
Tanti sudah membulatkan tekadnya untuk bercerai dengan Ari. Sebenarnya orang tuanya sudah melarang, tetapi raga ini tidak bisa dibohongi. Dia rapuh dan hampir gila. Kalau diteruskan, tidak hanya membunuh kepercayaan dirinya, tetapi juga membunuh raganya.
Terlepas dari semua masalah itu, masih ada masalah lain yang harus diselesaikan. Berada di rumah orang tuanya tak membuat Tanti bisa menyelesaikan segalanya. Dia masih terhimpit masalah keuangan sehingga tidak mungkin baginya untuk menebus rumah yang sudah disita.
"Kamu kenapa, Tanti?" tanya Sarinah disela kesibukannya mengurus rumah.
"Bu, rumahku yang disita oleh rentenir tidak bisa kuambil lagi. Aku tidak bisa membayar semua utangku," ucapnya sendu.
"Kamu yakin mau melanjutkan perpisahanmu dengan Ari?"
"Bukan yakin lagi, Bu. Sangat yakin."
"Ibu kasihan padamu, Nduk. Kalau kamu sendirian, apa sanggup membiayai kedua anakmu itu? Mereka perlu biaya juga. Jangan sampai keputusanmu untuk tetap menahan mereka di sini membuatnya tidak berkembang. Kamu harus bertanggung jawab penuh pada dua anak orang lain. Kehidupanmu saja sekarang seperti ini," tegur Sarinah. Sangat disayangkan kalau Tanti masih mempertahankan kedua anak angkatnya itu disaat kondisinya tidak baik-baik saja.
Tanti menarik napas panjang. "Aku berencana seperti itu, Bu. Kasihan Indra dan Teguh. Aku sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Kondisiku yang seperti ini memang tidak memungkinkan untuk membiayai mereka."
Teguh dan Indra yang mendengar pembicaraan ibu angkatnya semakin sedih. Keduanya sudah berjanji, apa pun yang terjadi pada ibu angkatnya, mereka tetap bersama-sama.
"Bu," panggil Teguh. Dia keluar diikuti Indra di belakangnya.
__ADS_1
"Kalian pasti sudah mendengar semuanya," sahut Sarinah. Bohong kalau mereka tidak mendengar atau berpura-pura tidak tahu.
"Iya, Mbah. Kami sudah tahu." Walau bagaimanapun orang tua Tanti sudah dianggap seperti neneknya sendiri. "Kami tidak mau kembali. Bagaimanapun kondisi Ibu, kami akan tetap bersamanya."
Hati Tanti bergetar mendengar ucapan salah satu putranya. Bukan dari rahimnya, tetapi kedua anak angkatnya sudah seperti anak kandungnya sendiri.
"Kalian tidak menyesal?" tanya Tanti berusaha memastikan kebenaran yang disampaikan anaknya.
"Ibu sudah berjuang banyak untuk kami. Kami tidak ingin meninggalkan Ibu dalam kondisi seperti ini. Kalau memang kami tidak bisa meneruskan sekolah, bukan masalah," ucap Indra.
"Tidak. Bukan begitu. Ibu mau kalian tetap sekolah. Kalian percaya pada kekuatan penuh dari Allah, kan. Kita pasti bisa melalui segalanya." Dia punya dua tangan, dua kaki, dan pikiran yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya. Lagi pula sekarang dia juga sudah membuka usaha kecil-kecilan di rumah orang tuanya. Sedikit banyak pasti ada jalan.
Kembali lagi pada kehidupan sehari-hari mereka. Mengucap memang hal yang paling mudah. Namun, yang menjalani kehidupannya terasa sangat susah. Walaupun Tanti sudah membuka usaha kecil-kecilan, nyatanya itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya.
"Itu tidak mungkin, Pak! Mas Ari tidak akan mampu menebus rumah yang sudah diambil alih oleh rentenir." Tanti menyangkal. Keputusannya untuk bercerai sudah benar. Kalaupun harus kembali lagi pada suaminya, dia khawatir kalau Ari akan mengulang hal yang sama di masa mendatang. Bukan kebahagiaan yang didapatkan, melainkan duka lara tiada henti.
"Kalau dia masih mau bertanggung jawab atasmu, bagaimana? Dia itu laki-laki. Kalaupun khilaf, wajar."
Ucapan bapaknya barusan menyadarkan satu hal bagi Tanti. Sebenarnya tidak ada yang salah kalaupun mereka kembali bersama. Toh statusnya belum bercerai atau pisah. Ari pun belum pernah mengutarakan talak padanya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Pak. Sejauh ini aku yakin kalau kami akan bercerai. Terus bertahan pun rasanya Tanti tidak sanggup. Mas Ari lebih memilih istri barunya," ucap Tanti. Rasanya lidahnya kelu menyebut nama suaminya dengan sebutan 'Mas'. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk di dalam hubungan rumah tangga mereka.
Lelah yang dirasakan Tanti saat ini bukan hanya secara fisik, tetapi juga spiritual. Sesekali dia mencoba berdamai dengan keadaan. Dia berusaha memikirkan bagaimana jalan yang tepat untuk kehidupan keluarganya. Sekali waktu dia mencoba mempertimbangkan keputusan bapaknya untuk tetap bertahan pada Ari. Alasannya jelas. Supaya kehidupan Teguh dan Indra terpenuhi.
Nyatanya, mengingat luka yang ditorehkan pria itu kepadanya terlalu dalam. Setiap waktu yang telah dilaluinya seorang diri tidaklah mudah. Dia seolah menjadi orang tua tunggal bagi kedua anak angkatnya.
Terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Itu memang benar. Saat ini, Tanti bahkan sedang berjuang untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Semesta seakan tak mendukung niatnya kali ini. Inginkan perceraian, tetapi malah semua yang diusahakan tidak pernah berhasil. Mungkinkah ini karena ucapan bapaknya yang tak pernah menyetujui perceraian itu? Ataukah, memang nasibnya yang seperti ini.
Tanti juga tidak mungkin meminta bantuan pada kedua orang tuanya secara finansial. Sudah diizinkan untuk tinggal di sini begitu lamanya lebih dari cukup.
"Tanti, kalau kamu memang sudah tidak tahan untuk melanjutkan kehidupanmu seorang diri, sebaiknya kamu kembali pada Ari. Perbaiki hubungan kalian, Nduk! Ibu yakin kalau kamu mau memaafkannya kemudian menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana mestinya, kehidupanmu akan kembali normal lagi," ucap Ibunya.
Sesak rasanya. Semua orang memandang rendah usahanya. Perjuangan hidupnya selama ini seolah tidak pernah dianggap karena tanpa pencapaian yang pasti.
"Ibu, aku sedang berusaha bangkit dari keterpurukanku. Mengapa seolah kalian semua membenarkan Mas Ari dan menyalakan aku? Kalaupun aku meminta cerai, itu karena ulah Mas Ari yang imbasnya padaku, Bu. Ibu juga tahu kan, selama aku berada di sini, apa Mas Ari ikut berjuang denganku? Tidak, Bu! Aku sendirian. Aku berjuang demi Teguh dan Indra supaya dia jadi orang yang berhasil. Walaupun dia bukan anak kandungku, aku selalu mendoakannya supaya tidak meniru tingkah laku Mas Ari."
Sarinah terdiam. Dia mencoba mencerna ucapan Tanti. Kalau dipikir-pikir, sangat sulit juga berada di situasi seperti sekarang ini. Ari pun seolah mengabaikan dirinya.
__ADS_1
"Ibu sudah lihat semuanya, kan? Tanti minta tolong pada Ibu. Yakinkan Bapak supaya Tanti diizinkan bercerai dengan mas Ari. Tanti mencoba kuat dan bertahan seperti sekarang ini tidaklah mudah, Bu," ucapnya lagi.
Berjuang seorang diri tanpa supporter dari berbagai sisi tidaklah mudah. Dia sudah mencobanya berulang kali, tetaplah gagal. Tanti berjuang seorang diri tanpa suaminya yang biasanya menopang kehidupannya. Layakkah mempertahankan semua ini? Kepala jadi kaki, dan sebaliknya. Tanti merasa tidak ada siapa pun yang bisa membantunya untuk berjuang dan memperbaiki keadaan. Dia berjuang sendirian.