
"Ke mana kamu akan membawa tulang-tulang tua kami pergi?"
Profesor Lin menatap Lin Su yang sibuk memasukkan pakaian orang tuanya ke dalam koper.
Lin Su tertawa malu. "Liburan, tentu saja liburan!"
Profesor Lin mendengus. "Aku masih memiliki penelitian yang harus aku lakukan. Jika pemimpin tidak memberitahu ku, aku tidak akan tahu bahwa kamu memalsukan tandatangan ku untuk mengajukan permohonan cuti."
Lin Su hanya tertawa haha.
Sudut mulut Profesor Lin berkedut, membuat kumisnya juga ikut bergerak-gerak. Tapi mau bagaimana lagi, cuti liburan sudah disetujui, dan Profesor Lin takut pemimpinnya tahu bahwa bukan dia yang mengirim dokumen.
Keluar dari kamar, pria tua yang sudah beruban itu berjalan ke ruang tamu.
Kong Li duduk di ruang tamu. Nyonya Lin mengajukan beberapa pertanyaan sepele. Profesor Lin datang menyela pembicaraan mereka. "Ke mana kami akan pergi?"
"Kota T." Kong Li menjawab dengan murah hati.
Profesor Lin mengerutkan kening. "Seingat ku, tidak ada kota wisata di sana."
Kong Li mengangguk. "Kami akan mengunjungi lokasi syuting terbaru Lin Su, sebelum ini lokasi syuting baru saja selesai pengerjaannya dan akan di buka untuk umum di masa depan."
"Apakah itu lokasi syuting? Aku mendengar bahwa kalian akan syuting tentang zombie?" Nyonya Lin bertanya dengan penasaran. Meskipun mereka tidak terlalu memperhatikan pekerjaan Lin Su di dunia hiburan, mereka masih mendengar hal-hal yang dilakukan oleh Lin Su.
"Ya, lokasi yang akan kita kunjungi ini adalah prototipe pangkalan akhir dunia."
Profesor Lin dan Nyonya Lin terkejut. "Maukah kamu membangun hal-hal seperti ini? Bukankah harus mengeluarkan banyak uang?"
Kong Li masih mengangguk. "Sutradara sangat menuntut keaslian adegan, investor tidak peduli mengeluarkan uang. Bahkan jika film gagal di masa depan, kami masih bisa membuka tempat ini untuk pariwisata."
Kedua orang paruh baya itu mengangguk.
"Ayo pergi." Lin Su keluar dengan membawa dua koper besar.
Profesor Lin hanya mendengus pelan dan berjalan keluar rumah.
Sudah ada mobil yang parkir di luar. Lin Su memasukkan ke dua koper ke dalam bagasi. "Aku akan mengunci pintu terlebih dahulu." Kemudian Lin Su berlari lagi ke dalam rumah. Tidak berselang lama, dia kembali.
Suara mesin mobil di aktifkan, Lin Su mulai menjalankan mobilnya ke jalanan.
Tidak ada yang tahu bahwa rumah yang baru saja di tinggalkan, telah dikosongkan.
Dari rumah keluarga Lin ke kota T diperlukan waktu 4-5 jam menggunakan kereta api. Selama di kereta api, Lin Su berulang kali menatap jam di pergelangan tangannya.
"Tidak perlu cemas, selama kami tiba di kota T semuanya akan baik-baik saja." Kong Li menekan pundak Lin Su ke kursi dengan kuat.
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak bisa tidak khawatir, orang tua ku sudah sangat tua, aku tidak ingin melemparkan mereka terlalu banyak."
Meskipun Lin Su baru berumur 25 tahun ini, kedua orang tuanya sudah berumur lebih dari 60 tahun. Mereka memiliki Lin Su di saat mereka sudah sangat tua. Awalnya karena masalah pekerjaan, mereka menunda untuk memiliki anak. Tepat setelah mereka merasa sudah waktunya untuk memiliki anak, anak itu tidak kunjung datang.
Kong Li mengangguk paham.
"Kakak Kong, maafkan aku. Jika tidak ada yang salah di pihakku, kami pasti sudah tiba di villa sekarang." Lin Su melanjutkan. Ada masalah dengan perusahaan hiburan tempat dia bekerja, sehingga Lin Su harus menunda beberapa hari. Lusa adalah tanggal 10, mereka tidak memiliki banyak waktu.
"Tidak apa-apa."
Lin Su tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya mengusap keringat yang menetes dari dahinya. Dia sebenarnya sedikit kesal, karena yang lain sudah tiba di villa.
Setibanya di stasiun kota T, mereka berempat mendapatkan sebuah taksi dan pergi ke hotel yang sudah di pesan. Lin Su mengipasi dirinya sendiri dengan selebaran. Ac mobil tidak berpengaruh banyak padanya.
Setelah check in di hotel, mereka berempat berpisah ke kamar masing-masing. Lin Su segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, keringat membasahi pakaiannya membuatnya sedikit jijik.
Kong Li mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke yang lain bahwa mereka telah tiba di kota T dan akan pergi ke villa pegunungan besok.
Lin Su keluar dari kamar mandi dengan perasaan segar, tapi tidak tahu kenapa dia masih merasa sedikit pusing.
"Kakak Kong, aku akan beristirahat sebentar. Jika aku belum bangun untuk makan malam, biarkan kedua orang tuaku pergi terlebih dahulu."
"Oke."
Lin Su tidak memperhatikan lagi dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur dan segera tidur.
Kong Li tidak melakukan apa-apa, hanya berkultivasi di ruang tamu. Ketika makan malam tiba, melihat kamar Lin Su tidak bergerak sedikitpun, dia hanya membawa Profesor Lin dan Nyonya Lin makan malam di restoran terlebih dahulu.
Malam tiba dengan cepat.
Angin semilir berhembus.
Di kota-kota dan desa-desa, di setiap rumah tangga tiba-tiba orang yang tidur di atas tempat tidur mengejang dengan hebat. Kulit mereka berubah dengan cepat dari kemerahan menjadi pucat, kemudian menjadi abu-abu.
Pembuluh darah menonjol dengan kuat, kuku tangan berubah menjadi hitam. Air liur mengalir dengan cepat di antara sela-sela gigi yang menguning. Mata mereka melotot terbuka seakan-akan bisa keluar kapan saja.
Tangan mereka menggapai apa saja yang bisa mereka sentuh untuk membuat keributan. Ketika orang yang tidur di sebelah mereka atau keluarga mereka mendengar keributan di kamar mereka, mereka akan melihat...
Keluarga mereka tiba-tiba berubah menjadi zombie.
"Aaaaa!!!"
Kong Li tiba-tiba membuka matanya dari latihannya. Dia bangkit dari sofa dan melihat keluar dari jendela. Langit di luar tiba-tiba menjadi suram.
Kong Li merasa tidak enak, dia mengetuk pintu kamar Lin Su dengan cepat. Tidak ada yang menanggapi, Kong Li mengerutkan kening. Tidak berani menebak-nebak, Kong Li segera membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci.
Lin Su masih terbaring di atas tempat tidur, tapi sepertinya dia tidak dalam keadaan yang baik. Wajahnya memerah tidak wajar.
__ADS_1
Kong Li meletakkan tangannya di dahi Lin Su. Panas sekali!
Mengambil nafas dalam-dalam, seharusnya Kong Li menyadarinya sejak tadi, mengingat bahwa Lin Su tidak pernah keluar dari kamar sama sekali. Tapi sekarang sudah lewat tengah malam, dia tidak bisa bergegas ke dokter.
Mengambil ponselnya, dia segera menelepon Feng Mo.
"Halo?"
Mendengar suara Feng Mo, Kong Li sedikit tenang. "Xiaomo, Lin Su demam tinggi, sepertinya aku tidak bisa pergi pagi ini."
Suara di seberang telepon terdiam sejenak.
"Aku tahu."
Kong Li terkejut. "Ada apa?"
Feng Mo di sebrang menurunkan pandangannya. Cahaya bulan menembus jendela dan menyinari tubuhnya. "Tang Mo, Bai Xiuran dan Shi Jiyi juga mengalami demam tinggi."
Kong Li terkejut bukan main. "Apa yang terjadi?!" Kenapa semua orang tiba-tiba mengalami demam tinggi?
"Saudara Li." Suara Feng Mo di telepon tiba-tiba menjadi serius.
"Ya?"
"Evolusi dunia sudah di mulai, dengarkan aku. Setelah ini kamu... ."
Jantung Kong Li berdetak dengan kencang, tapi dia masih mendengarkan perkataan Feng Mo dengan serius. Setelah menutup telepon, Kong Li bergegas mengetuk pintu kamar di sebelah.
Kong Li mengetuk pintu dengan keras, untungnya tidak ada tamu lain di lantai ini, atau tidak suaranya akan mengganggu orang lain.
Pintu kamar di buka, Profesor Lin mengerutkan kening tidak senang. "Apa yang kamu lakukan dengan mengetuk pintu dengan keras?!"
Kong Li tidak peduli. "Paman Lin, Lin Su mengalami demam tinggi."
Orang tua itu terkejut. "Lalu apa yang kamu lakukan? Telepon ambulans!" Meski begitu, Profesor Lin segera membangunkan istrinya dan pergi ke kamar sebelah.
Kong Li mengejar di belakang Profesor Lin. "Rumah sakit tidak tahu apa yang terjadi, layanan telepon selalu sibuk. Layanan pelanggan hotel juga tidak ada yang mengangkat." Kong Li segera memberikan alasan yang sudah dia siapkan untuk mencegah Lin Su dibawa ke luar hotel.
Semua orang masuk ke kamar Lin Su.
Melihat keadaan Lin Su, Nyonya Lin segera mematikan Ac kamar dan pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang dapat mendinginkan tubuh Lin Su. Sementara Profesor Lin mengganti pakaian di tubuh Lin Su yang basah kuyup karena keringat.
Tiba-tiba terdengar dentuman keras dari luar jendela.
Kong Li melihat keluar jendela. Jalan di depan hotel, tidak tahu kapan ada sebuah truk besar yang tiba-tiba menabrak bangunan di sampingnya. Kong Li membuka jendela, teriakan yang telah di tahan oleh jendela masuk ke dalam kamar.
"Apa yang terjadi?" Profesor Lin terkejut, wajahnya yang sudah tua menampakkan ekspresi khawatir.
Kong Li segera menutup jendela. "Sesuatu terjadi di bawah, jangan khawatir, orang lain akan menelepon polisi."
Tidak ada yang tahu bahwa di seluruh kota, di seluruh dunia, api penyucian sedang terjadi.
Setiap lampu rumah tangga menyala.
Teriakan minta tolong menggema di mana-mana diselingi oleh raungan aneh.
Darah berceceran dengan tangisan anak-anak mencari ayah ibunya.
Mobil-mobil mewah menabrak satu sama lain.
Orang-orang berlarian di kejar oleh sesuatu.
Tembakan terjadi bersahut-sahutan.
Di rumah sakit, teriakan dan kekacauan yang terjadi dapat menggemparkan dunia.
Di kantor polisi, rekan menembak jatuh rekan kerja yang lain.
Tentara bertarung dalam diam.
Di mana-mana darah dan mayat abu-abu berceceran.
Orang-orang bersembunyi dan mengungsi. Mencoba menelepon polisi tapi tidak bisa.
Mayat abu-abu yang berjalan itu sangat menakutkan, mengingatkan mereka akan keberadaan...
Zombie.
Di bulan maret tahun 20××, akhir dunia telah datang.
Nyonya Lin mengompres kepala Lin Su sepanjang malam. Profesor Lin telah menelepon rumah sakit berulang kali tapi tidak mendapatkan jawaban. Dia juga menelepon layanan hotel tapi tidak diangkat.
Mengerutkan kening, Profesor Lin kesal. "Aku akan turun untuk mencari obat."
"Tidak!"
Teriakan Kong Li mengejutkan kedua orang paruh baya.
Kong Li segera terbatuk. "Maksudku, biarkan aku mengikuti mu."
Meskipun Profesor Lin curiga dengan teriakan Kong Li, dia tidak ingin membuang waktu dan setuju. Keduanya keluar dari kamar dan menuju tempat lift berada.
Setelah menutup telepon, Feng Mo kembali ke tempat semua orang berkumpul.
__ADS_1
"Bagaimana?" Xiao Jinxi bertanya.
"Lin Su dan Xuan Ming juga mengalami demam tinggi."
Segera suasana menjadi sedikit suram. Feng Mo melirik Tang Mo, Shi Jiyi dan Bai Xiuran yang tergeletak di tempat tidur. Ketiganya tiba-tiba mengalami demam tinggi ketika mereka menemukannya.
"Menurutmu, apa yang terjadi?"
Xiao Jinxi dan Meng Shize menggelengkan kepala. Meskipun mereka tahu ada yang salah malam ini, tapi untuk demam tinggi para wali, mereka memang tidak tahu apa-apa.
Tok tok.
Pintu kamar di ketuk, Feng Mo berjalan untuk membuka pintu.
Sekretaris Shen, Shen Yue berdiri di luar. "Tuan Feng, salah satu pengawal menelepon, mereka mengatakan bahwa salah satu dari mereka mengalami demam tinggi dan meminta izin untuk keluar dari villa."
Feng Mo terdiam.
"Tidak perlu."
Shen Yue terkejut.
"Biarkan mereka membawa orang itu kemari."
"Oh? Oke."
Lift turun ke lantai satu. Sebelum pintu terbuka, Kong Li sudah berdiri di depan Profesor Lin untuk berjaga-jaga.
Setelah memastikan tidak ada bahaya di depan pintu lift, Kong Li keluar dari dalam lift.
Profesor Lin menatap Kong Li dengan curiga tapi tidak mengatakan apa-apa. Keduanya pergi ke meja resepsionis hotel. Sayangnya tidak ada satu orang pun yang berjaga di sana.
"Ke mana perginya orang-orang?" Profesor Lin menggerutu.
Lobi hotel sangat sepi. Kong Li meningkatkan kewaspadaan. "Paman Lin, ayo kembali dulu."
"Bagaimana dengan obatnya?"
"Mari tanyakan ketika hari sudah cerah, mungkin orang yang berjaga sedang pergi."
Profesor Lin tidak punya pilihan lain dan menyerah. Keduanya kembali ke arah lift berada. Untungnya tidak ada sesuatu yang menyerang dari dalam lift dan keduanya kembali naik ke atas.
Tapi lift tiba-tiba berhenti di lantai tertentu. Kong Li segera waspada. Benar saja, ketika pintu lift terbuka...
"Roar!"
Sesosok abu-abu melompat ke arah mereka.
Bang!
Kong Li menendang sosok abu-abu itu dengan kuat hingga terpental ke belakang.
Profesor Lin ketakutan. "Anak laki-laki Kong, apa itu tadi?"
"Aku tidak tahu." Kong Li berbohong. Tangannya segera menekan tombol tutup lift dengan cepat.
"Tunggu! Tunggu aku!"
Seseorang berteriak dari sebrang lorong. Seorang pria berlari dengan cepat, melewati sosok abu-abu itu dan bergegas ke arah lift.
Tapi karena teriakannya, sesosok abu-abu lain mengejar dari belakang.
"Roar!"
"Aaaaa! Tolong aku! Jangan tutup liftnya!"
Kong Li menggertak gigi. "Cepat!"
"Roar!" Teriakan aneh lain datang dari arah lain.
Wajah pria itu pucat, tapi kakinya tidak bisa berhenti. Tepat ketika pintu lift akan tertutup, pria itu berhasil masuk, meninggalkan sesosok abu-abu yang datang dari arah lain.
Lift bergerak naik lagi. Di dalam lift hanya terdengar suara nafas terengah-engah pria itu, Profesor Lin segera membantu pria tadi untuk duduk.
"Hei Tuan, apakah kamu baik-baik saja? Apa yang baru saja mengejar mu?"
Seakan diingatkan, pria itu segera menangis dan melolong. "Woooo! Terima kasih! Woooo! menakutkan! Benda itu mengejar ku! Woooo! Orang tuaku! Woooo! Mereka juga berubah menjadi woooo!"
Sudut mulut Kong Li berkedut, melihat seorang pria besar menangis dan melolong seperti anak kecil.
Profesor Lin sangat sabar untuk menenangkan tangisan pria itu. Tapi sebelum pria itu berhenti menangis, pintu lift berhenti. Dan ajaibnya, tangisan pria itu juga berhenti. Bahkan pria itu masih memiliki ekspresi ketakutan di wajahnya.
"Hati-hati!"
Lift berhenti di lantai tempat keluarga Lin menginap. Kong Li keluar terlebih dahulu. Setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan, Profesor Lin dan pria tadi keluar.
Mereka segera kembali ke kamar Lin Su berada.
Nyonya Lin membukakan pintu untuk mereka. "Apakah kamu mendapatkan obatnya?"
Profesor Lin menggeleng.
Pria tadi segera mengikuti masuk. Setelah mengunci pintu, dia juga mendorong lemari di sebelah pintu untuk menghalangi.
__ADS_1
Perilaku pria itu semakin menguatkan kecurigaan Profesor Lin. "Kamu! Apa yang kamu lakukan?!"