
Kabar kembalinya Tanti ke rumah lamanya sampai juga di telinga Ari. Pria itu tersenyum senang. Setidaknya usahanya selama ini membutuhkan hasil. Saat liburan nanti, dia berencana untuk pulang menemui mantan istrinya.
Pernikahan keduanya membuat Ari lelah. Marlena tidak seperti Tanti yang selalu sabar walaupun Ari sudah sering menyakitinya. Hiburannya cuma satu kali ini. Dia pulang kemudian memberikan apa yang sudah dilewatkan untuk mantan istrinya. Lalu, Ari memintanya untuk rujuk kembali.
Sebelum pergi ke sana, Ari membelanjakan mantan istrinya buah-buahan. Dia berharap ketika sampai di sana, Ari akan dimanjakan dengan berbagai makanan. Termasuk buah yang dibawanya saat ini.
"Tanti pasti senang kalau aku beri kejutan. Lagi pula sudah lama sekali aku tidak pernah membahagiakannya."
Satu kresek berwarna merah berisi buah yang sudah dibelinya. Kresek itu pun diletakkan di atas motornya. Dia tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya melainkan langsung mampir ke rumah Tanti.
***
Deru suara motor yang didengar oleh Tanti membuatnya bertanya-tanya.
"Untuk apa lagi dia datang ke sini?" tanya Tanti pada dirinya sendiri.
Suara pintu diketuk. Tanti sudah bisa tahu siapa yang datang. Sebenarnya dia tidak ingin menemuinya, tetapi sebagai tuan rumah yang baik, dia membukakan pintunya.
"Dek," sapa Ari. Tangannya menenteng kresek merah besar diserahkan pada Tanti.
Tanti ingin menolaknya, tetapi tidak tega. Dia pasti sudah susah payah membawanya.
"Terima kasih, Mas," jawabnya.
"Aku tidak dipersilakan masuk?" tanya Ari.
Status mereka yang sudah berpisah membuat Tanti rikuh. Sebenarnya sebagai tuan rumah yang baik, Tanti bisa saja mempersilakan masuk. Namun, dia tidak nyaman.
"Maaf, Mas. Sebaiknya di luar saja."
Ari mengernyitkan keningnya. Dia memahami situasinya bahwa Tanti memang sedang menjaga diri. Ari rasanya merindukan saat-saat bahagia bersama dulu. Namun, penyesalan tetaplah akhir dari sebuah konsekuensi perbuatan yang sudah dilakukan pada Tanti.
"Terima kasih."
Ari duduk di kursi terbuat dari ubin yang sudah lama berada di teras rumahnya. Sesaat dia terdiam. Tidak tahu apa yang harus disampaikan. Memandang ke sekeliling rumahnya yang tampak tidak terawat itu membuatnya sedikit nyeri.
"Anak-anak tidak mencariku?" tanya Ari.
"Tidak. Mereka sudah tahu kalau hubungan kita sudah berakhir. Memangnya apa yang kamu harapkan dari anak-anak? Apa kamu pikir karena mereka bukan anak-anakmu sehingga kamu bisa memperlakukan mereka seperti itu?"
Setelah resmi mengangkat mereka menjadi tanggung jawab keluarganya, tiba-tiba Ari berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Melupakan nafkah untuk anak istri, kemudian memilih mendua sampai pada akhirnya menikah lagi. Julukan yang tepat memanglah suami bangsat yang sudah tidak patut lagi untuk dipertahankan apalagi diperjuangkan.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, Dek. Apa kamu masih marah sama aku? Aku memang khilaf. Karena ulahku, kamu yang menanggung semua penderitaan yang kuberikan."
"Itu sadar! Lalu, mau ngapain lagi ke sini? Mau nambah masalah?" tuding Tanti.
Tanti terlihat berbeda di matanya. Setelah lama tidak berjumpa dari wanita yang pendiam dan penurut, rupanya dia menjadi pribadi yang sedikit cerewet dan menggemaskan.
"Jangan begitu, Dek! Aku merindukanmu."
Mendengar rayuannya, Tanti rasanya ingin sekali muntah.
"Walaupun aku tidak pandai, tetapi aku tahu satu kata yang bisa membalas semua ucapanmu itu, Mas. Kamu pikir aku wanita bodoh?" balas Tanti dengan sengit.
"Apa, Dek? Aku ingin dengar dari mulut manismu itu," rayu Ari lagi.
"Bulshit!"
Glek.
"Oh ya, Mas. Kalau kamu sudah selesai, lebih baik kamu pulang sekarang. Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Tanti sengaja mengusirnya supaya mantan suaminya itu tahu diri.
"Tunggulah, Dek! Mas masih rindu."
"Wah, Mbak Tanti suaminya pulang, yah," sapa tetangga yang kebetulan lewat. "Mau pamer kemesraan di depan kami?"
Tanti rasanya semakin kesal hingga akhirnya dia mengatakan kenyataan yang sebenarnya.
"Maaf, Mbak. Kami sudah bercerai. Kalau Mbak ada minat dengan mantan suami saya, silakan!"
Glek!
Ari rasanya ingin menutup wajahnya saat itu juga. Semula orang-orang tidak tahu hubungannya dengan Tanti. Namun, kali ini rupanya Tanti sendiri yang membongkarnya.
"Wah, kalau sudah seperti itu, biasanya ada hawa-hawa mau rujuk, Mbak. Ya sudah, silakan dilanjutkan lagi mengenang masa lalunya. Siapa tahu doa saya mujarab supaya kalian bisa rujuk kembali."
Mulut tetangga memang gak ada rem yang cocok. Apalagi lakban untuk membungkam mereka. Mulutnya elastis sekali sehingga tidak tahu bagaimana Tanti menahan kesal.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang, Mas!" Untuk yang kedua kalinya Tanti mengusir Ari secara langsung.
"Aku masih ingin berbincang denganmu, Dek. Selain itu, tujuanku ke sini membawakan kamu beberapa buah-buahan tadi supaya kamu mau membuatkan aku rujak manis. Rasanya aku ingin memakan rujak manis buatan tanganmu."
Glek!
__ADS_1
Kurang ajar sekali. Siapa yang hamil, siapa yang kena getahnya? Tanti berdiri dari tempat duduknya untuk masuk ke ruang tamu dan mengambil kembali kresek merah yang ada di sana. Dia meletakkannya tepat di kursi samping Ari yang sedang duduk.
"Bawa pulang kembali oleh-olehmu ini. Aku tidak butuh. Kalau ke sini hanya untuk mengejekku, lebih baik kamu pulang ke rumah istrimu itu!"
Wanita mana yang tidak menjadi emosional. Walaupun sudah berusaha menahan diri, nyatanya Ari seolah terus saja mengejeknya. Tanti memang bukan wanita sempurna, tetapi dia juga punya harga diri.
"Oh ya, satu lagi. Jangan pernah datang kemari lagi!"
Tanti melangkah masuk, tetapi tangan Ari mencegahnya.
"Jangan sentuh aku, Mas!"
"Dek, duduklah dulu. Kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini! Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Dengarkan sebentar saja. Duduk, ya."
Tanti diam tak bergeming. Namun, dia berhasil mengibaskan tangan mantan suaminya.
"Dek, setelah Marlena melahirkan, aku mau menceraikannya."
Glek!
Apa lagi ini? Mungkinkah ini pertanda bahwa Tanti dan Ari akan rujuk kembali?
"Kenapa kamu mau menceraikannya?" tanya Tanti.
Seharusnya cukup Tanti saja yang menjadi korban. Apalagi Marlena sebentar lagi akan memiliki anak. Kasihan anaknya.
"Dia bukan wanita yang baik untukku, Dek," jawab Ari menunduk.
Plok plok plok.
"Wah, kamu hebat sekali, Mas! Dulu kamu bilang aku wanita tidak berguna, tidak becus mengatur keuangan, boros, dan banyak maunya. Kamu selalu mengagungkan Marlena sebagai wanita yang sempurna. Dia bisa hamil, melayanimu dengan baik, dan tidak ada cacat celanya sedikitpun. Sekarang apa? Kamu mau menceraikannya hanya karena sikapnya mulai berubah? Wah, kamu laki-laki pembual juara satu, Mas!"
Ari masih tertunduk. Usahanya untuk rujuk dengan Tanti sepertinya mengalami penolakan secara langsung.
"Dek, ayo rujuk!" Rengekannya seperti anak kecil yang kehilangan balon.
Tanti sangat muak mendengarnya.
"Lebih baik kamu pergi! Lupakan ide gilamu itu!"
Sudah menyakiti sekian lama, sekarang mau menjilat ludah sendiri. Tanti sampai kapan pun enggan untuk kembali pada suami bangsat seperti Ari yang mau enaknya saja.
__ADS_1