Phoenix Penghancur

Phoenix Penghancur
104. Bangun


__ADS_3

Pria itu ketakutan dengan teriakan Profesor Lin. "Hei, aku hanya... Hanya... Menahan pintu! Jika monster-monster itu menggaruk pintu dan membobol masuk, akan ada sesuatu yang bisa menahannya!"


Profesor Lin bukan orang yang bodoh, dia segera menyadari sesuatu yang aneh. "Benda apa yang mengejar mu sebelumnya?"


Pria itu membelalakkan mata lebar. "Apa kamu tidak tahu?! Itu zombie! Zombie!"


Profesor Lin mundur beberapa langkah menghindari agresifitas pria itu. "Apakah kamu sedang berkhayal?"


"Tidak!"


Matahari perlahan naik dari arah timur.


Di dalam kamar Lin Su, orang-orang berkumpul dalam keadaan suram dan tertekan. Profesor Lin dan Nyonya Lin membutuhkan waktu yang lama untuk mencerna apa yang sedang terjadi di dunia luar. Tidak ada yang tahu bahwa dalam semalam, dunia telah berubah.


Apalagi untuk orang tua seperti keduanya, hal-hal seperti melarikan diri untuk kehidupan adalah hal-hal yang besar.


Kong Li diam-diam menghela nafas, ada orang lain yang menjelaskan hal-hal ini pada keluarga Lin yang membantunya. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dijelaskan pada orang tua itu.


Keheningan itu tiba-tiba dipecahkan oleh sebuah gerutuan dari dalam perut seseorang. Pria itu menyentuh perutnya dengan tersipu.


Profesor Lin mengerutkan kening. Baru tersadar bahwa beberapa jam telah berlalu sejak mereka dibangunkan oleh Lin Su yang demam, jadi wajar jika sekarang sudah waktunya untuk sarapan.


Matahari telah menembus awan. Jika bukan karena terlalu sepi di luar, Profesor Lin tidak akan dapat membedakan hari ini dengan hari-hari biasa.


"Ayo turun untuk mencari makanan. Tahukah kamu di mana dapur restoran berada?" Pertanyaan terakhir Profesor Lin ditujukan pada pria itu.


Pria itu mengangguk cepat. "Aku tahu. Aku memiliki beberapa hubungan dengan manager hotel. Namaku Chen Hao. Kuharap, bisakah kamu membiarkan ku mengikuti mu?"


Profesor Lin menatap pria yang kiranya beberapa tahun lebih tua dari Lin Su dan merasa tidak dapat diandalkan. "Selama kamu tidak menghalangi kaki pria tua ini."


"Ya! Ya! Ya!" Chen Hao mengangguk dengan cepat.


"Istri, aku akan keluar bersama mereka. Jangan bukakan pintu untuk siapapun yang datang kecuali aku."


"Um."


Meskipun sudah tua, Profesor Lin adalah pria yang bertanggung jawab memikul beban rumah tangga. Sementara Lin Su masih terbaring sakit, dia harus mencari jalan keluar untuk keluarganya sendiri.


Tiga orang pria sepakat. Setelah mempersiapkan mental, mereka keluar dari kamar.


Lantai tempat keluarga Lin tinggal kebetulan tidak memiliki tamu lain sehingga mereka menjelajahi seluruh lantai dengan percaya diri.


Kota T meskipun bukan kota besar, termasuk kota tingkat dua. Hotel tempat mereka menginap memiliki total 15 lantai beserta basement. Dan restoran berada di lantai dua.


Antara turun menggunakan lift atau tangga darurat, mereka berunding untuk menggunakan tangga, sementara nanti ketika mereka naik, mereka akan menggunakan lift. Selama listrik belum padam selama satu hari, sebaiknya mereka dengan cepat-cepat menggunakan listrik.


Tidak ada sosok abu-abu di jalur tangga darurat, mungkin mengingat bahwa perubahan itu terjadi lewat tengah malam.


Mereka bertiga turun dengan cepat. Mengingat usia fisik Profesor Lin, Kong Li masih sedikit melambat.


Sampai di lantai dua, Kong Li mengintip keluar dari pintu darurat. Koridor hotel sangat sepi.


"Di mana dapurnya?" Tanya Kong Li.


"Pergi ke kanan, melewati dua lorong, itu adalah pintu belakang dapur."


Kong Li memberi aba-aba. Setelah memastikan bahwa semuanya aman, dia keluar untuk pertama-tama. Profesor Lin setelahnya dan pria Chen Hao yang terakhir. Pria itu meskipun sedikit pengecut tapi dia masih bertekad untuk mengikuti.


Mereka bertiga bergerak ke arah kanan.

__ADS_1


Tidak ada sesosok abu-abu di jalan dan mereka mencapai pintu dapur dengan aman. Tapi meski mereka tidak menemukan sesuatu yang abnormal, kondisi sekitar yang terlalu sepi juga tidak baik. Bisa menurunkan kewaspadaan seseorang.


Membuka pintu belakang dapur, mereka segera dihadapkan pada dapur yang besar dan mewah. Beberapa peralatan dapur tergeletak di atas kompor, bahan-bahan yang tergeletak di atas meja, dan pisau dapur yang jatuh ke tanah. Sepertinya pemiliknya terburu-buru meninggalkan dapur sebelum membereskan semuanya.


"Paman, apa yang kamu cari?"


Wajah Profesor Lin juga kompleks. "Beras, yang utama. Kami tidak bisa membawa banyak barang."


Chen Hao mengangguk.


Kong Li tidak tahu dari mana menemukan kantong kertas, keduanya segera mengambil masing-masing dan memasukkan apa saja yang bisa mereka temukan.


Saat semua orang sedang sibuk, sesosok abu-abu bergoyang dari sudut titik buta pandangan, dia bergerak dengan kaku ke arah mereka.


Sosok kaku itu berjalan ke arah orang terdekat, tangannya yang memiliki kuku hitam terentang, mulutnya terbuka memperlihatkan giginya yang tajam. Sosok kaku itu mencoba menggigit Chen Hao.


Bang!


Kong Li mengambil roll kayu dari gantungan dan menghancurkan kepala zombie dengan kuat. Dengan sedikit trik menggunakan energi spiritual, zombie tidak bisa berdiri lagi setelah jatuh.


Chen Hao melompat terkejut pada awalnya, tapi setelah melihat wajah abu-abu yang rusak, wajahnya segera menjadi pucat pasi. Dia merangkak dengan cepat ke arah Profesor Lin dan bersembunyi di belakang punggungnya, gemetar.


Tidak seperti Chen Hao yang segera bersembunyi, Profesor Lin memiliki keingintahuan yang kuat. Dia berjalan mendekat dan melihat mayat aneh di tanah.


"Inikah zombie itu?" Melihat wajah abu-abu dan darah hitam yang berceceran, Profesor Lin tidak bisa tidak menahan nafas. Sebelumnya karena masalah pencahayaan, dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka sebut sebagai zombie, sekarang dia benar-benar melihatnya dengan jelas.


Kong Li mengangguk. "Ayo segera pergi, suara di sini mungkin menarik perhatian zombie yang lain."


Orang lain segera setuju, mereka kembali ke pintu belakang.


Benar saja, begitu mereka keluar dari pintu, mereka melihat beberapa sosok kaku berjalan di kejauhan.


"Pergi ke lift!"


"Roar!"


Beberapa zombie sporadis yang berkeliaran segera menemukan keberadaan mereka dan mengejar ketertinggalan.


"Roar!"


Setelah berbelok beberapa kali, mereka akhirnya menemukan pintu lift. Tapi zombie yang mengejar mereka tidak berkurang sama sekali bahkan bertambah. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan pakaian pekerja pembersihan.


Chen Hao menekan tombol lift sekuat tenaga dan menekannya beberapa kali. Kepanikan memenuhi seluruh anggota tubuhnya.


Butuh beberapa saat untuk pintu lift terbuka, Kong Li mengambil gagang pel yang dia temukan di jalan dan menghancurkan kepala zombie satu demi satu untuk mengulur waktu.


Bang! Bang!


Ting! Pintu lift terbuka.


"Nak Kong, cepat!" Profesor Lin berteriak setelah masuk ke dalam lift.


Chen Hao menekan tombol tutup.


Kong Li segera membuang gagang pel yang telah bengkok dan berlari dengan sekuat tenaga ke arah lift. Sebelum pintu lift menutup sepenuhnya, Kong Li berhasil memasuki lift.


Di dalam lift hanya terdengar suara terengah-engah Kong Li.


Lift naik dengan lancar ke lantai tempat keluarga Lin berada.

__ADS_1


Ketika mereka kembali, Nyonya Lin menyadari kelelahan dan ketakutan mereka semua. "Apa yang terjadi?"


Profesor Lin menceritakan kepada Nyonya Lin apa yang mereka temui di lantai bawah. Wajah Nyonya Lin juga secara bertahap menjadi pucat, tapi dia segera menstabilkan emosinya.


"Ketika aku mengeluarkan air dari keran aku melihat sepertinya air jernih tidak akan bertahan lama. Kemungkinan listrik juga akan berhenti beroperasi setelah hari ini." Nyonya Lin segera menceritakan kabar buruk yang dia temukan.


Wajah orang lain menjadi buruk.


Profesor Lin menggeleng pelan. "Ayo pelan-pelan, biarkan air mengalir seperti biasa, kita akan mengikuti arus."


Lin Su merasa tidak nyaman di mana-mana. Sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya dia sudah merasa tidak nyaman, tapi karena masih bisa ditanggung dia tidak memberi dirinya istirahat. Masih banyak tempat persediaan yang belum dia datangi, dia tidak bisa menjatuhkan rantai begitu saja.


Tapi sejak menginjakkan kaki di kota T, Lin Su merasa pikirannya berat sekali. Dia ingin tidur sejenak menghilangkan perasaan tidak nyaman itu, tapi dia tidak tahu bahwa tidurnya akan menjadi sehari semalam.


Ada arus hangat lain yang masuk dan berputar di dalam tubuhnya. Dua kekuatan yang tidak bertentangan mendiami tubuhnya dengan kuat. Lin Su tahu bahwa satu kekuatan adalah yang dia pelajari dengan sekuat tenaga sebelumnya. Itulah metode latihan kekuatan internal.


Tapi kekuatan yang lain, Lin Su tidak tahu apa itu.


Begitu Lin Su membuka mata, dia melihat Nyonya Lin memegang tangannya erat-erat.


"Bu."


Setelah beristirahat lagi selama semalam, Lin Su yang telah memahami apa yang terjadi selama masa komanya segera membuat keputusan tegas.


"Ayo pergi."


"Pergi ke mana?" Tanya Nyonya Lin.


"Pergi ke tempat yang akan kita tuju sebelumnya."


Profesor Lin merasa tiba-tiba tercerahkan, dia menarik Lin Su ke sudut dengan cepat. "Kamu! Apakah kamu sudah mengetahui hal ini sebelumnya?"


Lin Su merasa tidak nyaman berbohong kepada lelaki tua itu, jadi dia hanya diam saja.


"Kamu! Kenapa kamu tidak mengatakannya?"


Lin Su menatap mata Profesor Lin. "Jika aku mengatakannya... Apakah kamu akan percaya?"


Profesor Lin tertegun, tentu saja jika itu sebelumnya dia tidak akan percaya sama sekali.


"Kapan itu? Dari mana kamu mendengarnya?"


Lin Su sedikit mengelak. "Setengah tahun yang lalu, siapa yang mengatakan aku tidak bisa memberitahu mu."


Profesor Lin mengambil nafas dalam-dalam. "Lalu film zombie itu?"


"Itu hanya bohong, aku berlatih seni beladiri dua bulan ini untuk persiapan."


"Apakah kamu memberitahu orang lain?"


Lin Su menggeleng. "Tidak, tapi ada beberapa orang yang tahu seperti aku. Kami berkumpul bersama untuk membentuk tim. Kami sudah berjanji untuk berkumpul di kota T."


"Itu sebabnya kamu mengajak kami ke sini?"


Lin Su mengangguk.


Profesor Lin menekan pelipisnya yang berdenyut. Dia sudah tua, rangsangan ini membuatnya merasa beberapa tahun lebih tua.


"Lalu apa rencanamu? Kami sudah tua, kami akan mengikuti apa yang kamu katakan. Tapi mungkin kami hanya akan menjadi penghambat bagimu."

__ADS_1


"Jangan katakan itu." Lin Su mengerutkan kening tidak setuju. "Kami sudah menyiapkan tempat berlindung, selama kami pergi ke sana, kamu tidak perlu khawatir apapun."


Profesor Lin terdiam sejenak. "Oke."


__ADS_2