Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 15. Rumah Disita


__ADS_3

Pasca mendapatkan uang beberapa bulan yang lalu, semua utangnya beres. Termasuk utang yang ada di toko kelontong yang lebih dari 500 ribu kala itu.


Tanti memulai kehidupannya. Dia terlihat jauh lebih baik karena masih memiliki sisa uang yang digunakan untuk usahanya. Dia juga sudah memperbarui usaha mie gorengnya dengan tambahan toping ayang suwir. Tentunya hal ini membuat Tanti harus menambahkan modal lebih banyak lagi. Namun, usaha penjualan mie gorengnya masih sangat sepi karena kebanyakan orang kampung masak sendiri.


Kecemasannya semakin menjadi manakala bulan yang sudah ditentukan untuk membayar utangnya telah mendekat. Tanti terlihat bingung sekali.


"Ibu kenapa?" tanya Teguh.


"Ibu bingung, Guh. Sebentar lagi harus melunasi pinjamannya. Ibu belum ada uang sama sekali."


Deg!


Cobaan keluarga barunya ini terus saja bergulir. Semenjak menerima uang pinjaman itu, semua biaya kehidupan anak-anaknya terjamin. Saat ini, Tanti harus kembali pusing memikirkan cicilan.


"Uangnya sudah habis, Bu?" tanya Indra.


"Iya. Ibu sudah membayarkan semuanya. Sisanya pun tidak cukup untuk membayar cicilannya."


Bukan karena Tanti boros, melainkan kebutuhan yang dikeluarkan memang tidak sedikit. Selain biaya sekolah anak-anaknya, tunggakan utang di tempat lain pun banyak. Selain itu untuk kebutuhan seragam, baju, sepatu, dan keperluan lainnya untuk kedua anak angkatnya. Belum lagi untuk membayar listrik, kebutuhan lainnya kalau ada tetangga sedang repot, dan untuk makan sehari-hari.


Toko kelontong langganannya pun masih menjadi tempat berutang sampai saat ini. Setelah membayar lunas utangnya kala itu, Tanti mulai berutang lagi.


Sekarang, Tanti bingung. Tidak hanya toko kelontong yang akan menagih utangnya, tetapi juga rentenir yang akan datang. Entah, apa yang akan dilakukan rentenir padanya? Bunga 20% dan bunga berjalan jika telat bayar akan membuat Tanti tidak bisa berkutik. Intinya, uang yang dibayarkan sangat besar sekali.


Sejak beberapa minggu yang lalu, Tanti yang sudah menutup utangnya kemudian berutang lagi di toko kelontong langganannya. Setelah itu, dia tidak pernah datang lagi ke sana. Bisa dipastikan pemilik toko itu pasti akan marah kepadanya.


Saat berbincang dengan anak-anaknya, seseorang mengetuk pintu. Mereka semua saling pandang. Mereka sangka itu adalah Ari, ternyata bukan.


Ceklek!

__ADS_1


Tanti membuka pintunya. Dia melihat pemilik toko kelontong itu sudah berdiri dengan rapi di hadapannya. Sebentar lagi perang besar akan terjadi.


"Mbak," sapa Tanti dengan sedikit terkejut.


"Mau bicara di depan atau di dalam saja?" tanya pemilik toko itu ketika melihat Tanti tertegun memandangnya.


"Silakan masuk, Mbak!" perintah Tanti. "Teguh, Indra, kalian masuk dan siapkan minuman untuk mbaknya." Tanti tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh anaknya.


"Tidak perlu! Aku ke sini hanya untuk menagih utangmu saja, Mbak. Setelah membayar utang yang tempo hari, kupikir kalian akan mudah membayar seperti sebelumnya. Ini sudah menumpuk lagi, tetapi kalian belum juga bayar. Jadi, bisa bayar kapan? Jangan terus seperti ini! Aku ini jualan, bukan kegiatan sosial."


Glek!


Sejujurnya terasa nyeri sekali ketika pemilik toko itu mengatakan kegiatan sosial. Dia juga tidak membutuhkan bantuan siapa pun, tetapi kata itu langsung menusuk ke jantungnya.


"Maaf, Mbak. Kalau hari ini belum ada uangnya. Aku janji kalau satu atau dua minggu lagi pasti akan di bayar."


Pemilik toko kelontong itu seolah enggan sekali menanggapinya. Sudah lelah dengan janji-janji yang diberikan Tanti bersama anak-anaknya. Terkadang Teguh atau Indra juga berutang di sana. Catatan utangnya pun dijadikan satu.


Glek!


Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dirasakan Tanti saat ini. Bermodal kepercayaan pun kalau yang dipercayai mengabaikan, pemilik toko kelontong itupun bisa murka.


"Akan kami usahakan, Mbak. Kami minta tenggang waktu lagi," pinta Tanti.


Ini jurus terakhir yang bisa disampaikan pada pemilik toko itu. Lalu, saking kesalnya pemilik toko kelontong itu meninggalkan rumah Tanti tanpa permisi. Sudah berutang bukannya membayar malah masih memberikan janji yang tidak tahu kapan bisa dipastikan.


Kejadian kala itu rupanya bukan akhir dari segalanya. Hari H penjadwalan untuk pembayaran cicilan yang telah jatuh tempo pada rentenir pun sudah waktunya. Kegelisahan Tanti semakin menjadi lagi. Dia tidak tahu apakah bisa memberikan uang seperti yang sudah disepakati.


Kecemasan Tanti semakin meningkat manakala rentenir itu datang ke rumahnya. Suasana rumah yang semula terlihat biasa saja, nyatanya terlihat semakin memanas. Hari ini bertepatan dengan hari libur kedua anaknya sehingga mereka menemani ibunya di rumah.

__ADS_1


"Ibumu ada?" tanya rentenir pada salah satu anaknya.


"Ada. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa?" tanya Indra yang tidak mengetahui bahwa orang di hadapannya ini adalah rentenir itu.


"Katakan padanya, aku ingin bertemu." Rentenir itu tak langsung dipersilahkan masuk untuk menemui ibunya.


"Tunggu sebentar! Akan saya panggilkan."


Indra masuk ke rumah untuk memanggil ibunya. Dia hanya mengatakan kalau ada tamu yang sedang menunggu di luar. Detak jantung Tanti semakin tidak menentu. Perasaannya semakin cemas.


"Iya, Ibu akan menemuinya."


Tanti melihat rentenir itu sudah berdiri tepat di ambang pintu. Tatapan tajamnya membuat ngeri. Entah, apa yang akan terjadi selanjutnya?


"Bagaimana?" tanya rentenir itu. "Ini sudah jatuh tempo pembayaran. Kalau kau tidak bisa bayar, sesuai perjanjian maka rumah ini akan kusita!"


Glek!


Tanti rasanya tidak bisa bernapas kali ini. Inikah akhir dari perjuangan hidupnya? Dia lemas sekali.


"Beri saya tenggang waktu!" pinta Tanti.


"Woah, Mbak luar biasa sekali, ya! Seharusnya sebelum berutang padaku, Mbak Tanti harus memikirkan risiko yang akan ditimbulkan. Kalau tidak mau disita, ya jangan berutang!"


Memang benar. Andai saja suaminya masih mau bertanggung jawab atas diri dan anak-anaknya, hal ini tidak akan pernah terjadi. Rumah tangganya hancur, kepercayaan orang padanya pun luntur, dia tidak bisa membayar utang, dan hari ini rumahnya pun harus disita. Tanti tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah.


"Mbak diam? Setuju atau tidak, lekas kosongkan rumah ini! Sesuai apa yang sudah kita sepakati."


Tanti akhirnya menyerah. Bagaimanapun ini risiko yang harus diterimanya. Dia melenggang masuk ke dalam untuk meminta kedua anaknya bersiap-siap kemudian meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Teguh, Indra, maafkan Ibu yang sudah membuat kalian kesusahan lagi dan lagi. Kali ini kita harus keluar dari rumah ini yang telah disita oleh rentenir. Kalian tidak apa-apa, kan?"


Tentu saja perasaan hati mereka terkoyak. Namun, bagaimana lagi? Susah dan senang pun akan mereka lalui bersama. Keputusan untuk mengosongkan rumah sudah harus dilakukan dengan cepat karena rentenir itu tidak memberikan tenggang waktu lagi.


__ADS_2