Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 23. Madu dan Racun


__ADS_3

Selama suaminya tidak lagi berkunjung ke rumah orang tuanya, Tanti merasakan kehidupannya damai, tak ada satupun pengganggu yang datang. Hingga suatu hari saat menunggu jadwal persidangan yang katanya akan dilakukan satu bulan lagi dengan jadwal pertama mediasi. Rasanya malas sekali harus bertatap muka lagi.


"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Hardiman. Selama menuju proses perceraian, bapaknya memang lebih membatasi ruang gerak anaknya. Ditakutkan kalau sampai Tanti pergi tanpa didampingi siapa pun akan menjadi celah untuk mengurungkan niat putrinya berpisah.


"Rasanya Tanti ingin lekas bercerai, Pak. Kemudian memulai kehidupan baru dengan anak-anak. Tapi, Bapak masih memberikan kesempatan Tanti untuk tinggal di sini, kan?" Sebagai anak yang sudah memilih berumah tangga dengan laki-laki pilihannya kala itu tentunya membuat Tanti tak enak hati. Bagaimanapun saat ini hidupnya telah menyusahkan orang tuanya. Andaikan kakak Tanti berada di rumah, tentu dia tidak akan seperti ini.


"Sabar, Nduk. Katamu tinggal sebulan lagi mulai mediasi? Kenapa kamu ndak mau menerima rencana Ari untuk menebus rumahmu itu, Nduk?" Sebenarnya Hardiman tidak masalah, tetapi sayang dengan tanah yang sudah diberikan secara cuma-cuma itu. Karena ulah menantunya yang merepotkan itu membuat segalanya hilang.


"Bapak menyesal?" tanya Tanti gugup. Walaupun begitu, Tanti yang salah dalam hal ini. Setidaknya bisa minta bantuan dari keluarga besarnya, tetapi semuanya sudah terlambat. Biarlah rumah itu menjadi milik orang lain asalkan tidak kembali lagi.


"Sebenarnya Bapak menyesal, tetapi kamu sudah menolaknya begitu. Bagaimana Bapak bisa memaksamu?"


Perbincangan antara anak dan bapak sewajarnya seperti itu. Hardiman tidak mungkin lagi memaksa Tanti tanpa melihat sisi gelap kehidupannya selama ditinggal Ari. Walaupun suaminya itu masih pulang ke rumah dan tinggal bersama, nyatanya pria itu tidak lagi memberikan nafkah untuk istrinya.


"Ya sudah, Pak. Jangan sesali lagi. Harta bisa dicari lagi, tapi guncangan jiwa anakmu sulit dikembalikan. Biarkan! Nanti kalau masih rezeki bakalan balik lagi. Oh ya, Nduk, hari ini kamu mau ke mana? Di rumah saja, kan?" tanya Sarinah.


"Iya, Bu. Mau ke mana lagi. Anak-anak juga baru pulang sore hari. Oh ya, kalau nantinya Tanti sudah resmi bercerai, kapan-kapan kami mau pergi jalan-jalan, Bu. Tanti tidak pernah memberikan kebahagiaan untuk mereka selain duka yang kami jalani."


Rencana Tanti banyak sekali. Setidaknya harapan untuk bercerai masih dalam proses dan keinginan untuk hidup bahagia bersama anak-anaknya sudah ada di depan mata. Badai hujan ini pasti akan berlalu digantikan dengan pelangi yang sangat indah.


"Pikirkan urusanmu dulu! Anak-anakmu bisa kapan saja pergi setelah semua beres. Setelah ini bantu ibu menjemur kasur. Bapak mau ke sawah."


"Iya, Bu."


Tanti masuk ke kamar mengambil sprei, sarung bantal, dan guling untuk dicuci. Sementara ibunya menarik kasur dari ranjang untuk dijemur di halaman yang mulai panas. Tanti pun membantu mengangkatnya. Sebelum itu, jajaran kursi ditata di sana sebagai alas kasur-kasur itu. Hari ini ada 3 kasur yang harus dikeluarkan. Milik Tanti, orang tuanya, dan anaknya.


Tanti juga mengambil pemukul kasur untuk menghilangkan debunya. Pemukul itu berbahan dasar rotan sehingga Tanti puas untuk memukulnya.


"Kamu suka sekali main pukulan kasur seperti itu, Nduk," ucap ibunya.

__ADS_1


"Biasanya kan memang seperti ini, Bu. Memangnya mau diapakan lagi selain dipukul," canda Tanti.


Saat sedang berkonsentrasi, suara mesin sepeda motor yang sudah lama tidak didengar, mendadak datang lagi.


Ada apalagi? Mengapa dia datang ke sini?


Ya, Ari datang membawa 2 kantong kresek sepertinya berisi makanan. Mungkin saja mertuanya sedang ada acara.


"Ari, kamu sedang libur?" tanya Sarinah.


"Iya, Bu. Dek, kamu apa kabar?" Basa-basi Ari.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik."


"Ayo, apa kalian akan mengobrol di depan seperti itu?" ajak Sarinah.


Tanti masuk lebih dulu kemudian diikuti Ari di belakangnya. Dia masih menenteng 2 buah kantong di tangannya.


Tanti masuk ke dalam menyiapkan teh untuk tamunya. Daripada dia menemui Ari, lebih baik mengerjakan hal lain.


Saat Tanti kembali membawa nampan, Ari memberikan uang belanja pada istrinya.


"Dek, harusnya tidak perlu repot-repot seperti itu. Ini ada sedikit uang untukmu dan anak-anak. Aku sudah kerja keras untuk memperbaiki keadaan." Ari meletakkan amplop di atas meja lantaran dia tahu kalau istrinya enggan menerimanya.


Tanti tidak merespon. Dia hanya menyuguhkan teh di atas meja tepat di depannya. Sementara Sarinah melihat sikap putrinya yang tidak akan mungkin mau merespon menantunya itu. Demi mencairkan suasana, Sarinah berinisiatif menanyakan perihal yang dibawa Ari setelah Tanti duduk di sampingnya.


"Lalu, itu bungkusan untuk siapa?" tanya Sarinah penasaran.


"Oh, ini titipan dari ibuku, Bu. Ini syukuran kehamilan istriku."

__ADS_1


Deg!


Rasanya dunia Tanti maupun Sarinah runtuh. Saat Tanti membangun keyakinan untuk kembali pada suaminya, nyatanya sudah diruntuhkan saat ini juga. Lalu, untuk apalagi dia masih mau bersama Ari?


"Kalau niatmu ke sini mau pamer, untuk apa? Sebaiknya bawa pulang makanan itu dan ambil uangmu! Aku tak butuh, Mas!" Tanti mencoba tegar. Sementara ibunya terlihat lemas. "Pergilah, Mas! Kau sudah menambah kekacauan di sini."


Tanti menarik tangan suaminya memaksa untuk keluar. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


"Mas, kalau sampai terjadi sesuatu dengan ibuku, aku tidak akan pernah mengampunimu! Pergi!"


"Tunggu, Dek! Aku bisa jelaskan! Sebenarnya aku tidak mau, tetapi ibu memaksaku untuk mengirimkan ini pada keluargamu." Ari seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Dia mau saja menuruti permintaan ibunya padahal ini masalah baru.


Tanti kembali lagi ke dalam mengambil amplop dan bungkusan yang dibawa suaminya. Masih tertinggal di dalam karena Tanti tak mungkin membawa serta semuanya.


"Pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi!"


"Tapi, Dek. Aku sudah menebus rumah kita. Kapanpun kamu mau pindah, bisa bawa anak-anak sekalian!"


Ari datang memberikan madu dan racun sekaligus. Harapan Tanti untuk kembali sudah tidak mungkin lagi. Selain menyakiti dirinya, secara langsung Ari pun menyakiti ibunya.


Sakit, nyeri, Tanti lantas menutup pintu rumahnya setelah meletakkan semua barang bawaan suami kurang ajarnya itu. Bukannya datang berusaha untuk meminta maaf, malah meyakinkan Tanti untuk lebih cepat bercerai.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Tanti yang melihat Sarinah lemas seperti itu. "Ibu minum dulu, ya." Tanti lari ke dalam untuk mengambil segelas air.


"Ibu baik, Nduk." Padahal kepalanya seperti berputar. Tidak menyangka kalau menantunya akan datang membawa luka untuk mertuanya. Kalau sudah seperti ini, jangankan pintu maaf, pintu rumah keluarganya pun akan ditutup rapat oleh Sarinah.


...🏵️🏵️🏵️...


Guys, mampir karya keren Bestie Emak, yuk. ❤️

__ADS_1



__ADS_2