
Tembok pertahanan pangkalan Ibukota memiliki tinggi setidaknya lebih dari sepuluh meter. Beberapa senjata api besar seperti peluncur meriam tertanam di sepanjang dinding tembok. Jaring listrik terpasang di atas tembok untuk menghalangi burung-burung zombie. Kertas mantra juga menempel dibeberapa tempat untuk mencegah hal-hal yang tidak diketahui. Secara keseluruhan, tembok beton itu terlihat lebih megah dan mewah daripada kebanyakan penduduk didalamnya.
Kedatangan sebuah konvoi kendaraan segera menarik perhatian orang-orang yang sedang sibuk di gerbang utama.
Tentara yang menjaga gerbang mendekati mobil terdepan dan menyapa. Setelah beberapa saat dia kembali dan memberi aba-aba untuk membuka gerbang khusus. Sopir itu mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi.
Salah satu orang di antrian gerbang bertanya pada temannya, "Siapa itu? Aku sepertinya ingat kami tidak memiliki tim besar seperti itu."
Sang teman meliriknya dengan tenang. "Melihat lambang di badan mobil, sepertinya mereka dari Pangkalan Guardian."
Orang itu memiliki ekspresi terkejut di wajahnya. "Kenapa mereka ada di sini?"
"Apakah kamu ingat bahwa ada zombie spiritual tingkat 6 di kota sebelah? Pangkalan sepertinya mengundang pangkalan lain untuk bertindak bersama untuk membasmi zombie spiritual itu."
"Ah! Itulah kenapa akhir-akhir ini aku melihat banyak wajah-wajah asing."
"Um. Aku mendengar Pangkalan Selatan baru saja tiba kemarin, Tuan Ren juga datang bersama mereka. Ayo lihat apakah kami memiliki kesempatan untuk bertemu dan meminta ramalan."
"Ya!"
Antrian di depan gerbang bergerak maju menghentikan percakapan mereka. Keduanya tidak melanjutkan pembicaraan dan kembali mengantri.
Konvoi mobil berhenti di tempat penyemprotan disinfektan. Setiap mobil yang masuk atau kembali dari luar harus disemprot dengan disinfektan agar tidak ada virus yang tidak sengaja terbawa dan masuk ke dalam pangkalan.
Xuan Ming melompat keluar dari mobil dan berbicara beberapa kata kepada petugas kebersihan. Semua orang turun dari mobil dan dikarantina sesuai dengan prosedur pangkalan.
Empat jam berlalu dalam sekejap, konvoi mobil berjalan dengan lancar dibawah bimbingan petugas keamanan. Mereka berhenti di pintu masuk sebuah bangunan pemerintah. Untuk melaporkan kedatangan.
Sementara Xuan Ming masuk dengan yang lain, mereka menunggu di dalam mobil. Tidak butuh waktu lama, seorang kenalan keluar dari bangunan dan menghampiri mereka. Tepatnya Feng Mo.
"Tuan Feng, lama tidak bertemu."
"Tuan Ren, halo."
Itu adalah seorang pria disamping Leluhur dari sekolah tersembunyi. Beberapa waktu lalu ketika mereka pergi ke Pangkalan Guardian mewakili Pangkalan Selatan untuk membeli obat, mereka menceritakan pengalaman mereka saat akhir dunia datang untuk pertama kali. Awalnya mereka ragu-ragu ketika menerima ajakan Feng Mo dan Meng Shize sehingga mereka menunda-nunda waktu, tepat ketika mereka akhirnya memutuskan untuk turun gunung dan menghubungi nomer yang ditinggalkan oleh Feng Mo, akhir dunia datang memaksa mereka bertindak untuk menyelamatkan nyawa banyak orang.
Mereka tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Senang bahwa mereka benar-benar memutuskan untuk turun gunung hari itu, atau sedih karena bencana yang menghancurkan umat manusia. Tapi mereka tidak bisa berpikir berlama-lama, karena seniman beladiri mereka harus melindungi banyak orang.
Dalam perjalanan untuk membentuk Pangkalan Selatan, sekolah mereka yang tidak lebih dari dua puluh orang tua harus mengurus lebih dari seratus orang yang selamat. Penjarahan, perampokan, pengkhianatan, dan pertengkaran diantara orang yang selamat membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kebaikan yang mereka berikan secara cuma-cuma tidak bisa dibandingkan dengan keserakahan beberapa orang.
Jika bukan karena sekelompok orang yang masih berpikiran sama dengan mereka, orang-orang tua mereka mungkin sudah terpojok oleh ideologi-ideologi egois mereka.
Sebagai keturunan seniman beladiri, Tuan Ren tidak bisa menyalahkan manusia egois yang berusaha untuk melindungi dirinya sendiri, tapi dia juga tidak bisa membiarkan manusia biasa lain menjadi korban dari keserakahan mereka. Dia bukan seorang Buddha yang belas kasih, dia hanya manusia yang sedikit beruntung.
Setelah banyak tikungan disepanjang perjalanan, dengan anggukan dari Leluhur, orang-orang tua mereka akhirnya sepakat untuk mengajarkan warisan seni beladiri sekolah mereka kepada orang-orang tertentu. Kemudian munculnya tempat-tempat warisan seni beladiri lain membuat mereka bahkan bertekad untuk menyebarkan seni beladiri ke seluruh pelosok negeri.
Karena hanya dengan memiliki kekuatan di tangan sendiri, kamu akan bisa bertahan hidup di akhir dunia ini.
"Apakah konvoi Pangkalan Guardian baru saja tiba?"
Feng Mo mengangguk.
"Lalu aku tidak akan menganggu istirahatmu. Aku akan datang ke tempatmu setelah beberapa saat."
"Oke."
"Sampai jumpa lagi."
"Sampai jumpa."
Tuan Ren melambaikan tangan dan kembali ke tempat rombongannya menunggu.
Feng Mo menatap kepergian mereka sedikit lebih lama sebelum memalingkan wajah.
"Kakak Feng, tidakkah kamu berjanji akan membawa kami berkeliling?" Shi Jiyi kecil berusia sepuluh tahun berbicara dari sebelah.
Feng Mo mengusap kepala Shi Jiyi pelan. "Tentu saja. Mereka bisa bertamu sewaktu-waktu, tapi kami akan pergi berbelanja sesuai dengan kesepakatan kami."
"Ya!" Kepala kecil Shi Jiyi mengangguk-angguk. Dia sudah lama penasaran dengan pangkalan lain selain Pangkalan Guardian. Ini benar-benar pertama kalinya dia melihat dunia luar setelah kiamat datang.
"Aku juga ingin berkeliling untuk melihat apakah aku dapat bertemu seorang kenalan." Lin Su pindah ke Ibukota sejak awal karir aktornya, bisa dikatakan dia telah tumbuh di Ibukota.
"Aku ikut denganmu." Tang Mo tidak mau ketinggalan.
"Oke."
Xuan Ming dan yang lain keluar tidak lama kemudian dan setelah itu rombongan mereka berkendara ke rumah yang telah dialokasikan oleh Jenderal Xuan sebelumnya.
Hari selanjutnya disaat Xuan Ming pergi untuk mengunjungi kedua orang tuanya, Feng Mo membawa beberapa orang yang antusias untuk berkeliling Pangkalan Ibukota. Dipandu oleh Kamerad Mu, bawahan dari Jenderal Xuan, rombongan mereka berkendara menuju tempat-tempat penting di Ibukota.
Ibukota setelah akhir dunia tidak lagi memiliki gedung-gedung setinggi puluhan lantai, atau rumah-rumah seluas ratusan meter persegi. Semua inci tanah di Ibukota digunakan semaksimal mungkin untuk mempertahankan kelangsungan hidup rakyat biasa. Petugas keamanan yang berpatroli setiap saat untuk mencegah kerusuhan. Kantor-kantor ketenagakerjaan. Toko-toko kelontong dan kafetaria. Semua itu untuk mencegah manusia biasa dari tidak memiliki tempat untuk bertahan hidup.
Selain itu, rombongan Feng Mo juga mengunjungi kantor asosiasi seni beladiri dan kantor asosiasi kemampuan. Ada juga kantor yang ber spesialis dalam mengeluarkan tugas untuk orang-orang yang membentuk tim tentara bayaran. Ada sebuah ring arena di antara kedua asosiasi tersebut yang biasanya digunakan untuk bertarung antara musuh atau lawan, atau hanya untuk saling bertukar keterampilan saja. Di Ibukota ini, tuan-tuan yang kuat dan hebat sama banyaknya seperti kubis china, belum lagi orang yang dengan sengaja tidak menunjukkan kemampuannya.
"Tuan Feng, ada pasar rakyat di sebelah sini, apakah kamu ingin turun dan melihat-lihat?"
Feng Mo mengangguk. "Ayo lihat."
Setelah memarkirkan mobil, semua orang turun ke tanah. "Ayo, kamu bisa pergi sendiri, aku tidak akan menghalangi mu." Feng Mo mengusir semua orang dan hanya meninggalkan Shi Jiyi dan Kamerad Mu disisinya.
"Aku akan mencari mu setelah aku puas melihat-lihat." Lin Su menarik Tang Mo untuk membentuk kelompok dua orang.
"Um. Jangan membuat masalah."
"Ya."
Setelah semua orang pergi, Feng Mo mengambil tangan Shi Jiyi dan berjalan ke arah lain. Kamerad Mu hanya mengikuti di belakang.
__ADS_1
"Jika ada yang kamu inginkan, katakan saja."
"Um." Shi Jiyi menganggukkan kepala.
Pasar rakyat sebenarnya hanya sebuah istilah. Beberapa orang biasa atau orang berkemampuan tidak ingin menjual hasil buruannya pada pemerintah atau toko-toko besar, sehingga mereka mendirikan kios kecil di sisi jalan. Setelah itu, untuk menertibkan suasana, pemerintah mengalokasikan sebuah tempat untuk para pedagang itu untuk menjual hasil jarahannya.
"Ayo! Ayo! Kulit harimau mutan tingkat 3 untuk membuat pakaian pelindung!"
"Anak serigala mutan untuk dikontrak! Hanya inti kristal tingkat 5!"
"Dijual biji tanaman mutan! Dijamin asli!"
"Tuan, apakah kamu mau melihat-lihat? Pakaian yang baru didistribusikan oleh pangkalan!"
"Hei Tuan, ini adalah pedang yang diambil dari reruntuhan XXX."
Suara-suara pedagang yang menjajakan dagangannya terdengar saling bersahut-sahutan.
Apa yang dijual di pasar rakyat sangat bervariasi. Mulai dari barang-barang yang sedikit berharga, sampai barang-barang yang telah ditinggalkan. Seperti perhiasan emas dan perak. Di akhir dunia ini, dimana uang kertas telah ditinggalkan, barang-barang seperti emas dan perak tidak lagi berguna. Mata uang yang beredar telah lama digantikan dengan inti kristal yang dikeluarkan dari kepala zombie.
Ada beberapa ponsel genggam yang tidak tahu apakah masih berfungsi. Barang-barang antik seperti kaligrafi dan beberapa peninggalan budaya yang telah kehilangan spiritualitasnya. Beberapa pisau, pisau dapur, pisau genggam, belati, dan pedang samurai. Ada juga beberapa pot bunga. Pakaian modis yang tidak cocok dengan hari kiamat dan batu-batu judi. Semua itu berjejer rapi disepanjang jalan.
"Kakak Feng, di sana." Shi Jiyi menarik genggaman tangan Feng Mo dan menunjuk ke sebuah kios.
"Oh? Apakah ada yang kamu inginkan di sana?"
Shi Jiyi menggeleng, dia berbicara dengan wajah serius yang lucu. "Aku merasa ada sesuatu yang penting bagiku di sana."
"Oke, mari kita lihat."
Mereka mendekati sebuah kios yang menjual perhiasan yang terbuat dari batu giok.
"Hei Tuan, apakah ini semua barang yang kamu punya?" Feng Mo bertanya sambil menyelidiki semua perhiasan giok yang tertata rapi di atas meja.
Tidak mendapatkan jawaban, Feng Mo mengangkat kepalanya dari perhiasan. Apa yang dia lihat adalah ekspresi tercengang si penjual.
"Pak Tua?"
"Ah? Ah? I-ini semua adalah yang kumiliki." Pria tua itu menjawab dengan sedikit gugup.
Feng Mo menatap si penjual dengan curiga, tapi dia segera mengalihkan pandangannya pada Shi Jiyi. "Xiaoshi, yang mana yang kamu inginkan?"
Shi Jiyi menatap benda-benda di atas meja dengan ekspresi serius di wajah bayinya. Setelah beberapa waktu, alisnya mengkerut turun.
"Kakak Feng, aku tidak menemukannya."
Feng Mo kembali menatap si penjual. "Pak tua, apakah kamu tidak punya barang lagi di sisimu?"
Shi Jiyi juga ikut menatap pria tua di sisi lain.
Itu adalah sebuah lempengan giok yang diukir sebagai kartu umur panjang.
Feng Mo mengeluarkan wajah kecewa. Saat dia akan memilih hal lain di atas meja, Shi Jiyi menyela—
"Aku... Aku menginginkannya." Shi Jiyi tersipu saat mengatakannya.
"Itu adalah milik pribadi Pak tua. Kamu tidak bisa mengambilnya jika kamu menginginkannya."
Sudut mulut Shi Jiyi menurun. Ekspresi wajahnya bahkan tidak bisa disembunyikan. "Aku— "
"Jika kamu menginginkannya, aku akan menjualnya kepadamu." Pak tua itu buru-buru menyela.
"Sungguh?" Shi Jiyi menatap si penjual dengan mata bersinar.
"Ya! Ya!"
"Berapa?"
"Aku akan memberikannya padamu."
"Tidak! Aku akan memberimu inti kristal."
"Lalu… Inti kristal tingkat pertama."
"Aku akan memberimu sepuluh inti kristal tingkat pertama."
"Oke."
Feng Mo tidak menghentikan transaksi keduanya. Bagaimanapun sekarang batu giok tidak lebih berharga daripada inti kristal. Apalagi hanya inti kristal tingkat pertama.
Setelah menggantikan inti kristal dengan giok umur panjang, mereka pergi berjalan-jalan lagi. Tidak ada yang memperhatikan bahwa pandangan pria tua itu tidak pernah lepas dari mereka sampai mereka menghilang di tikungan.
"Apakah kamu masih tidak bahagia?" Melihat wajah berkerut Shi Jiyi, Feng Mo tidak bisa tidak bertanya.
"Kakak Feng, aku merasa masih ada hal yang penting bagiku di sana."
Feng Mo merenung sejenak. "Mari temukan pria itu lain kali, mungkin saat itu dia mau menjualnya kepada kita lagi. Oke?"
"Um."
Setelah cukup melihat-lihat, mereka berjalan kembali ke tempat mobil diparkirkan. Tapi mereka terhenti di tengah jalan karena sebuah kerumunan kecil menghalangi jalan.
"Apa yang terjadi?"
"Kekasih kecil Tuan Muda Fei mencari pertengkaran lagi, kali ini dia menarik pejalan kaki untuk bertengkar!"
"Hei pejalan kaki ini tidak biasa, dia dulunya aktor besar!"
__ADS_1
"Bukankah 'dia' juga aktris dulunya? Sepertinya mereka masih kenalan!"
"Di mana tim keamanan? Bukankah tidak boleh bertarung di dalam kota?"
"Hei, apakah kamu orang luar? Kamu mungkin tidak tahu, Tuan Muda Fei memiliki orangnya sendiri di tim keamanan! Mungkin tim keamanan akan muncul nanti ketika aktor itu sudah sekarat!"
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Kamu akan tahu nanti, ini sudah sering terjadi."
Sudut mulut Feng Mo berkedut mendengar celotehan orang-orang di kerumunan. Dia tidak tahu siapa yang berselisih, tapi dia mungkin tahu siapa yang tidak beruntung. Karena sejak tadi matanya berkedut-kedut karena firasat buruk.
"Kamerad Mu, bisakah kamu menerobos ke depan? Sepertinya teman kami yang sedang bermasalah."
"Ah? Benarkah? Tunggu sebentar."
Lin Su merasa dia tidak beruntung, diantara semua orang yang ingin dia lihat di Ibukota, dia bertemu seseorang yang sangat menyebalkan.
"Jika kamu tidak memberiku kompensasi hari ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
Di sisi lain adalah seorang wanita cantik. Dia memiliki dua pengawal yang melindunginya. Lin Su hanya bersama Tang Mo saat ini. Kebetulan Kamerad Mu mengikuti Feng Mo dan belum kembali.
"Xie Yang, jangan bertindak terlalu jauh. Itu hanya sepotong pakaian, kamu membuat masalah besar seperti ini."
Xie Yang mendengus menghina. "Lin Su! Jangan berpikir bahwa masalah di antara kita berdua hanya sepele. Bahkan jika akhir dunia telah datang, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup dengan baik! Hari ini akhirnya aku bertemu denganmu, aku tidak akan melepaskan mu!"
Lin Su mengerutkan kening kesal. Dia tidak menyangka bahwa Xie Yang akan mengambil kesempatan ini untuk membalas dendam.
Hubungan mereka telah tidak baik sejak awal. Pertama kali mereka bertemu, itu karena mereka pada dasarnya berada di dalam perusahaan hiburan yang sama. Seharusnya tidak ada perselisihan sumber daya diantara aktor dan aktris, tapi Lin Su tidak sengaja mengetahui bahwa Xie Yang merayu seorang sutradara yang telah berkeluarga.
Lin Su muda secara halus mengingatkan Xie Yang bahwa sutradara itu sedikit bermasalah sehingga dia tidak akan terjerat dengan sutradara tersebut. Tapi Xie Yang tidak mengindahkan peringatannya dan terus berhubungan.
Tidak lama kemudian, sutradara itu terpapar kasus prostitusi dan narkoba sehingga semua orang yang berhubungan dekat dengannya dipanggil oleh polisi. Xie Yang tidak terkecuali, bahkan hubungan intimnya dengan sutradara terdengar oleh istri sah sutradara, sehingga Xie Yang langsung dicap sebagai orang ketiga.
Beruntung bahwa Xie Yang tidak tahu apa-apa tentang perbuatan si sutradara sehingga dia langsung dibebaskan. Tapi kemudian entah kenapa setiap kali Xie Yang tertimpa masalah, Lin Su selalu berada dekat dengan tempatnya. Sehingga Xie Yang mau tidak mau berpikir bahwa semua kesialan itu adalah karena Lin Su yang melakukannya.
Kemudian kontrak Lin Su dengan perusahaan berakhir dan dia melompat ke perusahaan hiburan lain. Kesialan Xie Yang juga berakhir. Xie Yang menggertak gigi, dendam lama menumpuk sehingga hampir menjadi kebencian. Dua orang yang tidak terkait berselisih selama bertahun-tahun.
Setelah akhir dunia tiba, Xie Yang berpikir bahwa Lin Su mungkin sudah menjadi zombie di sudut mana dan tertawa terbahak-bahak. Tapi hari ini dia melihat Lin Su, masih berpakaian rapi dan bertemperamen bersih, sama seperti saat sebelum akhir dunia datang. Xie Yang tidak mau, jadi dia berencana untuk menyentuh porcelain. Kebetulan Tuan Muda Fei bersikap baik akhir-akhir ini.
"Ayo, hancurkan dia! Hancurkan dia sampai tidak berbentuk!"
Lin Su mengerutkan kening.
Dua orang pengawal Xie Yang mengambil sikap menyerang. Salah satu dari mereka mengepalkan tinju dan mengirim semburan api ke arah Lin Su.
"Aaaah!"
Kerumunan massa berteriak ketakutan, tidak menyangka bahwa mereka akan bertarung dengan menggunakan kemampuan. Otomatis mereka berlari menjauh dari pusat pertempuran.
"Hentikan!"
Suara Kamerad Mu terhalang oleh teriakan massa. Dia juga terkejut dengan keberanian orang-orang yang membuat masalah.
Lin Su dengan sikap tenang merentangkan tangan menahan semburan api.
"Huh?" Pria itu terkejut karena serangannya berhasil ditahan. Sepertinya orang lain juga memiliki kemampuan.
Begitu semburan api berhenti menyerang, asap yang menghalangi pandangan perlahan menghilang, terlihat bahwa sosok Lin Su masih berdiri kokoh ditempatnya.
"Tidak mungkin!" Xie Yang berteriak histeris. Tidak mau menerima bahwa Lin Su sebenarnya adalah pengguna kemampuan.
Lin Su mengusap debu yang tidak ada di pakaiannya dan mencibir.
"Berhenti! Jika kalian tidak berhenti sekarang, aku akan memanggil tentara untuk memenjarakan kalian! Tidak ada yang diperbolehkan menggunakan kemampuan di dalam pangkalan!" Kamerad Mu akhirnya berhasil menengahi perseteruan. Dia berdiri di depan kelompok Xie Yang dan memperingatkan. "Nona Xie, kamu telah melanggar peraturan pangkalan berulang kali. Kali ini tentara tidak akan membiarkanmu pergi."
Xie Yang melihat seragam tentara Kamerad Mu dan menggertak gigi. "Lin Su, kamu selamat kali ini. Lihat saja nanti. Ayo pergi."
Tiga orang tersebut buru-buru melarikan diri sebelum tentara datang, selama mereka kembali ke basecamp, tidak ada yang akan peduli.
Lin Su tidak peduli omong kosong Xie Yang, dia mengalihkan perhatian pada Feng Mo dan Shi Jiyi yang mendekat. "Apakah kamu selesai berbelanja?"
"Ya. Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa. Hanya beberapa badut yang melompat-lompat."
"Ayo kembali terlebih dahulu."
Lin Su mengangguk, masih banyak orang yang menyaksikan penampilan mereka. Dia tidak ingin menjadi tontonan orang.
Pertemuan darurat dilaksanakan begitu semua perwakilan pengkalan tiba. Xuan Ming datang ke tempat pertemuan sebagai perwakilan Pangkalan Guardian. Di depan pintu, dia bertemu dengan Tuan Ren dan perwakilan dari Pangkalan Selatan.
Keduanya berjabat tangan dan bertukar salam.
"Letnan Jenderal Xuan, halo." Tuan Ren datang menyapa.
"Tuan Ren, halo." Sejak menjadi pemimpin di pangkalan, Xuan Ming telah naik dua pangkat dari Kolonel ke Letnan Jenderal.
Keduanya saling bertukar informasi dan berbisik. Menghindari pandangan orang lain.
"Pertemuan akan segera dimulai! Tolong masuk ke dalam ruang pertemuan!" Suara pengumuman datang dari seseorang.
"Kami akan membahasnya nanti."
"Ya."
Keduanya mencapai kesepakatan diam-diam dan masuk ke dalam ruang pertemuan.
__ADS_1