Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 35. Ingin Rujuk


__ADS_3

Kegagalan pendekatan Ari pada Tanti membuatnya kembali galau. Walaupun kini dia sudah pulang ke rumah istri satu-satunya, Marlena. Tetap saja pikirannya kembali pada Tanti. Wanita itu kini semakin cantik dan memiliki usaha mandiri. Tidak seperti Marlena saat ini yang hanya bermanja-manja saja. Sebenarnya sangat wajar di kehamilannya yang semakin hari makin membesar.


"Mas, aku minta uang!"


"Untuk apa? Kemarin kan baru kukasih." Jelas saja Ari tidak mau memberikannya. Kemarin sudah diberikan uang lima ratus ribu dari gajinya bekerja selama seminggu. Selebihnya disimpan Ari untuk membeli pertalite dan rokok. Jika tidak, bisa-bisa Ari bekerja dengan jalan kaki.


"Mas, semakin hari kebutuhan hidup itu banyak. Aku baru saja belanja kebutuhan bayi kita. Kamu itu bagaimana, sih? Tidak paham juga kalau mau punya anak itu harus beli ini itu? Oh ya, aku lupa kalau mantan istrimu itu tidak memiliki bayi. Jadi, mana paham kamu urusan seperti ini."


Glek!


Marlena sengaja menekankan tentang mantan istrinya itu supaya suaminya sadar. Namun, makin ke sini sikapnya semakin menjengkelkan.


"Atau, jangan-jangan kamu ingin rujuk lagi dengan mantanmu itu?" tuduh Marlena lagi.


"Sudah puas ngomelnya? Jadi istri itu bukannya membantu suami, ini malah ngomel saja terus," sentak Ari.


"Mas! Jangan samakan aku dengan mantan istrimu itu, yah! Aku itu tidak bodoh. Kalau kamu tidak mau memberikan uang belanja, tidak masalah. Aku akan datang ke rumah orang tuamu dan meminta pertanggungjawaban dari mereka. Jadi laki kok mau enaknya saja. Tahu gini aku juga tidak mau susah-susah hamil," keluh Marlena.


Ari mencoba menutup telinganya. Namun, itu tidak berhasil. Marlena yang semula berada di kamar mencoba keluar untuk membuat suaminya yang kurang ajar itu memberikan uang belanja untuknya. Dia ke dapur mengambil mug kopi yang terbuat dari bahan tidak mudah pecah, tetapi ketika dilempar akan menimbulkan bunyi kegaduhan. Tidak hanya itu, dia juga mengambil beberapa panci dan wajan. Satu persatu barang itu dijatuhkan ke lantai hingga membuat Ari merasa kesal kemudian menghampirinya.


"Apa yang kamu lakukan? Malu sama tetangga!" tegur Ari dengan suara meninggi.


Apalagi melihat sikap istrinya yang kekanakan itu. Rasanya Ari ingin angkat tangan. Ternyata menikah dengan Marlena tidak membuatnya semakin tenang, tetapi malah membuatnya setres berkepanjangan.


"Cukup, Marlena! Hentikan!" teriak Ari. Nyatanya suara Ari masih kalah dengan bunyi barang yang dijatuhkan Marlena.


"Aku akan berhenti kalau kamu kasih uang untukku. Kalau tidak, aku tidak akan pernah berhenti. Kalau kamu masih belum mau memberikan uangnya, aku akan berteriak pada tetangga kalau kamu KDRT," ancam Marlena.

__ADS_1


"Oke, oke. Cukup! Akan aku berikan. Tunggu di sini!" ucap Ari. Dia memutuskan untuk masuk ke kamar dan mengambil uang.


Marlena penuh senyum kemenangan. Kalau tidak seperti ini, suaminya itu akan sangat pelit sekali. Beberapa hari terakhir ini, sebagai seorang istri dia merasa kalau suaminya berubah. Mungkin saja dia sedang mengumpulkan uang untuk berniat rujuk dengan istri pertamanya. Enak saja! Itu tidak akan pernah Marlena izinkan. Kalau perlu, semua uang gaji yang didapatkan Ari akan dimintanya langsung. Ari hanya akan memegang uang sesuai kebutuhan saja.


Hemm, dari tadi kek. Aku jadinya harus beres-beres ini lagi, kan.


"Ini uangnya." Ari menyodorkan uang lima lembar ratusan ribu ke tangannya.


"Hemm, awas yah! Jangan sampai kamu menyembunyikan uang dariku. Aku butuh uang untuk lahiran bayi ini dan berbelanja kebutuhan hidup lainnya. Selain itu, jangan lupa siapkan biaya lahiran, dan satu lagi. Kambing untuk aqiqah juga jangan lupa. Anak kita laki-laki. Kalau kamu sampai tidak bertanggung jawab, jangan harap bisa bertemu anak ini." Marlena menunjuk ke perutnya sendiri. Dia harus mengancam suaminya menggunakan anaknya.


Daripada pusing mendengar ceramah istrinya, Ari memilih pulang ke rumahnya sejenak. Sebelum disibukkan dengan urusan pekerjaannya. Sesampainya di rumah, bukannya mendapatkan ucapan enak, tetapi malah mendapatkan damprat dari orang tuanya.


"Kenapa kamu pulang?" tanya ibunya.


"Aku setres menghadapi sikap Marlena, Bu!"


"Itu salah kamu sendiri. Dia minta uang lagi?"


"Jangan terus merepotkan keluargamu. Syukuran kehamilan Marlena saja kamu sudah minta sama Ibu. Apa lagi yang akan kamu minta?"


"Aku pusing, Bu. Marlena minta ini dan itu. Semua uangku dirampas."


Ibunya merasa pusing sekali. Usahanya untuk meminta jatah dari mantan istri anaknya itu belum mendapatkan jawaban.


"Kamu sih tidak mau dengarkan Ibu! Kamu minta jatah dari Tanti saja. Rumah itu kamu yang buat, kan?"


Deg!

__ADS_1


Ibunya getol sekali menyemangati Ari untuk meminta bagian rumah yang ditempati Tanti. Memang benar kalau Ari ikut membangun, tetapi kalau sampai dia meminta bagian rumah itu, namanya tidak punya hati.


"Bu, Ari tidak mau. Harga diri Ari tidak ada sama sekali kalau sampai aku meminta bagian rumah itu. Yang benar saja. Rumahnya sudah ditempati Tanti. Tidak akan mungkin dijual dalam beberapa waktu ke depan. Usahanya di sana juga lancar," jelas Ari.


Ibunya tersenyum. Kalau Ari tidak bisa mendapatkan rumahnya, kenapa tidak meminta cicilan dari usaha Tanti sebagai gantinya.


"Kalau begitu, minta saja sama Tanti. Dia kan sudah bekerja tuh, kali aja bisa kasih uang buat kamu!" ucap ibunya.


Deg!


Tegakah Ari meminta uang dari jerih payah Tanti? Dia juga sedang membiayai kedua anak angkatnya sampai saat ini.


"Aku tidak mau, Bu," tolaknya.


"Kamu mau didepak dari kehidupan Marlena juga? Ingat! Dia sedang mengandung cucu Ibu. Kalau sampai kamu berani membuatnya kecewa atau sakit hati, ibu tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!" ancam ibunya.


Susah rupanya berdekatan dengan wanita yang tidak memahami situasinya. Kalau dibilang hukum karma sedang berjalan, mungkin saat ini Ari sedang menerima karmanya. Dia sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan Tanti dengan menikahi Marlena. Sekarang, tidak hanya ibunya, tetapi Marlena pun selalu menekankan untuk melakukan ini dan itu.


"Bu, jangan paksa aku untuk melakukan hal yang mustahil itu. Mana mungkin aku mau meminta uang hasil usaha Tanti selama ini. Aku sudah sering menyakitinya, Bu. Apa Ibu juga tega membuatnya menderita lagi?"


Ibunya berkacak pinggang. Rasanya putranya bodoh sekali.


"Kamu itu bodoh! Harusnya bersyukur telah memperistri Marlena. Dia bisa memberimu anak. Dia juga sudah membuatmu banyak berubah seperti ini, kan? Jadi, kalau kamu tidak mau datang meminta apa yang seharusnya menjadi milikmu, Ibu akan datang lagi ke rumah Tanti."


Ari tidak setuju. Justru niat Ari adalah ingin rujuk dengan Tanti lagi. Wanita itu semakin hari menggemaskan dan mandiri sekali. Ari menyesal telah melepaskannya begitu saja.


"Ibu jangan macam-macam pada Tanti. Aku sedang berencana untuk rujuk dengannya."

__ADS_1


Glek!


Ibunya melotot. Dia tidak percaya sama sekali dengan keputusan yang dibuat oleh anaknya. Selama ini mereka melangsungkan sidang perceraian yang sudah memakan tenaga dan waktu.


__ADS_2