Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 37. Tuduhan Guna-guna


__ADS_3

"Iya, tidak masalah. Asalkan aku akan mendapatkan jawabannya dengan segera. Kalau kebetulan aku tidak sedang di rumah, kamu bisa sampaikan pada ibuku," ucap Abbas.


Sebagai seorang wanita, Tanti merasa senang sekaligus sedih. Namun, yang dominan kali ini adalah rasa sedihnya. Bagaimana mungkin seorang pria datang untuk mengenalnya, tetapi atas permintaan ibunya?


"Maaf, kalau boleh tahu, ini rencana kamu sendiri, atau ibumu? Dan, mungkin saja ibuku juga ikut campur di dalamnya. Katakan saja!"


Tanti butuh kejujuran Abbas. Jangan sampai dia mengambil keputusan yang salah hingga membuat Tanti mengalami kejadian yang sama. Kegagalan rumah tangganya yang pertama membuatnya tidak lupa betapa rumitnya menjalani hidup seorang diri.


"Tidak, Tanti. Ibumu tidak ikut campur, tetapi ibuku yang meminta aku untuk mengenalmu lebih jauh."


"Kamu mengiyakan, Mas? Tidak menyesal memilih janda sepertiku, yang mohon maaf aku tidak bisa memberikan harapan yang besar."


Maksud Tanti di sini karena dia bukanlah wanita sempurna. Dia hanya akan menyusahkan pasangannya saja.


"Tidak, Tanti. Aku sudah mengenalmu lebih lama."


Tanti benar. Selama ini memang Abbas jauh lebih paham mengenai dirinya, tetapi itu dulu saat sama-sama masih muda. Sekarang, semuanya sudah berbeda. Tentunya masing-masing telah mengalami manis pahitnya kehidupan.


"Begini saja, Mas. Kita anggap pembicaraan hari ini adalah awal pertemuan kita. Sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu, izinkan aku untuk meminta petunjuk sama Allah lebih dulu."


Ya, Abbas harus lebih bersabar. Tidak mudah memang, tetapi syarat yang diajukan Tanti juga tidak salah.


***


Beberapa hari setelah kedatangan Abbas ke rumah, Tanti nampak bimbang. Sebenarnya dari pihak anak angkatnya setuju saja. Apalagi mereka mendapatkan hadiah sepatu. Sementara Tanti mendapatkan beberapa potong kain untuk pakaian. Tertulis di dalamnya bahwa pakaian ini akan digunakan saat pertunangan dilangsungkan.


Seperti biasa, Tanti menggelar dagangannya. Selepas anak-anak berangkat ke sekolah, dia menjaganya. Setiap pagi dia selalu memasak berbagai macam menu makanan untuk dijual.


Beberapa hari terakhir ini, bayangan tentang mantan suaminya selalu menghantui. Ini sangat aneh sekali. Sebelumnya tidak terpikirkan sama sekali mengenai Ari.


"Mbak," panggil pelanggannya.


Tanti masih belum merespon.


"Mbak ...."


"Eh iya, ada apa?" tanya Tanti.


"Dari tadi Mbak Tanti melamun terus. Apa yang lagi dipikirkan? Apa harga telor yang belum turun? Atau, harga BBM yang katanya mau naik itu?"


Tanti tersenyum. "Ah, bukan itu, Mbak. Silakan lanjutkan belanjanya saja. Tidak ada hubungannya sama sekali, kok."


"Ehm, mungkin saja Mbak Tanti sedang mengalami kegalauan."

__ADS_1


"Apa sih, Mbak? Tidak kok. Hanya memikirkan menu apa yang saya jual untuk besok," kilahnya.


Rutinitas belanja sayur matang dan beberapa gorengan menjadi kegiatan sehari-hari tetangganya. Setelah mereka memilih makanan dan berniat untuk membayarnya, tiba-tiba salah seorang pelanggan mengingatkannya lagi.


"Mbak, tumben beberapa hari terakhir ini tidak ada bonus seperti kapan hari?"


Glek!


Beberapa bahan makanan itu yang dikirimkan dari mantan suaminya. Sebenarnya terakhir kali, dia hampir saja mendapatkan tape ketan, tetapi dibawa pulang lagi oleh mantan suaminya lantaran Sarinah, ibunya Tanti berkunjung ke rumah.


"Eh, iya. Saya belum sempat. Lain kali kalau ada kesempatan, saya akan menyiapkan bonusan lagi. Maaf ya."


Para pembeli itu pun mengangguk setuju. Beberapa dari mereka mendoakan Tanti supaya mendapatkan rezeki berlimpah. Beberapa orang pun mendoakan lekas mendapatkan jodoh. Semua orang yang datang pun mengamini semua doa yang dipanjatkan.


Hari ini, sebelum anak-anaknya pulang, Tanti berniat untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Ada hal penting yang akan dibicarakan pada mereka.


***


Rumah ibunya terlihat sepi. Setelah mengetuk beberapa kali, barulah Sarinah membuka pintunya.


"Tanti?"


"Ibu, maafkan Tanti yang datang, tetapi tidak mengabari ibu sebelumnya."


"Ayo masuk!" ajak Sarinah.


"Iya, beberapa hari ini bapakmu sibuk sekali mengurus sawah. Katanya kalau ada mantu kan enak."


Tanti merasa tertampar. Namun, bagaimanapun dia juga berhak untuk menentukan hidupnya.


"Bu, jangan bicara seperti itu. Tanti merasa tidak nyaman sama sekali. Oh ya, mengenai mas Abbas, Tanti masih ragu untuk menerimanya, Bu."


Deg!


Sarinah masuk sebentar untuk mengambilkan minuman. Tak lama, satu nampan kecil berisi dua gelas air putih dan tahu isi diletakkan di meja.


"Tumben Ibu punya gorengan," ucap Tanti.


"Oh, ini tadi diberikan ibunya Abbas, Nduk. Dia bertanya pada Ibu untuk menanyakan, bagaimana keputusanmu?"


Glek!


Tanti mulai ragu. Dia tidak mendapatkan jawaban apa pun mengenai Abbas. Dia sendiri bingung harus mulai dari mana?

__ADS_1


"Bu, sebelumnya Tanti minta maaf belum bisa memutuskan apa pun. Jujur, bayangan mas Ari terus saja mengangguku selama ini. Entah, ini hanya halusinasiku saja, atau memang kenyataannya dia ingin kembali lagi."


Glek!


Sarinah terkejut. Beberapa hari yang lalu putrinya mau mengenal Abbas dengan baik. Bahkan, ibunya Abbas sudah menceritakan respon Abbas pada Tanti. Sarinah berharap sebentar lagi dia menerima Abbas sebagai calon menantunya. Dan, ya lebih tepatnya menggelar acara lamaran yang direncanakan akan diselenggarakan di rumah orang tua Tanti.


"Nduk, Ibu rasa Ari telah membuatmu tidak bisa membuka hati untuk pria lain."


Jujur, Tanti tidak paham apa maksud ibunya.


"Apa maksud Ibu?"


"Jangan-jangan Ari telah mengirimkan guna-guna padamu?"


Glek!


"Astaghfirullah, Ibu. Ibu jangan mikir seperti itu. Mas Ari tidak mungkin berbuat seperti itu. Seburuk apa pun dia, tidak akan mungkin melakukan hal itu, Bu."


Sarinah murka. Anaknya lebih percaya pada mantan suaminya daripada ibunya sendiri.


"Pokoknya Ibu mau kalau kamu menikah dengan Abbas. Jangan ditolak!"


Keributan ini akan terus berjalan sampai pada kedatangan Hardiman.


"Ada apa ini, Bu? Kalian kenapa ribut seperti ini?" tanya Hardiman.


"Pak, Ibu kesal pada anakmu itu. Giliran dikasih laki-laki bener saja sok jual mahal seperti itu. Bapak tahu tidak, dia malah masih mengingat mantan suaminya yang jelas sudah menyakiti, membuatnya sengsara, dan yah, membuatnya hidup serba kekurangan," omel Sarinah. Dia mengambil napas lebih dulu kemudian melanjutkan omelannya.


"Bu, sabar. Dengarkan dulu dengan baik. Mungkin dengan Abbas terlalu cepat."


Kali ini Hardiman malah membela putrinya. Seakan-akan niat Sarinah itu tidak berharga sekali di depan matanya.


"Ibu rasa Tanti sudah diguna-guna oleh Ari. Buktinya beberapa hari yang lalu dia juga tahu kan kalau Tanti akan dilamar orang. Sekarang, Tanti malah ragu dengan Abbas dan mengingat laki-laki tidak berguna itu!"


Tanti terdiam. Dia terus saja melihat interaksi antara kedua orang tuanya yang pro kontra dengan keputusan Tanti.


"Bu, itu tidak mungkin. Tanti secara sadar mengatakan ini. Mas Ari tidak mungkin melakukan itu. Ibu kan juga sudah kenal lama dengannya," jelas Tanti untuk membela mantan suaminya.


"Nduk, sebaiknya kamu pulang dulu. Pikirkan baik-baik keputusanmu sebelum melangkah. Jangan sampai gagal untuk yang kedua kalinya. Apa-apa yang dilakukan secara terburu-buru itu hasilnya tidak baik."


Beruntung bapaknya telah membebaskan Tanti dari jeratan ibunya. Wanita itu tidak tahu perasaan Tanti yang penuh dengan ketakutan. Dia takut kalau pada akhirnya Abbas hanya mau karena permintaan ibunya. Bagaimana Tanti bisa menjalani rumah tangga yang seperti itu?


...🍄🍄🍄...

__ADS_1


Hai guys, yuk mampir karya Bestie Emak.



__ADS_2