
Orang bilang komentator dan kalkulator paling jitu adalah mertua. Ini berlaku pada pernikahan Marlena dan Ari saat ini. Setelah melihat box bayi tidak ada, lalu ibunya Ari mengomentari hal lainnya lagi yang membuat Marlena semakin sebal.
"Box bayi tidak ada, itu bukan masalah penting. Ada ranjang, bukan? Selanjutnya adalah syukuran. Seharusnya kalau anak dibawa pulang ke rumah, paling tidak harus bagi-bagi makanan. Kamu itu bagaimana, Mar? Sudah tahu anak waktunya pulang, malah tidak menyiapkan acara apa pun."
Marlena tidak menjawab. Dia malah menghembuskan napasnya dengan kasar. Belum usai sakit yang ditimbulkan akibat operasi Caesar barusan, ibu mertuanya menambahkan beban lagi.
Belum berakhir omelan demi omelan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya, kini ditambah lagi dengan suara tangisan bayinya. Hal itu menambah beban pikiran Marlena selanjutnya.
"Kalau anaknya menangis itu lekas disusui. Dia pasti lapar. Jadi ibu baru mbok ya yang greget gitu. Jangan lelet!"
Rasanya Marlena ingin mencakar muka ibu mertuanya. Dia memang ibu baru, tetapi belum terlalu pengalaman. Dia pun butuh bimbingan dari ibu mertuanya. Bukan malah dimaki ini dan itu. Kalau saja dia sedang tidak dalam kondisi seperti ini, entah apa yang akan terjadi dengan ibu mertuanya.
Tanpa banyak bicara, Marlena mengambil bayinya kemudian menyusui anak yang belum diberikan nama itu.
Tak lama suaminya menyusul ke kamar. Marlena pikir sebentar lagi akan ada kedamaian, ternyata tidak sama sekali. Justru malah kejadian yang tidak pernah disangkanya.
"Mas, mumpung di sini ada Ibu. Aku mau bertanya padamu," ucap Marlena.
"Hemm, tanyakan!" balas Ari.
"Kamu dapat darimana uang itu, Mas? Apa Ibu yang memberikannya?"
Glek!
Ibu dan anak itu terpaku. Semula ibu mertuanya bisa dengan mudah menyudutkan menantunya, tetapi sekarang telah berbanding terbalik.
"Mas, kenapa kamu diam? Apa ibu juga menyembunyikan sesuatu dariku?"
Ibu mertuanya diam. Dia memang tidak berbuat apa pun. Lebih baik dia mundur sebelum menantunya itu mengamuk padanya. Perlahan dia keluar meninggalkan kamar itu.
"Ibu mau ke mana?" tanya Marlena.
Glek!
__ADS_1
"Mar, Ibu tidak ada urusan dengan uang ini," ucap Ari membela ibunya.
"Tunggu! Uang ini maksudnya apa?" Pertanyaan Marlena barusa membuat ibu mertuanya berhenti melanjutkan langkahnya.
"Aku dipecat dari pekerjaan."
"Apa? Lalu, uang ini darimana?" Marlena akan terus bertanya sampai dia menemukan jawabannya.
"Maafkan aku. Aku terpaksa menjadikan sertifikat rumah ini jaminan utang pada rentenir."
"Ya Allah, Mas! Kamu itu bagaimana, sih? Tidak belajar dari pengalaman. Kamu itu bodoh atau apa, sih? Kalau sampai kita tidak bayar, mau tidur di mana?" Suara Marlena sudah tidak tertahan. Bersamaan dengan tangisan bayi karena pertengkaran kedua orang tuanya.
"Mar, Mas mau minta maaf. Tapi, Mas janji akan mencari pekerjaan baru lagi."
Marlena menggeleng. "Pantas saja mantan maduku itu lebih memilih bercerai dari kamu, Mas. Kamu bodohnya tidak ketulungan."
Ibu mertuanya merasa tidak terima anaknya disudutkan seperti itu. Sebenarnya dia hendak maju untuk mendamprat mulut Marlena, tetapi sama suaminya ditahan.
"Jangan ikut-ikutan, Bu. Lebih baik kita pulang. Biar mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap suaminya.
"Mungkin dia kena karmanya, Bu. Dia kan sudah menyakiti hati Tanti di masa lalu. Tanti tidak ridho karena perlakuan Ari yang membuatnya kesusahan."
Amarah istrinya bukan malah mereda, tetapi malah membabi buta memarahi suaminya. Tetap saja walaupun anaknya salah, dia tidak mau menerima kenyataan itu.
***
Beberapa hari kemudian, persiapan pernikahan Tanti sudah hampir mencapai 80 persen. Sarinah sudah tidak memaksa meminta pernikahan mewah. Paling penting baginya kalau Tanti mau menikah kembali.
"Bagaimana, Nduk? Kamu senang kalau Ibu tidak memaksakan pernikahan mewah?"
"Terima kasih, Bu. Tanti bersyukur sekali. Ibu juga tahu kan kalau Tanti harus sering libur berjualan karena mengurus pernikahan ini. Oh ya, apa tidak sebaiknya rumah lama itu dijual, Bu. Nanti biar penjualannya aku tabung, beberapa akan aku kembalikan pada Mas Ari. Dia pasti sedang butuh uang sekarang."
Sarinah sebenarnya kesal sekali. Selama beberapa hari ini tidak mendengar mantan suami putrinya itu. Tapi, kalaupun keputusannya sudah seperti itu, Sarinah tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
"Terserah kamu, Nduk! Ibu sebenarnya lelah mendengar nama itu."
Setelah mendengar jawaban ibunya, Tanti menemui bapaknya. Dia meminta izin pada pria itu untuk menjual rumah yang ditempati saat ini. Alasan pertamanya ingin melupakan masa lalunya, selain itu dia juga ingin membagi sebagian uangnya untuk mantan suaminya. Supaya kehidupan Tanti dengan suami barunya jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Pak, kalau misalnya rumah yang Tanti tempati dijual, tidak masalah kan, Pak?"
"Kamu tidak menyesal menjualnya?" tanya Hardiman.
"Tidak, Pak. Rumah itu ada sebagian yang mas Ari. Kasihan dia. Saat ini mungkin sedang butuh uang karena istrinya mau melahirkan mungkin."
Sebaik itu hati putrinya. Sudah disakiti seperti waktu itu, dia masih saja memberikan sebagian apa yang sudah bercampur di dalam rumahnya.
"Baiklah. Bapak setuju. Nanti Bapak akan minta orang untuk membantu menjualkan rumah kamu."
"Terima kasih, Pak. Bapak memang yang terhebat," puji Tanti.
Sebentar lagi sebelum Tanti menikah, dia akan menemui mantan suaminya untuk memberikan sebagian uang penjualan rumahnya. Setelah urusan dengan bapaknya selesai, Tanti kembali menemui ibunya. Wanita itu sedang menyiapkan beberapa kebutuhan pernikahan putrinya.
"Nduk, brukatnya nanti Ibu belikan di pasar, ya. Ini cuma ada kain jariknya saja," jelas Sarinah.
"Bu, sebaiknya nanti menyewa saja kebayanya. Tidak usah beli lah. Sayang uangnya. Kalau menyewa kan tidak terlalu mahal. Sekalian minta tolong buat di make up-in. Tanti kan nggak bisa dandan, Bu"
Sarinah menggeleng. "Ibu tidak setuju, Nduk. Apa kamu tidak malu dengan keluarga besar Abbas kalau kamu pakai kebaya pinjaman? Kalau kamu beli sendiri, nantinya bisa kamu simpan."
"Bu, Tanti sayang dengan uangnya, Bu. Ini pun Tanti pakai tabungan anak-anak untuk membantu biaya pernikahan sederhana ini," jelasnya.
"Loh, kok begitu. Ini bapak mau bantu kamu. Abbas juga mau memberikan sejumlah uang untuk pernikahan ini."
Sangat disesalkan Sarinah kalau alasannya tidak mau membeli kebaya karena ingin berhemat. Padahal semua biaya sudah disiapkan orang tuanya. Dasarnya Tanti saja yang tidak mau begini dan begitu.
"Ibu, Mas Abbas cukup memberikan mahar dalam pernikahan Tanti itu saja. Tanti bukan wanita yang gila harta kok, Bu. Kalau memang dia harus membiayai pernikahan ini, tidak sekarang. Lebih baik disimpan untuk keperluan hidup selanjutnya."
Glek!
__ADS_1
Berdebat dengan Tanti tidak akan ada habisnya. Dia sepertinya sangat berhemat sekali. Entah, apa yang sedang diusahakan putrinya hingga dia sangat membatasi keuangan yang dikeluarkan untuk pernikahan sederhana ini.