
Ari terpaksa pulang ke rumah orang tuanya lebih dulu. Seharusnya dia pergi ke rumah sakit untuk melihat anak dan istrinya, tetapi diurungkan. Langkah gontai membawanya turun dari motor menuju ke pintu ruang tamu. Sesampainya di sana, Ari disambut oleh ibunya karena mendengar suara motor yang baru saja terparkir rapi di halaman.
"Kenapa wajahmu?" tanya ibunya.
Wajah kusut seperti cucian belum disetrika yang ditunjukkan Ari pada ibunya. Ibunya sudah bisa memprediksi jika Ari gagal mendapatkan uang.
"Kamu pasti gagal mendapatkan uang, bukan?" tanya ibunya lagi.
"Bu, bisa tidak kalau kita bicara di dalam saja? Aku malu kalau didengar banyak orang," pinta Ari.
Sekarang Ari seperti orang linglung yang tidak mempunyai kekuatan apa pun. Dia menjadi suami yang sangat tidak berguna sama sekali.
"Kenapa Tanti tidak mau memberikan kamu uang? Apa kamu salah bicara padanya?"
"Tidak, Bu," jawab Ari tertunduk.
"Lalu, kenapa?"
"Tanti hari ini lamaran, Bu. Keluarga besarnya sedang berkumpul. Jadi, aku tidak mungkin datang ke sana."
Glek!
Ibunya Ari merasa kesal karena anaknya tidak mendapatkan uang sepeser pun dari wanita itu. Namun, yang jadi masalah sekarang bagaimana Ari mendapatkan uang.
"Kalau begitu lekaslah pergi ke rumah Marlena. Cari sertifikat rumahnya! Lalu, cari pinjaman untuk membiayai istrimu supaya cepat keluar dari rumah sakit."
Ibunya benar. Ini sudah mundur dua hari dari waktu yang seharusnya. Ari belum bisa membayarnya. Ide ibunya itu merupakan jalan keluar. Tidak tahu nantinya akan seperti apa. Yang penting sekarang bisa mengeluarkan istri dan anaknya dari rumah sakit.
Bergegas Ari mengambil motornya. Dia pulang ke rumah istrinya untuk mencari sertifikat rumahnya. Beruntung sekali Ari masih mengingat keberadaan barang penting itu yang ternyata disimpan bersama surat penting lainnya.
Tak menunggu lama Ari segera mencari rentenir. Karena di sanalah kemudahan akan didapatkan. Tanpa harus survei dan alasan ini itu. Setelah sertifikat diterima, Ari mendapatkan uang 20 juta. Itu sudah lebih dari cukup. Sebenarnya Ari ingin pinjamannya itu ditambah menjadi 25 juta, tetapi rentenir itu tidak mau. Menurutnya sertifikat yang dibawanya itu setara untuk pinjaman 20 juta saja. Kalau pada akhirnya rumah itu akan disita, maka perkiraan total akhir tagihan sudah sesuai dengan total keseluruhan jumlah rumah dan tanah saat dijual.
Senyuman mengembang di bibir Ari. Dia datang ke rumah sakit kemudian masuk ke kamar rawat istrinya.
__ADS_1
"Mas, kamu dapat uangnya? Kalau aku terus-menerus di sini, biayanya akan semakin membengkak," keluh Marlena.
"Sudah. Kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan pergi ke kasir untuk membayarnya."
Ari tidak mau mengatakan dari mana uang ini didapatkan. Setidaknya Marlena tidak akan marah di rumah sakit.
Sesampainya di kasir, tagihan rumah sakit bertambah dua hari karena Marlena tidak bisa pulang saat dokter sudah mengizinkan untuk pulang karena kendala biaya.
"Bu, berapa total tagihan atas nama Bu Marlena?" tanya Ari pada petugas kasir.
"Hari ini sudah mau pulang ya, Pak?"
"Iya, Bu. Sebenarnya sudah dua hari yang lalu, tetapi hari ini baru ada uangnya."
"Tunggu sebentar ya, Pak!"
Kasir masih mengecek pembayarannya. Memang tidak ada uang muka sehingga tagihan langsung hari ini dibayarkan.
Setelah membaca total keseluruhan tagihan, Ari membayarnya. Itu sudah termasuk beberapa obat yang akan diikutsertakan saat Marlena pulang.
Sekembalinya ke kamar rawat, beberapa perawat menyiapkan kursi roda untuk mengantarkan Marlena ke depan. Ari juga harus menyewa angkot untuk mengantarkan Marlena pulang ke rumah bersama bayinya. Rupanya ibunya pun sudah ada di sana bersama bapaknya.
"Sudah selesai?" tanya ibunya yang sedang menggendong bayi laki-laki lucu itu.
"Sudah, Bu," jawabnya.
Kalau Marlena sendiri melengos lantaran ibu mertuanya itu tidak pernah datang saat dirinya berada di rumah sakit. Bahkan, setelah operasi dia hanya dibantu beberapa perawat saja. Saat ini tidak salah kalau Marlena tidak banyak bicara.
Ari menyiapkan beberapa barang yang perlu dibawa pulang. Setelah semuanya beres, Ari mengantarkan istrinya untuk naik ke angkot.
"Mas! Kenapa harus angkot, sih? Tidak ada kah yang lebih bagus dari ini?" protes Marlena. Dia ingin naik mobil yang tidak dilihat banyak orang, tetapi Ari hanya bisa menyewakan angkot saja. Sisa uangnya untuk berhemat sampai beberapa minggu ke depan.
"Jadi istri itu mbok ya terima saja. Jangan rewel! Nanti kalau suaminya cari wanita lain, nyesel!" sindir ibu mertuanya.
__ADS_1
Mertuanya pikir kalau Marlena tipe perempuan yang bisa disudutkan seperti saat ini. Rupanya dia salah besar.
"Kalau Ibu mau ikut campur, silakan urus anak Ibu saja. Ibu pikir saya takut jadi janda? Malah bagus, kan! Saya bisa terlepas dari anak Ibu yang tidak guna itu!" balas Marlena. Beberapa hari terakhir ini dia kesal sama Ari karena pria itu tidak pernah datang ke rumah sakit lagi. Hanya mau enaknya saja, tetapi tidak mau susahnya.
Ibu mertuanya diam. Ternyata lebih baik Tanti yang selalu bisa bersikap sopan padanya. Ari melepaskan Tanti itu sebuah kesalahan fatal rupanya. Ibunya terlambat menyadari. Sebentar lagi Ari akan lebih menderita jika hidup bersama Marlena.
Berada di angkot bersama ibu mertuanya membuat Marlena lebih banyak diam. Seandainya bukan karena operasi, Marlena akan merebut putranya dari gendongan ibu mertuanya yang sangat cerewet dan tukang atur.
Sementara suami dan bapak mertuanya naik sepeda motor masing-masing. Sesampainya di rumah, Ari segera membuka pintu. Dia mempersilakan bapaknya masuk lebih dulu.
"Masuk, Pak!"
"Ri, kamu dapat uangnya dari mana?"
"Seperti saran ibu. Aku berutang uang pada rentenir, Pak. Sebagai gantinya, aku menyerahkan sertifikat rumah ini."
Glek!
Bapaknya cuma bisa menggelengkan kepala. Rupanya Ari tidak kapok mengulang kesalahan yang sama.
"Kalau rumah ini disita, kamu mau tinggal di mana? Kenapa tidak kamu persiapkan secara matang. Kamu itu sudah tua, kenapa masih ceroboh seperti itu?"
Hari ini terlihat agak aneh bagi Ari. Biasanya harus bekerja di proyek yang tidak jauh dari rumahnya malah sibuk mengurusi istrinya. Ari masih terdiam. Dia juga tidak tahu karena setelah ini pasti tidak bisa membayar cicilan utangnya.
"Pak, aku juga bingung sekarang. Aku pengangguran."
"Apa?" Bapaknya Ari syok. Dia tidak menyangka jika anaknya sudah menjadi pengangguran sekarang.
"Pak, tolong rahasiakan ini dari ibu. Nanti pasti marah-marah padaku."
"Bapak tidak tahu harus ngomong apalagi sama kamu. Yang pasti, kamu sudah mengulang kesalahan yang sama. Sebentar lagi Marlena akan marah kemudian menggugat cerai kamu! Mau ditaruh mana muka Bapak ini?"
Bapaknya benar. Kalau Marlena tahu bahwa sertifikat rumahnya sudah dijadikan jaminan pada rentenir, maka kejadian yang sama akan berulang. Kedua kalinya Ari akan bercerai dari istrinya. Sungguh kecerobohan berulang dan lupa pada kesalahan di masa lalu.
__ADS_1