
Saat semua kebingungan melanda Ari dan bapaknya, angkot yang mereka sewa telah memasuki halaman. Tak banyak tetangga yang hanya sekadar menengok karena Marlena tidak biasa berkumpul lagi dengan tetangga setelah menikah dengan Ari.
"Pak, angkotnya sudah datang. Ayo kita bantu Marlena masuk ke dalam rumah, tetapi Bapak juga harus ingat, jangan membahas masalah tadi di depan Marlena. Nanti dia bisa marah padaku," ucap Ari mengingatkan.
"Ya, terserah kamu saja. Bapak tidak mau ikutan."
Angkot itu terparkir tidak jauh dari pintu ruang tamu sehingga mudah untuk membantu Marlena turun dari angkot. Ibunya sudah membawa bayi mungil itu masuk lebih dulu.
"Mas, jangan lupa bayar angkotnya!" ucap Marlena mengingatkan.
Spontan Ari mengeluarkan sisa uang dari pembayaran yang masih tersisa. Rencananya uang itu akan digunakan untuk kebutuhan selama beberapa minggu ke depan.
Walaupun Marlena mengetahui suaminya memegang uang banyak, dia diam belum berkomentar.
"Terima kasih, Pak," ucap Ari setelah memberikan sejumlah uang pada sopir angkot tersebut.
Marlena pun sudah turun dari angkot, tetapi belum masuk ke dalam. Dia menahan suaminya karena di dalam ada mertuanya.
"Mas, kamu dapat uang dari mana? Bukan utang, kan?"
Glek!
Terlihat sekali Ari tidak pandai menyembunyikan rahasia. Marlena lebih cepat mengendusnya. Namun, Ari tidak boleh menyerah. Biarkan untuk saat ini menjadi rahasianya lebih dulu. Perkara nanti ketahuan, urusan nanti.
"Ti-tidak. Ini dari ibu," jawab Ari asal.
Paling tidak untuk saat ini mengamankan posisinya lebih dulu. Kalau nanti Marlena meminta cerai, dia tidak akan pusing-pusing lagi untuk memikirkan uang cicilan utang yang harus dibayarkan kepada rentenir.
Marlena tersenyum. Dia tidak tahu saja kalau suaminya yang selama ini dia rebut dari Tanti malah memperlakukannya lebih parah. Semoga saat semuanya terbongkar, jiwa Marlena masih bisa berpikir dengan normal. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukan Marlena pada suaminya?
__ADS_1
Marlena masuk perlahan menuju ke kamarnya. Ibu mertuanya sudah meletakkan bayi itu di ranjang. Semula wanita itu mengira akan ada box bayi yang bagus untuk cucu laki-lakinya, tetapi ternyata tidak ada sama sekali.
"Bu, bayiku sudah tidur?" tanya Marlena.
Bukannya mendapat jawaban yang enak, ibu mertuanya malah ngomong yang tidak-tidak.
"Ini kamu bagaimana, Marlena? Anak pertama tidak ada box bayi. Apa selama ini anakku tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu?"
Glek!
Wah, bukannya memberikan usulan nama. Atau, minimal memberikan waktu untuk bernapas setelah beberapa hari tertahan di rumah sakit, malah marah-marah tidak jelas.
Ibu Ari hampir melupakan kalau anaknya menebus menantunya dari rumah sakit karena mendapatkan uang dari rentenir. Itu pun menggadaikan sertifikat rumah milik Marlena. Jadi, Ari tidak punya apa-apa.
"Kalau tujuan Ibu datang ke sini cuma untuk membuat perkara dengan saya, lebih baik Ibu pulang sekarang! Memangnya Ibu pikir mas Ari itu sudah menjadi pria yang sempurna? Yang selalu memberikan uang belanja lengkap setiap waktu. Tidak, Bu! Kalau Ibu mau tahu, tanyakan sendiri pada anakmu itu!"
Glek!
Ibunya Ari melengos mendengar penuturan menantunya. Sejauh ini, sudah bisa dibedakan antara Tanti dan Marlena. Tanti tetaplah menjadi wanita yang paling baik di dalam kehidupan putranya. Sayang, hubungan pernikahan Ari harus berakhir karena pernikahan kedua Ari dengan Marlena.
***
Berbeda di rumah keluarga Tanti. Persiapan pernikahan yang akan dilangsungkan dua minggu lagi sudah membuat anggota keluarga sibuk. Tanti sudah sepakat untuk menggelar acara pernikahan secara sederhana. Hanya akan dihadiri keluarga besar dari kedua keluarga saja. Namun, penolakan terjadi pada Sarinah.
"Nduk, Ibu tidak mau kalau acaranya sesederhana itu!" protes Sarinah.
"Bu, Tanti dan Mas Abbas sudah sepakat. Tidak akan ada acara mewah atau memasang tenda seperti pernikahan pada umumnya."
Sebenarnya hari ini Tanti hanya membuat list belanjaan untuk syukuran pada saat akad nikahnya saja. Namun, entah bisikan dari mana tiba-tiba ibunya meminta perubahan mendadak.
__ADS_1
"Nduk, kalau acaranya sederhana saja, Ibu tidak mau. Nanti ibunya Ari malah mengejek Ibu. Dikiranya keluarga Ibu tidak sanggup membiayai kamu," jelas Sarinah.
Hardiman yang sejak tadi mendengarkan usulan istrinya itu cuma bisa memijat pelipisnya. Biaya untuk menyewa tenda, dekorasi pernikahan, dan sound sistem. Belum lagi konsumsi dan souvenir pernikahan. Jelas itu tidak murah. Sesederhana itu saja masih membutuhkan dana kisaran 10 juta lebih.
"Bu, Tanti tidak ada hubungan lagi dengan keluarganya Mas Ari. Jadi, tolong Ibu jangan pikirkan mereka, ya! Yang penting kebahagiaan keluarga kita, bukan?"
"Nah, kalau itu Bapak juga setuju. Biaya pernikahan untuk Tanti tidak murah, Bu. Kalau bisa sederhana, kenapa harus mewah?" sahut Hardiman.
"Ck, kalian selalu kompak melawan Ibu, ya! Abbas sudah bilang ke Ibu kalau dia yang akan menanggung biaya pernikahan itu."
Deg!
Tanti yang menjadi calon istrinya saja tidak tahu menahu hal itu. Mungkin saja ibunya yang sengaja datang ke keluarga Abbas untuk meminta pernikahan mewah.
"Apa Ibu yang memaksa mas Abbas? Jangan seperti itu, Bu. Setelah menikah, mas Abbas punya tanggung jawab besar atas aku dan anak-anakku. Kalau uang itu dihamburkan untuk pernikahan ini, Tanti pokoknya tidak setuju."
Kali ini Sarinah terkejut. Bukannya dia yang memaksa, tetapi memang Abbas yang menawarkan. Pada saat Tanti meminta pernikahan sederhana, Abbas malah menawarkan pernikahan yang menurutnya mewah.
"Kalau kamu tidak percaya, coba kamu telepon Abbas saja!" perintah Sarinah.
Tanti tertunduk. Ponsel saja tidak punya, bagaimana bisa menghubungi calon suaminya? Setelah menerima lamaran Abbas, Tanti merasa bingung. Kehidupannya berbanding terbalik dengan pria itu. Kebiasaan Tanti yang hidup di dalam kesederhanaan.
"Loh, kenapa menunduk?" tanya Sarinah lagi.
"Ibu itu bagaimana? Tanti kan tidak punya hape. Bagaimana bisa menghubungi Abbas?" tanya Hardiman.
Sarinah terdiam. Dia merasa salah paham pada putrinya. Sejauh ini memang Abbas sangat sempurna di mata Sarinah. Belum ada cacat celanya yang dilihat. Mungkin, setelah pernikahan baru ketahuan. Tapi, Sarinah berusaha setenang mungkin untuk tidak membuat Tanti membatalkan rencana pernikahannya hanya karena perbedaan kebiasaan.
"Ya, nanti kalau sudah menjadi Nyonya Abbas, Tanti akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas mewah, bukan?"
__ADS_1
Glek!
Tanti cuma bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka bayangan ibunya terhadap pernikahannya nanti akan terlihat sesempurna itu. Padahal ada kekhawatiran yang merasuki pikiran Tanti. Dia tidak akan bisa menjalani pernikahan ini dengan mudah. Akan banyak kerikil kecil yang berada di depannya. Bukan tentang dirinya saja, tetapi kedua anak dan suami barunya.