
Ari tetap bersikukuh dengan keinginannya untuk menikah siri dengan Marlena. Walaupun dia masih memiliki tanggung jawab pada istri dan anak angkatnya, dia tetap tidak peduli. Bagaimanapun Marlena adalah masa depannya. Ari pun tidak akan berniat bercerai dengan Tanti.
Hari ini persiapan sederhana dilangsungkan di rumah keluarga Marlena. Sebenarnya pernikahan ini hanya akan diketahui oleh keluarganya saja. Semula pihak keluarga Marlena tidak setuju dengan pernikahan yang akan dilangsungkan mengingat calon suaminya adalah pria beristri.
Marlena meyakinkan semua orang bahwa ini akan baik-baik saja. Perdebatan demi perdebatan sebelumnya telah usai.
"Kamu yakin akan menikahi Ari? Bukankah dia itu sudah beristri?" tanya salah satu kerabat Marlena kala itu.
"Aku sudah meminta izin istrinya untuk menikah lagi," jawab Marlena.
"Istrinya mengizinkan?"
"Kalau pernikahanku saja akan digelar, itu artinya dia sudah setuju," jawab Marlena asal. Padahal Tanti tidak mengatakan apa pun waktu itu. Namun, tekad Marlena sudah bulat.
Kini, di depan penghulu dengan pernikahan siri yang akan digelar. Marlena mengenakan kebaya pengantin yang indah. Semua itu karena Ari memberikan sebagian gajinya selama ini. Ari bahkan tidak pernah memberikan sepeserpun uang untuk istri sahnya, Tanti.
Ari dengan gagahnya duduk tepat di samping Marlena. Dia mengenakan jas pengantin lengkap. Terlihat sangat gagah dan tampan. Sekilas orang lain memandang bahwa Ari adalah pria yang baik hati dan bertanggung jawab. Kenyataannya, dia itu pria brengsek yang mengabaikan anak dan istrinya demi mengejar wanita lain.
Setelah penghulu mengucapkan Ijabnya, kini giliran Ari menjawab Qabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Marlena Sari binti Almarhum Bakri dengan mas kawin uang satu juta lima ratus ribu rupiah dibayar tunai!" ucap Ari dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
__ADS_1
Doa-doa pernikahan dipanjatkan untuk sepasang pengantin. Banyak yang mendoakan pernikahannya Sakinah, Mawadah, dan Warahmah. Andaikan Tanti tahu bahwa suaminya jadi menikahi selingkuhannya itu, apakah juga akan mendoakan hal yang sama? Atau, dia malah mendoakan samawa yang lainnya? Mungkin saja.
Setelah pernikahan itu berlangsung, Ari memutuskan untuk tinggal di rumah istrinya. Ya, Marlena sudah memiliki rumah sendiri. Dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah Tanti dan anak-anaknya.
"Mas, kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku?" tanya Marlena.
"Karena kamu cantik dan baik hati, istriku," puji Ari.
Marlena tersenyum puas. Walaupun dia menjadi istri kedua, tetapi suaminya lebih banyak tinggal bersamanya.
"Kalau Mbak Tanti, bagaimana? Kalian kan sudah lama menikah. Mengapa kamu berpaling? Apa servis yang diberikan kurang memuaskan, Mas?" Suara Marlena mendayu-dayu untuk merayu suaminya.
"Kami menikah sudah lama," jawab Ari.
"Hanya itu? Lalu, anak-anakmu?"
"Mereka anak angkat!"
Marlena hanya tahu kalau Ari mempunyai anak istri, tetapi hari ini dia baru tahu kalau kedua anaknya itu hanyalah anak angkatnya.
"Kalian tidak memiliki anak?" tanya Marlena penasaran.
"Tidak. Istriku--"
"Tidak masalah, Mas. Kita akan membuat anak yang banyak agar kamu senang," sahut Marlena yang memotong ucapan suaminya.
Hari demi hari dilalui Ari dengan sangat sempurna. Dia dan Marlena seperti sepasang suami istri yang diliputi kebahagiaan berlimpah. Pekerjaannya pun semakin lancar. Uang yang didapatkan sebagian besar diberikan pada Marlena. Tanti tidak mendapatkan sepeserpun uang dari suaminya. Apalagi semenjak menikah, Ari sudah tidak pernah pulang lagi ke rumah.
Semenjak Ari tidak memberikan nafkah dan pulang ke rumah, kehidupan rumah Tanti semakin menyedihkan. Kehidupannya terlunta-lunta. Terkadang hanya mengandalkan uang harian yang didapatkan dari membantu tetangga. Sisanya berutang terus menerus sehingga utangnya saat ini menumpuk. Berbanding terbalik dengan kehidupan suaminya saat ini.
__ADS_1
Ari sangat menikmati kebersamaan bersama Marlena. Seakan menemukan kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan selama ini.
"Mas, kamu tidak ingin menengok Mbak Tanti? Sudah lama sekali kamu tidak pulang," ucap Marlena disela-sela waktu senggangnya mengurus warung.
"Untuk apa? Aku malas bertemu mereka. Palingan nanti mereka minta uang saja," jawab Ari.
"Pulanglah sebentar! Apa kata tetanggamu nanti? Bisa saja mereka bergosip yang tidak-tidak tentangmu. Maksudku, pasti akan berimbas juga padaku."
"Tidak, istriku! Aku masih ingin bersamamu. Kamu tahu kalau kalian berbeda. Kamu selalu bisa menyenangkan hatiku, membuatkan aku makanan yang enak-enak, dan kamu pandai sekali memijitku. Apalagi kebersamaan denganmu membuatku tak pernah bosan."
Seandainya Tanti tahu, apakah dia akan berdiam diri saja? Mungkin, tetapi dia sudah tidak peduli pada suaminya.
"Terima kasih, Mas. Aku merasa bahagia sekali karena kamu sangat perhatian padaku. Aku tidak menyesal sekali telah menikah denganmu."
"Walaupun menjadi yang kedua?" tanya Ari.
"Tidak masalah menjadi yang kedua, tetapi utama. Awalnya aku ragu karena Mbak Tanti seolah meyakinkanku bahwa kamu itu pria yang tidak bertanggung jawab. Nyatanya aku salah. Kamu sudah bertanggung jawab penuh padaku itu sudah lebih dari cukup."
Sejujurnya Ari sudah mengabaikan istrinya sejak lama. Dia sudah tidak peduli lagi pada Tanti yang selalu membuatnya pusing menurutnya. Semenjak menikah dengan Marlena, dunianya seakan berubah. Dia menjadi pria beruntung yang memiliki dua istri. Perbedaan antara Tanti dan Marlena memang sangat jauh. Tanti tipikal wanita yang langsung ke inti masalahnya, tetapi Marlena selalu saja merayu dan merajuk untuk meluluhkan hati Ari. Dia juga tidak peduli kalaupun suaminya tidak pernah pulang. Itulah sebabnya Marlena sangat bahagia sekali.
"Kamu memang yang terbaik, Sayang!" Ari mentoel hidung istrinya sehingga wanita itu bisa tersenyum manja.
"Mas! Aku jadi malu," ucap Marlena.
Hari-hari sepasang pengantin baru ini dilewati dengan sangat indah. Ari mencoba membangun suasana yang hangat dengan Marlena. Keinginannya untuk memiliki seorang anak dari Marlena sangatlah tinggi.
"Tidak masalah, Sayang! Mari kita buat anak sebanyak mungkin. Aku juga menginginkannya darimu. Kamu mau kan menjadi ibu dari anak-anakku?" Ari selalu memberikan rayuan maut pada istrinya sehingga Marlena pun terjerat di dalam pesona cintanya.
Kebutaan cinta pada Ari membuat Marlena mengabaikan Tanti yang sama statusnya sebagai istri. Dia tidak peduli asalkan kebahagiaan terus menjadi miliknya. Lagi pula itu juga bukan salahnya. Ari lah yang selalu membuatnya semakin jatuh cinta. Walaupun dia suami orang lain, tetapi pria itu meyakinkan dirinya bahwa Ari akan bertanggung jawab penuh atas Marlena.
__ADS_1
"Kamu selalu membuatku semakin cinta, Mas. Aku siap menampung benihmu dan melahirkan anak-anak untukmu."
Kecintaan yang sama pada Marlena membuat Ari terbuai. Dia sudah melupakan Tanti. Jangankan mengingat untuk pulang, mengingat namanya pun tidak lagi. Dia merasakan kebahagiaan mengarungi bahtera rumah tangga bersama istri keduanya. Marlena adalah hal yang paling menyenangkan saat ini. Ari melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami pada istri sah dan anak-anaknya.