Phoenix Penghancur

Phoenix Penghancur
119. Riwayat Kehidupan


__ADS_3

Perjalanan ekspedisi kali ini berakhir lebih cepat daripada perkiraan awal. Semua orang senang, tapi juga khawatir. Khawatir jika zombie spiritual tingkat 7 itu kembali untuk membalas dendam.


Tapi untungnya sampai mereka kembali ke Pangkalan Ibukota, tidak ada yang terjadi di tengah jalan.


Begitu tiba di Pangkalan Ibukota, Xuan Ming dan beberapa orang pergi untuk melaporkan perjalanan. Sementara yang lain kembali ke tempat tinggal mereka.


Semua orang kembali ke kamar masing-masing. Mandi kemudian tidur.


Itu adalah keesokan harinya ketika Feng Mo tahu bahwa tempat tinggal mereka telah didatangi oleh dua kelompok orang selama mereka pergi dari para penjaga.


"Seorang pria tua bersembunyi di sudut jalan dan terus melihat ke arah rumah ini selama beberapa hari. Selama kami memergokinya, pria tua itu akan melarikan diri. Satu kali kami menangkapnya dan menanyainya, dia bersikeras bahwa dia hanya ingin melihat kerabatnya yang datang dari luar. Banyak orang luar akhir-akhir ini jadi kami tidak tahu, apakah yang dia katakan benar atau tidak. Tapi pria tua itu tidak terlihat lagi dua hari ini.


Kelompok lain terdiri dari sepasang suami-istri yang mengaku sebagai orang tua kandung saudara Tang Mo. Kami tidak tahu situasinya dan saat itu tidak ada siapapun di rumah jadi kami tidak berani mengakui dan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam rumah."


Feng Mo nyaris tersedak air minumnya ketika mendengar kalimat terakhir si penjaga. "Apakah kamu sudah membicarakan ini pada Tang Mo?"


"Belum."


"Oke, kerja keras. Jika mereka datang lagi, biarkan saja mereka. Aku ingin melihat, sepasang suami-istri yang sudah bercerai ini yang masih memiliki wajah untuk menampakkan diri di depan Tang Mo."


Penjaga itu sedikit bingung dengan cemoohan Feng Mo yang tiba-tiba, tapi dia tidak bertanya dan hanya melaksanakan tugas.


"Ya."


Setelah si penjaga pergi, Feng Mo hanya geleng-geleng kepala. Tidak menyangka bahwa kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab itu masih hidup dan ada di Ibukota. Feng Mo bahkan tidak berpikir bahwa keduanya berbohong untuk mengenali kerabat orang lain. Dia menebak mungkin keduanya atau salah satu dari keduanya pernah bertemu Tang Mo di suatu tempat sebelumnya dan melihat kehidupannya yang baik dan ingin mengikuti.


Jangan lihat Tang Mo yang masih pendiam dan sedikit bicara, tapi sejak dia mengikuti kelompok mereka, Tang Mo tidak pernah lagi memperlakukan dirinya sendiri dengan buruk. Pakaiannya selalu bersih dan dia makan dengan cukup selama ini. Dari pemuda kurus menjadi pria dewasa berumur 28 tahun, Tang Mo telah menarik banyak anak perempuan di pangkalan untuk menyukainya.


Ketika Feng Mo sedang merenung, orang yang dia pikirkan turun dari lantai dua.


"Kakak Feng, apakah kamu sudah sarapan?"


"Sudah. Kemari lah sebentar."


Tang Mo mendekat dan duduk di depan Feng Mo. Tidak ada orang lain di ruang tamu selain mereka berdua.


"Kakak Feng, ada apa?"


"Beberapa orang datang mencari mu sebelumnya. Apakah kamu pernah bertemu dengan kedua orang tuamu sebelumnya?" Feng Mo bertanya sambil menuangkan teh untuk dirinya sendiri.


Tang Mo tertegun sejenak sebelum memahami apa yang dibicarakan oleh Feng Mo. "Ya." Dia tidak ingin menyembunyikannya sama sekali dari semua orang, hanya masalah waktu sebelum kedua orang tersebut muncul di depan semua orang.


Feng Mo tidak banyak bertanya. "Bagaimana menurutmu?" Apakah kamu ingin membiarkan mereka? Atau kamu akan menjaga mereka? Feng Mo tidak bermaksud untuk campur tangan, tapi bagaimana pun juga dia tidak ingin ada orang yang akan menyeret Tang Mo ke bawah.


"Aku tidak menginginkan mereka."


Jawaban tegas Tang Mo mengejutkan Feng Mo sedikit banyak.


Mungkin juga menyadari apa yang baru saja dia katakan terlalu tegas, Tang Mo buru-buru menjelaskan. "Aku hanya tidak mengerti mereka."


Ekspresi Feng Mo mereda. "Ada apa?"


"Sejak aku bisa mengingat, mereka selalu bertengkar bahkan untuk masalah sepele. Itu terjadi selama bertahun-tahun sebelum mereka memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraian, mereka masih bertengkar karena tidak ingin aku menjadi botol minyak mereka. Jika bukan karena kakek-nenek yang akhirnya membawa ku pergi, mereka mungkin meninggalkan aku sendirian di rumah sewa."


Tang Mo mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Tidak lama kemudian kakek-nenek meninggal satu demi satu dan aku tidak punya tempat tinggal tetap, aku masih di bawah umur dan membutuhkan pendidikan, jadi guru menelepon ke rumah mereka dan meminta pendapat. Jika guru tidak menelepon, mereka mungkin telah melupakan bahwa mereka masih memiliki anak laki-laki lain setelah membangun rumah tangga lagi. Bahkan mereka membenci ku karena meminta uang pada mereka.


Setelah itu mereka saling memarahi, dan mengatakan hal-hal yang buruk satu sama lain. Mereka juga menggunakan ku menjadi tong sampah mereka. Dan begitu aku mencapai usia legal, mereka tidak lagi menahan diri dan langsung menolak untuk memberi ku uang makan. Aku tidak marah karena mereka menolak memberi uang, tapi setelah bertahun-tahun pengabaian, perasaan ku pada mereka bahkan tidak meninggalkan secuil pun tempat.


Aku bertemu mereka di pasar rakyat, aku tidak tahu bagaimana mereka sampai di Ibukota. Aku diam-diam mengikuti mereka, melihat bahwa masing-masing keluarga mereka masih utuh, aku merasa lega. Aku tidak peduli lagi sampai aku mendengar orang lain bergosip tentang mereka. Ternyata kedua orang itu setelah bercerai, mereka masih saling bertemu hanya untuk bertengkar dan menyalahkan kemalangan diri mereka sendiri kepada pihak lain. Bahkan menyeret keluarga mereka untuk membuat pertengkaran yang lebih besar.


Bukankah mereka saling mencintai sebelumnya? Kenapa mereka menjadi seperti ini? Kemudian setelah bercerai, bukankah lebih baik saling menjauh dan tidak pernah bertemu? Ada apa dengan permusuhan abadi ini?" Tang Mo tidak bisa berkata-kata. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa kedua orang itu tidak memutuskan hubungan saja. Bukankah enak hidup damai?


Feng Mo bergumam di dalam hati. Mungkin itu yang dinamakan cinta dan benci. Mereka masih saling mencintai tetapi juga saling membenci. Mereka tidak ingin pihak lain hidup lebih baik daripada dirinya sendiri bahkan setelah bercerai, jadi permusuhan itu terus berlanjut sampai mereka membangun rumah tangga lagi. Kebencian ini memang sulit untuk diredakan kecuali jika ada salah satu pihak yang bersedia mengalah.


"Kamu bisa melakukannya sendiri. Lebih baik katakan pada mereka sebelum kami meninggalkan Ibukota." Karena ekspedisi mereka berakhir lebih awal, tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal.


Tang Mo mengangguk mengerti. Juga dia bisa menebak kenapa kedua orang itu datang mencarinya. Sepasang mantan suami-istri itu hanya orang biasa di pangkalan. Melihat bahwa dia hidup dengan sangat baik, bukankah itu ritme untuk membuatnya mendukung kedua keluarga mereka?


Tang Mo tidak ingin melebih-lebihkan dirinya sendiri. Alasan kenapa dia hidup dengan baik adalah karena Feng Mo mengajarinya keterampilan seni beladiri, kemudian orang-orang disekitarnya merawatnya karena dia masih muda. Bahkan jika dia berani keluar pangkalan untuk membunuh zombie dan hewan mutan, semua poin kredit dia gunakan untuk berlatih. Tang Mo tidak memiliki waktu dan tenaga ekstra untuk merawat kedua keluarga itu, juga alasan utamanya adalah dia tidak ingin mendengarkan perseteruan abadi mereka.


Juga meskipun Pangkalan Guardian tidak mendiskriminasi manusia biasa, pangkalan tidak akan memperlakukan mereka secara khusus hanya karena mereka adalah orang tua kandungnya. Jadi dari awal, hati Tang Mo menolak untuk membawa mereka pergi ke Pangkalan Guardian.


Mereka telah hidup dengan baik di Pangkalan Ibukota, jadi kenapa repot-repot untuk pindah?


Keduanya tidak membicarakan hal ini lagi dan segera melupakannya. Feng Mo tidak tahu bagaimana Tang Mo membereskan kedua orang tuanya, dia hanya tahu bahwa Tang Mo kembali dengan suasana hati yang sangat lega.


Feng Mo merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu dilakukan di Ibukota dan bersiap untuk berkemas. Tapi ternyata dia bahagia terlalu cepat.


Duduk di depannya sekarang adalah sepasang suami-istri yang mengaku sebagai kerabat dekat Shi Jiyi. Itu mengingatkan nya bahwa sebenarnya ada dua gelombang orang yang mencari kelompok mereka. Tapi bukankah yang satunya adalah pria tua? Dari mana datangnya paman dan bibi ini.


"Kami benar-benar paman dan bibi Xiaoshi. Kami telah kehilangannya sejak bayi. Semua orang sangat mengkhawatirkan nya, sampai-sampai tidak ada yang hidup dengan baik selama ini. Sekarang setelah kami menemukannya, kami berharap untuk mengenalinya." Wanita yang mengaku sebagai Bibi Shi Jiyi itu terlihat sangat sedih. Matanya merah penuh kesusahan.


Feng Mo sangat terharu, jika bukan karena sinar keserakahan yang melintas dari mata wanita itu, dia akan benar-benar percaya dengan retorika pihak lain. Akting ini, dia takut pihak lain akan segera memenangkan penghargaan akting terbaik di seluruh dunia.


Dia hanya menyesal bahwa semua orang di dalam ruangan ini tidak ada yang bodoh, yang akan menggemakan suara pihak lain.


Feng Mo menghela nafas menyesal.


"Namun Nyonya ini, apakah kamu membawa bukti bahwa Xiaoshi adalah keponakan mu yang terlibat dengan darah? Kamu tahu, akhir-akhir ini ada banyak orang yang mengaku sebagai kerabat anggota kami. Jika kamu tidak membawa bukti yang konkrit, kami bisa saja melaporkan mu karena penipuan."


"Tentu saja! Tentu saja!"


Wanita itu mengeluarkan sebuah foto yang sudah usang dari saku pakaiannya.


Feng Mo melihat foto keluarga tiga orang yang tampak bahagia dengan bayi di tangan mereka. Pria itu memiliki wajah yang tujuh-delapan poin yang sama dengan Shi Jiyi.

__ADS_1


"Itu adalah foto kakak iparku dan istrinya. Ketika mereka kehilangan Xiaoshi, mereka sangat marah dan sedih. Mereka telah mencari Xiaoshi dimana-mana. Sayangnya mereka terlibat dalam kecelakaan mobil pada tahun ketiga Xiaoshi hilang. Setelah itu kami melanjutkan pencarian mereka, sayangnya kami juga tidak dapat menemukan Xiaoshi sampai saat ini." Wanita itu menitikkan air mata dengan frustasi.


Feng Mo tidak menyela ucapannya dan membiarkan mereka terus bertindak. Bahkan Lin Su yang duduk di sebelahnya sudah mulai menguap.


"Oke, aku mengerti keadaanmu. Tapi foto saja tidak membuktikan segalanya. Ada banyak orang di dunia ini yang terlihat sama meskipun tidak berhubungan darah. Untuk lebih tepatnya, kenapa kita tidak melakukan tes DNA di rumah sakit pangkalan?"


Wanita itu mengangguk setuju dengan cepat, bahkan menyikut suaminya yang jelas-jelas adalah paman Xiaoshi.


"Kalau begitu beres. Kamu bisa mendaftarkan nya terlebih dahulu dan membayar biaya rumah sakit. Kami baru saja kembali dari ekspedisi dan kehilangan banyak uang, kamu datang di waktu yang tepat."


Wajah wanita itu segera berubah.


"Aku mendengar bahwa Xiaoshi adalah adik laki-laki Tuan Meng, bagaimana kalau menghitungnya saja? Bukankah akan lebih akurat?"


"Hei, Nyonya bahkan sudah mendengar berita ini."


Wanita itu tersenyum kaku.


Feng Mo tersenyum yang tidak mencapai matanya. "Tapi tahukah kamu? Para peramal tidak bisa menghitung dirinya sendiri."


Suasana membeku tiba-tiba.


"Jadi apakah kamu masih ingin pergi ke rumah sakit?" Qi Yuzhi yang duduk di samping Feng Mo memecah kebuntuan.


"Ya! Ya! Tentu saja!" Wanita itu menjawab dengan tergesa-gesa, dia sudah ketakutan dengan tekanan yang dikeluarkan oleh Feng Mo.


"Mari pergi ke rumah sakit besok. Kami akan segera meninggalkan Pangkalan Ibukota, lebih cepat mengidentifikasi lebih baik."


Wajah wanita itu terdistorsi, tapi dia tidak berani menunjukkannya pada semua orang. "Ya."


Wanita itu tidak berani tinggal terlalu lama di tempat ini lagi, jadi dia segera menarik suaminya untuk pamit pergi. Tapi sebelum dia benar-benar meninggalkan pintu, Feng Mo masih meninggalkan kata-kata yang menyayat hatinya.


"Bawa pak tua itu bersamamu besok."


Setelah meninggalkan komunitas, wanita itu tidak bisa menahan ekspresinya lagi, wajahnya terdistorsi karena kesal. Dia menggertak gigi. "Ada apa dengan orang-orang itu? Bukankah cukup untuk mengenali kerabat? Ada apa dengan tes DNA? Siapa yang akan memberi ku uang? Uang! Lao Du katakan sesuatu!"


Tuan Du juga menggerutu. "Tidak ada orang bodoh setelah hari kiamat, siapa lagi yang mau mengambil uang ekstra untuk kami?"


"Itu semua salah keponakan mu yang murah! Kenapa dia tidak keluar untuk mengenali kita, itu lebih baik daripada tes DNA!"


"Itu adalah benih laki-laki itu, kamu tahu sendiri bagaimana sifat kakak laki-lakiku."


"Hum, ketika kami mengenalinya nanti, lihat apa yang harus kulakukan padanya, biarkan dia menghidupi seluruh keluarga kita. Lihat apakah dia masih berani menolak memberi ku makanan!"


"Tunggu sampai kita mengumpulkan uang untuk tes DNA."


"Dari mana kami mendapatkan uang?!"


"Sepertinya pak tua itu masih menyimpan banyak uang, ayo geledah saja tubuhnya."


Kembali ke ruang tamu, ketiga orang itu tidak beranjak sedikitpun untuk mengantarkan tamu. Begitu dua orang itu pergi, Qi Yuzhi menoleh ke arah Feng Mo. "Apakah kamu percaya itu?"


"Ya, tidak."


Lin Su menyandarkan punggungnya. "Ucapan awal wanita itu seharusnya benar, bahwa orang tua Shi Jiyi telah mencarinya selama tiga tahun. Tapi perkataannya selanjutnya tidak sama dengan fakta yang ada."


Feng Mo setuju. "Foto itu telah aus di kedua sisi bawah. Terlihat bahwa pemiliknya sangat mementingkan foto itu bahkan memegangnya berulang kali. Tapi dari cara ceroboh wanita itu mengeluarkan foto itu, aku tahu foto ini awalnya bukan miliknya. Juga bukankah orang yang mendatangi kami adalah seorang pria tua? Meski tahu bahwa Shi Jiyi mungkin adalah cucunya, tapi ketika penjaga menanyainya, dia tidak mengatakan siapa itu. Terlihat bahwa dia cukup hati-hati."


"Omong-omong, wanita itu sepertinya tidak tahu nama keponakannya. Dia hanya mengikuti kami memanggilnya Xiaoshi." Mungkin wanita itu tidak repot-repot untuk menanyakan berita secara detail, matanya sudah dipenuhi dengan gambaran kehidupan yang mapan. Keserakahan itu... Lin Su yang telah melihat banyak orang setelah akhir dunia hanya bisa menggelengkan kepala.


"Kirim seseorang untuk mengikuti mereka ke tempat tinggal mereka, aku ingin tahu apa yang terjadi pada pria tua itu."


"Aku akan pergi sendiri."


Feng Mo tidak menolak. "Jika sesuatu terjadi, prioritas utama adalah orang tua itu."


"Oke."


Setelah Lin Su pergi, Xuan Ming segera menggantikan tempat duduknya.


"Omong-omong, mereka benar-benar kerabat dekat Xiaoshi?"


Feng Mo mengangguk.


"Lalu kenapa kamu tidak membiarkan Xiaoshi melihat sedikit wajah mereka?"


"Tahukah kamu? Selain garis hubungan darah yang kulihat, aku melihat garis lain yang menghubungkan keduanya."


"Apa?" Xuan Ming dan Qi Yuzhi bertanya secara bersamaan.


"Itulah garis sebab-akibat. Aku khawatir hilangnya bayi Xiaoshi ada hubungannya dengan mereka." Itulah kenapa dia tidak membiarkan Shi Jiyi melihat mereka bahkan sedikit pun, dan membiarkan Tang Mo membawanya pergi.


Xuan Ming terkejut. "Lalu kecelakaan orang tua Xiaoshi?"


"Sayangnya, mereka benar-benar hanya kecelakaan." Meski demikian, akan ada karma yang menjerat kedua suami-istri itu. Karena orang tua Shi Jiyi mengalami kecelakaan untuk mencari Shi Jiyi, sedangkan hilangnya Shi Jiyi adalah perbuatan mereka. Karma ini akan selalu menghantui mereka sampai mati.


"Ayo berkemas malam ini, kami akan meninggalkan Pangkalan Ibukota besok."


"Oke."


Lin Su membawa seseorang untuk mengikuti dua orang itu ke tempat tinggal mereka. Setelah menanyakan beberapa hal kepada tetangga kiri dan kanan, Lin Su memiliki beberapa poin di hatinya. Jadi dia segera kembali dan melaporkannya kepada Feng Mo.


Kebetulan Shi Jiyi ada di sana.


"Apakah kamu ingin menemui kakek kandungmu?"

__ADS_1


Shi Jiyi yang baru tahu bahwa dia masih memiliki kerabat dekat sedikit bingung. Dalam hidupnya, selain Tuan yang merawatnya, dia tidak memiliki kesan apapun tentang orang tua. Meskipun dia kadang iri dengan keluarga tiga orang Lin, dia hanya sedikit iri. Tidak sedikitpun pemikiran untuk mencari tahu apakah dia masih memiliki orang tua.


Sekarang Feng Mo memberitahunya bahwa orang tua yang mereka temui di pasar sebelumnya mungkin adalah kakeknya, Shi Jiyi memiliki perasaan pencerahan. Itulah kenapa dia terus merasa bahwa ada sesuatu yang penting di kios orang tua itu. Bukan barang dagangannya, melainkan orang tua itu sendiri.


Shi Jiyi tidak pernah mengaitkan perasaan itu dengan hubungan darah di antara keduanya.


"Bisakah aku pergi?"


"Ya."


"Aku akan membawanya kembali ke pangkalan?"


"Itu pilihanmu."


"Um. Terima kasih, Kakak Feng." Senyum muncul di wajahnya yang kecil.


"Untuk apa berterima kasih." Feng Mo mengacak-acak rambut Shi Jiyi dengan gemas. Dia tidak akan mencegah Shi Jiyi membawa pria tua itu. Meskipun telah tinggal bersama mereka dan mengetahui banyak hal, bagaimanapun juga Shi Jiyi hanya anak berumur sepuluh tahun. Dia masih membutuhkan perawatan seorang penatua dalam keluarga.


Jadi keesokan harinya, di saat orang lain baru saja keluar untuk sarapan atau berbelanja, terjadi keributan di sebuah lantai di apartemen keluarga.


Lin Su membawa beberapa orang untuk mengetuk pintu pasangan Du itu dan mendobrak masuk ke tempat pria tua Du dikunci.


Tuan Du yang telah dikunci selama lebih dua hari sedikit terkejut. Tapi begitu dia melihat seorang anak mengikuti di belakang Lin Su, matanya segera memerah.


"Xiaoyi?"


Pasangan Du itu sangat panik ketika Lin Su mendobrak pintu tempat Tuan Du dikunci.


"Apa yang kamu lakukan?! Bukankah kami sudah sepakat sebelumnya untuk bertemu, kenapa kamu menerobos rumah kami?!" Nyonya Du itu berteriak panik.


Lin Su menatap pasangan itu dengan dingin. "Bukankah kamu punya poin di hati mu? Ayo pergi."


Nyonya Du memiliki firasat buruk.


"Tunggu! Ke mana kalian akan membawa orang tua itu pergi?!"


Orang lain tidak mengatakan apa-apa, hanya mendorong Nyonya Du yang menghalangi jalan.


"Tidak!" Nyonya Du segera mengalihkan perhatiannya pada Shi Jiyi yang datang bersama mereka. "Xiaoshi! Xiaoshi! Apakah kamu akan membawa orang tua itu pergi sendirian? Kamu harus membawa kami juga! Kami adalah paman dan bibimu!"


Lin Su tidak membiarkan Nyonya Du mendekati Shi Jiyi.


"Orang tua kamu tidak bisa meninggalkan kami! Du Er adalah anakmu! Apakah kamu tega meninggalkan kami sendirian?!"


Tuan Du menundukkan kepala, tidak bersuara.


Nyonya Du menggertak gigi dan mencubit pinggang suaminya.


"Ayah, kamu harus membawa kami! Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian, siapa yang akan merawat mu nanti?"


Lin Su tidak ingin mendengarkan suara mereka lagi dan memerintahkan orang lain untuk pergi dengan cepat.


"Ayah! Ayah! Bawa kami!"


"Orang tua, kamu tidak bisa meninggalkan kami dengan kejam!"


Pasangan itu mengikuti kelompok Lin Su sampai ke bawah.


Lin Su menutup pintu mobil dengan keras dan meninggalkan asap knalpot untuk keduanya.


"Orang tua!"


Keributan itu mengumpulkan semua orang untuk bergosip.


"Apa yang terjadi dengan pak tua Du? Ke mana mereka akan pergi?"


"Siapa yang tahu. Tapi apakah kamu melihat anak kecil yang dipanggil Nyonya Du tadi?"


Beberapa orang segera memiliki mata yang cerah.


"Hei, pak tua Du juga orang yang miskin. Dia telah menjadi orang berambut putih yang mengirimkan orang berambut hitam. Putra sulungnya mati sebelum dia menemukan cucunya."


"Juga menantu perempuan Du Er bukan lampu hemat bahan bakar! Setelah kakak iparnya mati, dia ingin membiarkan Du Er segera mewarisi perusahaan orang tua Du. Bukankah kalian tahu kebajikan apa Du Er itu?"


"Jika bukan karena pak tua Du peduli dan harus berdiri lagi untuk menopang karyawan perusahaan, perusahaan itu mungkin telah hancur di tangan kedua pasangan itu."


"Bahkan setelah akhir dunia, meski perusahaan mereka hilang, pak tua Du masih bisa menghidupi dirinya sendiri. Tapi kedua pasangan ini masih terus menyeret orang tua itu yang sudah tua!"


Seseorang berdecak. "Apa yang ada dipikiran Du Er? Istrinya lebih penting daripada ayahnya?"


Semua orang mengangguk setuju.


"Lihat sekarang! Cucu pak tua itu akhirnya menemukannya! Melihat tubuhnya, sepertinya dia hidup dengan baik di hari kiamat ini, tidak heran pasangan itu panik."


"Ya, dia harus memiliki kehidupan yang baik."


"Lagipula siapa yang menginginkan paman bibi seperti itu?"


"Ya! Siapapun yang menginginkan kerabat seperti ini, aku mungkin akan sial selama tujuh keturunan!"


Mobil itu berkendara langsung ke gerbang utama dan bergabung dengan konvoi yang telah menunggu. Akhirnya dengan satu orang tambahan, konvoi melakukan perjalanan kembali ke rumah mereka, Pangkalan Guardian.


Empat tahun kemudian.


Feng Mo menatap lautan abu-abu di depan tembok pangkalan.

__ADS_1


"Ini akan menjadi pertempuran terakhir kami."


__ADS_2