
Memasuki trimester ke tiga membuat Marlena semakin sering minta ditemani oleh Ari. Padahal dia harus bekerja setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup. Namun, wanita itu terus saja melarangnya untuk pergi.
"Aku sangat kesal padamu. Hari ini aku harus bekerja. Aku tidak bisa terus menemanimu," keluh Ari. Rasanya amarahnya ingin meledak-ledak saat tahu sifat manja istrinya yang menggila itu.
"Mas, kamu itu bagaimana, sih? Mau enaknya saja! Aku ini hamil besar. Kalau sewaktu-waktu akan melahirkan, di rumah tidak ada orang, aku minta tolong siapa?"
Itu lagi yang selalu menjadi alasan Marlena. Padahal dia bisa saja minta tolong tetangga sekitarnya. Namun, yang menjadi masalah rumor kalau Marlena adalah wanita yang merebut Ari dari istri pertamanya. Itulah yang membuatnya enggan untuk meminta tolong pada tetangganya.
"Aku harus bekerja. Kalau tidak bekerja, darimana kita akan mendapatkan uang untuk biaya lahiran kamu dan syukurannya? Memangnya kamu mau kalau kita lahiran tidak punya uang sama sekali?"
Beberapa waktu terakhir ini, Marlena selalu menggunakan uang untuk belanja kebutuhan bayinya. Tidak sedikit yang digunakan. Mendekati persalinan, dia malah ngomel terus pada suaminya lantaran tidak memegang sepeser pun uang.
"Mas, tapi aku takut kalau sendirian di rumah. Paling tidak, pikirkan aku dan anakmu ini," pintanya lagi.
Beberapa kali Ari melihat jam dinding. Kalau sering terlambat datang ke tempat kerjanya, bisa-bisa mandor yang mempekerjakannya akan memecat secara sepihak. Bagaimana caranya dia akan mendapatkan uang untuk menafkahi istri dan anaknya kalau Marlena seribet ini?
Baru mau melangkahkan kakinya, Marlena mengalami kontraksi. Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kali ini Ari tidak masuk kerja. Sudah beberapa kali Ari datang terlambat ke tempatnya bekerja.
Beberapa kali panggilan telepon diabaikan lantaran fokus membawa istrinya ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Marlena masuk ke ruang IGD. Namun, itu tidak langsung ditangani lantaran ada beberapa berkas yang tertinggal.
"Pak, karena istri Bapak mengalami kontraksi, kami akan memantaunya lebih dulu. Saat ini coba Bapak urus pendaftaran pasien ke bagian front office. Jangan lupa buku KIA nya disertakan ya, Pak!" pesan suster.
Ari yang selama ini hanya tahu alat-alat pertukangan saja mendadak minta bertemu dengan istrinya sebentar. Berkas-berkas itu pun tidak pernah tahu menyimpannya di mana.
"Suster, aku mau bertemu istri sebentar. Ada yang ingin kutanyakan padanya."
"Silakan, Pak!"
Ari menemui istrinya. Saat ini Marlena merasakan kesakitan yang luar biasa. Kontraksinya itu benar-benar membuatnya kesakitan.
__ADS_1
"Aduh, aduh, aduh ...."
Marlena terus saja mengaduh. Namun, Ari tidak tahan mendengarkan suaranya semakin ke sini malah kencang sekali.
"Mar, malu dilihat banyak orang!" keluh Ari.
"Mas, ini sakit!"
Ari mana mau peduli. Yang paling penting saat ini berkas-berkas yang dibutuhkan Marlena untuk kelengkapan berkas tindakan di rumah sakit.
"Sudah, jangan banyak omong! Sebaiknya kamu tunjukkan di mana kamu simpan KK, KTP, dan KI- apalah itu yang diminta suster."
"KIA, Mas! Itu ada di lemari pakaianku. Semuanya aku simpan di sana."
Ari tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada istrinya saat ini. Fokusnya hanya pada berkas yang dibutuhkan. Ponselnya sejak tadi pun berdering. Telepon dari mandornya belum sempat diangkat.
Wajar saja Ari tidak tahu apa itu KIA. Selama Marlena kontrol atau ada urusan apa pun, Ari tidak pernah menemaninya.
"Ini mandor juga kenapa telepon terus?" garutu Ari saat berada di atas motornya.
Suster sudah memberitahukan padanya untuk datang tepat waktu ke rumah sakit. Itu nantinya akan digunakan untuk memutuskan perawatan persalinan Marlena, istrinya.
Sampai di rumah, ponselnya terus saja berbunyi. Ari buru-buru sehingga mengabaikan panggilan itu. Setelah mendapatkan beberapa berkas yang dibutuhkan, Ari tidak langsung ke rumah sakit. Melainkan harus ke tempat foto copy dulu.
Mungkin inilah yang dinamakan karma. Saat menunggu selesainya berkas untuk istrinya, ponselnya mendapat pesan penting dari mandornya. Ingin mengabaikan pesan itu, nyatanya malah membuat Ari membelalakkan matanya.
[Kamu dipecat!]
Satu kalimat yang membuat napas Ari naik turun. Ini semua gara-gara Marlena. Kalau saja istrinya itu tidak berdebat ataupun menghalangi niatnya untuk masuk kerja secara on time, ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Sial!" umpat Ari.
"Kenapa, Mas? Ini sudah selesai," ucap penjaga foto copy itu.
"Berapa, Mas?"
"Lima ribu rupiah, Mas."
Ari mengeluarkan satu lembar uang dua puluh ribu rupiah. Setelah mendapatkan kembaliannya, dia lekas pergi ke rumah sakit. Setelah urusannya dengan Marlena selesai, Ari akan datang ke proyek untuk meminta maaf pada mandornya. Keadaan darurat Marlena bisa digunakan sebagai alasan supaya mandornya tidak jadi memecatnya. Namun, dia harus tetap tenang.
Setelah menyerahkan beberapa berkas, bagian administrasi memberikan beberapa rincian biayanya. Untuk pasien yang melahirkan normal, Ari harus menyiapkan uang kisaran lima sampai enam juta. Untuk lahiran melalui prosedur Caesar, administrasi mengatakan kalau dia harus menyediakan uang kisaran dua belas juta.
Ari lantas memegang pelipisnya. Dia mendadak pusing. Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Saking paniknya, dia mendadak lemas. Dia hanya memegang uang untuk makan beberapa hari ke depan. Rokok dan uang bensin pun sudah menipis. Ini semua gara-gara Marlena yang terlalu berlebihan.
Selesai membereskan administrasi, Ari beranjak keluar dari rumah sakit. Tujuannya saat ini ke proyek tempatnya bekerja.
"Bos, aku minta maaf," ucap Ari pada mandornya.
"Maaf, maaf, maaf! Kamu itu keterlaluan! Sudah berapa kali kamu terlambat datang ke proyek? Ini sudah lebih dari batas normalnya, Ari! Jangan kamu pikir jabatanmu di sini tukang yang beken dan keren, semua pekerjaanmu bagus, tapi bukan berarti mengabaikan panggilan mandor! Pokoknya aku tidak mau kamu ada di sini lagi," omel mandornya.
"Bos, aku hari ini benar-benar dibuat pusing sama istriku," ucapnya memohon.
"Kenapa lagi? Dia sakit? Ngidam lagi?"
"Bukan, Bos. Tapi, mau melahirkan. Jadi, hari ini aku buru-buru mengantarkannya ke rumah sakit lantaran dia mengalami kontraksi. Aku khawatir dan gugup, Bos. Mengenai pesan itu, tidak benar, kan? Aku tidak dipecat, kan?"
Mandornya terdiam. Kinerja Ari memang bagus, tetapi akhir-akhir ini dia sering datang terlambat. Mandornya pun sudah mendapatkan teguran beberapa kali.
"Maaf, Ari. Kali ini kamu sudah keterlaluan. Aku tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan istrimu. Kalau kamu memutuskan untuk bekerja di sini, harus fokus! Jangan mengabaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Kalau sudah seperti ini, bagaimana caraku membela kamu dihadapan bos besar?"
__ADS_1
Bos besar yang dimaksud adalah orang yang mendanai proyek yang sedang berlangsung. Namun, ucapan mandor itu rupanya tidak main-main. Ari tetap dipecat sehingga dia semakin setres menghadapi kehidupannya semakin rumit itu.