
Venera tiba di dalam taman. Ia menjejakkan kedua kakinya di atas rumput hijau tebal, tepat di tempat ia pertama kali bertemu dengan Marxis saat itu.
“Venera!” seru sebuah suara yang sangat dirindukannya.
Venera menoleh cepat.
Marxis, juga berada tepat di tempat ia berdiri saat pertama kali melihat Venera keluar dari balik pohon tempatnya bersembunyi dulu.
Ia merentangkan kedua lengannya lebar-lebar ke arah Venera.
“Marxis!” Venera balas berseru dan segera berlari, menghambur ke dalam pelukan Marxis.
Tak ada lagi rasa malu di antara mereka berdua, dan tak ada lagi yang menahan perasaan masing-masing, setelah sekarang mengetahui bahwa mereka berdua sejatinya adalah sepasang inti-sel. Pasangan venusian dan martian yang memang seharusnya saling memberikan dan menunjukkan rasa cinta.
“Aku rindu padamu,” ucap Marxis lembut di telinga Venera.
“Aku juga,” sahut Venera. Wajahnya bersemu merah di dalam dekapan Marxis.
Dan mereka berdua berpelukan beberapa saat. Merasakan kehangatan dan kenyamanan yang kemarin belum sempat mereka nikmati, karena kedatangan Ratu Ishtar dan Raja Ares yang sangat tiba-tiba.
Kemudian mereka melepaskan pelukannya dan berganti dengan saling berpegangan tangan. Marxis menggenggam kedua tangan Venera yang lembut dan mungil di dalam rengkuhan tangannya yang besar dan kokoh.
Mereka saling pandang dan mencermati wajah satu sama lain dengan tatapan penuh cinta.
“Kau sudah siap untuk pergi?” tanya Marxis sembari menatap lekat-lekat kedua bola mata Venera.
"Oh..." Venera tersentak. Dan tiba-tiba melepaskan pandangannya dari wajah Marxis. "Soal itu... aku..." Venera menunduk dan terdiam sesaat.
“Ada apa, Venera?” tanya Marxis.
“Aku... aku tak ingin pergi ke sana, Marxis...” jawab Venera dengan suara lirih.
“Apa?" Marxis terkejut. "Kau tak ingin pergi ke sana? Apa aku tak salah dengar, Venera?"
"Tidak, kau tidak salah dengar." Venera menggeleng pelan. "Aku tidak ingin pergi ke Planet Biru," ucap Venera memperjelas pernyataannya sebelumnya.
__ADS_1
"Tapi... mengapa?” tanya Marxis sambil mengerutkan dahinya.
“A... aku... aku tak suka kehidupan disana," jawab Venera terbata.
Marxis menatap Venera tak mengerti. “Tapi…, kau kan menyukai taman ini, Venera? Ratu Ishtar juga pasti sudah memperlihatkan gambar Planet Biru yang asli kepadamu, kan? Di sana bahkan jauh lebih banyak tempat-tempat yang lebih indah daripada di sini, Venera!” ucap Marxis heran.
"Ya, aku tahu. Aku sudah melihat semuanya," Venera mengangguk pelan.
“Lalu... kenapa? Kita berdua akan menjadi pemimpin disana, Venera! Kita akan menjadi penguasa! Penentu nasib semua makhluk di Planet Biru! Kita akan dikenal di seluruh alam semesta!” ujar Marxis berapi-api penuh semangat.
Venera menengadah menatap Marxis dengan tatapan heran.
"Apa Raja Ares tidak memberitahukan soal itu padamu?" tanya Venera.
"Soal apa?" Marxis balik bertanya. "Ia sudah memberitahuku berbagai hal tentang kondisi alam di Planet Biru, situasi yang akan terjadi nanti di sana, tujuan utama kita pergi ke sana, dan bagaimana cara menjadi seorang pemimpin. Dia juga bicara tentang martian dan venusian, dan bahwa kau adalah pasangan sejatiku, lalu tentang kau yang akan mendampingiku selama berada di Planet Biru."
“Hanya itu yang diberitahukan oleh Raja Ares padamu?” tanya Venera.
“Ya. Memangnya apa lagi yang seharusnya dia katakan padaku?” Marxis balik bertanya.
Venera mengerutkan dahi, berpikir.
Venera melihat ke sana dan ke mari, matanya mencari-cari.
"Sepertinya aku harus menceritakan kepadamu secara lengkap apa saja yang dikatakan oleh Ratu Ishtar, Marxis," ucap Venera sembari menarik tangan Marxis dan mengajaknya menuju tempat yang paling nyaman.
"Wah, sepertinya akan panjang, ya?" ucap Marxis sambil tersenyum.
Venera tertawa kecil, dan menarik lengan Marxis untuk duduk berdampingan dengannya di atas rumput.
Kemudian ia mulai bercerita.
Tentang semua yang dikatakan oleh Ratu Ishtar padanya. Tentang perjalanan inti-sel, bagaimana mereka akan bertemu dan tidak bertemu, dan perilaku kehidupan para makhluk baik venusian ataupun martian yang akan sangat berbeda di Planet Biru nanti.
Marxis pun menyimak penjelasan Venera yang sangat panjang itu dengan cermat.
__ADS_1
Selesai Venera bercerita, Marxis terdiam sejenak. Berpikir selama beberapa saat.
“Tapi Venera," ucap Marxis akhirnya, "seperti yang sudah dijelaskan oleh Ratu Ishtar kepadamu. Kalau memang hal itu nantinya akan menjadi dinamika kehidupan di Planet Biru, lalu apa yang kau cemaskan? Toh hal itu tak akan terjadi pada kita. Kau tahu kan, aku tak akan meninggalkanmu. Aku ini pasangan sejatimu kan? Kita adalah pasangan inti-sel yang sesungguhnya," ucap Marxis.
Venera menatap Marxis dengan heran, tak percaya mendengar tanggapannya yang sama sekali tak disangkanya itu.
“Mengapa kau hanya memikirkan soal kita berdua, Marxis?" tanya Venera. "Apa kau tidak peduli dengan teman-teman venusian dan martian kita lainnya yang akan mengalami semua hal itu nantinya di Planet Biru?"
"Yah, kalaupun aku peduli, lalu apa yang harus kita perbuat?" Marxis balik bertanya. "Bukankah semua yang dikatakan oleh Ratu Ishtar dan Raja Ares kepada kita adalah suatu prediksi, perkiraan atas apa yang akan terjadi nanti di masa depan? Apa kita bisa mengubahnya?"
"Ya, aku tahu itu semua tetap akan terjadi. Tapi aku tetap tidak rela kalau harus melihat keturunanku nanti tak bisa merasakan cinta sejati dalam getaran asli seperti kita! Semua akan tertutup oleh standar hidup masing-masing dan aturan-aturan tak berdasar dari makhluk-makhluk di sekitar mereka!" Venera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah ingin mengusir keluar bayangan-bayangan mengerikan di dalam otaknya.
"Tapi, bukankah nantinya mereka akan merasa bahwa getaran palsu itu adalah hal yang wajar?" sahut Marxis. "Mereka bahkan tidak akan tahu tentang adanya getaran palsu, kan? Mereka semua akan menganggap itu semua adalah getaran asli yang berasal dari dalam tubuh mereka sendiri."
"Aku tahu itu. Tapi Marxis, apa kau akan merasa nyaman, ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya? Apa pikiranmu tidak akan terganggu saat melihat kekacauan yang terjadi akibat adanya getaran-getaran palsu itu?" tanya Venera lagi.
“Tapi, Ratu Ishtar juga sudah memberitahumu kan, bahwa usaha para venusian dan martian untuk melakukan itu semua memang diperlukan di Planet Biru, supaya energi yang terpancar dari tubuh kita bisa menghidupkan alam semesta?” balas Marxis. “Begitu juga seperti yang telah dijelaskan Raja Ares padaku! Persaingan dalam mencari pekerjaan, kekayaan dan kekuasaan nantinya akan mendominasi kehidupan semua makhluk di Planet Biru. Dan memang akan seperti itu adanya.”
“Tapi aku tidak suka melihat itu semua, Marxis!” nada suara Venera mulai meninggi. “Aku tidak suka jika harus melihat semua itu terjadi di depan mataku, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa mengenainya! Bagaimana nanti aku bisa membantumu dalam memimpin, kalau aku sendiri tidak sanggup untuk sekadar melihat betapa kacaunya persoalan cinta di sana?"
"Kau kan bisa abaikan saja soal itu! Masih banyak yang harus kita pikirkan selain masalah cinta!" Marxis juga mulai mengeraskan suaranya.
“Apa? Mengabaikan? Tidak bisa begitu, Marxis!" Venera kembali menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi di depan mataku! Pokoknya aku tidak suka dengan kondisi seperti itu! Aku tidak suka melihat ada venusian yang berpasangan dengan martian yang bukan pasangan sejatinya! Kenapa sih, kau tidak bisa mengerti hal sesederhana itu?” Venera berteriak sangat keras.
“Ya, kau benar!” jawab Marxis juga dengan semakin keras. “Aku memang tak bisa mengerti mengapa kau begitu memusingkan hal sederhana seperti itu dan membesar-besarkannya, Venera!”
Venera menatap Marxis dengan marah.
Bola matanya mulai berkaca-kaca.
Marxis terpaku sesaat melihatnya.
Dan air mata pun mengalir di kedua pipi Venera.
“Kau... keterlaluan!” teriak Venera kencang ke wajah Marxis.
__ADS_1
Kemudian ia membalikkan tubuh. Dan berlari masuk lebih jauh ke dalam taman.