
Selepas suaminya pergi dari rumah, kemelut rumah tangganya tetap terjadi. Tidak hanya hatinya yang terluka, tetapi juga seluruh kehidupannya. Dia merasa kalau Ari sudah tidak mau lagi menjalani hubungan pernikahan dengannya. Walaupun demikian, Tanti berusaha bertahan sebaik mungkin. Dia berharap ini menjadi awal yang baik supaya bisa mandiri.
Ketika sedang membersihkan rumah, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Hari ini Tanti merasa tidak ada janji dengan siapa pun.
Tok tok tok.
Gegas Tanti meletakkan sapunya kemudian berjalan menuju ke pintu. Ceklek! Tanti membukanya. Dia melihat seorang wanita cantik berdiri di sana. Jika dibandingkan dirinya, wanita itu jauh lebih cantik dan sangat terawat. Penampilan Tanti hanyalah sebagai seorang ibu rumah tangga yang sedang berjuang untuk dua anaknya. Dia hanya mengenakan daster yang sedikit robek di ujungnya. Dia juga mengikat rambutnya asal karena hari ini masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
"Mas Ari-nya ada?" tanya wanita itu.
Deg!
Mengapa perasaan Tanti semakin tidak menentu? Siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapannya saat ini? Ada hubungan apa dengan suaminya?
"Mas Ari tidak di rumah."
"Ehm, kemana perginya? Boleh aku masuk?"
Tanti mencoba menepis pikiran buruk tentang suaminya. Mungkin wanita ini hanyalah sebagian kecil orang-orang yang membutuhkan jasa suaminya untuk menjalankan proyek.
"Silakan, Mbak! Silakan duduk! Maaf, rumahnya berantakan," ucap Tanti.
Sebenarnya suasana rumah sudah bersih, hanya saja Tanti belum membersihkannya sampai ruang tamu. Makanya dia meminta maaf.
"Terima kasih."
Tanti yang sangat menghormati tamunya berinisiatif untuk ke dapur menyiapkan minuman. Walaupun dia tidak memiliki uang, stok gula dan teh yang menipis masih cukup untuk membuatkan secangkir teh untuk tamunya.
"Mbak tunggu sebentar, ya! Aku ambilkan minuman."
"Tidak usah repot-repot, Mbak. Aku hanya sebentar."
"Tunggu sebentar saja! Tidak pantas kalau aku tidak menghormati tamu walaupun hanya segelas air. Tunggu sebentar, ya!"
Marlena tidak bisa menolaknya. Mau tidak mau dia harus menunggu bakal calon madunya itu kembali dengan minuman.
Air termos menjadi solusi terakhir disaat darurat seperti ini. Tak lama, Tanti sudah kembali dengan dua gelas teh dan penutupnya. Tak lupa dia membawakan piring kecil untuk meminum tehnya selagi panas.
Setelah meletakkan gelas itu di hadapan tamunya, Tanti duduk di kursi yang lainnya.
__ADS_1
"Silakan di minum, Mbak!" perintah Tanti. "Maaf, masih panas. Oh ya, kalau boleh tahu, untuk apa Mbak mencari suami saya?"
Marlena memang belum memperkenalkan diri. Dia ingin tahu sejauh mana istri kekasihnya itu bersikap.
"Oh, kedatangan saya kemari sebenarnya ada perlu dengan mas Ari. Namun, ketika saya tahu kalau mas Ari tidak ada di rumah, mungkin sebaiknya saya bicara dengan Mbak."
Deg!
Ada sekelumit perasaan aneh mendera relung jiwa Tanti. Dia semakin penasaran dengan wanita di hadapannya saat ini.
"Iya, Mbak. Beberapa hari yang lalu, mas Ari sudah kembali ke tempat kerjanya, Mbak. Memangnya Mbak siapa namanya?"
"Saya Marlena, Mbak. Kalau Mbak sendiri?"
"Tanti, Mbak."
Hening. Sesaat mereka berada dalam pikirannya masing-masing. Niat Marlena datang ke sini hanyalah ingin meminta sesuatu dari Tanti, tetapi itu tidak akan langsung dilakukan.
"Mbak, boleh saya tanya beberapa hal?" tanya Marlena.
"Silakan, Mbak!"
Deg!
Tanti tidak tahu apa tujuan Marlena. Namun, dia juga tidak akan membuka aib suaminya di hadapan tamunya.
"Ehm, mas Ari itu baik, Mbak. Kenapa Mbak tanya seperti itu?"
"Ehm, sebelumnya saya mau minta maaf, Mbak. Saya pacarnya mas Ari."
Glek!
Detak jantung Tanti rasanya berhenti sejenak. Dia berusaha mengatur napasnya bersamaan dengan rasa terkejutnya yang teramat sangat. Dia juga masih mencoba mencerna ucapan Marlena.
Inikah yang digosipkan orang-orang selama ini? Jadi omongan mereka selama ini benar. Mas Ari punya selingkuhan. Kamu jahat, Mas!
Rasanya Tanti ingin menangis di hadapan Marlena, tetapi tidak akan dilakukannya. Dia wanita yang kuat, wanita hebat. Dia tidak akan menangisi suaminya begitu saja. Apalagi akhir-akhir ini suaminya banyak berubah. Tanti mencoba tidak peduli. Dia harus tetap menahan amarahnya.
"Sejak kapan Mbak Marlena menjalin hubungan dengan suami saya?" tanya Tanti. Dia mencoba tetap tenang dalam bertutur kata. Jangan sampai karena amarahnya itu, semua orang yang ada di luar mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
"Beberapa minggu setelah mas Ari menjalankan proyeknya di dekat tempat tinggalku, Mbak. Apakah Mbak Tanti akan marah padaku? Sejujurnya kami menjalin hubungan karena terbiasa, Mbak. Mas Ari bisa memberikan segalanya untukku."
Rasanya sesak sekali. Pelakor di hadapan Tanti ini seperti menantang mautnya. Marlena takut kalau Tanti akan marah padanya. Padahal sebelum datang kemari, Ari sudah memberitahukan kalau Tanti itu wanita yang baik dan penurut.
"Untuk apa saya marah, Mbak? Tidak ada gunanya. Kalau memang Mbak mau, silakan ambil suami saya. Saya ikhlas," ucapnya dengan suara sedikit serak. Tidak tahan memang, tetapi mau bagaimana lagi. Hanya gara-gara pria tidak berguna semacam Ari, Tanti akan menangis begitu saja. Tidak, Ferguso! Air mata Tanti terlalu berharga.
"Terima kasih, Mbak."
Ini jawaban yang paling gila didengar Tanti. Selingkuhan suaminya itu berterima kasih padanya.
"Silakan diminum, Mbak. Jangan khawatir! Teh itu aman dari sianida."
Dia memang bukan wanita yang sangat bodoh, tetapi ketika kondisi terjepit seperti sekarang, Tanti bisa saja nekad.
Marlena menyeruput teh yang mulai menghangat. Tak perlu lagi menggunakan piring kecil untuk meminumnya.
"Mbak tidak menyesal telah memilih suami saya?" tanya Tanti setelah melihat Marlena meletakkan kembali gelasnya.
"Tidak, Mbak. Makanya saya ke sini untuk menemui Mbak. Selain ingin berbincang langsung, saya juga ingin meminta izin pada Mbak."
Deg!
Perasaan Tanti semakin tidak enak lagi. Posisinya benar-benar terjepit.
"Mbak, sebelumnya aku minta maaf. Apa Mbak tidak menyesal telah menjalin hubungan dengan suami orang? Maksudku begini, Mbak, mas Ari saja bisa berselingkuh di belakangku. Apa Mbak tidak takut kalau mengalami hal yang sama dengan saya?"
Pertanyaan Tanti sangat menohok, tetapi tanggapan Marlena sangat mengejutkan. Wanita itu tersenyum menanggapi pertanyaannya.
"Tidak, Mbak. Mas Ari mencintaiku. Saya yakin kalau dia tidak akan melakukan hal yang sama. Saya bisa membuat mas Ari menurut karena selama ini saya dan mas Ari sama-sama saling suka."
Ya Allah, cobaan apalagi ini? Suaminya sudah lama tidak memberikan nafkah, kali ini selingkuhan suaminya datang ke rumah.
"Lalu, apa yang Mbak inginkan dariku?" tanya Tanti.
"Saya meminta izin untuk menikah dengan suami Mbak. Walaupun kami hanya akan menikah siri, setidaknya Mbak sudah mengizinkan."
Glek!
Sebagai selingkuhan Ari, Marlena jujur sekali untuk meminta izin menikahi suami calon madunya. Rasanya memang aneh, tetapi itu syarat yang diajukan Ari pada Marlena.
__ADS_1