
Suara tawa Ratu Ishtar yang mengelegar bergema ke seluruh ruangan membuat Venera bingung, sampai tidak tahu harus merasa takut atau senang mendengarnya. Ia hanya bisa berdiri terpaku menunduk menatap lantai, melihat bayangan buram Ratu Ishtar yang tampak sedikit mengerikan saat sedang tertawa seperti itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya tawa sang ratu perlahan mereda.
"Angkat wajahmu, Venera," perintah Ratu Ishtar dengan suara halus yang sama sekali bertolak belakang dengan cara tertawanya barusan.
Venera mengangkat wajahnya perlahan. Dan memberanikan diri mendongak untuk menatap wajah sang ratu.
Ratu Ishtar sedang menunduk, balas menatapnya dengan wajah luar biasanya yang berhias senyuman. Mata birunya menatap ramah kepada Venera.
"Kepolosan dan kejujuranmu tadi sangat menggelitikku, Venera," ucap Ratu Ishtar. "Tetapi aku tadi bukan menertawaimu. Aku sedang menertawai diriku sendiri yang dibuat terkejut olehmu. Khususnya oleh pemikiranmu, Venera si venusian."
Ratu Ishtar tersenyum sangat lembut kepada Venera.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa kau telah menentang perintahku, Venera," ucap Ratu Ishtar. "Yang kau lakukan ini hanyalah berusaha berpikir dengan bijaksana untuk mempertimbangkan baik atau buruknya suatu hal bagi dirimu, dan sanggup atau tidaknya kau menjalankan tugas itu. Aku justru merasa senang kau begitu kuat mempertahankan empatimu kepada venusian dan martian lain. Tak tergoyahkan oleh kekuasaan dan kebanggaan yang kutawarkan padamu."
"Benarkah... Yang Mulia?" tanya Venera tak percaya pada apa yang didengarnya. "Jadi... jadi saya dan Marxis... tidak harus pergi ke... Planet Biru?"
"Tidak, Venera," ucap Ratu Ishtar sembari menggeleng pelan tanpa melepaskan pandangannya dari Venera. "Tak pernah ada hasil yang baik dari sebuah keterpaksaan."
Venera terpana sesaat seolah tak percaya pada pendengarannya.
__ADS_1
"Dan... dan kami... tidak mendapatkan hukuman atas... penolakan perintah ini?" tanya Venera lagi.
"Tidak, Venera." Ratu Ishtar kembali menggeleng. "Kau memiliki hati yang penuh cinta dan kasih sayang. Meskipun kau sering melakukan hal-hal tak biasa yang tidak pernah dilakukan atau bahkan terpikirkan oleh venusian lainnya, tetapi di saat-saat tertentu, saat kau melihat sesuatu sebagai hal inti yang sangat penting, kau selalu bisa menempatkan diri sebagai venusian lain; bahkan martian lain. Kau memiliki kemampuan untuk membayangkan dan merasakan dengan tepat bagaimana jika seandainya dirimu berada di posisi mereka. Itulah yang kukatakan sebagai empati. Kau adalah venusian terbaik yang selalu memikirkan perasaan dan kebahagiaan makhluk lain. Dan aku tak mungkin memberikan hukuman untuk hal seperti itu, kan?"
Venera merasakan dirinya bagaikan embun beku di atas dedaunan di pagi hari yang sedang mencair perlahan dan menetes turun ke tanah. Seluruh tubuhnya menghangat kembali. Semua ketakutan yang dirasakannya langsung hilang dalam sekejap.
Betapa bijaksana dan murah hatinya Ratu Ishtar.
"Saya... saya sangat terkejut mendengar ini, Yang Mulia. Saya ucapkan terima kasih banyak atas kemurahan hati Yang Mulia," ucap Venera penuh hormat sambil membungkukkan badannya dalam-dalam memberi hormat.
Ratu Ishtar balas mengangguk dan tersenyum.
"Tetapi... bolehkah saya bertanya, Yang Mulia?" tanya Venera.
"Bagaimana dengan... Planet Biru, Yang Mulia?" tanya Venera.
Ratu Ishtar tampak berpikir sejenak.
"Meskipun aku sangat menyayangkan pengunduran dirimu ini, tapi tak apa. Kami akan mencari pengganti kalian untuk tugas itu," jawab Ratu Ishtar.
"Pasangan inti-sel lainnya?" tanya Venera.
__ADS_1
"Ya." Ratu Ishtar mengangguk. "Meskipun kami tak bisa tahu kapan tepatnya pasangan berikutnya akan bertemu, tetapi tak apa. Kami cukup sabar menunggu."
"Tetapi... bagaimana jika pasangan inti-sel yang berikutnya juga tidak mau pergi ke Planet Biru, Yang Mulia?" tanya Venera.
"Kami tunggu hingga ada yang bersedia," jawab sang ratu. "Dan aku yakin akan ada. Karena kalian semua memiliki kombinasi pemikiran yang sangat banyak dan berbeda-beda satu sama lain. Maka, semua kemungkinan pasti akan ada."
"Lalu, Yang Mulia, saya ingin tahu. Apakah suatu saat nanti tidak akan ada satu venusian pun di Planet Biru yang memiliki pemikiran seperti saya?" tanya Venera. "Maksud saya, misalnya mereka yang berpendapat bahwa berpasangan itu seharusnya bukanlah karena diwajibkan? Apakah pada saat itu pikiran mereka semua akan benar-benar tertutup oleh aturan-aturan yang ada?"
"Hmm..." Pandangan Ratu Ishtar menerawang jauh. "Sepertinya nanti akan ada venusian-venusian yang bisa berpikir maksimal dengan menggunakan otaknya sendiri, dan berani bertindak sesuai kehendak sendiri walaupun itu harus melawan arus. Yah, meskipun resikonya mereka akan dipandang tidak wajar oleh makhluk-makhluk di sekitarnya."
"Oh..." Venera sedikit kecewa dengan jawaban itu. "Kasihan sekali mereka, Yang Mulia. Harus tinggal bersama makhluk-makhluk lain yang tidak mendukung pemikirannya. Saya sedih membayangkannya..."
"Tidak perlu sedih, Venera." Ratu Ishtar tersenyum sambil mengibaskan tangannya. Venusian yang satu atau dua ini akan memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan pemikirannya yang bertentangan dengan pandangan umum, dengan tetap menikmati hidupnya dan merasa bahagia. Karena mereka adalah venusian yang cerdas dan kuat. Sama seperti dirimu, Venera."
"Oh..." Venera merasa lega. "Saya senang mendengarnya, Yang Mulia."
Tiba-tiba Venera teringat sesuatu.
"Yang Mulia, kalau memang saya diperbolehkan untuk menolak tugas ini, dan saya juga tidak diberi hukuman, apakah berarti setelah ini saya akan kembali ke asrama Eosphorus lalu beraktifitas seperti biasanya? Karena saya... ehm... saya sudah terlanjur berpamitan kepada Vla dengan mengatakan bahwa saya mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi, tetapi saya tidak mengatakan alasannya dengan jelas. Lalu, kira-kira apa yang harus saya katakan kepada Vla nanti untuk menjelaskan sikap saya yang pasti telah ia anggap aneh sebelumnya?" tanya Venera. "Dan... ah ya, saya juga memperhatikan sikap yang aneh dari beberapa teman, misalnya Vla sahabat saya dan Vinn si penjaga gerbang. Di malam setelah saya kembali dari sini, mereka mengatakan hal-hal yang aneh tentang saya. Seperti... seperti sebuah... eh, tanda... bahwa mereka mungkin saja tidak akan melihat atau bertemu dengan saya lagi? Saya pikir itu berarti bahwa saya memang akan pergi dari sini?"
"Ah... hal itu dinamakan dengan firasat, Venera," jawab Ratu Ishtar. "Mereka yang berteman dekat denganmu, akan mendapatkan sebuah firasat tentang akan terjadinya hal besar terhadapmu."
__ADS_1
"Firasat?" tanya Venera bingung.
"Ya." Ratu Ishtar mengangguk.