Phoenix Penghancur

Phoenix Penghancur
100. Menemukan Sekolah Tersembunyi


__ADS_3

Beberapa mobil berjalan beriringan menerobos jalanan gunung yang sulit.


Dari penyelidikan mereka sebelumnya, mereka berhasil melacak sebuah sekte yang tersembunyi di atas gunung. Sekte itu bersembunyi cukup erat, jika tidak ada orang-orang desa di bawah gunung yang sering bertemu dengan salah satu anggota mereka, tidak akan ada yang mengetahuinya.


Butuh beberapa jam untuk tiba di desa tersebut, karena letaknya yang benar-benar terpencil. Jalan menuju desa juga rusak dan tidak pernah diperbaiki, sehingga menyulitkan orang luar untuk masuk.


Ketika mereka tiba di sore hari, banyak orang keluar dari rumah untuk melihat kehebohan. Bagi mereka penduduk desa, jarang sekali mereka melihat orang-orang dari kota. Sekarang mereka melihat banyak orang sekaligus dan juga melihat mobil mewah yang tidak pernah mereka lihat seumur hidup.


Kepala desa datang untuk menyambut mereka dengan ekspresi serius. "Halo, apakah kamu orang-orang dari Ibukota? Da Wei telah menelepon ku, tapi aku akan memberitahu mu sebelumnya, kami tidak tahu apakah memang ada seseorang di atas gunung. Meskipun beberapa anak membicarakan hal ini, mereka adalah anak-anak. Mereka mungkin memiliki penglihatan yang salah."


Sebagai orang tua, Paman Lu maju untuk berbicara. "Kepala desa, halo. Kami tahu apa yang kamu bicarakan, tapi kami juga dalam keadaan terdesak. Orang-orang dalam keluarga sekarat, kami harus mencari pengobatan di mana-mana. Jika kami menemukan Dokter jenius itu, kami akan sangat senang. Jika kami tidak menemukannya, kami hanya bisa pergi ke tempat lain."


Omong kosong dengan mata terbuka ini, Feng Mo telah belajar banyak dari orang-orang modern.


Kepala desa mengangguk. "Senang bisa mengetahuinya."


Paman Lu pura-pura terharu. "Kami akan menyusahkan mu untuk satu malam. Hari sudah gelap, kami akan naik gunung besok pagi."


"Tidak masalah."


Sebagai desa terpencil dan terisolasi dari dunia luar, mereka memiliki banyak rumah yang telah ditinggalkan dan kosong. Rombongan mereka mengambil rumah kosong yang agak jauh dari penduduk desa dan merapikan tempat.


Di saat semua orang sibuk, dua orang menyelinap pergi.


Menghindari pengawasan penduduk desa, mereka segera menghilang di hutan di belakang desa.


"Bagaimana menurutmu?" Meng Shize bertanya.


"Memang di sini, aku melihatnya ketika kami naik tadi. Ada formasi di atas gunung."


"Kalau begitu, ayo bergegas." Hanya butuh sepuluh hari untuk menghitung arah, tapi butuh lebih dari satu bulan untuk mencari tempat spesifiknya.


Keduanya bergegas, menggunakan energi spiritual untuk berlari di dalam hutan. Jika bisa, sebelum besok pagi, mereka harus sudah bernegosiasi dengan mereka.


Angin berdesir.


Rumput bergoyang.


Daun berterbangan.


Matahari hampir terbenam sepenuhnya ketika keduanya tiba di luar formasi.


"Ikuti aku."


"Ya."


Mata Feng Mo berkilat. Keduanya melangkah masuk ke dalam formasi.


Setelah beberapa lika-liku, keduanya berhasil melewati formasi dan melihat sebuah gerbang yang sangat besar dan megah.


Gerbang itu mengadopsi gaya kuno yang masih menggunakan lingkaran besi sebagai alat pengetuk pintu.


Feng Mo tidak membuang waktu dan segera mengetuk pintu.


Tidak ada respon dari dalam.


Feng Mo tidak berani menggunakan kesadarannya untuk menyelidiki bagian dalam. Dia takut memprovokasi orang-orang.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


"Siapa?" Akhirnya ada respon dari dalam.


Meng Shize segera menjawab. "Kami dari Sekolah Sushan di Selatan, kami ingin menemui Kepala sekolah. Ada hal penting yang ingin kami diskusikan."


"Tunggu sebentar."


Tidak ada suara lagi setelah itu.


"Menurutmu Feng Mo, berapa orang yang masih ada di sana?"


"Siapa yang tahu." Tapi suara tadi terdengar seperti suara seorang pria dewasa.


"Berapa orang yang kamu bawa?" Tiba-tiba suara tadi datang kembali dari dalam pintu.


"Dua orang dengan diriku sendiri."


"Ya."


Sebuah suara mekanisme terdengar, dan pintu besar itu berderit sebelum bergeser ke dalam. Kemudian sebuah kepala mengintip keluar dari balik pintu.

__ADS_1


"Masuk."


"Terima kasih."


Meng Shize mengambil langkah pertama untuk melewati gerbang. Feng Mo mengikuti di belakang. Baru setelah melewati gerbang, keduanya melihat dengan jelas keseluruhan tempat ini.


Sekolah yang luas dan pemandangan yang indah.


Pria itu mengerutkan kening melihat cara berpakaian Feng Mo, sebelum mengantarkan mereka. "Lewat sini."


"Oke."


Feng Mo tidak ambil pusing, memang selain Meng Shize dan pria itu yang masih menggunakan jubah Tao, hanya dia yang memakai pakaian modern dari sepatu hingga topi.


Suhu mulai mendingin setelah memasuki bulan oktober. Apalagi di atas gunung seperti ini.


"Silahkan tunggu."


Meninggalkan keduanya di sebuah ruangan, pria itu bergegas pergi. Tidak lama kemudian, beberapa pria tua datang kepada mereka.


Feng Mo memberi Meng Shize sebuah isyarat.


Meng Shize segera mengerti.


Setelah bertukar salam dengan sopan, pria tua di tengah segera menanyakan niat mereka. "Apa yang membuat dua rekan Taois jauh-jauh mencari sekolah kami?"


"Kami ingin bertemu Kepala sekolah."


"Saya adalah Kepala pemimpin di sini."


Meng Shize segera menolak. "Kamu bukan."


Para pria tua itu mengerutkan kening. "Anak muda, kamu salah. Katakan saja niatmu, kami akan mendengarkan."


Meng Shize menggelengkan kepala. "Kami ingin bertemu dengan seseorang yang bisa membuat keputusan penuh di sekolah ini."


Wajah orang-orang itu semakin berkerut. Tapi mungkin karena kultivasi mereka, mereka tidak segera marah atau kesal.


Tapi Meng Shize bersikeras.


Tiba-tiba suara langkah tergesa-gesa terdengar dari luar ruangan. Interior rumah yang terbuat dari kayu membuat suara itu terdengar sangat keras.


"Siapa itu yang berlarian di luar?" Pria tua yang mengaku sebagai Kepala sekolah itu mengisyaratkan orang di sebelahnya untuk memeriksa.


"Leluhur mendengar ada dua orang tamu yang datang, beliau ingin melihatnya."


Feng Mo dan Meng Shize saling memandang.


Pria tua itu memiliki ekspresi rumit. "Ini dia dua orang tamu itu, kamu bisa mengantarkan mereka sendiri ke tempat Leluhur."


"Ya."


Pria itu melihat Feng Mo dan Meng Shize dengan sedikit terkejut, melihat betapa mudanya usia keduanya. Tapi dia tidak banyak bertanya dan dengan sopan meminta keduanya untuk mengikuti.


"Sepertinya aku ingat Leluhur pernah berpesan bahwa akan ada tamu istimewa bertahun-tahun yang lalu, apakah mereka?"


"Ketika kamu mengatakannya, aku sepertinya mengingatnya. Tapi itu sudah lama sekali."


"Sepertinya dunia luar sudah lama berlalu, kapan terakhir kali kamu turun gunung?"


"Mungkin beberapa tahun yang lalu?"


"Kamu kembali karena tidak bisa beradaptasi dengan suasana kota."


"Ya, kami pria tua sudah seharusnya tinggal di atas gunung."


Feng Mo dan Meng Shize mengikuti pria itu masuk lebih dalam ke area sekolah.


Sekolah itu terasa sangat sepi, terlihat bahwa mungkin tidak banyak orang yang tersisa di sekolah ini.


Mereka sampai di sebuah ruangan.


"Leluhur, aku sudah membawa dua tamu itu."


"Ya, masuk."


Ketika Feng Mo melihat orang yang disebut Leluhur itu, dia hanya merasa bahwa tahun-tahun telah berlalu dengan cepat, seorang pemimpin telah menjadi seorang pria yang sangat tua.


Wajah pria tua itu berkerut karena termakan usia, tapi dia masih bisa duduk dengan tegak di atas tikar.


Keduanya duduk dengan sopan di atas bantal duduk.

__ADS_1


Pria sebelumnya datang menuangkan semangkuk air dan mengundurkan diri.


Ruangan segera menjadi sepi.


"Pria tua itu telah menunggu lama, aku tidak tahu pesan apa yang akan disampaikan oleh dua rekan Taois?"


Meng Shize segera menyampaikan gambaran yang telah dia diskusikan dengan Feng Mo. "Sekolah Sushan kami hanya memiliki dua orang murid yang masih sangat muda. Tuan kami telah meninggal dua bulan lalu. Tapi sebelum meninggal, Tuan memiliki penglihatan dan meminta kami untuk turun gunung untuk mencari sekolah seni beladiri yang lain."


"Katakan." Pria tua itu masih tenang.


"Bencana besar akan melanda seluruh umat manusia. Tuan meminta kami untuk mengulurkan tangan untuk membantu umat manusia."


Pria tua itu terdiam sejenak. "Apakah Tuanmu tidak mengatakan bahwa sekolah seni beladiri kami telah memutuskan urusan dengan dunia luar?"


Meng Shize mengangguk. "Tapi Tuan, manusia akan mengalami bencana penghancuran, jika kami tidak membantu dan hanya menutup mata, kami tidak bisa lagi disebut manusia."


"Apalagi yang dikatakan Tuanmu?"


"Mari temukan beberapa sekolah lain untuk bertindak bersama. Jika kami tidak dapat menemukan mereka, mari bergabung dengan pemerintah."


Pria tua itu tidak mengeluarkan suara.


"Kamu menemukan mereka?"


Meng Shize menggeleng. "Tidak, hanya tempat ini satu-satunya."


Suara helaan nafas terdengar dari mulut pria tua itu. "Seni beladiri telah terputus tahun-tahun yang awal, masuk akal bahwa kamu tidak menemukan mereka."


"Jadi Tuan, bagaimana pendapatmu?"


Pria tua itu tidak segera menjawab.


Meng Shize tidak mendesak.


"Di luar telah gelap, aku akan membiarkan mu menginap untuk satu malam."


"Terima kasih, Tuan."


Feng Mo dan Meng Shize menginap untuk satu malam. Tapi sampai sore hari selanjutnya, Leluhur itu tidak memberikan jawaban apapun kepada mereka. Keduanya tidak bisa membiarkan orang-orang di bawah menunggu, mereka hanya bisa berpamitan untuk pergi.


Sebelum keduanya benar-benar pergi, pria di sebelah Leluhur itu menyusul mereka dengan tergesa-gesa. "Leluhur tidak bisa memutuskan untuk saat ini, biarkan kamu meninggalkan kontak sebelum pergi."


"Menyusahkan mu."


"Hati-hati di jalan."


Kemudian keduanya berpisah.


Turun gunung lebih mudah daripada naik gunung. Keduanya kembali ke rumah bobrok itu setelah langit gelap.


"Xiaofeng, Xiaomeng, apakah kamu baik-baik saja?" Paman Lu datang untuk menyambut mereka.


"Kakak Feng, Kakak Meng, kamu akhirnya kembali!" Tang Mo keluar dari kamarnya.


"Kami baik-baik saja. Bagaimana yang lain?"


"Para pengawal itu masih berpura-pura mencari di gunung, setelah beberapa saat mereka akan kembali. Apakah kamu menemukan mereka?"


"Ya, tapi sangat sulit untuk membujuk mereka. Kami tidak bisa berharap banyak."


"Tidak apa-apa. Jangan terlalu cemas." Paman Lu menghibur. "Ngomong-ngomong, Tuan Xuan menelepon sebelumnya, jika kamu punya waktu, segera telpon balik."


Feng Mo mengangguk. "Terima kasih, Paman Lu."


Setelah para pengawal kembali, mereka segera menyiapkan makan malam dan makan bersama. Setelah makan, Feng Mo mengambil ponsel miliknya dan menelepon nomor Xuan Ming.


"Feng Mo?" Suara Xuan Ming datang dari sisi lain.


"Kakak Xuan, ini aku. Paman Lu mengatakan kamu meneleponku sebelumnya, ada apa?"


Terdengar suara ombak di belakang suara Xuan Ming. "Ini tentang permintaan mu sebelumnya. Aku sudah mendapatkan beberapa barang itu, aku berniat untuk menyelesaikan transaksi di luar pantai untuk menghindari penyelidikan, tapi aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kamu datang?"


"Ya, di mana kamu berada sekarang?"


"Kota N."


"Aku akan pergi ke sana besok."


"Oke. Sampai jumpa besok."


"Ya."

__ADS_1


Tut.


__ADS_2