
Hardiman pikir rencana istrinya itu hanya bualan belaka. Dia tidak menyangka jika keesokan harinya dia hendak meminta diantarkan untuk pergi ke pasar. Berbelanja semua kebutuhan untuk syukuran.
"Bapak tidak mau. Ini akan memperkeruh keadaan. Bu, bagaimana kalau kabar ini didengar oleh keluarga Ari? Apa ibu tidak malu bersenang-senang atas keputusan yang telah diterima Tanti?"
"Ibu lebih baik mengadakan syukuran ini karena Tanti sudah terbebas dari suaminya yang nauzubillah mindzalik, Pak."
"Bu, jangan seperti itu. Bagaimanapun Ari sudah khilaf. Kalaupun Ibu mau buat syukuran, tunggu saja sampai Tanti dilamar orang lagi," ucap Hardiman memberikan semangat supaya Sarinah tidak jadi mengadakan acara yang akan mempermalukan keluarganya.
"Ibu, sebaiknya tidak usah! Daripada Ibu menghamburkan uang untuk hal yang menurut Tanti tidak penting ini, lebih baik uangnya kasih ke Tanti buat modal usaha," ratu Tanti.
"Kamu sekongkol sama Bapak?" tuduh Sarinah.
Tanti menggeleng. "Bu, apa yang perlu dipamerkan pada orang lain kalau Ibu nekad menggelar syukuran ini? Ibu bangga kalau Tanti jadi janda begitu?"
Deg!
Ucapan anaknya benar, tetapi mengapa Tanti menekankan pada pengucapan janda sehingga di telinga Sarinah terasa seperti menyayat hati.
"Tidak, maksud Ibu bukan seperti itu, Nduk. Ibu senang akhirnya kamu bisa bercerai dengan Ari. Pria itu tidak mau berubah. Bahkan, dia terlihat seperti memamerkan kehamilan istri mudanya. Ah, semoga dia mendapatkan karmanya karena sudah menyakiti anakku!" Sumpah serapah yang dilontarkan Sarinah bukan tanpa sebab.
"Sudahlah, Bu! Ari sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Jadi, Ibu tidak usah mengungkitnya lagi. Biarkan Tanti bahagia dengan caranya sendiri."
Hardiman sebenarnya tidak tega melihat anaknya yang harus berjuang seorang diri. Apalagi dia harus bertanggung jawab pada kedua anak angkatnya.
"Nduk, apa tidak sebaiknya kamu menikah lagi?" tanya Hardiman.
Glek!
Perceraiannya saja baru keluar. Sudah ditanya menikah. Rasanya Tanti belum siap. Lebih baik dia menikmati kesendiriannya dengan mengurus pekerjaan dan dua anaknya. Lagi pula kalaupun harus menikah, dia juga perlu meminta persetujuan kedua anak angkatnya.
"Nanti kita bicarakan lagi, Pak. Tanti harus menyiapkan sarapan pagi untuk Teguh dan Indra. Sebaiknya Bapak juga jangan menuruti permintaan ibu untuk pergi ke pasar. Tidak akan ada syukuran dalam bentuk apa pun. Ini bukan untuk dirayakan, tetapi untuk introspeksi diri Tanti dan seluruh anggota keluarga yang lainnya."
Kejengkelan Tanti jelas beralasan. Walaupun ibunya kesal pada Ari, bagaimanapun pria itu pernah menjadi yang terbaik di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Teguh, Indra, jangan lupa sarapannya. Ibu juga sudah membawakan bekal untuk kalian berdua," ucap Tanti setelah menyiapkan sarapan di meja.
"Terima kasih, Bu. Ibu baik-baik saja, kan?" tanya Indra.
"Iya, Bu. Ibu tidak apa-apa, kan?" tanya Teguh.
"Ibu baik-baik saja. Kalian berdua juga harus tetap baik, ya. Belajar yang bener. Sayang kan dengan beasiswa yang sudah kalian dapatkan."
"Iya, Bu. Tapi, nanti kalau kami liburan, kami izin ikutan kakek ke sawah. Kami akan membantunya."
Memiliki anak angkat seperti Teguh dan Indra merupakan anugerah tersendiri di dalam kehidupannya.
...🌷🌷🌷...
Sepanjang hari, kehidupan Tanti semakin membaik. Hingga kehadiran pria yang sudah menjadi mantan suaminya itu ke rumah. Tanti sudah tidak pernah memikirkannya lagi, tetapi pria itu masih bersikukuh untuk menemuinya.
"Dek, izinkan aku berbicara berdua saja. Ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Silakan masuk!" cuma itu jawaban Tanti. Dia enggan untuk berbicara dengannya. Apalagi mengobrol banyak.
"Boleh aku duduk?" tanya Ari. Dia tahu kalau mantan istrinya itu masih kesal padanya.
"Hemm, langsung saja Mas. Untuk apa kamu datang ke sini? Ibu dan bapak tidak ada di rumah. Jadi, aku minta tolong padamu untuk tidak berlama-lama di sini."
"Aku ke sini hanya untuk mengantarkan kunci rumah beserta petok D yang sudah kutebus tempo hari. Kukembalikan padamu karena kamu yang lebih berhak. Kalian bisa menempati rumah itu lagi bersama anak-anak."
Ari meletakkan kunci rumah, map yang berisikan petok D, dan Ari pun meletakkan amplop putih di sana. Amplop kecil yang diperkirakan Tanti kalau itu berisi uang.
Tanti tidak tahu ini benar atau salah. Tanah rumah itu memang milik keluarganya, tetapi bangunan itu berdiri karena kerja keras Ari dibantu keluarga Tanti. Kalaupun kali ini dia mengambil kuncinya, itu tidak salah baginya. Ari juga tidak bisa menjual rumah itu karena tanahnya milik orang lain, tetapi amplop berisi uang itu rasanya Tanti tidak berhak untuk mengambilnya.
"Maaf, Mas, kalau kunci dan petok D ini aku terima, tapi amplop ini lebih baik kamu ambil lagi," tegas Tanti.
"Dek, tolong diterima. Ini sebagai permintaan maafku karena sudah lalai terhadapmu selama ini. Walaupun kita sudah berpisah, tapi aku tetap berharap kamu bisa mempertimbangkan kembali untuk berteman denganku."
__ADS_1
Berteman katanya? Untuk mengulang kisah masa lalu dengan kisah indah, kemudian berlanjut pada kesedihan berkepanjangan. Sekarang mau minta berteman lagi? Rasanya Ari perlu mengecek kondisi kesehatannya.
"Maaf, Mas. Untuk menjalin pertemanan denganmu, aku perlu memikirkan ulang. Sebaiknya kamu pergi sekarang dan bawa amplop ini pada istri sirimu itu!"
Tanti memang sengaja tidak memberikan minum atau makanan sebagai penghormatan pada tamunya. Bertujuan supaya tamunya lekas pulang. Lebih tepatnya mengusir secara halus.
"Tidak, Dek. Itu buat kamu dan anak-anak. Aku sudah lama tidak memberikan nafkah padamu. Semoga itu lebih dari cukup!"
Ari lekas keluar, tetapi Tanti tidak bisa menerima amplop itu sehingga ketika mereka berada di luar, Tanti mencoba memaksa mantan suaminya itu.
"Mas, kamu bawa lagi!" paksa Tanti menarik tangan suaminya untuk menyerahkan amplop. Ari tetap menepisnya.
"Tidak, Dek. Itu buatmu."
Saat sedang ribut dengan urusan amplop, tak sengaja ada tetangga yang kebetulan lewat. Walaupun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi kabar perceraian Tanti sudah menyebar ke segala arah di kampungnya. Namanya mulut tetangga yang sudah dipastikan kampas remnya dol, suka-suka saja dia buka suara tanpa peduli itu menyakitkan atau tidak.
"Wah, Mbak Tanti dan Mas Ari mau rujuk, yah?"
Perhatian mereka beralih pada seorang ibu yang kebetulan lewat.
"Ehm, saya hanya berkunjung, Bu," balas Ari.
"Walah, mbok ya Mas Ari itu baiknya rujuk. Apa nggak kasihan sama Mbak Tanti dengan anak-anak yang sudah remaja itu? Kan bisa gawat, Mas. Apalagi Indra dan Teguh itu bukan anak kandungnya. Kalau terjadi hubungan terlarang bagaimana?" Kejulidannya sangat hakiki, bukan?
"Astaghfirullah, Bu! Tolong bicaranya dijaga. Anakku tidak akan mungkin sekurang ajar itu pada ibunya. Ibu terlalu melebih-lebihkan!" balas Tanti. Indra dan Teguh sudah menjadi anak angkat yang baik. Mereka tidak akan mungkin melakukan hal yang tidak beradab itu.
Merasa kalah, tapi mau menang sendiri membuat seseibu itu melanjutkan kejulidannya.
"Makanya kalau tidak mau kejadian, ya rujuk saja!" ketusnya kemudian meninggalkan Ari dan Tanti.
Tanti rasanya terus mengucapkan istighfar berulang kali. Bisa-bisanya wanita itu mengatakan hal yang mengerikan seperti itu.
"Mas, sebaiknya kamu pulang!" Tanti memberikan amplop itu kembali pada suaminya. Dia tidak ingin ada tetangga lainnya lagi yang akan menambah masalah.
__ADS_1