Petaka Rumah Tanggaku

Petaka Rumah Tanggaku
Bab 36. Pelangi Setelah Hujan


__ADS_3

Tanti mencoba menerima apa pun yang disampaikan ibunya. Setelah beberapa bulan pasca perceraiannya, Abbas diminta untuk datang ke rumah Tanti. Di sana, mereka akan melakukan pendekatan secara pribadi. Pertemuan itu sengaja disusun oleh Sarinah supaya Abbas mau menikah dengan Tanti.


Mengingat masa lalu mereka yang tidak pernah bisa bersama. Ini saatnya mencoba menyatukan mereka kembali. Tidak ada salahnya, bukan?


Hari ini Tanti sengaja libur berjualan. Dia menyiapkan makanan dan minuman untuk tamunya. Walaupun hanya satu orang yang akan datang, tetap saja membuat Tanti gugup.


"Bu, hari ini libur jualan, ya?" tanya Teguh.


Ya, bersamaan dengan hari libur anak-anaknya, Tanti baru mau menerima kedatangan Abbas. Ini bukan tentang dirinya sendiri melainkan dia dan anaknya.


"Iya, Guh. Ibu mau menerima tamu. Ibu harap kamu dan Indra juga ada di sini. Akan ada pria yang ingin berkenalan dengan Ibu. Namun, Ibu tidak akan memutuskan sendiri. Kalau kalian merasa tidak suka padanya, jangan sungkan untuk mengatakannya pada Ibu, ya! Ibu juga butuh persetujuan kalian berdua."


Teguh dan Indra harus bisa memahami kondisi seperti ini. Tidak mungkin selamanya ibu angkatnya itu hidup menjanda seperti sekarang ini. Dia juga butuh pria yang akan menjadi sandaran hidupnya. Setidaknya yang lebih bertanggung jawab penuh padanya beserta seluruh anggota keluarga ini.


"Ibu jangan khawatir! Kalau Ibu suka, sudah seharusnya kami pun menerimanya," ucap Indra.


"Terima kasih. Tapi, Ibu merasa kalau ini tidak akan berhasil. Pria itu pasti tidak mau menerima kondisi Ibu yang tidak bisa memiliki anak," ucap Tanti sendu.


"Bu, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah yang sudah berkuasa. Semoga saja kalau Ibu berjodoh dengan pria ini, Allah mengubah segalanya. Ibu percaya takdir, kan?" tanya Teguh.


Sejujurnya anak-anaknya memang sudah tumbuh menjadi remaja. Tanti sudah mengajarkan banyak hal pada mereka untuk tidak bertingkah aneh-aneh di luaran sana.


Waktu yang sudah ditentukan pun tiba. Seseorang datang membawa mobilnya. Ini bukan hal yang biasa lagi, melainkan luar biasa. Mobil yang digunakan pun termasuk mobil mewah jika berada di kampung.


Indra yang lebih dulu menyambut kedatangan pria yang rencananya akan meminang ibu angkatnya itu. Namun, itu belum jelas pasti karena keduanya belum memutuskan apa pun.


Pria yang ditaksir berusia sekitar 40 tahun itu keluar dari mobilnya. Dia mengenakan kemeja dan celana kain. Khas sekali penampilannya. Tidak hanya membawa diri, pria itu juga membawa oleh-oleh untuk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah itu.


"Assalamualaikum," ucap Abbas saat bertemu pertama kali dengan salah satu anak Tanti.


Ya, Abbas sudah tahu seluruh kehidupan Tanti dari ibunya sendiri. Wanita itu yang mendorong Abbas untuk tidak melepaskan wanita yang sudah disia-siakan mantan suaminya.


"Waalaikumsalam," jawab Indra. "Silakan masuk, Pak." Indra bingung harus memanggil seperti apa.


"Terima kasih. Oh ya, ini ada oleh-oleh buat kamu dan saudaramu satunya. Maaf, saya tidak tahu yang mana bagusnya. Kalian bisa tukar kalau tidak suka."

__ADS_1


Abbas memberikan dua paper bag. Sekilas Indra melihat isinya seperti sepatu, tetapi dia tidak bisa membukanya sekarang. Pria itu masih menenteng dua paper bag lagi. Mungkin itu hadiah untuk ibunya.


"Terima kasih, Pak," jawab Indra sangat sopan sekali.


Abbas sudah berada di ruang tamu dan duduk di sana. Dia meletakkan dua paper bag sisanya ke atas meja ruang tamu.


Indra sudah masuk ke dalam untuk memberitahukan bahwa pria yang akan mengenal ibunya sudah datang. Tanti merasa gugup sekali. Dia takut kalau sampai salah bicara. Apalagi keduanya tidak didampingi orang tua masing-masing.


"Mas Abbas, selamat datang di gubuk kami," sapa Tanti yang baru saja keluar.


Pandangan pertama Abbas tentunya ke arah Tanti. Wanita itu kini menjadi wanita dewasa yang terlihat mandiri.


"Assalamualaikum," ucap Abbas membalas sapaan Tanti.


"Waalaikumsalam, Mas. Maaf sudah membuatmu menunggu." Tanti pun duduk tidak jauh dari tempat Abbas berada.


Sesaat keduanya terdiam. Mungkin saja sedang memikirkan apa yang akan dibicarakan selanjutnya.


"Ehm, aku panggilnya apa, ya? Mbak, Dek, atau apa?" tanya Abbas membuka kecanggungan di antara keduanya.


"Panggil Tanti saja, Mas!" sahut Tanti.


"Iya, Mas. Saya janda sekarang. Dan, kedua anak saya itu memanglah anak angkat yang sudah seperti anak sendiri. Makanya kami memutuskan untuk hidup mandiri." Tanti pun tidak canggung untuk memberitahukan hal yang sebenarnya.


"Ya, saya tahu." Abbas terdiam.


"Ehm, kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang mendasari kamu untuk mau mengenalku lebih dekat? Ibu juga banyak bercerita tentang kamu, tetapi saya rasa akan lebih baik jika mendapatkan penjelasan langsung dari orangnya," ucap Tanti.


Belum sempat menjawab, Teguh datang membawa nampan berisi minuman. Salah satunya kopi untuk Abbas.


"Silakan di minum, Pak!" ucap Teguh setelah meletakkan cangkir dan gelas di hadapan masing-masing.


"Terima kasih."


Setelah itu, Teguh pun undur diri. Dia membiarkan dua orang itu untuk melanjutkan perbincangannya.

__ADS_1


"Kesempatan dari Allah," jawabnya.


Deg!


Tanti sungguh tidak mengerti maksud Abbas barusan. Saat ini dia sedang berkenalan, bukan lamaran, kan?


"Maaf, saya tidak mengerti." Tanti mencoba menggali informasi lebih dalam lagi.


"Kamu janda, saya duda. Bukankah ini kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk saling mengenal?"


Sungguh membingungkan berbincang dengan Abbas. Jika beberapa puluh tahun yang lalu mereka masih sama-sama belia dengan tentang usia yah, bisa dibilang cukup lumayan jauh untuk saling mengenal. Itulah mengapa Abbas lebih memilih menikah duluan daripada Tanti.


"Saya janda, tetapi mantan suami saya masih hidup. Jika boleh tahu, apa sebenarnya yang menyebabkan kamu berpisah dari mantan istrimu?" Tanti tidak tahan untuk mengetahuinya. Walaupun dia belum yakin akan hal ini, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba membuka hati.


"Istriku meninggal saat melahirkan anak kami. Aku kehilangan istri sekaligus anak dalam waktu yang bersamaan. Itulah sebabnya aku trauma kalau menikah dengan wanita yang akan mengandung dan memiliki anak. Makanya, ibu saya menyarankan supaya mengenalmu lebih dekat. Tidak masalah, kan?" jelas Abbas.


Tanti mengangguk. Dia mencoba meyakinkan lagi dirinya dengan semua keputusan yang akan diambilnya


"Maaf, Mas. Silakan di minum dulu!"


Abbas mengambil secangkir kopi yang sudah tidak lagi panas. Dengan sekali teguk, dia menghabiskan kopi itu.


"Kopinya enak," ucap Abbas basa-basi.


"Itu anak-anak yang buat, Mas. Semoga tidak mengecewakan."


Abbas tersenyum. Wanita ini memang terlihat sangat baik sekali. Dia sudah memperlakukan anak angkatnya dengan sangat baik. Seharusnya sangat beruntung pria yang menjadi suaminya, tetapi mengapa dia berpisah? Abbas sudah bisa menarik kesimpulan. Bisa saja mantan suaminya itu adalah pria yang kurang bersyukur. Makanya ibunya Abbas meminta pria itu untuk secepatnya melamar Tanti. Kalau sampai lepas, sudah bisa dipastikan akan menyesal seumur hidupnya.


"Oh ya, kedatangan saya ke sini selain untuk bersilaturahmi, saya juga membawa pesan dari ibu. Ya, ini memang terlalu cepat, Tanti. Namun, tidak ada salahnya kalau saya menyampaikannya sekarang. Maukah kamu menikah denganku?"


Deg!


Tanti terdiam. Inikah jawaban atas doanya selama ini? Jawaban setelah hujan badai menerpanya.


Abbas memang bukan pria yang suka basa-basi. Kalau kesempatan ini datang dengan baik, dia tidak akan melepaskan begitu saja.

__ADS_1


"Mas, maaf sekali. Sebenarnya saya juga bukan remaja lagi yang harus memikirkan ini dan itu, tetapi ada banyak hal yang perlu saya pertimbangkan lagi. Kiranya Mas Abbas mau memberikan saya waktu, saya akan menjawab pertanyaan Mas Abbas. Namun, tidak hari ini. Bagaimana?" tanya Tanti.


Abbas pun mengerti. Ini memang terlalu cepat, tetapi mau bagaimana lagi. Ini juga atas permintaan ibunya.


__ADS_2