Phoenix Penghancur

Phoenix Penghancur
71. Takdir


__ADS_3

Feng Mo dan Kong Li melarikan diri ribuan mil jauhnya dari wilayah Serigala bersayap tingkat 4.


Mereka tidak berhenti sampai mereka bertemu dengan sekelompok pembudidaya lain.


Lebih tepatnya, mereka bertemu dengan pasukan tentara yang sedang membersihkan binatang buas.


Tentara menjadi waspada ketika melihat kemunculan keduanya yang tiba-tiba.


Kedua belah pihak mengangkat senjata masing-masing, siap siaga apabila lawan tiba-tiba menyerang.


"Taois Li! Taois Mo!"


Dan tentu saja Feng Mo dan Kong Li bertemu dengan Wei Xiyan dan Meng You lagi.


Suara Wei Xiyan sedikit meredakan suasana tegang di antara kedua belah pihak, baik Feng Mo dan pasukan tentara melirik satu sama lain. Namun masih tidak ada yang menurunkan senjata masing-masing.


Meng You datang membisikkan sesuatu di telinga Kapten, Kapten Chen yang memimpin pasukan segera memberi tanda.


Senjata di tangan tentara akhirnya turun, dan Feng Mo tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan posisinya.


"Taois Li!" Wei Xiyan mendekat dan menyapa dengan bersemangat. "Kami bertemu lagi, aku merasa bahwa pertemuan kami adalah sebuah takdir."


Takdir kentut!


Feng Mo dan Kong Li memutar mata dengan pemahaman diam-diam.


"Taois Wei, Senior You." Tapi keduanya masih memberikan salam dengan sopan.


Pasukan tentara di belakang sedang bersiap untuk mendirikan tenda, mereka mengabaikan beberapa orang yang sedang mengobrol dengan bersemangat.


"Hampir gelap, kenapa kalian berdua tidak mendirikan tenda di sebelah kami?"


Feng Mo menatap langit yang hampir memerah. "Tidak apa-apa."


Wei Xiyan sedikit terkejut dengan penerimaan Feng Mo. Sebelumnya keduanya menolak permintaan mereka dengan kuat seakan-akan keduanya tidak ingin berurusan dengan mereka, jadi dia tidak menyangka Feng Mo akan menerimanya dengan mudah kali ini.


Wei Xiyan dan Meng You sendiri bukan dari tentara, mereka juga sedang menjalani masa hukuman jadi mereka tidak menerima perlakuan khusus, dan tenda mereka berada di bagian tepi kamp tentara.


Feng Mo dan Kong Li datang ke tanah di sebelah mereka dan mendirikan tenda.


"Taois Wei dan Senior You bergabung dengan tentara?" Feng Mo bertanya dengan iseng.


Wei Xiyan menyentuh hidungnya dengan malu. "Bukankah ini karena kami memprovokasi binatang buas tingkat 9 sebelumnya? Raja Ren menghukum kami untuk melakukan kerja sukarela bersama tentara."


Feng Mo dan Kong Li menatapnya dengan penuh arti. Siapa yang membiarkanmu memprovokasi binatang buas tingkat 9?


Melihat tatapan keduanya, Wei Xiyan tidak merasa kesal. "Taois Li, bagaimana dengan permintaanku sebelumnya? Apakah kamu sudah membuatkannya untukku? Aku melihatmu menggunakannya tadi~"


Wei Xiyan memanjangkan nada bicaranya di akhir, tidak membiarkan Feng Mo melarikan diri lagi. Matanya menatap Feng Mo dengan antusias.


Feng Mo sedikit merinding dengan sikap Wei Xiyan. "Aku akan memberikannya padamu nanti."


"Oke."


Ketika malam tiba, baik Feng Mo maupun Kong Li tidak ada yang ingin menutup mata. Keduanya duduk di samping api unggun dan memanggang ubi jalar.


Wei Xiyan dan Meng You datang untuk bergabung dengan mereka.


"Taois Li, aku sudah membawa banyak batu roh. Di mana jimat teleportasi milikku? "


Feng Mo tidak mengatakan apa-apa dan melemparkan sebuah cincin penyimpanan kepada Wei Xiyan.


Wei Xiyan mengambilnya dengan gembira dan memeriksa isinya. Setelah memastikan tidak ada yang salah, Wei Xiyan mengembalikan cincin penyimpanan yang sudah dia ubah isinya dengan batu roh.


"Taois Li, mari berdagang lagi di masa depan."


"Jika ada kesempatan."


"Akan ada." Wei Xiyan tersenyum dengan misterius.


Feng Mo menatap orang lain dengan curiga.


Kong Li mengeluarkan ubi jalar dari tumpukan kayu bakar dan membaginya dengan Feng Mo. Adapun dua orang lain di samping, Kong Li tidak bermaksud untuk memberi mereka satu pun ubi jalar miliknya.


Wei Xiyan tidak peduli dengan ubi jalar, dia lebih tertarik untuk memeriksa kehidupan Feng Mo lagi.


Sebelumnya, setiap kali dia melihat wajah Feng Mo, yang dia lihat hanya kegelapan.


Mata Wei Xiyan meneliti karakteristik wajah Feng Mo. Garis-garis wajahnya sangat teratur, seakan-akan setiap inci wajahnya dicetak dalam satu sisi. Alisnya yang tipis, mata phoenix-nya, bibir merahnya yang sangat kontras dengan kulit putihnya yang sedikit pucat.

__ADS_1


Jika bukan karena Wei Xiyan tidak pernah meragukan wajah asli Feng Mo, dia hanya akan berpikir bahwa wajah ini terlahir dengan begitu sempurna.


Pusaran hitam memenuhi mata Wei Xiyan. Tepat ketika dia ingin memeriksa lebih lanjut, sepasang mata phoenix menatap langsung ke arahnya.


Wei Xiyan sedikit tertegun. Pusaran hitam segera lenyap dari pandangannya.


Mata phoenix itu menatapnya langsung, seakan-akan dia dapat melihat jauh menembus semua rahasia dalam pikirannya.


"Taois Wei tertarik melihat wajahku? "


Meng You dan Kong Li mengangkat kepala secara bersamaan.


Wei Xiyan tersenyum malu, biasanya ketika dia sedang menghitung nasib orang lain. Dia akan menghitung dengan sangat cepat tanpa membiarkan orang lain menemukan gerakannya.


Ini adalah pertama kalinya seseorang menemukan pergerakannya.


Tapi Wei Xiyan segera menenangkan diri. "Taois Li, bisakah aku mengatakan sesuatu padamu."


Feng Mo melihat Wei Xiyan dengan aneh. "Silahkan."


"Aku tidak bisa melihat lintasan kehidupanmu."


Feng Mo mengangkat alisnya heran. Kong Li di sebelah memiliki ekspresi tercengang di wajahnya, melupakan ubi jalar di tangannya.


Suasana sedikit hening untuk sementara waktu.


Melihat reaksi tenang Feng Mo, Wei Xiyan tidak bisa tidak bertanya, "Kamu sepertinya sudah mengetahuinya?"


Feng Mo tidak membantah. "Seseorang telah mengatakannya padaku sebelumnya."


Kali ini Wei Xiyan yang terkejut. "Siapa?" Siapa yang berani mendahuluinya?


"Seseorang dengan nama keluarga Meng. Mungkin masih ada hubungannya denganmu, Paviliun Tianji? "


Wei Xiyan terdiam. Seseorang dari keluarga telah menemukan keberadaan Feng Mo, tapi kenapa tidak ada yang memberitahunya?!


Meng Shize yang berada di kota, seketika menjadi bersin.


Xiao Jinxi melihatnya dengan khawatir. "Apakah kamu sakit?"


"Tidak apa-apa. Seseorang pasti sedang memarahiku."


Meng Shize mendengus. "Ini adalah intuisi! Intuisi! "


"Ayo, terserah padamu. "


Kembali ke alam liar.


"Kamu tahu bahwa kami dari Paviliun Tianji?"


Feng Mo menggelengkan kepala. "Hanya beberapa tebakan, barusaja kamu mengonfirmasi tebakanku."


Wei Xiyan telah berulang kali melihat langsung ke wajahnya ketika mereka bertemu beberapa kali, Feng Mo tahu bahwa dia pasti melakukan sesuatu yang mencurigakan.


Hanya saja Feng Mo tidak terlalu memikirkannya. Tapi ketika Wei Xiyan melihat wajahnya kali ini, Feng Mo yang telah berlatih seni melihat langit segera merasakan perubahan yang jelas di langit.


Seseorang sedang menghitung nasibnya.


Segera Feng Mo dengan 'tidak sengaja' menghentikan perilaku Wei Xiyan.


Namun dia juga cukup terkejut dengan keterampilan pihak lain, Wei Xiyan masih bisa menghitung beberapa hal bahkan jika dia menggunakan wajah palsu.


Wei Xiyan masih tidak percaya. "Lalu kenapa kamu selalu menolak ajakan kami sebelumnya?"


"Jika aku bilang bahwa itu terlalu merepotkan, apakah kamu akan percaya?"


Wei Xiyan cemberut. Meng You meliriknya dengan kasihan.


"Kamu hanya tidak ingin bersama kami. "


Feng Mo dan Kong Li menatapnya dengan persetujuan di mata keduanya.


Wei Xiyan sedikit kesal tapi masih bertahan. "Lalu apakah kalian ingin pergi ke Paviliun Tianji? Datang dan lihat-lihat?"


"Apakah ini undangan?"


Wei Xiyan mengangguk.


"Kalau begitu... Tidak, terima kasih. Kami tidak mempunyai waktu."

__ADS_1


"Ayo, luangkan waktumu. Aku akan kembali ke tenda terlebih dahulu." Penolakan berulang Feng Mo benar-benar membuat Wei Xiyan sedikit marah. Dia belum pernah melihat seseorang yang begitu cuek dengan status miliknya.


Meng You mengangguk dengan sopan ke arah keduanya sebelum pergi menyusul Wei Xiyan yang melarikan diri.


Feng Mo hanya menggelengkan kepala. Temperamen ini...


"Kapan kamu bertemu dengan Nama keluarga Meng?" Kong Li merendahkan suaranya.


"Ini Meng Shize."


"Itu dia?! Dia dari Paviliun Tianji?! Kenapa aku tidak tahu?"


Kong Li hanya melihat bahwa Meng Shize sepertinya memiliki kemampuan dalam menghitung sesuatu. Selama mereka berada di Sekte Chengxuan, hampir setiap hari dia melihat Meng Shize berlatih seni menghitung. Tapi dia tidak pernah menghubungkan Meng Shize dengan keberadaan Paviliun Tianji.


"Sepertinya itu terjadi ketika kami barusaja jatuh ke Shenyuan. Aku dan Meng Shize bangun lebih awal, dia mengatakan sesuatu seperti itu ketika hanya kami berdua yang sadar."


Kong Li mengangguk paham. "Lalu apa yang terjadi dengan kehidupan yang mereka katakan?"


"Siapa yang tahu? Nasib kami hanya ada di tangan kami."


Kong Li setuju.


Keduanya tidak membicarakan tentang kehidupan lagi, hal-hal ini masih terlalu mistis bagi kebanyakan orang.


Esok paginya mereka berpisah dengan pasukan tentara dan pergi ke arah yang berlawanan.


Wei Xiyan masih melihat ke arah kepergian mereka dengan enggan.


"Tuan Muda masih bisa melihat mereka, ini tidak seperti kamu tidak akan pernah melihat mereka lagi." Meng You menenangkan Wei Xiyan yang terlihat tidak dalam suasana hati yang baik.


"Kamu tidak mengerti."


Apa yang tidak aku mengerti? Meng You bergumam dalam hati.


Begitu mereka cukup jauh dari pasukan tentara, Feng Mo dan Kong Li berhenti di sebuah pohon.


Tangan Feng Mo membentuk lingkaran misterius lagi.


Setelah menghitung beberapa hal, Feng Mo mengangkat kepalanya dengan wajah aneh.


Arah kesempatan yang telah dia hitung sebelumnya menunjuk ke arah mereka datang tadi.


Ketika mereka melarikan diri dari sekelompok Sekte Baiyun sebelumnya, Feng Mo mengaktifkan jimat teleportasi dan mengarahkannya pada satu titik.


Jadi ketika mereka bertemu dengan pasukan tentara, Feng Mo tidak pernah menghubungkannya dengan kesempatan yang dicarinya. Hanya berpikir bahwa pasukan mereka ada jalan di mana arah yang ditunjuk oleh ramalan.


Sekarang, ketika Feng Mo menghitungnya lagi, kesempatan yang dicarinya masih menunjuk ke arah perginya pasukan tentara.


Bagaimana mungkin?


Sesuatu melintas di pikiran Feng Mo.


Wei Xiyan!


Satu-satunya orang asing di dalam tentara.


Segera Feng Mo memikirkan pertemuan kebetulan mereka sejak dia pertama kali bertemu dengan keduanya. Kemudian jarinya dengan cepat menghitung nasib.


Takdir!


Takdir!


Takdir!


Feng Mo menghitung sampai tiga kali dan merasa kesal. Takdir kentut!


"Xiaomo, ada apa?" Kong Li melihat kerutan di wajah Feng Mo dan bertanya.


"Aku sedang belajar menghitung langit untuk melihat apakah kami bisa menemukan kesempatan yang baik."


"Lalu bagaimana hasilnya?"


"Hal ini tidak dapat diandalkan."


Jika seseorang dari Paviliun Tianji mendengar pendapat Feng Mo, dia mungkin akan segera muntah darah.


"Saudara Li, kenapa kami tidak kembali dulu ke kota? Meskipun kesempatan tidak mudah dicari, ada baiknya jika kami beristirahat sebentar. Jangan lupa, jubah kami masih ada di bengkel."


"Terserah kamu. " Kong Li tidak memiliki pendapat, dia berani berjalan lebih jauh ke dalam hutan karena Feng Mo ada di sampingnya.

__ADS_1


Jika Feng Mo tidak bersamanya, Kong Li mungkin hanya berkeliaran di pinggiran hutan.


__ADS_2