PLANET BIRU

PLANET BIRU
PLANET BIRU


__ADS_3

Venera tercengang mendengar bahwa taman misterius yang indah itu adalah tiruan dari sebuah planet. Jika tiruannya saja sangat indah, apalagi yang aslinya?


Venera menahan kelopak matanya agar tak berkedip, sementara Ratu Ishtar kembali melakukan sesuatu pada lempeng kaca itu sehingga gambarnya mulai membesar kembali.


Jantung Venera berdebar-debar tak sabar menantikan hadirnya pemandangan indah yang sesaat lagi akan terpampang di hadapannya.


Planet yang saat dilihat dari kejauhan tadi terlihat berwarna hanya biru saja, setelah semakin dekat dan semakin dekat, ternyata memiliki warna-warna lainnya yang membentuk pola-pola acak yang begitu cantik. Biru muda, biru tua, coklat muda, hijau terang, hijau gelap...


Dan pola-pola itu pun kemudian berubah. Menyatu dan mengubah wujudnya menjadi sesuatu yang lebih indah.


Langit luas membentang berwarna biru cerah melatari gumpalan-gumpalan awan putih lembut yang bertebaran dimana-mana dalam bentuk dan formasi yang unik.


Venera merasa dirinya seolah sedang terbang di langit dan bertualang mengamati pemandangan Planet Biru satu persatu dari udara.


Dibalik awan-awan itu terlihat binatang-binatang bersayap dalam ukuran kecil, besar, bahkan sangat besar, merentangkan sayap-sayap lebar mereka, beterbangan bebas kian kemari. Ada juga yang terbang berkelompok dalam jumlah banyak dan membentuk formasi unik saat melaju membelah langit. Ada yang terbang tinggi hingga menembus awan, ada juga yang terbang rendah sembari memperhatikan sesuatu di bawah sana.


Permukaan Planet Biru dipenuhi oleh kolam-kolam yang sangat luas dengan berbagai bentuk. Warna yang terpantul dari dalam airnya juga memiliki beberapa tingkatan warna biru, juga hijau. Menciptakan pelangi warna yang indah dan menyejukkan di pandang mata.


Hamparan tanah lembut membingkai tiap-tiap kolam, juga dengan gradasi warna yang sangat beragam. Butiran-butiran tanah berwarna putih kecoklatan itu terlihat sangat halus, membuat Venera merasa ingin menginjakkan kakinya di sana.


Pandangan Venera beralih kepada bukit-bukit hijau menjulang tinggi dengan berbagai bentuk meruncing yang sangat berseni, berpadu dengan warna langit yang melatarbelakanginya.


Ratu Ishtar menggerakkan gambar itu supaya membesar lagi.


Dan sekarang Venera dapat melihat dengan lebih jelas, pepohonan besar berdaun lebat, pohon-pohon tinggi berdaun runcing, padang rumput hijau nan luas, tanaman-tanaman kecil bermacam bentuk dan bunga-bunga beraneka warna tumbuh subur dimana-mana.


Bermacam jenis binatang berkaki empat dengan berbagai corak pada bulunya, berlari berkejaran melintasi padang rumput hijau; berlompatan keluar masuk dari semak-semak rimbun di sekelilingnya.   


Beberapa lagi yang berkaki dua bergelantungan kesana kemari di antara dahan-dahan pohon berdaun lebat - saling memanggil bersahutan.


Yang lain melompat keluar dari dalam kolam-kolam raksasa dan masuk kembali ke dalam air dengan gerakan-gerakan memukau bagai tarian kolosal nan indah. Memecah air tenang dengan riak-riak berirama yang melebar luas; lalu perlahan menghilang.


Dan yang paling mengejutkan bagi Venera adalah, terdapat banyak sekali kolam-kolam kecil yang dijatuhi air dari dataran tinggi berbukit diatasnya.  Persis seperti yang ada di taman misterius, tetapi jauh lebih indah.

__ADS_1


“Kolam air sungai!” Venera nyaris berteriak.  Ratu Ishtar menoleh.


“M… mohon maaf,  Yang Mulia…” ucap Venera buru-buru menyadari ketidaksopanannya.


“Kami menyebutnya air terjun,” ucap Ratu Ishtar tak mempermasalahkan sikap Venera yang kurang baik barusan, “Kau menyukainya, Venera?”


“Suka sekali, Yang Mulia!” jawab Venera cepat dengan mata berbinar.


Sejujurnya Venera masih tak dapat mempercayai matanya.


Sebelumnya ia mengira taman yang ditemukannya itu adalah tempat paling indah yang pernah dilihatnya. Tetapi ternyata ada sebuah planet lain yang penuh dengan keindahan seperti itu. Bahkan jauh lebih indah.


Jika sebelumnya ia menganggap taman misterius itu bagaikan sebuah mimpi indah dimana ia tak ingin segera terbangun dan meninggalkannya, maka untuk planet seindah ini ia bahkan merasa rela untuk tak terbangun selama-lamanya.


Ratu Ishtar kembali duduk di kursinya, di hadapan Venera. Sementara Venera masih memperhatikan gambar bergerak pada lempeng kaca yang masih terus memperlihatkan pemandangan indah Planet Biru dari berbagai sisi.


Tiba-tiba ia terpikir sesuatu.


"Ah, ya," Ratu Ishtar tersenyum. "Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, bahwa taman yang kau masuki itu hanyalah sebuah taman simulasi, yang kami buat di dalam sebuah dimensi kosong. Sehingga tidak lah sulit bagimu dan Marxis untuk memasukinya. Dan aku juga sudah mengatur supaya keadaan di dalam taman itu selalu siang hari, untuk mempermudah kalian dalam mengamati segala sesuatu di dalam sana. Dan aku juga telah menghentikan waktu di dalam sana, Venera, sehingga dapat memberimu waktu yg fleksibel. Jadi sebenarnya berapa lama pun kau berada di dalam taman, kau akan selalu dapat kembali ke asramamu sebelum gelap. Nah, kalau kau sekarang ingin bertanya lebih lanjut tentang apa itu dimensi, dan bagaimana caraku untuk menghentikan waktu, lebih baik kau urungkan dulu niatmu. Nanti mungkin akan ada waktunya aku menjelaskan lebih rinci kepadamu tentang itu, Venera," jelas sang ratu.


"Baik, Yang Mulia," sahut Venera patuh. Kemudian matanya kembali menatap pemandangan Planet Biru yang terhampar indah di hadapannya.


"Bagaimana Venera, apa kau menyukai pohon-pohon dan tanamannya?" tanya Ratu Ishtar.


"Suka sekali, Yang Mulia!" jawab Venera bersemangat.


"Bunga-bunganya?" tanya Ratu Ishtar.


"Suka sekali, Yang Mulia! Mereka benar-benar indah!" jawab Venera lagi.


"Binatang-binatangnya?" tanya Ratu Ishtar.


"Suka sekali, Yang Mulia! Mereka semua cantik!" Venera menjawab dengan antusias.

__ADS_1


"Bagaimana dengan lautnya?" tanya sang ratu.


"Aahm... apa itu laut, Yang Mulia?" tanya Venera dengan wajah polos.


"Yang seperti kolam itu, hanya saja ukurannya besar sekali," jawab Ratu Ishtar.


"Ooh... jadi itu disebut dengan laut? Suka sekali, Yang Mulia! Itu adalah warna biru yang sangat cantik!" Venera berbinar-binar.


"Ikan-ikan di laut?" tanya Ratu Ishtar.


"Apa itu ikan, Yang Mulia?" tanya Venera lagi.


"Yang kau lihat melompat dari dalam air laut tadi," jelas sang ratu.


"Ooh... makhluk besar dengan hidung yang lucu itu? Suka sekali, Yang Mulia!" sahut Venera.


Ratu Ishtar tersenyum.


"Ada jutaan, bahkan lebih, jenis-jenis binatang di darat, di udara, di dalam laut dan sungai, bahkan di dalam tanah. Juga terdapat jutaan jenis tanaman, bunga-bunga, dan pepohonan yang menyebar di seluruh daratan dan dasar laut di Planet Biru, Venera," ucap Ratu Ishtar.


"Woww... jutaan... itu... menakjubkan sekali, Yang Mulia," Venera membelalakkan matanya, menatap bergantian ke arah Ratu Ishtar dan gambar Planet Biru di hadapannya.


“Apa kau menyukai Marxis, Venera?” tanya Ratu Ishtar tiba-tiba.


Venera sedikit terkejut.


Tidak siap dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ratu Ishtar.


“Ehm... maaf Yang Mulia, mengenai Marxis, saya... merasa..." Venera menggantung kalimatnya dan terdiam sesaat.


"Merasa...?" Ratu Ishtar mengulangi kata terakhir yang diucapkan Venera, mengisyaratkan bahwa ia menunggu kelanjutannya.


"Saya rasa... saya tidak terlalu menyukai Marxis, Yang Mulia," lanjut Venera.

__ADS_1


__ADS_2