
"Ari, sebaiknya kamu kembali pada Marlena. Lupakan Tanti! Hiduplah dengan nyaman dan bahagia bersama istrimu itu!" pesan ibunya sebelum meninggalkan pengadilan.
Berat rasanya meninggalkan istri yang selalu dicintai seperti Tanti, tetapi entah mengapa kala itu dia terbuai dengan pesona Marlena sehingga membuat Tanti semakin kecewa dan menjauh darinya? Bila dibilang serakah, ya Ari sangat serakah. Tak cukup baginya sudah menyakiti hati Tanti, dan sekarang masih mau memperbaiki keadaan.
Sidang lanjutan sudah digelar berulang kali, tetapi Ari masih kekeh tidak mau bercerai. Namun, Tanti dan pihak keluarganya sudah memohon untuk dikabulkan. Mereka tidak tahan dengan sikap Ari yang terkadang labil. Mungkin efek dari memiliki dua istri dan terkesan berat sebelah.
Sesekali Ari mencoba membujuk Tanti ketika persidangan berlangsung, tetapi pintu maaf sudah tidak bisa diberikan. Pernah juga, Ari mengirimkan uang dan beberapa pakaian untuk anak angkatnya, tetapi langsung dikembalikan oleh bapaknya Tanti ke rumah keluarganya. Selain hubungan Ari dan Tanti yang sudah tidak baik, hubungan kedua keluarga pun berlangsung seperti itu.
Tepat di sidang yang keempat, Majelis hakim memutuskan untuk keduanya bercerai. Rasanya sangat aneh saat putusan pengadilan sudah disahkan. Dengan langkah gontai, Ari keluar dari ruang sidang disusul keluarganya. Begitupun dengan Tanti. Ada kelegaan terpancar di wajahnya.
Tanti dan keluarganya mengira kalau mantan suaminya itu sudah pergi bersama keluarganya, nyatanya salah. Mereka masih menunggu di tempat parkir pengadilan. Entah, drama apalagi yang akan terjadi setelah itu.
"Dek, bisa kita bicara sebentar?" tanya Ari ketika sudah berada di hadapan mantan istrinya.
Sebenarnya Sarinah enggan mengizinkan putrinya untuk berbicara dengan pria yang tidak bertanggung jawab itu, tetapi mau bagaimana lagi. Toh keduanya sudah dipisahkan dengan kata cerai barusan. Tanti mencoba memberikan pengertian bahwa hanya untuk sebentar saja sampai Ari selesai berbicara.
"Katakan, Mas! Aku tidak punya waktu lagi untuk menunggumu," ucap Tanti.
Kali ini orang tua Ari pun berjarak. Jadi, kecil kemungkinan mereka akan ikut campur dalam pembicaraan ini.
"Dek, walaupun kita sudah bercerai, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa aku masih cinta sama kamu."
Glek!
Rayuan gombal macam apa ini? Rasanya Tanti ingin meludah di hadapan mantan suaminya itu.
"Lupakan itu, Mas! Aku akan hidup dengan Teguh dan Indra, sedangkan kamu hidup bersama Mbak Marlena. Sudah cukup adil buatmu, kan? Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?"
__ADS_1
Sebenarnya ucapan Tanti barusan sengaja untuk menampar hati Ari, tetapi sepertinya itu hal yang sangat mustahil. Dia terlihat tidak menyesali perbuatannya dan terlihat sangat menikmati. Apalagi istri sirinya sudah hamil. Semakin besar kepala saja pria itu.
"Mungkin tidak saat ini, Dek. Tapi, aku berencana rujuk lagi denganmu setelah urusanku dengan Marlena selesai."
Glek!
Yang benar saja. Pria ini rupanya tidak hanya mempermainkan satu wanita, tetapi dua. Tanti bisa merasakan kesedihan Marlena akan seperti apa ketika baru saja melahirkan kemudian mendapatkan hadiah kata talak dari suaminya. Tanti tidak bisa membayangkan akan sekalap apa dia?
"Sudahlah, Mas! Sebaiknya kamu pulang sekarang. Ibumu terlihat tidak senang melihatmu berbicara denganku."
Ari melirik sebentar ke arah ibunya. Terlihat jelas kalau wanita itu sudah memanggilnya dengan melambaikan salah satu tangannya.
"Ibu bersikap seperti itu karena tidak ingin kehilangan menantu sepertimu, Dek. Tunggu aku, ya! Kita akan rujuk kembali."
Terasa aneh sekali ucapan Ari barusan. Sudah jelas kalau ibunya itu sudah menghinanya sampai ke ubun-ubun. Apalagi sudah menuduh Tanti sebagai wanita yang mandul. Sekarang, mendadak Ari mengatakan hal seperti itu.
"Kenapa pria itu memanggilmu?" tanya Sarinah.
"Sudahlah, Bu. Biarkan Tanti tenang dulu. Dia pasti masih syok setelah pengadilan mengabulkan gugatan perceraiannya," tegur Hardiman pada Sarinah.
"Mas Ari minta rujuk, Bu," ucap Tanti lirih.
"Apa? Dasar pria gendeng! Sudah jelas dia itu menikah lagi, tidak menafkahi istri sahnya, terus datang ke rumah membawa makanan untuk syukuran kehamilan istri sirinya. Benar-benar gendeng!" maki Sarinah. Padahal orangnya tidak ada di hadapannya, tetapi Sarinah masih saja tersulut emosi.
"Istighfar, Bu. Nanti darah tinggi Ibu kumat, loh," tegur Hardiman.
Jelas saja emosi, baru saja dinyatakan berpisah, lalu meminta rujuk kembali. Ari memang tidak waras.
__ADS_1
"Pokoknya sampai Ibu mati pun, Ibu tidak akan mengizinkan kamu rujuk dengannya," ucap Sarinah.
"Ibu, jangan menyalahi takdir. Kita tidak pernah tahu kehidupan Tanti ke depannya. Apalagi rumah yang ditebus Ari itu kan tanah milik kita. Jelas dia tidak berani menjualnya," tegas Hardiman. Sebenarnya dia tahu kalau mantan menantunya itu tidak akan berbuat seburuk itu, tetapi perihal perselingkuhannya sampai menikah siri, Ari mungkin tidak tahan dengan rayuan wanita itu. Mungkin saja itu bisa terjadi, kan? Bagaimanapun Tanti memang sudah tersakiti. Selayaknya anak bungsunya itu hidup bahagia dengan memulai status barunya.
"Maksud Bapak, ada kemungkinan Ari akan mewujudkan rencana rujuknya itu?" tanya Sarinah.
Hardiman mengangguk, tetapi Tanti lebih memilih untuk diam. Sarinah lantas melirik ke arah putrinya.
"Nduk, apa kamu mau rujuk sama pria bejat itu?" tanya Sarinah tanpa menghilangkan persepsi buruk mengenai Ari. Baginya, mantan menantunya itu sudah sangat buruk. Tak ada bagus-bagusnya sebagai laki-laki.
"Bu, kita bicarakan ini di rumah, ya. Tanti minta maaf karena tidak ingin memperburuk keadaan." Tanti mencoba meredam amarah ibunya, tetapi pemicu yang sebenarnya itu bukan Tanti, melainkan Hardiman.
"Nah, Tanti benar. Ibu jangan mikir macam-macam dulu. Siapa tahu Ari akan berubah menjadi lebih baik lagi setelah semua kejadian yang menimpanya."
Hardiman semakin yakin kalau tujuan Ari itu adalah tekadnya untuk memperbaiki keadaan. Tapi, hasil akhirnya nanti akan diserahkan lagi pada yang Yang Maha Kuasa. Terkadang mengingat apa yang sudah dilakukan pada Tanti, seolah tidak ada maaf yang bisa diberikan. Namun, mengingat kesungguhan Ari pada saat meminang Tanti kala itu membuat Hardiman luluh juga. Dia bisa membuktikan kebenaran ucapannya kala itu.
Angkot yang sudah mereka tumpangi berhenti tepat di depan halaman rumahnya. Tanti turun lebih dulu bersama Sarinah, sedangan Hardiman membayarnya terlebih dahulu.
"Terima kasih, Pak. Kapan-kapan kami sewa lagi," ucap Hardiman pada sopir angkot tersebut.
"Inggih, Pak Hardi. Semoga Mbak Tanti lekas menikah lagi, ya."
Hardiman hanya tersenyum menjawabnya. Setelah angkot itu pergi dari hadapannya, Hardiman masuk ke dalam. Dia melihat Sarinah memegang buku dan bolpoin di tangannya. Sementara Tanti tidak ada di sana.
"Ibu mau ngapain?" Hardiman memilih duduk agak jauh dari istrinya.
"Ibu lagi mencatat kebutuhan belanja untuk syukuran perceraian Tanti, Pak. Ibu lega rasanya," balas Sarinah dengan entengnya.
__ADS_1
Sementara Hardiman cuma bisa mengelus dada dengan sikap istrinya barusan. Seolah apa yang dilalui putrinya itu patut disyukuri dan dibuat acara semeriah mungkin.