Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 16. Aku Ingin Bercerai, Mas!


__ADS_3

Beberapa bulan tidak menginjakkan kakinya di rumah. Mendadak Ari ingin pulang. Setelah menikmati kebahagiaan pernikahannya bersama Marlena, dia tidak tahu bahwa setiap kesusahan yang didapatkan Tanti karena ulahnya. Ari tidak pernah bertanggung jawab penuh atas istri sah dan anak-anak angkatnya.


Ari tidak peduli, tetapi kali ini rasanya ingin pulang untuk sekadar menyapa istrinya yang tidak bisa diandalkan itu. Bagaimanapun rumah yang ditinggali Tanti adalah jerih payahnya juga. Dia juga masih menjadi suami sahnya. Ari pun tidak ada niat untuk menceraikan istrinya. Biarkan saja seperti ini. Toh hubungan pernikahan sirinya baik-baik saja. Tanti pun tidak menuntut ini dan itu.


Keinginannya untuk pulang pun sudah diizinkan oleh Marlena. Ari tidak bisa untuk diam tanpa pamit padanya. Itulah mengapa saat ini dirinya bisa sampai di rumah tanpa drama sembunyi-sembunyi dari istri sirinya.


Selama ini, Ari pikir semuanya akan baik-baik saja. Kenyataannya ketika sampai di rumah, Ari dikejutkan dengan palang besar di depan pintu rumahnya sehingga tidak bisa dibuka. Tulisan 'disita' pun terpampang nyata di sana. Namun, dia belum tahu apa maksudnya. Mungkinkah istrinya sudah berutang pada Bank sehingga pihak Bank menyita seluruh harta benda yang dimiliki debiturnya?


Ari sebenarnya geram melihat rumahnya disita, tetapi dia belum tahu kronologi yang sebenarnya. Maka dari itu, sebelum bertemu dengan istrinya, dia harus mencari informasi kepada tetangga terlebih dahulu.


"Maaf, di mana Tanti?" tanya Ari pada salah satu tetangga yang ditemuinya.


"Wah, Mas Ari baru pulang, toh! Mbak Tanti sudah lama meninggalkan rumah kerena disita rentenir, Mas."


Deg!


Rupanya bukan Bank, tetapi malah rentenir. Rasanya aneh seperti ini. Biasanya dia pulang kemudian bertemu dengan istrinya. Walaupun tidak ada pembicaraan diantara keduanya, tetapi bagi Ari, rumah adalah hal yang paling penting.


"Kenapa bisa sampai disita?" Rasa penasarannya semakin tinggi.


"Anu, Mas, Mas Ari kan jarang pulang ke rumah. Mbak Tanti bekerja banting tulang sendiri, tetapi belum cukup untuk kebutuhan sehari-harinya dan juga dua anaknya. Kan Mas Ari jarang pulang."


"Terima kasih." Ari tidak mau memperpanjang pembicaraannya. Bisa saja tetangganya itu akan membahas pernikahan keduanya. Dia bergegas pergi ke rumah mertuanya. Dia akan mencarinya di sana. Satu-satunya tempat yang mungkin dituju di dalam pemikirannya.

__ADS_1


Benar saja, ternyata Tanti ada di sana. Di depan rumah mertuanya, ada sebuah kios kecil. Tanti pun terlihat di sana untuk menata beberapa barangnya. Ketika sedang sibuk mengurus barangnya, Tanti tidak mengetahui kalau Ari datang untuk menemuinya.


Ari pun tidak berani menyapa lebih dulu sehingga pandangan mereka terkunci.


Deg!


Tanti yang selama ini mencoba melupakan suaminya yang brengsek itu, nyatanya semakin dongkol ketika melihat kedatangannya.


"Kamu masih ingat pulang, Mas?" sapa Tanti dengan suara yang berbalut luka. Suara hati yang selama ini ditahannya.


Ari menerobos masuk ke rumah mertuanya. Dia tidak akan mungkin bertengkar di depan rumah yang akan mengundang perhatian tetangganya. Dia langsung duduk sebelum dipersilakan oleh Tanti sebagai anak pemilik rumah.


Hening.


"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Ari.


"Apa maksudmu? Seharusnya aku yang bertanya padamu, Mas. Kemana saja kamu selama ini?" Tanti mengulang pertanyaan suaminya. Kalau Ari bisa marah, mengapa tidak dengannya? Semua kesusahan yang dialami Tanti tidak akan terjadi jika Ari tidak egois. Nyatanya semua sudah terlambat.


"Rupanya kamu berani melawanku. Jangan kamu pikir setelah apa yang terjadi, aku akan memaafkanmu," ucapnya seolah tidak memiliki kesalahan sama sekali.


Tanti tersenyum kemudian tertawa sebentar. "Kamu menyalahkan aku? Dasar pria tidak berguna!"


Glek!

__ADS_1


Tanti tidak hanya menghinanya, tetapi sudah menjatuhkan harga dirinya ke dasar jurang. Ari yang pada dasarnya tidak mau disalahkan atas apa yang terjadi terus saja berusaha memojokkan istrinya.


"Kamu istri yang tidak berguna, Tanti. Seharusnya kalau suami kerja itu, rumah dan harta bendanya dijaga dengan baik. Lihat, selama ini aku diam karena seisi rumah perlahan kamu jual. Itu untuk apa? Apa kurang dengan nafkah yang selama ini kuberi? Lama-kelamaan aku bosan padamu. Setelah semua harta benda kamu jual, sekarang rumah itu juga sengaja kamu serahkan pada rentenir. Di mana otakmu selama ini? Pantas saja kalau aku malas pulang. Itu karena kamu tidak pernah bisa menyenangkan hati suami. Setiap hari selalu membuat suami pusing dengan semua tuntutan yang kamu tujukan padaku."


Glek!


Harusnya yang pantas marah itu Tanti, bukan Ari. Kenyataannya saat ini Tanti lah yang diserang bertubi-tubi oleh Ari. Seharusnya suaminya itu bisa mengayomi, memberikan kenyamanan, membahagiakan, dan memenuhi segala kebutuhan istrinya. Tapi, tidak bagi Ari. Entah, darimana pikiran piciknya itu berasal sehingga semua yang dilakukan Tanti selalu salah di matanya.


Ari tidak pernah tahu bagaimana perjuangan Tanti selama ini untuk bertahan hidup. Mempertahankan kedua anak angkatnya yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Dia sampai hilang kepercayaan dirinya, mencoba bangkit dari keterpurukan, dan sekarang suaminya mengintimidasi seolah semua kesalahan Tanti memang murni ulahnya sendiri.


"Sudah puas kamu ngomongnya, Mas? Jangan pikir selama ini aku tidak tahu dengan semua yang kamu lakukan diluar sana. Aku diam bukan berarti aku bodoh, Mas. Aku berjuang untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anak, sementara kamu enak-enakan dengan Marlena. Bahkan, kamu juga sudah menikah dengannya, bukan?"


Ari tenang. Cepat atau lambat istrinya pasti mengetahui perihal pernikahannya.


"Lalu, kamu menyalahkan aku atas semua yang sudah terjadi? Harusnya kamu instrospeksi diri, Tanti. Aku melakukan ini kupikir kamu akan minta maaf padaku, tetapi malah kamu terus bersikap seolah-olah bisa menjalani kehidupan secara mandiri. Kamu juga butuh suami, bukan? Jangan egois, Tanti!


Oh, ya ampun. Rasanya ingin memaki suaminya saat ini juga. Pertahanan Tanti sudah runtuh semenjak pengkhianatan suaminya. Kali ini semua kesalahan dipusatkan padanya sebagai sumber masalah. Perjuangan Tanti sama sekali tidak pernah dihargai. Neraka pernikahan yang sudah diciptakan Ari dengan sengaja malah dia yang tidak mau mengakuinya. Sungguh suami laknat!


"Ck, Mas, Mas. Aku tidak habis pikir, ya. Makanan apa yang sudah diberikan Marlena kepadamu sehingga kamu berubah seperti ini? Mana janji pernikahanmu itu? Kamu sudah berjanji untuk selalu hidup bersama denganku dalam suka maupun duka. Nyatanya kamulah dukaku, Mas! Kamu yang menyebabkan semua ini terjadi. Kamu suami yang zalim, Mas!"


Kesabaran telah hilang. Tanti semakin beringas. Duka yang ditorehkan suaminya sudah terlalu dalam. Bertemu bukannya menyelesaikan masalah, tetapi malah menambah masalah.


"Sudahlah, Mas. Lupakan semua ucapanku barusan. Kalau memang aku salah di matamu, terus saja salahkan aku, Mas. Biar kamu puas. Aku akan membebaskanmu dari seluruh tanggung jawab yang telah hilang selama ini, Mas. Aku ingin bercerai, Mas!"

__ADS_1


__ADS_2