Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 27. Bertengkar


__ADS_3

Ari mengendarai motornya. Uang yang niatnya diberikan pada Tanti malah ditolak oleh wanita itu. Amplopnya masuk lagi ke saku bajunya. Dia tidak pulang ke rumah orang tuanya, tetapi langsung pulang ke rumah Marlena, istri sirinya. Tempat kerjanya yang sekarang memang dekat sekali dengan tempatnya yang sekarang.


"Mas, kamu baru kembali?" tanya Marlena.


"Iya, aku langsung istirahat, ya! Aku sangat lelah." Ari tidak biasanya bersikap seperti ini. Setelah tahu Marlena hamil, dia lebih banyak berubah. Namun, Marlena belum tahu apa alasannya.


Marlena mengiyakan saja. Memang perjalanan dari rumah mertua ke tempat tinggalnya butuh waktu beberapa jam.


Selama proses perceraian berlangsung antara Ari dan Tanti, banyak yang berubah dari pria itu. Pria itu juga tak seroyal dulu. Apalagi beberapa waktu yang lalu, Marlena sempat mengadakan syukuran kehamilannya. Namun, pihak keluarga Ari memintanya untuk diadakan syukuran di rumahnya. Katanya hanya membuat nasi berkat dan kelengkapan tingkeban yang lainnya. Marlena pun tidak diajak ke sana. Hanya bukti foto makanan yang akan dibagikan pada tetangga dekat dan keluarga katanya.


"Mas!" panggil Marlena. Dia menggoyangkan tubuh suaminya supaya pria itu bangun, tetapi suara dengkurannya meninggi. Hendak berdiri untuk meninggalkan suaminya yang sedang tertidur pulas itu, tangan Marlena tak sengaja menyentuh sesuatu yang tebal berada di saku kemeja suaminya..


Apa ini? Kok tebal sekali?


Marlena lekas mengambilnya. Rasa penasarannya cukup tinggi sekali. Dia melihat sebuah amplop yang mungkin berisi uang karena dia belum membukanya.


"Amplop untuk siapa? Beberapa hari terakhir ini, aku minta uang, tetapi dia tidak memberikan dengan alasan tidak punya uang. Saat proses perceraian pun demikian. Memangnya uang ini untuk siapa? Makin ke sini, kamu makin pelit, Mas," keluh Marlena dengan suara lirihnya.


Marlena mengambil amplop itu untuk disimpannya sementara. Nanti kalau Ari sudah bangun, dia akan menanyakan detail amplop yang dipegangnya.


Waktu yang ditunggu tiba. Ari sudah keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi. Sudah mandi dan tidak terlihat seperti orang sengsara.


"Mas, kamu sudah rapi? Mau ke mana?" tanya Marlena.


"Aku mau duduk di ruang tamu, menikmati sore hari. Kenapa?" jawabnya ringan sekali.


"Mas, aku minta uang! Buat kontrol kehamilan ke rumah sakit," tegas Marlena.


"Tidak ada uang," jawab Ari sekenanya. Dia sedang mencoba mengingat uang yang dikembalikan Tanti. Ari kembali ke kamar untuk mengecek saku kemejanya yang sudah masuk ke dalam cucian kotor.

__ADS_1


Ari tidak menyadari kalau Marlena membuntutinya. Marlena diam saja sampai Ari mengeluarkan suara kebingungan.


"Di mana aku menyimpannya? Apa jatuh di jalan tadi?" Ari menyugar rambutnya secara kasar.


"Kamu mencari ini, Mas?" Marlena menunjukkan amplop yang masih rapi sehingga Ari mengalihkan pandangannya.


"Kamu mengambilnya?" tuduh Ari.


"Ini buat aku, kan?" tanya Marlena yang berlagak sok polos. Padahal sebentar lagi dia akan meledakkan bom waktu.


"Dek, kembalikan!" pinta Ari.


"Eit, apa dulu ini? Buat siapa? Jatah untuk wanita lain lagi? Belum puas sudah mendua? Atau, mau mengulang cerita yang sama?" Marlena sengaja memberondong berbagai macam pertanyaan.


Bila dibilang Marlena lebih berani dari Tanti, memang benar. Tanti wanita kalem yang pasrah, tetapi perlahan mulai bangkit. Kalau soal Marlena, dia lebih baik langsung konfrontasi daripada menunggu waktu yang tidak jelas.


Marlena menarik uang itu kemudian menyembunyikannya ke dalam saku bajunya.


"Tidak bisa! Selama ini aku sudah sabar tidak kamu nafkahi. Ternyata uangnya kamu berikan pada mantan istrimu itu, Mas."


Sebenarnya setelah Tanti menolak tadi, Ari merasa senang. Dia tidak akan kekurangan uang lagi untuk beberapa minggu ke depan. Uangnya sudah habis dibuat memberikan jatah belanja pada Marlena, syukuran kehamilan, dan cicilan menebus rumah yang harus dibayar ke orang tuanya.


"Bukan begitu, Dek! Kamu bisa ambil sedikit saja. Sisanya berikan padaku," paksa Ari.


"Tidak bisa, Mas. Beberapa minggu terakhir ini kamu lalai. Uang belanja berkurang banyak. Kalau kamu butuh uang, mending minta saja padaku."


"Dek, berikan padaku! Kalau seperti ini, gak ada harga dirinya aku sebagai laki-laki," protes Ari.


Marlena tertawa. Dia tidak habis pikir dengan ucapan suaminya barusan. Masih saja memikirkan harga diri.

__ADS_1


"Harga dirimu sudah hilang semenjak kamu memutuskan selingkuh denganku, Mas!"


Glek!


Ari pikir kalau Marlena adalah wanita yang baik. Ternyata dia lebih kejam daripada mantan istrinya. Kalaupun Tanti tidak pernah diberi apa pun, beda lagi dengan Marlena.


"Jaga ucapanmu, Dek! Jadi wanita itu harus patuh dan hormat pada suami. Tidak menyalakan suami seperti ini. Kembalikan uangnya! Atau, kalau tidak, aku akan--"


"Akan apa? Keluar dari rumah? Mau menikah lagi? Atau, mau menambah selingkuhan lagi?" cibir Marlena.


Marlena semakin berani mengancam suaminya. Dia tidak akan takut kalau harus bernasib sama dengan Tanti yang harus menyandang gelar janda lebih cepat. Namun, Marlena tidak mau menderita seperti Tanti yang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri karena tidak mendapatkan jatah uang belanja.


"Dek, berikan!" Suara Ari sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Dia marah.


"Oh, berani bentak sekarang! Pantas saja Mbak Tanti lebih memilih melepaskan pria tidak berguna sepertimu daripada bertahan dengan luka yang berkepanjangan," sindir Marlena.


"Berikan atau aku akan--" Ari mengangkat salah satu tangannya. Dia berniat untuk menampar Marlena.


"Tampar aku, Mas! Tampar! Keraskan lagi suaramu, Mas. Biar tetangga dengar. Mereka datang untuk menyaksikan drama keributan yang telah kita buat. Dan, kalau kamu mau menamparku, silakan. Pasal KDRT jelas. Kamu mau apa sekarang?" ancam Marlena.


Marlena menepis tangan suaminya yang berusaha merebut uang di tangannya itu.


"Oh ya, satu lagi. Kalau kamu mau KDRT, pikirkan ulang. Mau masuk penjara selama 5 tahun? Kalau kamu di penjara, aku bisa menikah lagi, Mas. Kamu akan membusuk di sana. Dan, mengenai uang ini, istrimu jauh lebih butuh daripada mantan. Tolong camkan itu!"


Marlena meninggalkan Ari begitu saja. Ini mungkin karma kontan yang diterima Ari. Marlena tak sebaik yang dia kira. Ari selalu membuat Tanti dalam kesusahan. Sekarang, saat dia mau memperbaiki hubungan, nyatanya Marlena malah lebih kejam daripada yang dia kira.


"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Ari pada dirinya sendiri. Apakah dia mau mengulang kesalahan yang sama?


Hubungannya dengan Tanti sudah hancur. Dia berusaha untuk bertahan dengan kehidupan barunya. Marlena sedang mengandung. Pihak keluarganya meminta untuk rujuk dengan Tanti. Kepala Ari rasanya mau pecah. Belum lagi kebutuhan yang semakin tidak bisa dikendalikan. Pekerjaannya pun tidak selancar dulu.

__ADS_1


__ADS_2