Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 24. Gagal Lagi


__ADS_3

Tanti membantu ibunya untuk berbaring di kursi yang terbuat dari perpaduan kayu dan spon itu. Lumayan sedikit empuk menurutnya karena itu merupakan kursi lama.


"Darah tinggi Ibu kambuh lagi, ya?" tanya Tanti. "Ibu jangan pikirkan aku! Pikirkan kesehatan Ibu saja. Aku panggilkan mantri ya, Bu?"


"Tidak, Nduk. Ibu baik-baik saja," ucap Sarinah beralasan. Sudah lama memang darah tingginya tidak pernah kumat lagi, tetapi kali ini, ketika melihat anaknya diperlakukan buruk oleh pria yang masih berstatus suaminya itu, rasanya dadanya sesak dan tidak tahan.


Tanti memang tidak bisa hamil, tetapi Ari tidak seharusnya menambah luka istrinya itu dengan lukanya yang lain. Sarinah tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya jika kejadian yang dilaluinya tadi tepat di hadapannya. Bisa saja Hardiman melempar makanan itu tepat di wajah Ari.


"Apa Ibu mau dipanggilkan Bapak?"


"Jangan, Nduk! Tunggu Bapakmu pulang saja."


Hardiman biasanya pulang dari sawah di siang hari untuk istirahat. Namun, kali ini melihat jajaran kasur yang masih ada di luar kemudian ruang tamu yang terbuka rasanya sedikit janggal.


Sarinah pun masih ada di ruang tamu. Tanti mencoba memberikan minuman hangat yang diminta ibunya. Hanya air putih hangat.


"Ada apa ini?" tanya Hardiman.


"Darah tinggi Ibu kumat, Pak," ucap Tanti ragu. Dia mau menceritakan pemicunya, tetapi tidak berani.


"Itu karena ulah menantumu yang tidak tahu diri itu, Pak!" Amarah Sarinah tak terbendung.


"Sudah, Bu, sudah! Jangan seperti itu. Nanti Ibu malah pusing lagi," pinta Tanti. Dia tidak tahan dengan kesakitan yang diterima ibunya.


"Ini ada apa, Tanti? Jelaskan!" pinta Hardiman dengan suara yang lembut.


Tanti akhirnya menceritakan apa yang terjadi hari ini. Dia sebenarnya enggan untuk menceritakan kejutan yang dibawa suaminya.


"Kalau begitu lebih baik kamu secepatnya bercerai saja," ucap Hardiman mantap.

__ADS_1


Dukungan sudah digenggam Tanti. Kalaupun keluarga besar suaminya tidak mengizinkan bercerai, setidaknya keluarganya sendiri sudah setuju.


"Nduk, ayo antar Ibumu ke mantri," pinta Hardiman.


"Ibu tidak mau, Pak. Aku juga sudah memaksanya."


"Sudahlah, Pak, Ibu tidak apa-apa. Lebih baik bantu Tanti mengangkat kasur itu. Kasihan nanti tidak ada yang bantu."


Hardiman mengikuti arahan istrinya. Tiga kasur harus kembali ke kamar masing-masing sehingga Tanti pun dibuat sibuk kembali. Sebelum masuk ke kamar, Tanti memukuli kasurnya hingga terlihat berkurang debunya. Hardiman mengangkat satu persatu hingga akhirnya selesai. Setelah itu, bapak dan anak itu kembali pada Sarinah. Mereka melihat kondisi Sarinah yang masih lemas.


"Bu, kalau tidak mau dibawa ke mantri, setidaknya ajari Tanti untuk membuatkan Ibu obat alami. Biar Ibu lekas sembuh. Oh ya, Ibu jangan terlalu memikirkan Tanti. Aku akan baik-baik saja, Bu."


"Minta Bapakmu buat carikan Pace, mengkudu yang matang itu, kemudian rebuskan air panas. Baru diperas. Ibu akan minum itu saja," pinta Sarinah.


Membayangkan baunya saja sudah seperti itu. Bagaimana kalau Tanti sendiri yang menyiapkan obat alami itu. Tapi bagaimanapun demi ibunya supaya lekas membaik.


Tanti pun mengikuti tutorial yang diberikan ibunya hingga mengkudu itu menjadi sebuah minuman alami. Tanti rasanya ingin menangis sejadinya manakala melihat ibunya meminum minuman alami untuk menurunkan darah tingginya. Rasanya Tanti ingin lekas bercerai sehingga Sarinah tidak kepikiran dia lagi.


...🪴🪴🪴...


Beberapa minggu kemudian, sidang perdana Tanti dan Ari digelar. Namun, itu tidak langsung ke persidangan, melainkan harus melakukan mediasi terlebih dahulu. Tanti datang bersama ibu dan bapaknya. Begitu pun dengan Ari yang datang bersama orang tuanya.


Pria itu tidak terlihat menyesali apa yang telah diperbuatnya selama ini. Bahkan saat bertemu dengan mertuanya masih bisa menyunggingkan senyum tidak bersalah.


"Dek, kuharap kamu lekas membatalkan perceraian ini. Pertama karena aku tidak mau, kedua aku sedang memperbaiki keadaan, dan ketiga aku sedang sibuk-sibuknya di dalam pekerjaanku. Dan satu lagi, rumahnya sudah aku tebus. Kapanpun kamu pulang ke sana, mintalah kuncinya pada ibuku," tegasnya.


Setegas ini kamu, Mas. Maaf, aku tidak akan terpancing dengan apa pun yang kamu pamerkan padaku. Biarlah aku kehilangan segalanya asalkan orang tuaku tidak kepikiran lagi tentang aku.


Tanti tidak menanggapinya. Malah langsung masuk ke ruang persidangan yang agendanya adalah mediasi. Pihak dari keluarga Tanti bersikukuh untuk bercerai, tetapi dari Ari sendiri menolaknya.

__ADS_1


Setelah mediasi, pihak pengadilan masih memberikan tenggang waktu dua minggu lagi hingga masuk ke sidang selanjutnya. Rasanya pihak keluarga Tanti sangat kesal pada Ari dan keluarganya. Sudah jelas kalau anaknya salah masih saja dibela seperti itu. Apa yang ingin mereka raih demi mendapatkan putrinya kembali?


"Kenapa kalian masih saja kekeh bertahan?" tanya Hardiman pada keluarga Ari.


"Karena anakku tidak bersalah," jawab ibunya Ari.


Tidak bersalah? Apakah keluarga Ari tinggal di alam mimpi sehingga yang nyata-nyata salah masih dianggap benar?


"Mana bisa seperti itu?" sentak Sarinah.


"Ari tidak akan memulainya kalau bukan Tanti yang lebih dulu. Buktinya, dia tidak bisa menjaga harta yang ditinggalkan suaminya saat bekerja. Sampai rumah itu disita rentenir. Sekarang harusnya Tanti bersyukur karena putraku sudah menebusnya kembali. Begitu saja masih tidak bersyukur!" cibir ibunya Ari.


Tanti berusaha menahan ibunya untuk tidak melawan. Darah tingginya sewaktu-waktu bisa kambuh.


"Bu, tolong jangan paksakan. Kondisi ibu sedang tidak baik-baik saja. Percayalah kalau semuanya akan selesai seperti yang kita harapkan," bisik Tanti pada ibunya.


"Nduk, ingat, ya! Kalau kamu melepaskan Ari, belum tentu akan mendapatkan laki-laki sebaik dia. Apalagi tahu kamu itu mandul. Mana ada pria di luaran sana menerima janda mandul begitu!"


Astaghfirullah. Mungkin itu yang patut dijawab atas apa pun ucapan ibunya Ari. Keinginan Tanti semakin yakin untuk bercerai. Hardiman menarik tangan Sarinah maupun Tanti supaya lekas menjauh dari wanita seperti ibunya Ari. Bukannya bersikap baik, malah nyakitin seperti itu.


"Ari, lihatlah! Keluarga istrimu itu memang dasarnya kurang bersyukur. Di saat kamu ingin memperbaiki keadaan, mereka malah bersikap seperti itu. Tahu begini ibu tidak rela memberikan uang sepeser pun untuk menebus rumah yang kalian tempati selama ini."


Bapaknya Ari memang diam saja melihat istrinya memaki keluarga Tanti, tetapi sebagai orang yang merasa tidak dihargai sama sekali, dia pun akhirnya angkat bicara.


"Sudahlah, Bu. Kalau Tanti tidak mau, rumah itu biar bisa ditempati Ari dan Marlena," ucap bapaknya Ari yang langsung membuat Hardiman meradang.


"Bapak itu jadi orang tua harusnya mikir. Itu tanah milik siapa? Kalau kalian berani menempatkan orang lain di sana, tak segan aku meminta warga kampung untuk mengusir kalian," ancam Hardiman.


Mediasi gagal berujung keributan dua keluarga. Yang satunya tidak mau mengalah, dan yang satunya lagi kekeh pada pendiriannya. Rasanya akan sulit sekali bisa bercerai dari Ari, tetapi Tanti akan berusaha sekuat tenaga untuk lepas darinya.

__ADS_1


__ADS_2