Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 14. Utang Menumpuk


__ADS_3

Perjalanan hidup yang terjal dilalui Tanti seorang diri. Tanpa genggaman erat tangan suaminya. Pria yang seharusnya menopang seluruh beban kehidupannya, meringankan beban beratnya, menjadi tulang punggung keluarganya, dan sandaran dikala susah.


Semua itu hanyalah mimpi di siang bolong. Kenyataannya Tanti hidup susah pun tangan pria itu tidak pernah terulur sama sekali. Justru yang menyebabkan kesusahan hidupnya saat ini adalah pria yang sudah menerima Qabulnya disaat pernikahan. Harusnya janji suci itu menjadi tanggungjawab seorang Ari Wicaksono.


Setiap hari, Tanti berusaha untuk memberikan senyuman terbaik di hadapan kedua anaknya. Kalaupun perih hatinya, biarkan hanya dia yang merasakan. Setidaknya jika maut telah memanggilnya, tak akan ada penyesalan lagi di dalam hatinya.


"Teguh, Indra, Ibu minta maaf. Beberapa hari ini penjualan mie goreng kita benar-benar tidak banyak. Walaupun belum cukup untuk kehidupan sehari-hari kita, Ibu harap kalian tidak menyerah dan selalu memberikan semangat pada Ibu," ucap Tanti.


"Iya, Bu. Kami akan selalu ada untuk Ibu," ucap Indra.


"Ibu jangan khawatir, ya! Saat ini kami memang menyusahkan Ibu, tetapi kami semua yakin kalau suatu hari nanti kita akan menemukan kebahagiaan bersama," sahut Teguh.


Saat sedang mengobrol, salah satu putranya masuk ke dapur untuk melihat bahan makanan. Beberapa hari terakhir ini mereka selalu memakan mie sisa jualan ibunya.


"Ibu, Teguh minta maaf. Semua bahan makanan di dapur banyak yang sudah habis. Selain itu, gas yang nanti malam akan Ibu gunakan untuk berjualan juga habis. Bagaimana, Bu?"


Deg!


Baru saja menenangkan dirinya, Tanti harus mendapati kenyataan pahit seperti saat ini. Usahanya yang belum banyak dikenal orang sehingga seringkali menyisakan mie goreng untuk makan malam mereka.


"Ibu akan utang lagi. Jangan khawatir, kita pasti bisa membayarnya. Sini, ambilkan tabung gasnya!" pinta Tanti pada Teguh.


Rupanya tadi Teguh ke dapur berniat untuk merebus air guna membuatkan teh untuk seluruh anggota keluarganya.


"Baik, Bu." Teguh lekas kembali ke dapur mengambil tabung LPG kemudian memberikannya pada Tanti.


"Tunggu di rumah, ya! Ibu mau pergi sebentar," pamit Tanti. Tujuannya kali ini untuk menambah utang di toko kelontong langganannya.


Sesampainya di sana, tatapan sinis pemilik toko kelontong sudah terlihat jelas sekali. Memang benar, Tanti masih memiliki utang yang belum dibayarnya. Kali ini dia datang lagi pasti dengan maksud yang sama. Utang, utang, dan utang lagi.


"Ada apalagi?" tanya pemilik toko dengan sinisnya.

__ADS_1


"Mau utang LPG lagi, Mbak," ucap Tanti tenang. Dia tidak mungkin meninggikan suaranya.


"Utang yang kemarin saja sudah hampir setengah juta. Sekarang mau utang lagi? Mbak Tanti mbok ya mikir! Kalau terus-terusan utang ditempatku, lama-lama aku bangkrut, Mbak!"


Memang benar karena utang Tanti sudah lebih dari 400 ribu. Itupun belum ada yang dibayarkan sama sekali.


"Maaf, Mbak! Aku janji setelah mendapatkan uangnya, aku akan bayar."


"Usaha tokoku ini bukan modal janji, Mbak. Kalau mbak janji-janji terus, kapan modalku bisa balik. Jangankan untung, yang ada aku malah buntung, Mbak. Jadi, apakah ini utang yang terakhir? Lalu, kapan Mbak bisa bayar?"


Tanti kikuk. Dia bisa berjanji, tetapi untuk membayarnya belum tahu kapan.


"Iya, Mbak, aku minta maaf. Paling cepat seminggu lagi, paling lambat berikan aku waktu 2 mingguan ya, Mbak?"


"Ya sudah, iya! Jangan cuma janji doang, ya! Mau tambah apalagi selain LPG. Tapi ingat, kalau sampai mundur lagi, Mbak jangan datang ke sini lagi!" ancam pemilik toko.


"Beras 2kg, kopi 1, gula 1kg, mie instan goreng 5 bungkus, telur 1kg," ucap Tanti lirih.


"Banyak banget loh ini!"


Semarah apa pun pemilik toko kelontong itu tetap menyiapkan segalanya. Dia kemudian menghitung total belanjaannya.


"LPG 18000, kopi 5000, gula 12500, mie instan 15000, telur 27000, totalnya 77500. Sama utangnya 425000, jadi seluruh total utangnya 502500. Jangan lupa bayar!" ucap pemilik toko kelontong sewot.


Setelah menerima semua barang belanjaan itu, Tanti pulang ke rumahnya dengan membawa semua barang itu.


"Bu, bagaimana?" tanya Teguh.


"Sudah dapat, Nak. Seminggu atau dua minggu lagi Ibu akan mencoba menyicil utangnya."


Deg!

__ADS_1


"Ibu uangnya dari mana?" tanya Indra. Dia juga sudah mengerti kehidupan apa yang sudah dijalaninya saat ini.


"Nantilah Ibu pikirkan bagaimana caranya. Kalian jangan khawatir!"


Hanya itu yang mampu diucapkan Tanti saat ini. Dia juga tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang.


...****************...


Seminggu kemudian, Tanti sudah mulai pusing. Tak ada lagi uang yang bisa digunakan untuk membayar utangnya. Dia kebingungan.


"Ya Allah, aku harus bagaimana? Sudah waktunya aku membayar utangku di toko kelontong. Aku tidak memiliki uang sepeser pun. Usahaku tidak semulus rencanaku. Aku harus bagaimana sekarang?"


Saat ini pikiran Tanti hanya untuk melunasi utangnya. Saat pikirannya kalut, dia mencoba mencari solusi. Dia berusaha membuka surat-surat penting. Mungkin saja bisa digadaikan untuk melunasi utangnya. Fokusnya tertuju pada petok D. Surat tanah yang belum bersertifikat itu menjadi solusi terakhirnya.


"Apa aku cari pinjaman saja?"


Ini solusi terakhir yang menjadi tujuannya saat ini. Dia tidak akan mungkin meminta bantuan orang tuanya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanah berukuran 10x15 meter. Kalau dia berutang ke Bank akan sangat sulit untuk mengurus surat-suratnya. Lagi pula ini sudah mepet sekali. Kebutuhan anak-anaknya pun semakin banyak. Akhirnya Tanti memutuskan untuk berutang ke rentenir.


Setelah dikalkulasi, jaminan petok D yang diserahkan pada rentenir itu hanya mendapatkan uang 10 juta saja. Itupun dengan suku bunga 20%. Apabila Tanti nantinya terlambat bayar, bisa dipastikan denda tambahan per harinya sejumlah 1%. Bisa dibayangkan betapa banyak bunga yang harus dibayar oleh Tanti?


"Kalau kamu sudah setuju, aku langsung akan memberikan uangnya," kata rentenir.


Tanti sedang berpikir ulang. Kalau dia tidak mengambil kesempatan ini, anak-anaknya akan semakin kacau. Biaya sekolahnya bisa menunggak panjang. Kalau diambil, bagaimana dia akan membayarnya.


Ya Allah, semoga keputusanku ini tidak salah. Kalaupun salah, tuntutlah aku ke jalan yang benar.


Rasanya sungguh berat bertarung antara kenyataan, harapan, dan impian yang tak pernah terwujud. Ini merupakan langkah terakhir baginya. Ambil atau lepaskan. Semua sudah ada risikonya masing-masing.


"Baiklah. Aku ambil," ucap Tanti yakin.


"Ini kamu hitung. 10 juta pas, ya! Petok D nya kubawa. Ingat, kalau kamu sampai tidak bisa bayar, tanah dan rumah ini akan menjadi milikku. Intinya, aku akan menyitanya. Dalam jangka waktu tertentu jika kamu tidak bisa menebus rumah dan tanah ini sejumlah yang aku sebutkan, maka aku akan melelangnya!"

__ADS_1


Glek!


Selain kehilangan suaminya, sebentar lagi dia juga akan kehilangan tempat tinggalnya. Mau bagaimana lagi. Tak ada sandaran yang bisa membantu menyelesaikan semua masalahnya kecuali sang rentenir.


__ADS_2