memberikan kebahagiaan yang pernah kukacaukan selama ini."


Sebenarnya Tanti sudah bosan sekali. Saat perbincangan belum usai versi Ari, orang tua Tanti datang. Hardiman dan Sarinah langsung membelalakkan matanya melihat Ari di sana.


"Ngapain kamu ke sini? Belum puas nyakiti anakku? Atau, kamu menyesal telah meninggalkan Tanti? Oh, aku tahu. Kamu pasti mau merayu Tanti supaya bisa rujuk lagi, kan? Nyesel yah sudah melepaskan anakku."


"Bu, sabar," bisik Hardiman.


"Aku tidak bisa sabar kalau lihat mukanya, Pak," ucap Sarinah.


"Ibu sabar dulu. Ari ke sini cuma mau menyambung silaturahmi saja. Selebihnya tidak ada."


"Ooo, baguslah kalau begitu. Oh ya, Nduk. Ibu datang ke sini membawa kabar gembira. Ada pria yang hendak melamarmu. Bagaimana?"


Tanti justru terlihat biasa saja. Sementara Ari, matanya langsung membulat sempurna. Rencananya untuk merajut kisah yang telah terputus itu sepertinya akan mendapatkan banyak halangan. Pihak orang tua Tanti sudah menyiapkan calon suami yang pantas untuk menggantikan Ari.

__ADS_1


__ADS_2