
Keberanian Tanti bukan tanpa sebab. Walaupun pada akhirnya hidup sendiri pun akan kesulitan, tetapi dengan pernikahan neraka yang diciptakan suaminya itu sudah membuatnya sadar banyak hal. Suami yang tak layak diperjuangkan itu butuh dihempas jauh-jauh ke laut. Untuk apa bertahan penuh luka? Dia masih mampu menghidupi anak angkatnya.
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu?" sentak Ari.
Keributan itu rupanya didengar oleh orang tua Tanti yang baru saja pulang dari pasar.
"Kenapa kalian ribut-ribut?" tanya Hardiman, bapaknya Tanti.
"Ini, Pak. Anak Bapak mencoba meminta cerai dariku. Dia pikir hidup menjanda itu mudah?" cibir Ari. Entah, mengapa saat Tanti meminta cerai, ada rasa tidak rela di hatinya.
"Ari, Bapak dan Ibu akan bicara dulu pada Tanti," sahut Sarinah, ibunya Tanti.
Kedua suami istri itu membawa Tanti ke kamar yang ditempati anaknya. Di sana, Sarinah meminta Tanti untuk duduk di ranjang.
"Tenangkan pikiranmu dulu, Nduk! Sebenarnya apa yang terjadi dengan rumah tanggamu? Ibu pikir, kamu ke sini hanya untuk menenangkan diri karena bertengkar dengan suamimu. Apa yang kamu sembunyikan dari Ibu dan Bapak selama ini?" selidik Sarinah.
"Kalau Bapak sarankan, lebih baik kamu pertimbangkan lagi rencanamu itu. Bapak memang belum tahu semua alasan, mengapa kamu kekeh ingin bercerai dari suamimu?"
Rasanya nyeri sekali, Pak. Andai Bapak tahu kalau anakmu ini sudah disia-siakan. Tidak hanya disia-siakan, Pak, tetapi anakmu ini sudah di Poligami. Andai Bapak dan Ibu tahu, apakah kalian akan tetap menyuruhku untuk bertahan?
"Bapakmu benar, Nduk. Tidak enak hidup menjanda. Apalagi kamu punya dua anak angkat yang sudah besar. Tentunya kehidupanmu tidak akan mudah," balas Sarinah.
Selama ini, Tanti memang tidak pernah menceritakan seluruh kesakitan hidupnya. Dia mencoba bertahan dengan caranya sendiri. Ketika Tanti memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya, itu artinya pertahanannya telah runtuh.
__ADS_1
"Pak, Bu, Tanti sudah pikirkan ini matang-matang sebelum mengambil keputusan. Mungkin ini terkesan mendadak, tetapi tidak ada salahnya Bapak dan Ibu merestui rencana Tanti." Dia tidak mau membuka aib suaminya. Selama ini dia cukup bersabar dan bisa menahan diri.
"Kalau kamu tidak ada masalah, mengapa harus bercerai?" tanya Hardiman.
Glek!
Bapaknya yang polos. Ibunya yang sangat penyayang. Keduanya kombinasi suami istri yang patut diacungi jempol. Disaat seperti ini, Hardiman tidak memaksanya untuk bercerai karena pria paruh baya itu belum tahu masalah yang dihadapi anaknya.
"Ibu pernah bilang kan kalau menjadi istri itu harus menjadi pakaian untuk suaminya, begitu pun sebaliknya dengan suaminya. Lalu, apakah Ibu dan Bapak akan tetap membuat Tanti bertahan pada pernikahan yang pakaiannya sudah koyak? Hubungan rumah tangga kami sudah lama tidak baik, Bu, Pak. Tanti tidak ingin menambah kesedihan keluarga ini dengan masalah yang Tanti bawa."
Hardiman dan Sarinah saling pandang. Begitu rumit kah kehidupan yang dijalani putrinya selama ini? Sampai wanita itu sudah mengibarkan bendera putih di dalam pernikahannya. Sampai saat ini, orang tua Tanti tidak tahu masalahnya. Munafik sebagai orang tua kalau tidak tahu masalah anaknya, tetapi Hardiman dan Sarinah mencoba menutup telinga dari gosip yang tidak baik di luaran sana.
"Bapak dan Ibu sempat mendengar kabar miring itu, Tanti. Tapi, kami bukannya tidak mau tahu. Kami pikir ketika kamu tidak menceritakan pada kami, itu kami anggap hanya orang-orang yang berniat buruk pada keluarga kalian," jelas Hardiman.
"Maaf, Pak. Tanti mantap untuk bercerai dari Mas Ari," ucapnya yakin.
"Nduk, sebenarnya ada masalah apa sampai kamu sudah senekat ini?" tanya Sarinah.
"Bu, sebelumnya aku mau minta maaf. Tidak seharusnya aku mengumbar aib mas Ari di hadapan Bapak maupun Ibu. Kehidupan yang Tanti jalani selama ini tidak mudah. Bahkan, Teguh dan Indra pun Tanti larang untuk berbicara. Tanti punya tanggung jawab besar pada mereka berdua, sementara Mas Ari sudah mengabaikan tanggung jawabnya pada Tanti."
Luka hati, kesakitan fisik, perjuangan yang tiada henti, sampai sebuah kekalahan yang harus diterimanya selama ini akibat ulah suaminya. Tanti sudah kehilangan segalanya. Dia sudah tidak tahan lagi untuk menyembunyikan kebusukan Ari selama ini.
"Tanti menginginkan perceraian ini karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Mas Ari. Walaupun dia tidak melakukan KDRT, tetapi ulahnya sudah membuat Tanti muak."
__ADS_1
Hening. Ketiga orang itu mencoba mencerna di dalam pikiran masing-masing. Sarinah paling tidak tahan dengan apa yang diucapkan putrinya. Pasti ada hal besar yang tidak diketahui mereka selama ini.
"Sebenarnya Ibu dan Bapak tidak mengizinkan kamu bercerai dari Ari, tetapi Ibu mencoba memberikan kesempatan padamu. Ceritakan apa yang sebenarnya. Benar begitu kan, Pak?" Sarinah mencoba meminta persetujuan suaminya.
"Kalau itu yang terbaik menurut Ibu, Bapak juga setuju untuk mendengarkannya. Bukan berarti Bapak langsung setuju kalau kamu bercerai. Ingat, Tanti, hidup menjanda itu tidaklah mudah."
Bagi Tanti, penolakan yang diberikan oleh keluarganya itu merupakan hal yang wajar. Tanti kemudian menceritakan awal mula masalah rumah tangganya. Sampai pada akhirnya datanglah seorang perempuan bernama Marlena yang meminta restu untuk menikah dengan suaminya. Hati orang tua mana yang tidak sakit ketika tahu anaknya diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Tidak berhenti sampai di situ saja, kehidupan rumah tangga yang dilalui Tanti membuat nyeri semua orang yang mendengarnya.
Hardiman dan Sarinah mencoba tenang. Kehidupan yang dialami Tanti sangatlah rumit. Wajar saja kalau dia kekeh ingin bercerai.
"Tidak bisakah kalian memperbaiki hubungan rumah tangga ini? Jujur, Bapak tidak tega melihatmu hidup sendirian, Nak," ucap Hardiman.
Hardiman masih belum rela kalau anaknya bercerai. Dia tidak bisa membiarkan anaknya hidup menjanda seperti ini.
"Pak, Tanti itu sudah sangat menderita sekali. Mengapa Bapak masih belum rela membiarkan anakmu itu bercerai, Pak?" tanya Sarinah yang tidak tahu jalan pikiran suaminya saat ini.
"Bu, Bapak akan meminta Ari menceraikan istri sirinya itu kemudian kembali pada Tanti, anak kita. Kita perbaiki semuanya, Tanti. Pikirkan baik-baik ucapan Bapak."
Glek!
Rasanya berat sekali berseteru dengan orang tuanya yang kekeh pada penolakan itu. Tanti semakin gusar. Bisakah dia memutuskan untuk bercerai tanpa restu orang tuanya?
"Pak, Bu, kalau Tanti sudah memutuskan sebuah perkara, Tanti pasti sudah yakin dengan jalan yang akan kutempuh. Bapak coba bayangkan menjadi Tanti yang harus hidup di dalam neraka pernikahan seperti ini. Tanti sakit hati, Pak. Beruntung rasa sakit hati ini belum sampai pada jiwa Tanti. Bapak bisa bayangkan kalau Tanti terus bertahan pada pernikahan ini sampai jiwa Tanti terguncang. Bapak tidak mau punya anak gila, kan?"
__ADS_1
Ucapan Tanti sangat mengena sekali pada penolakan keluarganya perihal perceraian yang akan diajukan. Tanpa persetujuan mereka pun Tanti akan tetap mengajukan gugatan perceraian. Biar Ari rasakan bagaimana rasanya bercerai dari istri yang disia-siakan selama ini.