Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 29. Kembali ke Rumah Lama


__ADS_3

Selama tinggal di rumah orang tuanya, Tanti belajar banyak hal. Tentu saja itu akan digunakan untuk bekal kehidupannya nanti. Hidup menumpang seperti ini memang tidak enak. Terlebih lagi saat dia menyandang gelar janda. Dia harus menjadi janda mandiri.


"Ibu, boleh Tanti bicara sebentar?" tanya Tanti disela kesibukan memasaknya di pagi hari.


Hari ini Tanti sengaja menyiapkan cah kangkung, tempe goreng, dan sambal terasi. Selain itu, ibunya juga sudah membeli kerupuk untuk pelengkap sarapan paginya.


"Katakan!" balas Sarinah sembari mencuci piring dan gelas sisa makan semalam.


"Bu, kalau aku memilih kembali ke rumah lama, apa Ibu setuju? Tidak mungkin kan Tanti membiarkan rumah itu kosong," jelasnya.


Sarinah menoleh sejenak. Dia merasa kalau anaknya itu tidak nyaman berada di rumahnya.


"Kamu tidak betah berada di sini?"


"Bukan seperti itu, Bu. Rumah lamaku itu tidak ada yang menempati. Sayang, kan?"


"Kalau kamu menginginkan kembali ke rumah lamamu, terserah Nduk. Itu hakmu, tetapi apa kamu nyaman dengan statusmu yang sekarang?" sahut Hardiman.


Bapaknya menuju ke dapur untuk meminta segelas kopi. Tanti hampir lupa menyiapkan minuman khusus yang diminta bapaknya setiap pagi.


"Bapak minta kopi, ya? Maaf, Tanti masih sibuk menyiapkan sarapan pagi."


"Jangan buru-buru, Nduk. Tidak masalah, kan. Hari ini juga hari minggu. Anak-anak juga tidak ke sekolah, kan," balas Hardiman.


Terlalu sibuk dengan kesehariannya di rumah sampai tidak ingat kalau hari ini anak-anaknya libur. Seperti sebuah kebetulan untuk kembali ke rumah lamanya.


"Kalau kamu kembali ke rumah lama, mau kerja apa kamu?" tanya Sarinah.


"Mungkin buka tokok kecil-kecilan dan buka catering, Bu. Tanti cuma bisa melakukan itu," jawabnya.


Sarinah tidak tega sebenarnya. Dia takut kalau anaknya itu terkenang lagi dengan luka lama yang diberikan oleh mantan suaminya.

__ADS_1


"Ibu tidak akan menahanmu lagi. Kalau kamu mengalami kesulitan di sana, jangan lupa datang kembali ke sini. Ibu tidak akan masalah selalu direpotkan olehmu, Nduk," jelas Sarinah.


Sarapan pagi yang disiapkan sudah berbaris rapi di meja makan. Indra dan Teguh sudah menunggu di sana termasuk bapaknya. Tanti hanya membawakan gelas kopi yang diminta bapaknya.


"Kopinya, Pak." Tanti meletakkan di meja tepat di depan bapaknya.


"Panggil ibumu! Kita sarapan pagi bersama," perintah Hardiman.


Belum sempat Tanti kembali ke dapur, ibunya sudah bergabung di meja makan.


"Ayo, langsung saja sarapan. Indra, Teguh, ambil makanannya sendiri," ucap Sarinah.


Masakan ibu angkatnya itu memang sangat enak sekali. Walaupun terkadang tidak menggunakan bumbu yang lengkap, tetapi sentuhan tangan wanita itu membuat masakan semakin nikmat. Seperti cah kangkung di hadapannya itu. Saat harga bawang merah melejit, Tanti hanya menggunakan bawang putih dan beberapa potong cabai saja untuk bumbu dasarnya. Jadi, kalaupun beberapa bahan makanan naik, Tanti bisa mengantisipasinya.


Mereka melahap makanan yang terhidang selalu enak seperti ini. Kangkung didapatkan dari sawah karena bapaknya Tanti mencoba menanam kangkung akhir-akhir ini. Sehingga sayur mayur pun bisa diambil dari sawah milik keluarganya.


"Indra senang sekali. Setiap kali ibu masak, hasilnya selalu nikmat seperti ini. Semoga kelak kita bisa memiliki restoran ya, Bu," ucap Indra. Impiannya tentang keluarga barunya ini sangat tinggi sekali.


Setelah sarapan usai, Hardiman tidak membiarkan semua orang meninggalkan meja makan. Dia ingin membicarakan perihal permintaan Tanti untuk kembali ke rumah lamanya.


"Ada apa, Mbah? Aku mau bantu Ibu di toko sebentar," ucap Teguh.


"Hari ini toko libur, Le. Mbah mau bicara pada kalian," balas Hardiman.


Teguh kembali duduk di kursinya.


"Ibumu meminta kembali ke rumah lama. Bagaimana dengan kalian?" Hardiman tidak serta merta menerima keputusan Tanti sepihak. Dia hanya ingin mendapatkan jawaban dari kedua cucu angkatnya.


Teguh dan Indra saling pandang. Ke manapun ibunya pergi, mereka harus mengikutinya.


"Kami terserah ibu saja, Mbah. Lagi pula kondisi Ibu juga sudah membaik, kan," jawab Indra.

__ADS_1


Mendengarkan kedua jawaban cucunya, Hardiman yakin kalau Tanti bisa hidup bahagia bersama dua anak angkatnya. Hardiman memutuskan hari ini untuk membantu Tanti berbenah.


"Hari ini kalian berkemas. Bapak bantu sewakan angkot untuk membawa beberapa barang ke rumah kalian," jelas Hardiman.


Semua orang membantu Tanti menyiapkan segala sesuatunya. Sayang sekali kalau rumah itu tidak ditempati. Semakin hari akan menjadi rumah kosong yang tidak berpenghuni. Angkot yang disewanya pun sudah datang. Beberapa barang yang sudah siap dimasukkan ke dalam angkot.


Hardiman dan Sarinah pun ikut mengantarkan anaknya ke tempat lama. Tanti merasa kehidupannya setelah ini akan berubah menjadi lebih baik.


Sesampainya di sana, banyak tetangga yang datang. Mereka melihat kalau pemilik rumah sebelumnya akan menempatinya lagi.


"Wah, Mbak Tanti kembali lagi. Bagaimana kabarnya, Mbak? Oh ya, tempo hari pemilik toko kelontong nyariin Mbak mau tagih utang. Eh, orang-orang pada bilang kalau Mbak pindah. Terus, pas Mas Ari ke sini, dia langsung bayar utang-utang Mbak. Suami Mbak baik sekali, ya," ucap salah satu tetangga.


"Ah, iya. Bahkan, rumah ini pun ditebus olehnya dari rentenir kejam seperti yang Mbak pinjami itu. Duh, pria baik ya. Beruntung loh Mbak dapatkan mas Ari. Duh, aku jadi ikutan meleleh," timpal salah satu tetangganya yang lain.


Keluarga Tanti yang mendengar semua ucapan kebaikan Ari cuma bisa saling tatap. Sepertinya ini salah satu rencana Ari untuk kembali lagi rujuk dengan Tanti, tetapi Hardiman mencoba bersabar. Keputusan Tanti untuk kembali ke rumahnya tetap berjalan.


"Terima kasih, Mbak. Kami memang mau kembali ke rumah ini lagi. Kami permisi, ya," pamit Tanti.


Masih banyak yang harus dikerjakan. Selain beberes rumah, barang-barang Tanti dan anak-anaknya juga harus dibereskan.


"Sama-sama, Mbak. Lain kali kalau ada mas Ari, Mbak Tanti pasti nyaman. Dia makin ganteng dan keren sekarang," ucap tetangganya sebelum Tanti meninggalkan mereka.


Apa dia sempat ke sini lagi setelah perceraian? Mungkin dia juga sudah memberitahukan perihal hubungan kami pada orang-orang. Ah, sudahlah. Biarkan saja. Kehidupan kami sudah lebih baik sekarang.


Sarinah menepuk pundak anaknya.


"Apa kamu masih memikirkan ucapan orang-orang? Kalau kamu tidak mau tinggal di sini, tidak ada masalah. Sebaiknya kita pulang," ajak Sarinah.


"Tidak, Bu. Justru Tanti tidak akan nyaman tinggal di rumah Ibu. Bukan karena Ibu dan Bapak, tetapi Tanti ingin mandiri." Keyakinannya tinggi untuk menunjukkan pada semua orang bahwa dia bisa.


Setelah perbincangan sejenak, mereka kemudian membantu membersihkan rumah. Tanti menurunkan kelambu yang menutupi jendela rumahnya. Dia berniat untuk mencucinya esok hari setelah semua beres. Fokusnya hari ini hanya untuk beberes dan menata beberapa barangnya.

__ADS_1


__ADS_2