
Hari ini penjualan makanannya lumayan meningkat karena para pelanggan mendapatkan rujak buah secara gratis. Selesai beberes, Tanti berniat untuk mencatat kebutuhan belanjaannya untuk esok hari. Tidak banyak memang karena beberapa sudah tersedia di dalam kulkas. Tinggal menambah kekurangannya saja.
Kesibukannya yang berkelanjutan membuat Tanti melupakan semua masalahnya. Dia harus fokus bekerja keras untuk membiayai kedua anak angkatnya. Selain itu keinginannya untuk berumah tangga lagi belum masuk ke dalam pemikirannya.
"Bawang merah, bawang putih, cabai merah, lada, sayur-sayuran, dan--" ucapannya terhenti. Dia seperti mendengar suara ketukan pintu.
Seseorang tengah mengetuk pintu ruang tamu yang sedang terbuka itu. Tanti beranjak meninggalkan buku dan bolpoinnya.
Siapa sih? Mengganggu saja.
Deg!
Mantan mertuanya sudah berdiri di depan pintu ruang tamunya.
"Ibu, Bapak," sapa Tanti. Dia kemudian menyalaminya satu persatu. Walaupun masih kesal karena sikap kedua orang itu terakhir kali bertemu di pengadilan kala itu.
"Boleh Ibu masuk?" tanya ibunya Ari. Di tangan kanannya sedang menenteng sesuatu.
"Eh, iya. Silakan masuk Pak, Bu," ucap Tanti sedikit bingung.
Ibunya Ari meletakkan kresek ke atas meja ruang tamu. Setelah itu, barulah mereka duduk di ruang tamu. Pandangan mata mereka tertuju ke sekeliling ruang tamu yang kondisinya banyak berubah. Dulu di sana banyak barang mewah yang terpasang rapi, lambat laun barang itu habis tak tersisa.
"Ibu dan Bapak mau minum apa?" tanya Tanti.
"Ehm, tidak perlu repot-repot, Tanti. Bapak hanya kebetulan mampir ke sini," ucapnya beralasan.
Sesungguhnya tujuan mereka datang ke rumah Tanti hanya untuk melihat kondisi mantan menantunya. Selain itu, mereka tahu dari Ari kalau Tanti mau menerima rumah lamanya dan sekarang ditempati.
"Ibu melihat ada tulisan catering dan jual aneka makanan. Apa ini usaha barumu?" tanya ibunya Ari.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya sedang berjuang memperbaiki perekonomian keluarga. Apa ada yang salah?" tanya Tanti.
Ibunya Ari menggeleng. Tidak salah memang, tetapi yang mengganjal di dalam benak wanita paruh baya itu bahwa kehidupan Ari saat ini sudah semakin berantakan semenjak bercerai dengan Tanti. Hubungan Ari dan Marlena pun sedikit merenggang karena Ari ternyata sibuk memperbaiki hubungan dengan Tanti.
"Tidak salah, tetapi tolong jangan libatkan anakku lagi. Biarkan Ari bahagia. Gara-gara dia ngotot untuk menebus rumah ini, banyak hal yang sudah dilewatkan oleh Ari begitu saja. Kamu kan sudah menempati rumah ini, sebisa mungkin balas jasa lah pada mantan suamimu itu. Jangan mau enaknya saja!" tuduh ibunya Ari.
Glek!
Setiap bertemu dengan keluarga Ari, genderang perang selalu ditabuh tepat pada waktunya. Tanti sendiri tidak meminta Ari untuk menebusnya. Walaupun tanah ini milik orang tua Tanti, tetapi yang paling berhak atas rumah ini memanglah dirinya.
"Maaf, Bu. Sepertinya Ibu salah paham. Tanti tidak pernah meminta mas Ari untuk menebus rumah ini. Tiba-tiba mas Ari datang ke rumah dan mengatakan bahwa rumah ini sudah bisa ditempati kembali. Tidak salah kan kalau saya kembali ke sini. Saya anggap penebusan rumah ini atas ganti pertanggungjawaban dan rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh mas Ari kepada saya." Tanti mencoba tetap tenang. Padahal dia sangat marah sekali pada sikap mantan mertuanya itu.
Brak!
Ibunya Ari menggebrak meja. "Tidak seperti itu, Tanti! Ibu datang ke sini untuk meminta kamu mencicil sedikit demi sedikit uang yang sudah dikeluarkan untuk rumah ini. Tidak masalah kalau kamu mau menempati rumah ini, tetapi tolong jangan egois. Rumah ini juga dibangun atas jerih payah Ari, kan. Kami tidak akan meminta rumah ini, tetapi tolong bantu keuangan Ari. Istrinya pun sebentar lagi mau melahirkan. Dia kehabisan uang gara-gara mengurus kamu."
Wanita di hadapannya itu sungguh tidak tahu diri sekali. Memang benar rumah ini dibangun atas jerih payah mantan suaminya, tetapi beberapa persen pun bantuan yang diterima dari pihak keluarga Tanti. Ibarat seratus persen totalnya, Ari hanya memberikan kontribusi sekitar 25% nya saja.
Sebenarnya Tanti tidak bisa menerima kenyataan ini. Mantan suaminya yang berselingkuh, mengapa seolah Tanti yang menerima imbasnya.
"Jangan egois, Tanti! Keluarga besarmu jelas tidak pernah setuju," balas Ibunya Ari.
"Begini, Tanti. Bapak ke sini juga sebenarnya ada yang ingin disampaikan. Ari memang tidak menuntut harta gono-gini, tetapi tolong mengertilah posisi Ari saat ini. Kebutuhan hidupnya semakin banyak. Harusnya kamu juga tidak memikirkan dirimu sendiri."
Tanti tetap tenang mendengar ucapan mantan bapak mertuanya yang semakin lama malah menyakitkan itu. Lantas, apa maunya?
"Maaf, Pak, Bu! Sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan? Jangan berbelit-belit seperti ini! Saya masih ada kesibukan yang lain lagi."
"Sombong kamu ya! Ibu datang ke sini baik-baik, tanggapanmu malah seperti ini. Ibu mau kamu menjual tanah dan rumah ini kemudian membaginya dengan Ari," jelasnya.
__ADS_1
Glek!
Kalau sudah seperti ini, Tanti sebenarnya ingin melawan kembali. Dia berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat kasar pada mantan mertuanya.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa! Hak tanah ini memang masih milik orang tua Tanti. Kalau Ibu mau mengambil haknya mas Ari, saya akan bicarakan ini pada Bapak di rumah. Atau, Ibu mau datang ke rumah menemui bapak?"
Tidak anak ataupun orang tuanya, setiap bertemu Tanti selalu mencari ribut. Kalau bukan masalah orangnya, pasti berujung dengan uang atau harta yang lainnya.
"Tidak perlu. Kami tunggu keputusanmu seminggu lagi."
Ibu dan bapaknya Ari berdiri kemudian keluar begitu saja. Mereka meninggalkan bungkusan di meja Tanti.
"Bu, ada yang ketinggalan!" teriak Tanti.
Ibunya Ari menoleh kemudian membalas ucapannya.
"Tidak, itu buat kamu. Ibu tunggu seminggu lagi keputusanmu."
Glek!
Dasar mantan mertua tidak ada akhlak. Yang bersalah siapa, yang menerima imbasnya siapa. Tanti bukan wanita yang bodoh lagi. Dia harus membicarakan ini pada orang tuanya lebih dulu.
Tanti menuju ke meja melihat barang bawaan yang dibawa mantan ibu mertuanya. Kresek berwarna hitam itu dibukanya.
"Astaghfirullah, tidak hanya tingkahnya yang toxic, barang bawaannya pun menyakiti," ucap Tanti.
Tanti mengeluarkan pisang yang lebih dari sekadar matang. Lebih tepatnya matang banget. Kalaupun di makan, sudah tidak layak makan. Rasanya ingin mengumpat kasar. Setiap bertemu atau pertemuan yang tidak disengaja, pikiran mereka melulu soal harta dan uang saja.
Tanti bingung harus memperlakukan barang yang tidak salah ini seperti apa. Tapi, satu hal yang membuatnya beruntung. Pisangnya itu pisang kepok. Jadi, Tanti berencana membuat sesuatu yang bermanfaat.
__ADS_1
"Yah, kita buat pisang coklat atau nugget pisang saja. Huft, ada saja kerjaan baru," gumamnya sembari membawa pisang itu ke dalam.
Biarlah mantan keluarga suaminya meminta bagian, asalkan esok pagi jualannya semakin lancar. Masalah itu nanti akan dibicarakan lagi dengan orang tuanya.