Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 19. Pengajuan Perceraian


__ADS_3

Semua sisi seolah mendukung Ari dan Tanti tidak boleh bercerai. Namun, Tanti sudah tidak tahan lagi. Pertemuannya kala itu yang hanya sebentar, nyatanya tidak membuat Ari berubah. Jangankan untuk melihatnya, datang ke rumah keluarga Tanti pun sudah tidak pernah sama sekali. Apalagi memberikan tanggung jawab yang seharusnya menjadi hak Tanti.


Pria mana yang akan mengingat istri tuanya kalau istri muda lebih menggoda. Itulah saat ini yang dirasakan Tanti akibat ulah suaminya. Berdalih alasan nyaman dan sebagainya, kemudian tidak mau menceraikan istri sahnya membuat Tanti dongkol. Bagaimana tidak, mencoba bertahan sulit, berpisah pun tak diizinkan. Kehidupan Tanti bagai makan buah simalakama. Lanjut sulit, tak lanjut pun sulit.


Hardiman pamit sebentar kepada Tanti. Entah, pria paruh baya itu pergi ke mana. Namun, sekembalinya pria paruh baya itu, Tanti dipanggil bersama ibunya, Sarinah.


"Panggil Ibumu ke sini!" perintah Hardiman yang saat ini sedang menunggunya di ruang tamu.


Tanti menuju ke belakang sebentar kemudian kembali lagi bersama ibunya.


"Bagaimana, Pak?" tanya Sarinah.


Melihat gelagat ibunya, Tanti sepertinya paham betul maksud keduanya. Namun, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bapak dari mana?" tanya Tanti. Ada perasaan tidak nyaman di dalam dirinya.


"Duduklah dengan Ibumu! Bapak ingin bicara."


Tanti dan Sarinah duduk berdampingan di kursi ruang tamu. Pandangan mata Tanti terus tertuju pada mata Hardiman.


"Nduk, sebelumnya Bapak minta maaf. Hari ini Bapak tanpa seizinmu telah pergi ke rumah keluarga suamimu."


Deg!

__ADS_1


"Bapak menemui orang tuanya?" Tanti sungguh terkejut.


"Iya, Bapak sudah menyampaikan semuanya. Mereka tidak tahu sama sekali perihal kelakuan Ari selama ini."


Deg!


Sudah bisa diduga. Ari menyembunyikan semuanya sehingga dia meminta tetap bertahan dengan pernikahannya. Pernikahannya dengan Tanti lebih tepatnya.


"Lalu, apa kata mereka?"


"Mereka tidak mau kalau kamu bercerai dengan Ari. Sebenarnya mereka lebih terkejut lagi karena Ari tidak pernah pulang ke sana dan menyampaikan pernikahan keduanya, Nduk. Setelah Bapak rembukan bersama mereka, sama halnya dengan Bapak, mereka pun tidak setuju kalau kalian berpisah."


Tanti tertawa sejenak. Dia merasa pikiran kedua keluarga ini ada yang salah. Walaupun Tanti merasa menjadi wanita yang paling bodoh di dunia ini karena mau saja mengalah dari suaminya, nyatanya dua keluarga yang menyatu karena pernikahannya pun sama bodohnya. Mereka tidak merasakan sakit hati, kecewa, dan tekanan batin yang selama ini dialami Tanti atas ulah Ari.


"Pak, coba Bapak pikirkan sekali lagi! Tanti ini anak Bapak. Tanti sudah dibohongi. Tanti dicurangi. Mas Ari berbahagia atas pilihannya saat ini. Mengapa kalian semua seolah tidak mengerti perasaanku. Aku terluka, Bu, Pak." Tangisan Tanti keluar bersamaan dengan menganak sungai air matanya yang tiada pernah berhenti semenjak Ari membohonginya.


Tanti menghentikan air matanya sejenak seolah dia sanggup dan tegar. Nyatanya dalam dirinya, dia sangat rapuh.


"Bu, mana mungkin pria brengsek itu mau melepaskan istri siri yang selalu membuatnya nyaman! Tanti tidak yakin. Tolong Bapak dan Ibu jangan paksa aku untuk tetap bertahan."


"Tanti, jaga ucapanmu!" Hardiman membentaknya. "Bagaimanapun dia masih suamimu. Pria pilihanmu kala itu. Apa kamu lupa kalau kamu yang memohon pada Bapak untuk merestuinya. Bapak sudah merestui. Kalaupun saat ini dia berulah, cobalah kalian kembali dan perbaiki hidup. Jangan apa-apa sedikit cerai, cerai, dan cerai. Sudah Bapak katakan berulang kali, Ari juga tidak mau bercerai darimu. Kalian bisa memperbaiki hubungan rumah tangga ini."


Tanti merasakan kesakitan lagi.

__ADS_1


"Satu lagi, bahwa keluarga besar Bapak maupun Ari tidak setuju kalau kalian bercerai! Titik! Bapak tidak mau ada perdebatan lagi. Renungkan dan kembali pada suamimu!"


Glek!


Sihir apa yang telah dilakukan Ari pada seluruh keluarga besarnya? Kalaupun mereka tidak setuju, toh yang menjalani kehidupan adalah Tanti sendiri. Dia berhak menentukan pilihan hidupnya. Dia juga berhak bahagia seperti orang-orang di luaran sana. Salahkah kalau Tanti memilih mundur kemudian memberikan kesempatan pada Ari untuk hidup mandiri?


Sebagai anak yang menghormati orang tuanya, Tanti bisa saja sepakat dengan keputusan Bapak maupun keluarga besar suaminya. Namun, Tanti enggan mendengarkan permintaan mereka.


Mereka tidak melihat langsung penderitaan yang dihadapinya selama ini. Bahkan, orang tuanya sendiri yang jelas telah melihat bagaimana Tanti harus banting tulang untuk menyambung hidup pun masih memaksa Tanti untuk bertahan dengan suami tak bergunanya itu.


Sementara Ari menjalani kehidupan yang nyaman dengan istri barunya tanpa kekurangan suatu apa pun. Semua gajinya jelas sudah diberikan kepada Marlena. Sepasang suami istri baru itu sudah menari-nari di atas penderitaan Tanti selama ini. Haruskah Tanti tetap bertahan?


Kalaupun mau, jelas Tanti akan mendapatkan hujatan dan cacian dari luar sana. Mengingat betapa bodohnya dia yang sudah disakiti ribuan kali tetap bertahan dalam kesakitan yang sama.


"Pak, Bu, tanpa mengurangi rasa hormat Tanti pada kalian semua, bahwa Tanti sudah meyakini apa yang menjadi keputusanku. Sejujurnya, pria yang memang Tanti pilih untuk menjadi pendamping hidup Tanti, yang sudah kuanggap sebagai belahan jiwa ini, nyatanya tak mampu melanjutkan tanggung jawab yang sudah Bapak berikan padanya."


"Tapi,--" Hardiman hendak menyela ucapan putrinya, tetapi Sarinah mencoba memberikan ruang lagi bagi Tanti untuk mengatakan keputusan terakhirnya.


"Biarkan anakmu menyelesaikan ucapannya!" sahut Sarinah.


"Tanti sudah bertekad untuk tidak melanjutkan hubungan ini dengan kata lain, Tanti akan menggugat pria itu. Pria yang sudah lalai akan tanggung jawabnya selama ini. Dia yang membuat segalanya berubah. Tanti masih menjadi Tanti yang dulu. Mencoba menerima semua keadaan pahit ini, nyatanya semakin ke sini, pria itu tidak pernah sadar. Bapak dan Ibu memang tidak pernah melihat apa yang Tanti lakukan selama ini untuk bertahan hidup dengan Teguh dan Indra. Mereka sama terlukanya dengan Tanti, Pak, Bu."


Hardiman dan Sarinah terdiam. Mereka mencoba merasakan sakit yang dialami Tanti selama ini.

__ADS_1


"Asal Bapak dan Ibu tahu, pria itu juga sudah membiarkan selingkuhannya datang ke rumah dan meminta restu di hadapan Tanti. Hati wanita mana yang tidak hancur? Sebenarnya aku pun tidak tahu, tetapi pria itu dengan terang-terangan menghancurkan kepercayaan Bapak padanya. Masihkah Bapak mempertahankan anak Bapak untuk disiksa lagi, dan lagi?"


Semula Hardiman kekeh pada pendiriannya. Setelah mendengarkan semua uneg-uneg putrinya, walaupun di awal mereka juga sudah tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi mereka mencoba mempertahankan status dan kehidupan putrinya. Nyatanya tidak bagi Tanti. Pengajuan gugatan perceraian akan tetap dilanjutkan atas permintaan sendiri.


__ADS_2