
Sore hari anak-anaknya sudah berkumpul di rumah. Tempat sekolah mereka memang tidak pernah pindah. Kalaupun mereka harus pulang-pergi, memang jarak tempuh yang paling dekat adalah dari rumah lamanya.
Melihat satu kresek berwarna merah tergeletak di meja ruang tamu menjadi magnet tersendiri bagi Indra dan Teguh.
"Mas, tumben hari ini ibu belanja buah-buahan begitu banyaknya," ucap Indra pada Teguh.
Teguh pun penasaran sehingga mencoba membukanya sedikit. Indra benar. Bahkan, buah-buahan ini hampir tidak pernah ada di rumah mereka secara lengkap. Jadi, terkadang hanya satu macam saja. Itu pun tidak sering. Rentang waktunya terlalu panjang untuk menikmati buah-buahan kala itu.
"Entahlah, nanti kita tanyakan pada ibu," jawab Teguh.
Kegiatan di sekolah sangat padat sehingga baru pulang ke rumah di sore hari. Tanti pun sekarang mulai sibuk dengan urusan dapur, yaitu menerima beberapa orderan catering. Walaupun belum banyak, tetapi usahanya ini sudah berkembang lumayan bagus.
"Kalian sudah pulang?" tanya Tanti. Niatnya ke ruang tamu untuk mengamankan buah-buahan yang diberikan mantan suaminya tadi siang.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Teguh dan Indra bersamaan. Keduanya bergantian mencium punggung tangan ibu angkatnya itu.
"Waalaikumsalam, Ibu yang tidak dengar, atau memang kalian yang tidak mengucap salam lebih dulu?" selidik Tanti.
"Kami terlalu fokus pada kresek merah ini, Bu. Kami minta maaf," jawab Indra.
"Ibu belanja banyak untuk kebutuhan catering, ya," ucap Teguh.
"Bukan. Itu dari Mas Ari. Tadi dia datang ke sini mengantarkan itu dan membuat Ibu semakin kesal," jelas Tanti.
"Apa dia menyakiti Ibu lagi?" tanya Teguh.
"Ah, lupakan. Coba bantu Ibu memikirkan untuk apa buah sebanyak itu? Ibu sebenarnya malas menerimanya, tetapi dia memaksa."
"Kenapa tidak kita jadikan rujak buah saja, Bu? Setidaknya itu akan sangat berguna, bukan?" usul Teguh yang jiwa wirausahanya sudah mulai meronta-ronta.
Sejak pindahan ke tempat baru, orang tua Tanti tidak tinggal diam. Mereka juga memberikan Tanti satu buah lemari es yang digunakan untuk menyokong usahanya. Dia membutuhkan lemari es untuk menyimpan beberapa bahan masakan supaya bisa lebih awet. Walaupun Tanti sendiri lebih suka berbelanja langsung ke pasar dengan mendapatkan sayuran yang masih segar dengan segala keperluan lainnya.
__ADS_1
"Ibu sebenarnya ingin, tetapi malas sekali harus menggunakan bahan darinya. Rasanya itu seperti makan barang haram," ucap Tanti tanpa bisa mengerem nada kekesalannya.
"Ya sudah, kalau Ibu malas, lebih baik kita berikan pada tetangga saja. Bagaimana? Atau, mau Ibu kembalikan saja sama Bapak Ari?" tanya Indra.
Tanti mencoba berpikir positif. Ini memang dari mantan suaminya, buah-buahan ini tidak salah, yang salah adalah keegoisan Tanti sendiri. Terkadang memang sulit sekali bisa menerima makanan dari orang yang kita benci. Jangankan menerima, melihatnya pun enggan. Lalu, bagaimana sikap Tanti menentukan nasib buah-buahan yang tidak berdosa itu? Salahkah kalau dia tidak mau menerimanya?
Orang lain boleh bilang menerima rumah yang sudah ditebus dari tangan mantan suaminya saja mau, mengapa hanya buah-buahan tidak mau? Di sinilah tugas netizen untuk membuat kontribusinya untuk memberikan ghibah terbaiknya. Tidak salah memang kalau Tanti masih mau menerima rumah lamanya. Jelas kok tanah ini masih miliknya. Pemberian dari orang tuanya. Bukan warisan yang diberikan dari pihak keluarga Ari, mantan suaminya.
"Kita buat rujak buah saja, Nak. Nanti Ibu berikan gratis pada pelanggan. Bagaimana?" tanya Tanti kemudian.
Teguh dan Indra bisa bernapas lega dengan keputusan ibunya itu. Tentu saja ini jauh lebih baik daripada nasib buah yang tidak jelas itu. Tanti lekas memasukkan buah-buahan itu ke dalam kulkas supaya esok hari bisa diolah dengan baik. Dia harus membeli gula merah untuk kelengkapan rujaknya.
...🍄🍄🍄...
Pagi setengah siang, saat orang-orang mulai berbelanja di lapaknya. Tanti sudah menyiapkan segala sesuatunya.
"Tumben, Mbak, kok ada rujak buah pagi-pagi," ucap salah seorang pelanggan yang sudah sering berbelanja pada Tanti.
Ya, Tanti menjual lauk-pauk dan sayuran matang. Terkadang dia menjual gorengan ketika tidak sedang menerima pesanan catering.
"Wah, Mbak Tanti nggak rugi kah? Rujak buahnya ini banyak sekali loh. Kalau untuk ukuran makan dua orang ini masih cukup, Mbak," sahut pelanggan lainnya.
Mana mungkin aku rugi. Aku cuma modal gula merah sama kacang saja. Daripada aku buang buah tak bersalah itu, lebih baik aku bagi gratis.
"Nggak, Mbak. Ini kebetulan saya dapat gratisan dari orang. Masak gratisan saya jual juga," jelas Tanti.
Tetangga itu kalau tahu modal gratisan, sinyal julidnya semakin kuat. Tentu saja mereka penasaran siapa hamba Allah yang memberikan buah sebanyak itu.
"Seriusan, Mbak? Kalau begitu, sering-sering dong dapat gratisan. Memangnya siapa yang ngasih, Mbak?"
Mau bohong pun tidak akan menyelesaikan masalah. Justru malah menambah masalah baru lagi.
__ADS_1
"Mantan suami saya, Mbak," jawab Tanti sedikit tersenyum.
Glek!
Ibu-ibu yang kebetulan belanja langsung menghentikan aktivitasnya. Tatapannya tertuju pada wajah Tanti yang memang terlihat berbeda.
"Jadi, Mbak sudah janda sekarang?" tanya ibu-ibu yang ada.
Tanti cuma mengangguk. Dia takut kalau status barunya itu malah memperburuk keadaan.
"Sayang sekali, ya. Mas Ari itu kurasa bodoh sekali melepaskan wanita seperti Mbak. Sekarang Mbak sudah terlihat semakin berisi dan cantik. Kalau misalnya ada yang mau, Mbak mau menikah lagi?" tanya salah satu pelanggannya.
Glek!
Kegagalan pernikahannya dengan Ari sebenarnya membuat Tanti semakin selektif terhadap laki-laki. Bukannya tidak mau menikah, tetapi untuk saat ini dia belum siap.
"Nantilah, Mbak. Kapan-kapan saja. Lagi pula anak-anakku juga masih sekolah. Masih butuh perhatian dariku."
"Mbak jangan khawatir. Kami semua siap menjadi Mak comblang buat Mbak."
Jelas para tetangga mendukung Tanti. Sebagai janda baru, dia bukan ancaman. Dia selalu bersikap baik. Tentu saja akan banyak pria yang mengantre untuk mendapatkannya.
"Ehm, belanjanya sudah? Kalau soal itu, maaf Mbak. Nanti saja."
Ibu-ibu tetap ngotot ingin memperkenalkan Tanti dengan pria yang baik. Mereka yang tahu ceritanya tentang Ari rasanya geram sekali.
"Pokoknya kami mau membuat grup ibu-ibu Mak comblang buat Mbak Tanti. Banyak kok yang mau daftar. Lagi pula di sini juga banyak duda keren, berondong manis, dan perjaka ting-ting. Mbak Tanti pasti kewalahan untuk menolaknya."
Glek!
Sebenarnya Tanti ingin menolaknya, tetapi mereka sepertinya kekeh untuk menjadi biro jodoh sampai menyebutkan macam-macamnya.
__ADS_1
"Ya sudah, daripada ribet saya iyakan saja. Biar ibu-ibu fokus milihnya," jawab Tanti.
Tanti tidak lupa untuk menghitung seluruh belanjaan mereka. Tak lupa juga Tanti memberikan bonus rujak buah yang sudah disiapkan ke dalam mika plastik.