PLANET BIRU

PLANET BIRU
MAKHLUK BARU


__ADS_3

"Selamanya?" Venera mengerutkan dahi.


"Kau dan Marxis akan kami berikan keistimewaan untuk hidup selamanya di Planet Biru," ucap Ratu Ishtar. "Karena kalian berdua memiliki tanggung jawab atas seluruh perkembangan yang terjadi di sana. Akan sangat sulit untuk menjalankan tugas tersebut apabila pemimpinnya berganti-ganti. Hal itu juga akan beresiko menciptakan ketidakteraturan bahkan kekacauan karena masing-masing individu pasangan memiliki keinginan dan cara yang berbeda-beda dalam melakukan sesuatu."


"Kami berdua... akan selamanya tinggal di Planet Biru? Tapi Yang Mulia, yang dimaksud 'selamanya' itu, sampai kapan?" tanya Venera.


"Itu pertanyaan yang sulit untuk kujawab, Venera. Hampir sama seperti pertanyaanmu tentang batas alam semesta sebelumnya. Namun untuk yang satu ini, bisa kukatakan bahwa 'selamanya' berarti seterusnya. Tak berkesudahan," jelas Ratu Ishtar.


"Saya... tidak mengerti, Yang Mulia." Venera menggeleng pelan. "Bukankah semuanya selalu ada batasnya? Misalnya saat Dewan Pengawas Keterampilan menyuruh kami membuat tugas merajut, ia akan memberikan batas waktu beberapa hari kepada kami untuk dapat menyelesaikannya. Lalu, begitu juga dengan hitungan hari. Siang berbatasan dengan malam. Malam berbatasan dengan pagi. Ah, atau... misalnya bunga batu putih yang cantik itu. Ada batasnya dia terlihat mekar dan cantik, tetapi setelah itu layu dan menghilang tertiup angin..."


Ratu Ishtar tertawa kecil.


"Sadarkah kau, Venera, bahwa pemikiranmu semakin terbuka sejak kita berbincang-bincang di sini?" tanyanya.


"Oh..." Venera tertegun sejenak. Berpikir bahwa sejak tadi ia memang banyak sekali bertanya.


"Ah, tetapi itu adalah hal yang bagus." Ratu Ishtar tersenyum. "Nah, kalau begitu, menyambung teorimu barusan, aku akan sedikit bertanya padamu. Bagaimana dengan kau sendiri, Venera, sebagai venusian yang tinggal di Venus selama ini, apakah kau tak pernah bertanya-tanya kapan masa hidupmu akan berakhir?"


Seketika Venera terpaku.


"Oh..." ia terperangah sambil menutupi mulutnya. "Saya... saya tak pernah... memikirkan itu sebelumnya, Yang Mulia. Apakah... apakah yang seharusnya terjadi pada kami? Apakah kami akan menjadi seperti bunga batu putih itu? Menjadi kering lalu... lalu menghilang? Kemana kami akan pergi?" Venera bertanya sedikit ketakutan.


Ratu Ishtar tersenyum menenangkan.


"Tenang, Venera," ucap sang ratu. "Semua kehidupan yang ada di alam semesta ini, tak pernah kita ketahui kapan berakhirnya. Sama seperti kita tak tahu di mana batas alam semesta ini. Namun yang sejauh ini kami ketahui, kehidupan adalah sebuah eksistensi dari sekumpulan partikel-partikel berkesadaran. Dalam konteks Planet Biru, kehidupan akan diartikan sebagai masa aktif bagi partikel-partikel berkesadaran dalam wujud bentuk fisik yang padat, yang akan memiliki batas waktu. Dimana setelah batas waktu masa aktif wujud fisiknya selesai, partikel-partikel tersebut akan melebur kembali dengan alam, untuk kemudian membentuk kehidupan berikutnya dalam bentuk fisik yang berbeda, baik di alam kehidupan yang sama atau berbeda. Begitu seterusnya."

__ADS_1


Venera terdiam mematung. Masih belum dapat mencerna maksud dari kata-kata Ratu Ishtar. Apa itu partikel? Eksistensi? Wujud fisik? Alam kehidupan yang berbeda? Apa maksudnya?


Venera ingin sekali bertanya lebih jauh. Namun terbersit rasa khawatir dalam hatinya jika jawaban Ratu Ishtar justru akan membuatnya semakin tak sanggup untuk menerima tugasnya nanti.


"Tak ada yang perlu dicemaskan, Venera," ucap Ratu Ishtar lembut. "Ini adalah suatu proses yang mana kita semua akan menjalaninya. Dan sama seperti hal lainnya, pengetahuan yang lebih mendalam tentang eksistensi partikel berkesadaran ini, nanti akan diberikan secara lebih rinci lagi kepadamu. Nah, sekarang akan kulanjutkan mengenai Planet Biru."


"Baik, Yang Mulia." Venera mengangguk.


"Venusian dan martian lain akan tinggal bersama kalian di Planet Biru," ucap Ratu Ishtar, "namun mereka hanya akan memiliki masa hidup yang pendek.  Setelah itu tubuh mereka akan mati."


“Mati?  Apa itu, Yang Mulia?” tanya Venera.


“Nah, ini berhubungan dengan hal yang sudah kujelaskan sedikit tadi, Venera. Mati adalah kondisi dimana tubuh fisik sudah tidak dapat digunakan lagi karena telah kehilangan semua fungsinya.  Akan ada batas waktunya untuk mereka bisa hidup. Setelah mati dan tubuh mereka tak dapat digunakan lagi, inti-sel nya akan langsung terkirim kembali kepadaku. Inti-sel yang telah kembali kepadaku, akan dibersihkan untuk nantinya dikirimkan lagi ke Planet Biru dalam tubuh fisik yang lain, tanpa ia bisa mengingat kembali pengalaman hidup sebelumnya di Planet Biru."


“Hmmm. Jadi, Yang Mulia akan mengirimkan venusian dan  martian secara berkala ke Planet Biru?” Venera bertanya masih dengan bingung.


“Dilahirkan?  Melalui saya?” Venera lagi-lagi tercengang.


Ratu Ishtar menjawab, “Tidak semuanya, Venera. Hanya beberapa saja.  Yang berikutnya nanti akan lahir dari anak-anakmu. Setelah itu dari anak-anak mereka. Lalu dari anak-anak mereka lagi. Begitu seterusnya. Kau akan berketurunan secara alamiah.”


“Berketurunan secara alamiah, Yang Mulia?" Venera membulatkan matanya.  "Saya tidak mengerti. Bagaimana caranya, Yang Mulia?”


“Nanti kau akan tahu caranya, Venera.” Sang Ratu tersenyum. “Kau akan menjadi orang tua, yang melahirkan bayi-bayi mungil yang harus kau rawat hingga mereka tumbuh dewasa.”


“Ba... yi? Orang... tua?” ucap Venera hati-hati. Tak mengerti apa artinya.

__ADS_1


“Bayi mirip dengan kita. Hanya saja mereka sangat kecil dan lemah sekali. Mereka akan tumbuh besar dan kuat secara bertahap," jelas Ratu Ishtar. "Orang tua adalah makhluk-makhluk yang telah lahir lebih dulu, yang bertugas untuk menjaga dan membimbing makhluk-makhluk lebih kecil yang lahir dari mereka."


“Jadi, nanti kita tidak hidup dengan makhluk yang besarnya sama?” tanya Venera.


“Tidak Venera." Ratu Ishtar menggeleng. "Ukuran wujud kalian di Planet Biru nantinya akan beragam. Kalian akan saling menjaga, mengarahkan, dan berbagi ilmu dari yang besar kepada yang kecil. Dari yang lebih tua kepada yang lebih muda.”


“Tua dan muda …?” Venera mengernyit bingung.


“Itu sebutan untuk makhluk yang telah melalui masa hidup dalam waktu tertentu. Semakin lama ia menjalani hidup, kualitas tubuh fisiknya akan semakin berkurang. Ia akan disebut semakin tua," jawab Ratu Ishtar.


Venera terdiam sejenak dalam usahanya membayangkan apa yang dikatakan oleh Ratu Ishtar.


"Kalian semua akan menjadi makhluk baru di Planet Bumi. Dengan bentuk yang sedikit berbeda dari diri kalian sekarang, karena harus menyesuaikan dengan lingkungan dan alam sekitar di sana nanti," ujar Ratu Ishtar.


"Seperti apa bentuk kami nanti, Yang Mulia?" tanya Venera penasaran.


"Akan ada bermacam-macam, Venera," jawab Ratu Ishtar. "Kalian akan terbagi-bagi menjadi beberapa jenis tubuh fisik dengan perbedaan struktur dan masa jenis tulang, warna kulit, warna mata, dan warna rambut."


Venera terpana sesaat, menatap Ratu Ishtar. Ia langsung membayangkan bola mata coklat miliknya berubah warna menjadi biru seperti milik sang ratu. Juga rambut emasnya yang berkilauan, berganti dengan warna perak bersinar seperti milik sang ratu.


Ratu Ishtar tertawa. "Boleh saja, kalau kau mau berpenampilan seperti ini, Venera." Sang ratu mengibaskan tangannya pada tubuhnya sendiri.


"Oh!" Venera buru-buru menundukkan kepalanya. "Saya mohon maaf, Yang Mulia!"


Rasanya sulit sekali menahan diri untuk tidak berpikir macam-macam di hadapan sang ratu yang sepertinya bisa melihat semua yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Venera," jawab sang ratu. "Kau memang akan kuizinkan untuk memilih dan menentukan sendiri bagaimana penampilan fisikmu nanti di Planet Biru."


__ADS_2