
Berdiri di atas atap bangunan, Lin Su menatap jauh ke depan.
Hujan tidak lagi bisa menghalangi pandangannya. Energi internal yang telah dia latih selama dua bulan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk digunakan di luar.
Sebuah penghalang melindungi dirinya dari guyuran air hujan.
Meskipun energi internal miliknya tidak sekuat dan sedalam milik Xuan Ming atau Bai Xiuran, Lin Su tidak pernah berhenti berlatih sekali pun. Sehingga sekarang dia bisa menggunakan energi internal dengan leluasa.
Melompat ke atap bangunan yang lain, Lin Su benar-benar menggunakan langkah kaki ringan untuk pergi ke gedung sebrang. Kemudian dia melompat dari satu bangunan ke bangunan yang lain sampai dia menemukan tempat di mana orang-orang Lao Liu berada.
Sebuah gedung pabrik terlihat sangat mencolok karena menjadi satu-satunya bangunan yang terang benderang.
Lin Su tidak habis pikir, apakah karena hujan turun menghalangi para zombie, orang-orang itu dengan sombong menyalakan lampu dengan sangat sembrono?
Melihat begitu banyak zombie yang berjalan ke arah bangunan itu, Lin Su merasa bahwa dia bertindak terlalu terburu-buru.
Tapi dia tidak bisa kembali sekarang, itu akan membuang banyak waktu. Mari pikirkan saja cara untuk mengingatkan orang-orang di dalam tentang kedatangan pasukan zombie.
Lin Su melompat ke atap bangunan yang terang benderang dan mengintip dari sela-sela tentang keadaan di dalam bangunan.
Tidak tahu dari mana mereka menemukan generator listrik, Lin Su cukup iri melihat mereka bahkan bisa menggunakan peralatan listrik. Namun prioritas sekarang adalah mematikan lampu dan memotong pasokan listrik. Jika bisa menghentikan generator yang hidup.
Tanpa hujan yang menutupi, suara dari generator mungkin bisa menarik seluruh zombie di area sejauh satu kilometer.
Setelah kembali ke pabrik, Lao Liu hanya mengambil beberapa makanan untuk cucunya yang masih kecil dan menyerahkan semua isi bungkusan kepada orang-orang itu.
Dua orang lain melihat tindakan Lao Liu dan mengikutinya. Daripada menunggu orang lain merebut semua makanan mereka, lebih baik menyisakan sedikit untuk diri mereka sendiri dan mengambil inisiatif untuk menyerahkannya.
Kelompok yang dipimpin oleh pemuda-pemuda dengan tindikan di wajah dan telinganya itu hanya mendengus dingin dan melemparkan tatapan menghina.
Ketiga Lao Liu tidak berani membalas dan segera kembali ke keluarga masing-masing.
Beberapa orang menatap iri ketiga orang tersebut. Mereka juga kelaparan, tapi mereka tidak berani keluar dari pabrik dan tidak berani meminta kepada kelompok gangster itu. Jadi mereka hanya bisa menahan perasaan lapar itu dalam diam.
Total orang dalam bangunan ini lebih dari lima puluh orang.
Selain kelompok gangster yang berjumlah belasan orang, orang lain membentuk kelompok-kelompok kecil. Seperti Lao Liu yang bersama cucunya yang berusia tujuh tahun. Orang-orang dengan kerabat darah. Dan beberapa teman kerja. Ada juga beberapa orang sendirian yang tinggal jauh dari kelompok orang yang menyanjung pemuda gangster itu.
Ketika malam tiba, pemuda-pemuda gangster itu tidak hanya berhenti bermain-main, mereka bahkan berpesta dengan makanan yang mereka ambil dari ketiga Lao Liu. Tertawa dan menari dengan liar. Mereka bahkan merayu seorang anak perempuan untuk tidur dengan mereka dengan imbalan makanan.
Seseorang yang sudah pernah merasakan manisnya tentu saja setuju dengan mudah. Sedangkan anak perempuan yang lain, mereka telah dilindungi dengan ketat oleh keluarga masing-masing. Mereka lebih baik mati daripada menyerahkan anak perempuan/saudari mereka pada para gangster itu.
Malam semakin larut, pesta telah berakhir karena para gangster itu telah kenyang dan mengantuk. Mereka tidur di mana pun mereka duduk sebelumnya. Menyisakan penyesalan bagi orang-orang yang hanya bisa mengatupkan bibir karena serakah.
Ketika semua orang nyaris tertidur karena lelah, tiba-tiba—
Pyar!
Lampu di langit-langit pecah dan seluruh bangunan tenggelam dalam kegelapan.
Semua orang terbangun karena terkejut.
"Apa yang terjadi?!" Pemuda berambut merah itu berteriak dengan kesal. Dia sangat mengantuk, ketika dia ingin tidur, sesuatu terjadi.
Semua bersembunyi dalam kegelapan karena tidak ingin menjadi sasaran kemarahan pemuda berambut merah.
"Zhang Ke! Di mana Zhang Ke?!"
Seorang pemuda berambut landak datang dengan tergesa-gesa. "Bos, Bos, aku di sini. Apa yang kamu butuhkan?"
"Apa yang terjadi dengan lampunya?! Cepat perbaiki! Aku tidak bisa tidur jika tidak ada lampu!"
"Ya-ya Bos! Tunggu sebentar!" Pria itu berlari dengan cepat seakan-akan dikejar oleh anjing gila.
Menunggu lampu di perbaiki, pemuda berambut merah itu mengutuk dalam kegelapan.
Karena lampu yang pecah, semua orang dalam keadaan diam karena ketakutan. Hanya terdengar suara pemuda berambut merah yang meledak-ledak.
Hanya dalam keadaan hening seperti ini, beberapa orang dengan pendengaran yang tajam dapat mendengarkan sesuatu yang datang dari luar di tengah suara hujan.
"He-he-he."
"He-he-he."
"Suara apa itu? Apakah kamu mendengarnya?" Seseorang berbisik pada orang di sebelahnya.
"Suara apa?"
Orang itu tidak dapat menjelaskan.
Seorang pria muda dengan perawakan yang tegap mengerutkan kening. "Nona, sepertinya ada yang salah di luar, apakah kamu akan tetap berpura-pura?"
"Apa yang kamu dengarkan?" Anak perempuan di sampingnya bertanya dengan serius.
"Sepertinya langkah kaki banyak orang, banyak orang, dan... Dan mereka semua mengelilingi tempat ini."
__ADS_1
Anak perempuan itu mengerutkan alisnya yang indah. "Sangat banyak?"
Pria itu mengangguk.
"Saat ini, di mana kamu dapat menemukan banyak orang hidup?" Kecuali orang-orang ini, dia belum melihat banyak orang yang masih hidup. Hanya orang yang sudah mati.
" ! "
Dua orang itu tiba-tiba tersadar dan menyadari sesuatu. Tidak banyak orang yang masih hidup saat ini, tapi jika itu adalah orang yang sudah mati, banyak dari mereka yang ada di luar sana.
Yang berarti... Yang sekarang sedang mengelilingi tempat ini adalah...
Zombie!
Dua orang Tuan dan pengawal itu terkejut bukan main. Zombie-zombie itu sudah datang untuk mengepung tempat ini!
Bagaimana mereka tidak menyadarinya?
Tidak! Mereka seharusnya tidak mengandalkan dorongan bahwa zombie akan tertahan karena hujan dan tidak bisa bergerak.
Sekarang kenyataan telah menampar mereka dengan keras. Tidak hanya para zombie itu bergerak dengan leluasa di tengah hujan, mereka juga berkumpul untuk mengelilingi mereka!
"Kita harus memberitahu yang lain!"
Pria itu mengangguk setuju.
Segera pria muda itu menarik beberapa orang yang memiliki hubungan baik dengannya dan mengatakan apa yang dia pikirkan.
Wajah mereka menjadi pucat satu demi satu.
"Nak, apakah kamu yakin?" Lao Liu bertanya.
Pria itu mengangguk. "Pendengaran saya telah dilatih di ketentaraan, jadi saya yakin tidak akan ada yang salah."
Semua orang saling memandang dengan ketakutan.
"Apa yang harus kita lakukan?"
Pria itu mengambil nafas dalam-dalam. "Lawan saja seperti biasa. Tapi jika kamu tidak sanggup, cepat melarikan diri. Kita tidak tahu berapa banyak zombie di luar, jika itu melebihi kemampuan kita, tidak perlu melawan."
Orang lain mengangguk. Dan mempersiapkan diri dan mental mereka.
Seperti yang di harapkan. Di saat pemuda berambut merah itu akhirnya tenang dengan lampu cadangan dan tidak lagi bersuara, dia akhirnya mendengar sesuatu yang salah di luar dengan pendengarannya yang meningkat tajam. Wajahnya segera menjadi jelek.
Dia berjalan ke arah jendela, tapi apa yang dia lihat adalah wajah busuk yang menempel di jendela.
"Bos? Apa yang terjadi?"
"Sial! Ada zombie di luar! Kenapa tidak ada yang menyadarinya?!"
"Apa?! Zombie?!"
"Zombie?!"
Semua orang di dalam pabrik segera memiliki ekspresi yang sama.
"Zombie!"
"Ada zombie! Aaaah!"
"Apa yang kamu teriakan?! Cepat pergi dan lawan zombie-zombie itu!" Pemuda berambut merah itu berteriak dengan kesal.
"Ta–tapi Bos, kami tidak bisa melihatnya dengan jelas di malam hari. Kenapa... Kenapa tidak kamu memimpin kami?"
"Bilang saja kamu pengecut, jangan membuat alasan."
"Ya-ya, Bos selalu yang paling kuat."
Pemuda berambut merah itu mendengus jijik. "Minggir!"
Pemuda itu memimpin orang lain berjalan ke arah pintu.
Pengawal Nona Muda itu segera menarik yang lain untuk pergi sejauh mungkin dari pintu. Dan meningkatkan kewaspadaan.
Pemimpin para gangster itu membuka pintu pabrik dengan lebar, ingin menunjukkan kepada adik-adiknya bagaimana kemampuannya bekerja.
Begitu pintu terbuka, penampakan zombie segera muncul di depan mata semua orang. Semua terkesiap melihat mereka berjalan masuk dengan terhuyung-huyung tapi mantap.
"Zombie! Zombie!"
"Aaaah!"
"Lari!"
Orang yang lebih pengecut telah melarikan diri ke sudut dan meringkuk dalam ketakutan.
__ADS_1
"Heh, apa yang kalian takutkan? Ini hanya mayat berjalan." Pemuda berambut merah itu mengeluarkan pernyataan yang menghina.
"Hei, Bos masih yang terbaik." Orang-orang di sekitarnya menyanjung dengan rendah hati.
"Lihat bagaimana aku menghancurkan anjing itu."
Pemuda berambut merah itu merentangkan tangannya ke depan. Tiba-tiba sebuah retakan muncul di bawah dan sebongkah tanah coklat sebesar dan setinggi manusia melayang di depannya.
Pemuda berambut merah itu membuat gerakan mendorong, dan bongkahan tanah itu terlempar mengenai zombie di depan.
Zombie itu seketika tertimpa tanah itu dan tertindih.
"Wow! Kemampuan Bos benar-benar hebat!"
"Sangat kuat!"
Pemuda lain datang untuk mengerubungi pemuda berambut merah. Pemuda berambut merah itu membusungkan dada dengan arogan.
Tidak menyadari bahwa orang-orang di belakang mereka membelalakkan mata ngeri.
"He-he-he."
Suara rengekan masuk ke dalam pendengaran pemuda berambut merah itu, ketika dia menoleh, entah kapan sesosok zombie telah merangkak naik ke atas bongkahan tanah itu dan menatap rakus ke arah mereka.
Ketika mereka menyadarinya, sudah terlambat... Zombie itu melompat dengan cepat ke arah orang-orang yang masih berdiri di dekat pintu.
"Aaaah!"
Pemuda berambut merah itu ngeri, melihat zombie itu menggigit orang yang masih hidup sampai tidak bergerak sama sekali.
"Bos! Kamu... Kamu!" Orang-orang di sekitar menatapnya tidak percaya. Karena mereka melihat dengan mata sendiri bagaimana pemuda berambut merah itu meraih salah satu dari mereka dan melemparkannya untuk melindungi dirinya sendiri!
"Aku— aku tidak sengaja!" Pemuda berambut merah itu memucat.
"Aaaah! Zombie itu datang lagi!"
Ucapan pemuda berambut merah itu terhenti karena mereka melihat beberapa zombie sudah merangkak melewati bongkahan batu dan melompat masuk ke dalam pabrik.
"Roar!"
"Ada zombie! Lari!"
Kekacauan segera terjadi. Teriakan ketakutan terdengar di mana-mana. Orang-orang berlari untuk menyelamatkan hidup masing-masing.
Raungan zombie datang satu demi satu.
Meskipun bongkahan tanah mampu menghalangi jalan masuk zombie, tetapi itu juga menghalangi mereka untuk berlari keluar. Orang-orang hanya bisa berlarian di dalam pabrik.
Mereka tersandung, terjatuh, terperosok karena kurangnya penglihatan dan kepanikan yang melanda. Mereka saling mendorong dan menarik orang lain untuk mempertahankan hidup mereka.
Namun zombie itu masih melompat masuk satu demi satu. Mereka mencakar dan meraih orang-orang terdekat dan langsung menggigit.
"Aaaah!"
Situasinya sangat kacau, bahkan jika pria pengawal dan orang-orang yang ingin bertarung datang untuk melawan, mereka kewalahan oleh orang-orang panik di sekitarnya.
Apalagi saat mereka memukul zombie itu dengan pipa besi atau tongkat kayu, mereka tiba-tiba merasa bahwa mereka sepertinya telah memukul sebuah batu. Sangat keras!
"Jangan melawan, percuma! Lari!" Sebuah suara tiba-tiba masuk ke dalam pendengaran mereka.
Kemudian secara mengejutkan, dinding di belakang mereka tiba-tiba roboh. Bunyi dentuman sangat keras dan debu berterbangan di mana-mana. Untungnya hujan di luar dapat meminimalkan debu yang naik di udara.
Orang-orang tidak lagi memikirkan kenapa tembok itu runtuh, mereka hanya bergegas keluar dari pabrik dengan panik untuk hidup mereka dan lari ke segala arah.
Beberapa orang ingin menunda waktu untuk menyelamatkan banyak orang dan melawan zombie dengan mati-matian.
"Sudah ku bilang percuma! Zombie itu lebih kuat daripada sebelumnya, lebih baik cepat lari untuk menyelamatkan hidupmu!"
Sebuah tebasan pedang datang entah dari mana, memenggal kepala zombie dari lehernya. Hanya dengan melukai kepala zombie untuk menghentikan gerakan mereka.
Lao Liu akhirnya mengenali suara yang masuk ke dalam telinganya. "Anak laki-laki Song, ayo pergi! Dengarkan suara itu! Jangan melawan, lari!"
Pria dengan nama keluarga Song itu melemparkan pipa besi di tangannya dan meraih Nona muda-nya untuk lari.
"Pergi ke sana!"
Orang-orang lari dengan cepat. Ketika ada zombie yang mengejar mereka, zombie itu akan tiba-tiba terbelah menjadi dua dan mati. Sehingga mereka tidak lagi peduli dan mempercepat langkah kaki.
Setelah tidak ada lagi manusia yang tertinggal, Lin Su akhirnya menampakkan diri. Dia tetap tinggal dan berniat menghancurkan semua zombie seluruhnya.
Pedang di tangannya memancarkan cahaya dingin. Dengan ilmu pedang yang diajarkan khusus oleh Qi Yuzhi, Lin Su memenggal kepala zombie dengan mantap.
Di bawah cahaya bulan yang perlahan menampakkan diri, satu persatu kepala zombie jatuh menggelinding ke bawah. Darah hitam mengalir dengan deras, mengikuti aliran air di tanah.
Para zombie ketakutan dengan kekuatan Lin Su dan hendak melarikan diri. Tapi bagaimana Lin Su bisa membiarkannya? Jadi dia mengejar zombie itu dan membelah tubuhnya dari atas kepala.
__ADS_1
Ketika tubuh zombie itu jatuh dengan dentuman, sebuah benda seukuran kelereng tiba-tiba keluar dari kepalanya dan menggelinding di tanah.
Di bawah guyuran air hujan, kotoran yang menutupinya perlahan hanyut dan memperlihatkan kilauan yang lembut.