
“Kau mau kemana, Venera?” tanya Vla tanpa menoleh. Perhatiannya terpusat pada seuntai kalung bunga batu yang baru saja selesai dibuatnya. Dimasukkannya kalung itu dengan hati-hati ke dalam sebuah kotak kaca kecil, kemudian meletakkannya di dalam lemari kaca besar yang menyatu dengan dinding kaca di belakangnya.
“Seperti biasa, Vla,” jawab Venera sembari duduk di lantai, sibuk mengikat tali alas kakinya.
“Ah, kau ini. Selalu saja tak bisa diam,” Vla pura-pura mengeluh, sembari menyembunyikan senyum yang tersungging di bibirnya.
“Cuaca bagus seperti ini kan sayang sekali kalau dilewatkan,” jawab Venera riang.
Kemudian Venera menoleh dengan wajah ceria. “Kau tak mau ikut, Vla?” tanyanya pada sahabatnya itu.
“Tentu saja tidak.” Vla memutar bola matanya dengan wajah lucu.
“Ahahaha!” gelak Venera. “Baiklah kalau begitu.”
Kemudian Venera berdiri dengan wajah berseri, memandang ke luar, melalui batas gerbang besar di hadapannya.
“Aku pergi dulu ya!” serunya sambil melambai dan langsung saja berlari.
”Jangan sampai terlambat makan malam, Venera!” teriak Vla. “Nanti kau bisa kena hukuman lagi!”
“Tenang saja, Vla!” Venera menjawab sambil berlari. “Sampai nanti!”
“Selalu penuh semangat ya, sahabatmu itu.” Vicca berdiri di sebelah Vla, memandang sosok Venera yang telah menjauh.
“Itulah. Aku juga tak habis pikir.“ Vla menggeleng-gelengkan kepala. “Sepertinya tiada hari tanpa berjalan-jalan baginya.”
“Aku jadi teringat kejadian beberapa minggu lalu.” Voxy datang sambil terkikik geli. ”Waktu Venera pulang terlambat untuk makan malam sehingga tak sempat membersihkan diri, lalu ia muncul di pintu Aula Besar dengan pakaian kotor dan semak berduri tersangkut di rambutnya.”
"Ahaha! Ya ya, aku ingat sekali," Vla tertawa geli. "Saat itu aku benar-benar cemas menunggunya."
“Kemudian Kepala Dewan Pengurus Asrama memberinya hukuman mencuci gaun seluruh penghuni Asrama Barat Eosphorus,” sambung Vicca. “Itu berarti dua ratus lima puluh potong pakaian yang harus diselesaikan malam itu juga.”
“Dan itu semua akibat ia terperosok ke sebuah lembah setelah berusaha melihat ada apa di bagian bawahnya. Sungguh konyol. Untuk apa ia mencari tahu ada apa di dasar lembah? Ya tentu saja ada ‘dasar lembah’ kan?” Vla mengedikkan kepala. “Rasa ingin tahunya besar sekali, si Venera itu.”
__ADS_1
Voxy dan Vicca tertawa.
“Tetapi yang membuatku heran, Venera selalu bisa mengerjakan tugas-tugas hariannya dengan cepat; dengan hasil yang paling baik pula. Bahkan Vreya dari Asrama Hesperus tak bisa mengalahkan nilai-nilainya. Dia benar-benar pandai,” ucap Voxy kagum.
“Kau benar. Ia juga sangat cantik, lembut dan baik hati,” ujar Vicca.
“Tentu saja.” Vla tersenyum bangga mendengar pujian teman-temannya atas sahabatnya. “Dia sahabatku yang terbaik.”
Padang rumput hijau kekuningan nan luas berhiaskan tangkai-tangkai bunga batu putih menyambut langkah Venera setelah melewati Gerbang Besar Asrama Eosphorus.
Kedua kakinya berlari lincah melintasi jalur setapak kecil dan berkelok yang menghubungkan halaman depan Asrama Eosphorus dengan Asrama Hesperus.
Vanda si Penjaga Gerbang Asrama Hesperus menyapa dari kejauhan. “Hei, Venera! Jalan-jalan seperti biasa ya!”
Venera tertawa riang dan melambai sambil tetap berlari. Ini bukan jalan-jalan. Ini disebut petualangan, jawabnya dalam hati dan terus melaju tanpa mengurangi kecepatan.
Kaki-kakinya yang lincah membawanya menjauh hingga atap kubah kaca kedua bangunan besar yang menjulang tinggi tempat ia memulai perjalanannya tadi tak terlihat lagi.
Ujung bagian belakang gaunnya yang berwarna putih menyapu tanah kering berpasir di sepanjang jalan.
Wajahnya bersemu merah diterpa hembusan angin utara nan sejuk.
Seekor unicorn muda bertanduk pendek berderap melintas memotong jalan.
“Halo, Cantik!” Venera menyapa sembari menyurutkan larinya, memberi kesempatan sang unicorn untuk lewat terlebih dahulu.
Unicorn itu berderap sedikit sembari menganggukkan kepala membalas sapaan Venera, kemudian berlalu.
Venera kembali berlari. Kedua lengannya terentang, seolah berusaha menangkap deru angin yang mengembus lembut melawan arah larinya.
Sesekali ia melompat kecil untuk menghindari bunga-bunga batu putih yang banyak bertebaran supaya tidak terinjak olehnya.
Kali ini seekor pixie merah terbang rendah di dekatnya sambil bersiul. Venera tertawa gembira dan bersenandung mengikuti alunan nada yang dinyanyikan oleh sang pixie.
__ADS_1
Dan akhirnya Venera tiba di sebuah bukit kecil, tempat ia biasa mengakhiri petualangannya setiap sore.
Titik akhir dimana ia harus berhenti untuk pulang kembali ke asrama; sebelum bayangan gelap menyelimuti tanah.
Ia berdiri tepat di puncak bukit, mengatur napas dan melayangkan pandangan ke segala arah. Semua selalu tampak indah dan menyenangkan di matanya.
Langit luas membentang dihiasi bercak-bercak awan putih yang membentuk berbagai pola unik, beberapa pohon dengan sebagian besar dahan tak berdaun, garis Sungai Ceres dengan sedikit aliran air berkilau di kejauhan tertimpa cahaya matahari sore, dan ...
Eh? Apa itu?
Venera memicingkan mata ke arah sebuah pohon yang terletak cukup jauh dari bukit tempatnya berdiri.
Sesaat ia sempat mengira pandangannya yang terganggu akibat terlalu lelah berlari. Tetapi setelah beberapa kali memalingkan pandangan ke arah lain dan kembali melihatnya, ternyata matanya tidak salah.
Di bawah dahan terendah dari pohon itu, terlihat ada sebagian kecil udara yang bergelombang. Bergerak-gerak seperti riak air. Aneh sekali.
Venera melihat ke arah timur. Matahari sudah hampir terbenam di garis ufuknya.
Kemudian ia segera mengukur jarak. Mengira-ngira seberapa jauh letak pohon dengan udara bergelombang itu, kemudian berpikir.
Andai sekarang ia berlari kesana untuk melihat, lalu segera kembali lagi, akankah ia tiba tepat waktu sebelum makan malam? Ia belum pernah pergi sejauh itu sebelumnya, karena sepanjang hidupnya ia telah menjadikan bukit kecil ini sebagai batas akhir petualangannya. Karena jika ia pergi lebih jauh lagi, ia khawatir akan melanggar jam malam asrama. Lagipula tanah di seberang bukit ini memang lebih tandus dan panas. Tak ada rumput yang tumbuh di sana. Tetapi udara bergelombang itu membuatnya sangat ingin tahu.
Dan akhirnya setelah gagal melawan rasa penasarannya, Venera berlari turun dari bukit.
Tetapi sayangnya setelah ia tiba di tempat pohon tersebut, udara yang bergerak-gerak seperti riak air tadi sudah tak ada lagi.
Venera berjalan memutari pohon itu. Mencari-cari di tanah. Melompat-lompat untuk melihat diantara dahan-dahan kurus panjang yang menjulur bersilangan diatas kepala. Tapi tak terlihat apapun. Padahal ia yakin sekali tadi telah melihat sesuatu yang tak wajar di udara kosong. Venera mengerjap-ngerjapkan matanya dan mencoba memandang dengan cermat ke segala arah. Tetap saja tak ada hasil.
Akhirnya karena merasa lelah, ia bersandar pada batang pohon itu.
Dan langsung terjerembab.
__ADS_1
~o0o~