
Rasanya lega kalau keinginannya sebentar lagi terwujud. Ehm, bukan keinginan, lebih tepatnya cara untuk keluar dari pernikahan neraka yang sudah diciptakan suaminya. Tinggal menunggu kabar kapan pengadilan akan memanggilnya untuk melakukan mediasi, kemudian baru sidang lanjutan. Itupun diketahui Tanti dari orang yang mengerti. Sementara dia hanya berdoa kemudian memasrahkan seluruh rencananya ini kepada Yang Maha Kuasa.
Sebelum sampai di pengadilan untuk menjalani persidangan, pihak keluarga Tanti dan Ari sepakat untuk menggelar pertemuan keluarga. Yang mana pertemuan itu diadakan di rumah orang tua Tanti.
Dari pihak Ari, orang tuanya masih berharap kalau Ari dan menantunya itu tetap bersama. Untuk itulah pertemuan ini diselenggarakan.
Ari datang bersama kedua orang tuanya. Tentunya ini disambut dengan baik oleh keluarga Tanti. Sayangnya, Tanti masih enggan untuk melihat pria itu langsung. Dia memilih berada di kamarnya terlebih dahulu sebelum orang tuanya memanggil. Dia juga sudah menyampaikan hal ini pada ibunya supaya jangan dipertemukan langsung dengan Ari. Rasanya Tanti semakin emosional kepadanya. Kesabarannya sudah habis terkikis oleh luka dan lara hati yang ditorehkan suaminya. Masihkah Ari layak disebut suami?
"Silakan masuk, Pak, Bu, Ari," sapa Hardiman pada tamunya. "Silakan duduk!"
Baru Hardiman dan Sarinah yang duduk di ruang tamu. Ari mencoba menelisik ke mana perginya Tanti, istrinya. Sementara ibunya Ari yang menyadari kegelisahan putranya lantas bertanya pada tuan rumah.
"Bu, Tanti di mana?" tanya ibunya Ari.
"Ada. Nanti kupanggilkan," balas Sarinah.
"Ya sudah, langsung ke intinya saja. Mengenai kedatangan Pak Hardiman ke rumah kami beberapa hari yang lalu, kami sekeluarga sudah bermusyawarah. Kami tidak setuju jika Nak Tanti tiba-tiba memutuskan perceraian secara sepihak. Sementara Ari tidak setuju untuk bercerai." Ibunya Ari menyampaikan kegelisahan Ari.
Tanti yang mendengarkannya dari dalam rasanya sangat tidak terima. Dia ingin berlari ke depan kemudian memaksa Ari mengucap kata talak di hadapan kedua keluarga. Tidak hanya itu, Tanti akan meminta Ari untuk mengakui segala kesalahannya.
__ADS_1
"Pak, Bu." Ari mencoba membuka suara. Tentu saja hal itu tak luput dari pendengaran Tanti.
Mau alasan apalagi, dia? Sudah salah, masih ingin membela diri lagi? Dia pikir kalau aku atau keluargaku akan memaafkan begitu saja? Berusahalah, kalau kamu bisa!
"Selama ini Ari mengaku salah, tetapi bercerai bukan keputusan yang benar," ucapnya sedikit ragu.
Bukan keputusan yang benar katamu? Lalu, kamu memutuskan untuk poligami itu sudah benar, hah?
Tanti tidak sabar. Sebelum ibunya memanggil, Tanti lebih dulu keluar. Hal itu yang membuat Sarinah ataupun Hardiman dan semua orang yang ada di ruang tamu terkejut. Ya, siapa lagi kalau bukan mertuanya yang sebentar lagi mungkin akan pensiun dini sebagai mertua.
"Tidak benar katamu, Mas? Kamu yang tidak benar. Aku sudah mengajukan gugatan perceraian kita ke pengadilan. Tunggu saja di rumah! Duduk manis di sana! Kalau kamu tidak sabar, tunggulah di rumah istri keduamu itu. Biar kamu tenang dan nyaman di sana tanpa rasa khawatir lagi kehilangan istri sahmu yang kamu sia-siakan selama ini." Tanti berubah beringas. Adab kesopanan yang seharusnya ditunjukkan kepada semua orang tua di sana sudah hilang. Nyatanya semua ini akibat yang ditimbulkan atas ulah suaminya.
Orang tua Ari membelalakkan matanya tidak percaya. Tanti yang semula menjadi wanita yang penuh kesopanan dan tata krama yang tinggi nyatanya berubah menjadi orang lain.
Khilaf katanya? Selama ini apa yang dialami Tanti juga sebuah kekhilafan juga? Lucu sekali! Sudah jelas di mata semua orang bahwa Ari bersalah. Mereka malah seolah membutakan mata semua orang. Keputusan Tanti dianggap salah.
"Bapak bilang khilaf? Sehari dua hari bisa dikatakan khilaf, Pak! Berapa lama suamiku yang tak layak disebut suami itu khilaf. Berbulan-bulan lamanya dia mengabaikan aku dan anak-anak. Apa itu masih bisa dimaafkan?"
"Tapi, Dek--" Ari mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi, apalagi? Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanti sampai mengabaikan dirinya. Jika bukan ibunya yang membimbing Tanti untuk duduk di kursi, Tanti akan tetap berdiri menyerang keluarga suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
"Nduk, sabar dulu! Biarkan suamimu itu menjelaskan duduk perkaranya," bisik Sarinah. Padahal dia sendiri sudah tahu bahwa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi di dalam pertemuan ini.
"Ya, baiklah, Ibu. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan!" Tak ada panggilan Mas atau apa pun yang biasanya melekat dan menjadi ciri khas Tanti pada suaminya. Rasanya ini masih belum sebanding dengan penderitaan yang diterimanya.
"Maaf, Dek, Ibu, dan Bapak. Sejujurnya aku tidak bisa berbuat apa pun kala itu. Aku tergoda pada wanita itu, tetapi itu bukan salahmu, Dek. Itu murni salahku. Kalaupun saat ini aku tidak ingin bercerai, aku minta maaf padamu. Kita perbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi. Aku berjanji akan bertanggung jawab penuh padamu dan mengobati segala kesakitan yang sudah kutimbulkan."
Deg!
Satu kalimat yang membuat Tanti merasa kesal pada sikap Ari. Dia hanya bisa meminta maaf. Lagi-lagi ucapan itu yang keluar dari mulutnya.
"Maaf, Mas, itu maumu, tidak dengan mauku. Ribuan kali kamu berusaha dan meminta maaf, aku tidak peduli lagi. Di titik akhir ini kamu baru datang dan meminta maaf setelah aku kehilangan semuanya. Kehilangan suami, kepercayaan, dan rumah yang ditinggali selama ini. Apa itu belum cukup untukmu?" Tanti berusaha mengingatkan segala kesalahan suaminya.
"Nduk, rumah itu akan kami tebus. Ari sudah minta maaf pada kami dan menceritakan semuanya," sahut ibunya Ari. Kesepakatan keluarga untuk tidak pernah bercerai sudah disetujui keluarga Ari, tetapi bagaimana dengan Tanti dan keluarganya?
"Maaf, Bu. Kalaupun rumah itu ditebus lagi, apa anak ibu itu bisa menebus rasa sakit yang sudah diberikan padaku? Apa ibu juga memikirkan apakah dia ke sini sudah meninggalkan istri keduanya? Tidak, kan? Lalu, apa yang harus dipertahankan lagi? Rasa sakit yang akan terus ditorehkan, atau aku berhak bahagia dengan pilihanku sendiri? Jujur, percuma juga diadakan pertemuan seperti ini kalau Bapak dan Ibu kekeh meminta kami mempertahankan pernikahan yang sudah hancur ini. Tunggu saja di pengadilan. Kita selesaikan di sana!"
Orang tua Ari dan anaknya terdiam. Sebenarnya usaha mereka untuk tetap mempertahankan pernikahan sudah benar, tetapi pihak Tanti yang tetap tidak setuju. Orang tua Ari pun masih kekeh untuk mempertahankan pernikahan putranya.
__ADS_1
"Kami akan mempersulit proses perceraian kalian. Pihak keluarga Ari tidak pernah menyetujui perceraian ini terjadi," ucap bapaknya Ari yang tentu saja sangat menyakiti Tanti.
Silakan saja berbuat sesuka hatinya. Wanita manapun tak akan mau mempertahankan pernikahan yang sudah bobrok seperti ini.